Jamaah tetap melakukan shalat Jum’at di lokasi runtuhan Masjid Al Ikhlas Medan/ fuisumut.blogspot.com

Dalam khotbah Jum’at di bekas reruntuhan Masjid Al Ikhlas Medan  (16/9 2011),  Mantan Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra meminta agar semua pihak lebih mengedepankan mediasi untuk menyelesaikan masalah pembongkaran Masjid Al Ikhlas.

Tindakan ruislag oleh pihak Kodam I Bukit Barisan, merupakan penodaan agama serta berpeluang menimbulkan konflik.

Menurut dia, pembongkaran Mesjid Al Ikhlas yang telah berdiri sejak tahun 1975 ini sebenarnya tidak perlu terjadi.

“Jika masjid sudah berdiri, maka status tanah menjadi wakaf, tidak dapat diperjualbelikan dan seutuhnya milik masyarakat,”ujarnya.

Demikian berita poskota.co.id.

 Inilah berita-berita tentang shalat jum’at di bekas perubuhan Masjid Al-Ikhlas, Jum’at kemarin.

Yusril Ihza Mahendra Jadi Imam di Masjid Al Ikhlas – Medan

Jumat, 16 September 2011 – 21:31 WIB

MEDAN (Pos Kota) – Mantan Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, menjadi Imam dalam Sholat Jumat di Masjid Al Ikhlas Jalan Timor, Medan, yang telah dibongkar beberapa waktu lalu.

Dalam khotbahnya, Yusril meminta agar semua pihak lebih mengedepankan mediasi
untuk menyelesaikan masalah pembongkaran Masjid Al Ikhlas.

Tindakan ruislag oleh pihak Kodam I Bukit Barisan, merupakan penodaan agama serta
berpeluang menimbulkan konflik.

Menurut dia, pembongkaran Mesjid Al Ikhlas yang telah berdiri sejak tahun 1975 ini sebenarnya tidak perlu terjadi.

“Jika masjid sudah berdiri, maka status tanah menjadi wakaf, tidak dapat diperjualbelikan dan seutuhnya milik masyarakat,”ujarnya.

Sepengetahuan dia, Masjid Al Ikhlas ini berdiri dengan diawali gotong royong antar warga.”Pembongkaran masjid ini tidak perlu terjadi.Diperlukan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah ini dengan tidak merugikan kedua belah pihak.,” ucap Yusril dalam Khotbahnya.

Yusril mengharapkan Pemko/Pemda mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan permasalahan di tanah yang bersengketa itu.

Konflik antara dua kubu jangan dibiarkan terus berlanjut dan berkembang menjadi hal yang tidak diinginkan.

Sebelumnya, pihak Kodam dengan ormas Islam sudah beberapakali melakukan pertemuan untuk membicarakan permasalahan Masjid Al Ikhlas yang telah dirobohkan pada 4 Juni  2011 lalu. Namun, belum ada kesepakatan karena masing-masing pihak tetap bersikukuh atas sikapnya. (samosir/dms)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/09/16/yusril-izha-mahendra-jadi-imam-di-masjid-al-ikhlas-medan

***

Kota Medan Harus Tetap Kondusif

Saturday, 17 September 2011

MEDAN– Kondusivitas keamanan dan ketertiban Kota Medan yang selama ini berlangsung baik diharapkan terus dijaga. Kalaupun ada persoalan yang menyangkut umat, sebaiknya cepat diselesaikan dengan baik.

Itulah inti khutbah mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Yusril Ihza Mahendra saat menjadi Khatib Salat Jumat di dekat bekas areal Masjid Al Ikhlas di Jalan Timor, Medan. Salat Jumat di Jalan Timor, kemarin memang agak berbeda dengan sebelumnya. Kali ini yang bertindak sebagai khatib adalah tokoh nasional.

Dalam khotbahnya Yusril mengatakan, harmonisasi yang sudah lama terbangun di Kota Medan jangan sampai rusak karena persoalan pembongkaran masjid. Semua pihak baik pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk segera mengambil langkah mediasi untuk berkompromi, dan hasilnya dapat diterima semua pihak.

Jangan justru sebaliknya ada pihak tertentu yang bertahan dengan sikapnya yang berseberangan dengan pihak lainnya. Sangat disayangkan,kata dia, jika kepentingan sesaat seperti bisnis dan eksistensi institusi yang dikedepankan sehingga melupakan kepentingan yang lebih besar, yaitu kondusivitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jangan kita melupakan kepentingan yang lebih besar hanya karena kepentingan sesaat seperti bisnis dan eksistensi institusi,” kata mantan Menteri Sekretaris Negara ini. Permasalahan pembongkaran masjid adahal hal sensitif. Jangan dibiarkan terlalu lama berlarut-larut.

Semua pihak tentunya juga ingin masalah tersebut dapat selesai dengan baik. Dalam pandangannya, setiap masjid yang dibangun tanpa diikrarkan pun sudah dianggap wakaf dalam pandangan syariat Islam. Namun bukan berarti masjid tidak dapat dirubuhkan. Selama perubuhannya untuk kepentingan umum, lalu menggantinya dengan masjid yang lebih besar dan megah, maka itu bisa saja.

Tetapi itu semua itu harus dibicarakan dan dikompromikan dengan masyarakat. Terpisah, Ketua Pimpinan Wilayah Al Washliyah Sumatera Utara Hasbullah Hadi meminta Pangdam I/BB Mayjend TNI Lodewijk Freidrich Paulus dapat lebih jernih melihat persoalan perubuhan Masjid Al Ikhlas

“Kami meminta Bapak Panglima yang baru secara arif bisa menindaklanjuti keinginan umat Islam terhadap Masjid Al Ikhlas.Konkretnya,kami meminta sedikit lahan di tempat itu diberikan pada umat untuk mendirikan masjid itu lagi,” katanya saat ditemui di Gedung DPRD Sumut, kemarin.

Pria yang juga Ketua Komisi A DPRD Sumut ini mengatakan, umat Islam menginginkan Masjid Al Ikhlas berdiri di tempat yang sama, dan tidak pindah ke manapun. Bahkan, umat siap membeli lahan itu. “Umat Islam siap membeli lahannya. Selama ini kan pengusahanya yang tak mau. Makanya kami berharap Bapak Panglima bisa memfasilitasi tekad umat Islam ini.Dan kami yakin beliau memiliki keinginan yang sama,”ujarnya.

m rinaldi khair, fakhrur rozi  _Kemudian Hasbullah juga meminta kepada Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo juga melihat persoalan dengan arif,terutama soal aset-aset. Selain itu PW Al Washliyah juga berharap Kementerian Pertahanan selaku pemilik aset juga bisa memerhatikan persoalan asetnya yang menyangkut kepentingan umat.“Apalagi ini bukan hanya terkait pembangunan fisik, tapi juga pembangunan mental spiritual,”ungkapnya.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/428665/

(nahimunkar.com)