Pesantren Dihubung-hubungkan dengan Kasus Bom,

Santri yang Masuk Malah Membludak

Inilah berita yang dimuat di Radar Solo:

Ketika Ponpes Darusy Syahadah Dihubung-hubungkan Kasus Teror Bom Jakarta, Pengasuh Ponpes Tanggapi Dingin, Santri Luar Jawa Malah Bludak

Di tengah kabar bom mengguncang Jakarta, ponpes di Jawa Tengah langsung menjadi sasaran tuduhan. Diantaranya Ponpes Darusy Syahadah Boyolali. Lantas, bagaimana pengelola menanggapi tuduhan itu?

GUNAWAN, Boyolali

Cukup mudah menemui pengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Darusy Syahadah Dukuh Gunungmadu, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Simo, Boyolali. Hal ini bertolak belakang dari kabar di masyarakat bila masuk ke ponpes tersebut sulit. Ketika koran ini menginjakan kaki di depan gerbang ponpes, muncul seorang santri yang tengah jaga.

“Mau menemui siapa pak,” kata santri tadi lantas dijawab koran ini akan menemui humas ponpes Ustad Zaenal Abidin. Santri tadi lantas masuk ke pos jaga mengambil sebuah telpon selular miliknya dan menghubungi humas yang dimaksud. “Assalamu’alaikum tad, ini ada tamu yang ingin bertemu,” kata santri, terdengar dari ruang tamu yang jaraknya hanya sekitar lima meter dari pos jaga.

Pintu gerbang yang mirip portal dibiarkan saja oleh santri tadi tertutup. Lantas meminta koran ini menunggu humas ponpes di ruang tamu. Sekitar lima menit, koran ini menunggu ustad Zaenal.

Dari emperan ruang tamu, tampak beberapa santri yang tengah hilir mudik ke luar masuk ponpes. Lantas dari kejauhan, kelas-kelas ponpes tampak santri sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sedangkan disamping ruang tamu terlihat beberapa santri yang tengah ngobrol lepas.

Dari kejauhan jalan seorang pria melewati jalan menuju pintu gerbang. Pria tadi mengenakan baju koko dan berpeci. Melewati sebelah pintu gerbang, tepatnya depan pos jaga, pria tadi menemui koran ini di ruang tamu. “Assalamu’alaikum,” sapa ramah pria tadi lantas mengenalkan bila dirinya Ustad Zaenal Abidin, humas yang dimaksud.

“Mudahkan menemui saya. Kami sifatnya terbuka kok mas. Di ponpes sini tidak ada yang ditutup-tutupi,” tuturnya, sebelum ngobrol panjang dengan Koran ini.

Ketika disinggung tentang keterlibatan ponpes yang dia kelola, Zaenal langsung membantah dengan kata halus. “Tidak mungkin mas, sini jadi kegiatan teroris, apalagi tempat penyimpan bom. Begitu juga alumnus atau ustad sini tidak ada yang menjadi teroris seperti yang santer di masyarakat,” sanggah pria yang rambutnya tampak memutih di sela-sela pecinya.

Teror bom yang terjadi di Kuningan, Jakarta Selatan, mengharuskan beberapa pondok pesantren (ponpes) disebut namanya. Sebab, ada dugaan, pelaku bom merupakan mantan santri maupun ustad di ponpes. Bahkan tudingan juga ditujukan ke ponpes lantaran diduga sebagai tempat aktivitas teroris.Imbas teror bom itu tak terkecuali menimpa Ponpes Darusy Syahadah Boyolali, tersebut. Ponpes ini santer namanya di masyarakat pasca bom Jakarta. “Kami juga heran. Kenapa ponpes kami selalu dituding setiap ada teror bom,” katanya.

Meski disebut-sebut menjadi aktivitas teroris, namun pengurus ponpes tidak begitu menghiraukannya. Sebab, ponpes tersebut tidak pernah dijadikan tempat aktivitas teroris. Terlebih sebagai tempat penyimpanan bom dan persembunyian teroris.

Kabar teror bom itupun juga tidak berpengaruh pada aktivitas ponpes. Para santri tetap mengikuti kegiatan belajar. Begitu juga dengan ustad/ustadah yang mencapai 50 orang tetap menularkan ilmu ke santri. “Kami biasa-biasa saja mas. Gak ada yang berubah,” kata pria berputra tujuh anak ini.

Kabar teror bom juga tidak menurunkan santri baru yang ingin menimba ilmu di ponpes DS, sebutan ponpes Darusy Syahadah. Pada penerimaan santri baru pada tahun ini, mencapai 400-an santri. Ini meningkat dari tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 300-an santri. Rata-rata santri yang menimba ilmu malah dari luar daerah.

Kebanyakan para santri dari berbagai daerah di luar jawa. Yakni, Aceh, Palembang, Pekan Baru dan bahkan dari Papua (dulu Irian Jaya). “Para santri dari luar jawa karena hanya getok tular dari alumnus yang sempat wiyata bakti di ponpes,” papar Zaenal.

Untuk menjaga keterbukaan di masyarakat, pengurus ponpes menjalin kerjasama dengan tokoh masyarakat. Zaenal mengaku terus melakukan komunikasi demi menjaga keterbukaan.

Selain itu, ponpes juga mengadakan berbagai kegiatan. Belum lama ini, santri ponpes DS bersama ponpes se-Jateng mengadakan lomba persahabatan bela diri. Untuk membuktikan keterbukaan di tengah masyarakat, pengurus ponpes juga tidak memberi batas di sekeliling areal pones yang luasnya sekitar seperempat hectare tersebut.

Sekeliling ponpes dibiarkan terbuka. Sementara jalan antara pintu gerbang hingga menembus ke belakang, juga dibuka. Bagi warga sekitar yang ingin silaturahmi ke ponpes juga diizinkan.

Tanah ponpes ini semula milik kas desa. Lantaran tidak digunakan, maka diwakafkan ke pengelola ponpes. “Semula ini tanah oro-oro kas desa. Kemudian diwakafkan dan dibuat tempat menimba ilmu,” terang Sholeh. (*)

Sumber: Radar Solo, [ Jum’at, 24 Juli 2009 ]