Pertamakali Digelar Kemusyrikan dalam Upacara Bendera

Kemusyrikan berupa memohon kepada selain Allah, yang merupakan keyakinan paling batil, untuk pertama kalinya digelar dalam apa yang disebut upacara bendera perayaan Agustusan alias HUT RI (Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia) ke- 64, 17 Agustus 2009.

Upaya-upaya untuk mengembang suburkan keyakinan batil dengan aneka cara, tampaknya kini sedang digalakkan. Di mana dan kapan ada celah-celah, maka momen itu digunakan untuk merusak aqidah dan menanamkan serta menyuburkan kembali aqidah batil.

Darah para pejuang kemerdekaan yang tumpah dan menetes, disertai gema takbir mengagungkan Allah Ta’ala dengan takbir Allahu Akbar, tampaknya dikikis dengan penyemarakan keyakinan-keyakinan batil, dan aneka kemaksiatan seperti pornografi dan porno aksi serta penghamburan harta, di saat masyarakat sedang sengsara. Sampai Inul yang jelas-jelas mengobarkan goyang super maksiat pun dijadikan tamu terhormat untuk berpornoaksi ria dalam rangka Agustusan, hingga diprotes oleh komunitas yang sadar akan moral bangsa.

Hal-hal yang mubadzir tak bermakna dan hanya menyibukkan manusia dan menyi-nyiakan dana serta belum tentu mendidik, tampaknya sedang ngetren dan digalakkan. Misalnya membuat bendera saja yang ukuran raksasa, lalu dipasangnya pun di gunung. Atau malah upacara pengibarannya di dasar laut. Bahkan dengan dalih yang kadang tidak ada kaitannya apa-apa, misalnya panjat tebing diberi dalih untuk memperkuat nasionalisme.

Sementara itu 5 juta lebih manusia Indonesia ini di sana sini kabarnya sedang kekurangan makan. Kemiskinan pun makin bertambah parah. Di Madura 36 desa mengalami kekurangan makan. Di Jawa Tengah 88 desa mengalami kekurangan makan, menurut berita Antara 02/08 2009.

Ummat Islam yang kelaparan itu di saat Ramadhan tiba, kalau tidak mendapatkan santunan dari para dermawan, maka kemungkinan akan menderita lapar dua kali. Lapar karena puasa, yang itu insya Allah mendapatkan pahala besar; dan lapar karena derita, yang itu di tengah-tengah orang-orang yang duitnya miliaran namun tidak menciprati mereka.

Cukupkah masyarakat “dihibur” dengan hal-hal seperti berikut ini, yang bahkan menyemarakkan kembali aqidah kebatilan.

Berikut ini beritanya:

Dari Bendera Raksasa, Hingga Ritual Mohon Izin

Danang Sumirat, Wiwik Susilo, Dandy Arigafur

17/08/2009 23:12

Liputan6.com, Trenggalek: Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) bersama dengan satu regu batalion infantri 500 Raiders dan Kopaska TNI Angkatan Laut, serta delapan pemanjat profesional menggelar upacara bendera Merah Putih berukuran raksasa di Gunung Sepikul, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Senin (17/8). Kegiatan ini merupakan agenda rutin para pemanjat tebing dan TNI untuk memperkuat nasionalisme.

Sementara di Sukoharjo, Jawa Tengah, warga setempat memeriahkan HUT RI ke-64 dengan mengerudungi Kereta Api Fider jurusan Wonogiri-Solo menggunakan bendera Merah Putih yang berukuran sangat besar. Setelah menutupi kereta, masyarakat langsung menaiki gerbong dan meneriakkan kemerdekaan di sepanjang perjalanan. Secara tak langsung hal ini mengingatkan pada peristiwa 64 tahun silam saat para pejuang setempat menggunakan KA sebagai sarana untuk menyampaikan berita.

Upacara bendera juga digelar untuk pertama kalinya oleh warga suku Tengger di padang pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jatim. Sebelum menaikkan bendera, para sesepuh suku Tengger terlebih dahulu mengadakan ritual adat permohonan izin kepada para dewa. Upacara ini diikuti sekitar empat ratus peserta, mulai dari pelajar, anggota Paguyuban Kuda, pegawai negeri sipil, hingga sejumlah anggota klub motor dan pecinta alam.(WIL)

Sumber: http://berita.liputan6.com/daerah/200908/240900/Dari.Bendera.Raksasa.Hingga.Ritual.Mohon.Izin