Pesantren Tercemari Sepilis

Kemusyrikan dan Faham Sesat

Pesantren adalah benteng akidah ummat Islam. Justru karena itulah, sebagai benteng peranannya menjaga akidah Islam digerogoti oleh berbagai virus. Selain virus kesesatan dan kemusyrikan, kini di dalam tubuh sejumlah pesantren sudah bercokol virus sepilis (Sekularisme, Pluralisme agama –menyamakan semua agama–, dan Liberalisme).

Sekulerisme adalah faham yang menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia, negara dan sebagainya. Sedangkan pluralisme menganggap semua agama itu sejajar, paralel, prinsipnya sama, hanya beda teknis, sehingga kita tidak boleh memandang agama orang lain dengan menggunakan sudut pandang dan kaidah-kaidah agama yang kita peluk. Liberalisme meletakkan rasio di atas kaidah-kaidah agama, dan umat beragama (Islam) diarahkan untuk berpendirian tidak taat pada ajaran agama. Di negara-negara Barat, liberalisme telah membawa mereka kepada ketidakpastian nilai, jauh dari keyakinan dan kebenaran hakiki.

Menyadari hal itu, bulan Juni lalu FUI (Forum Umat Islam) berinisiatif mengundang sejumlah Ulama, Habaib, dan Tokoh Ormas se-Indonesia yang jumlahnya mencapai 200 orang lebih, untuk bertemu dan membicarakan masuknya virus sepilis ke sejumlah pondok pesantren. Pertemuan berlangsung di Pondok Pesantren Daarun Najah, Jakarta.

Salah satu indikasi yang menunjukkan sejumlah ponpes telah tercemari visrus sepilis, adalah adanya pernyataan dari pimpinan salah satu pesantren di Bandung, Jawa Barat, bahwa paham Sepilis itu tidak haram. Padahal, pada tanggal 1 Agustus 2005, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa haram bagi aliran yang berberhaluan Liberalisme, Plularisme dan Sekularisme.

Selain itu, adanya kenyataan di sejumlah pesantren beredar majalah Al-Washatiyah. Majalah ini memuat berbagai artikel yang membawa misi sepilis. Mereka juga menyelenggarakan kegiatan berupa penataran tentang pluralisme yang ditujukan bagi guru-guru muda di pesantren.

Pesantren yang sudah terjangkiti virus sepilis ini, konon jumlahnya mencapai sepuluh persen, sebagaimana diperkirakan oleh KH Mahrus Amin, pimpinan Pondok Pesantren Darun Najah, Jakarta. Semoga saja perkiraan itu tepat, dan yang lebih penting lagi, penanganannya juga tepat. Sehingga, ponpes yang terjangkiti virus sepilis tidak kian bertambah.

Kita patut bersyukur sejumlah ulama di atas punya kepedulian serius terhadap adanya ponpes yang tercemari paham sepilis. Namun, kita juga berharap para ulama tadi juga serius membersihkan sejumlah pesantren yang sudah sejak lama terjangkiti virus kemusyrikan dan kesesatan.

Tentu kita belum lupa, ketika Bakor Pakem (badan Kordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) baru saja mengeluarkan rekomendasi untuk membubarkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada 16 April 2008 lalu, ada sejumlah kyai dan habaib dari sejumlah pesantren di Cirebon yang justru bersikap menolak rekomendasi Bakor Pakem.

Kyai dan habaib yang menolak rekomendasi Bakor Pakem itu tergabung dalam sebuah wadah bernama Forum Kyai Peduli Khittah Nahdlatul Ulama 26 Cirebon. Mereka berkumpul di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, pada hari Senin tanggal 21 April 2008, beberapa hari setelah rekomendasi pembubaran JAI dikeluarkan Bakor Pakem.

Ummat Islam tentu berharap, para ulama, habaib dan tokoh ormas yang begitu serius menyoroti masuknya virus sepilis ke dalam tubuh pondok pesantren, seyogyanya juga serius menyoroti masuknya virus aliran dan paham sesat ke dalam sejumlah pesantren pendukung AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) ini. Kebetulan, kyai dan habaib yang menolak rekomendasi Bakor Pakem tadi berasal dari pesantren yang ada hubungan formal struktural dan kultural dengan ormas NU (Nahdlatul Ulama), maka sudah sepantasnya tokoh ormas NU-lah yang lebih dulu bersikap tegas. Apalagi, PBNU sudah menyatakan bahwa apa yang diyakini dan dilakukan oleh Ahmadiyah (JAI –Qadyan– dan GAI –Lahore–) jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam.

Beberapa tahun sebelumnya, kita pernah membaca di media massa ada kyai dari pesantren di Jawa Timur yang jadug alias kebal senjata tajam. Bahkan ia bisa mengajarkan ilmu kebalnya itu kepada siapa saja, terutama santri-santrinya. Sang kyai dan sejumlah pasukannya kala itu meginjakkan kakinya ke Jakarta, dari Jawa Timur, untuk mendukung Gus Dur yang kala itu menduduki kursi Presiden RI, namun kedudukannya sedang digoyang-goyang oleh DPR dan MPR. Peristiwanya sebagai berikut.

Pasukan Berani Mati demi Gus Dur

Massa Pro Gus Dur masuk lagi ke Jakarta. Mereka dibekali berbagai jimat dan ilmu. Di antara pendukung Gus Dur yang memiliki daya linuwih (melebihi orang biasa) itu adalah Pasukan Berani Mati dari Banyuwangi. Pasukan Berani Mati (PBM) yang dikomandani oleh Abdul Latief tersebut mulai bergerak melalui jalur darat dari Banyuwangi pada hari Minggu (18 Maret 2001). Bila gelombang pertama jumlahnya hanya 500 orang, diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. Pasalnya, di Banyuwangi sendiri sempat beredar formulir pernyataan kesiapan mati demi membela Gus Dur. (Tabloid Aksi, vol 5 No 314, 22-28 Maret 2001, halaman 4-5).

Pasukan Berani Mati (PBM) untuk membela Gus Dur itu dikoordinir Front Pembela Kebenaran dan mereka dilatih di hutan Banyuwangi Jawa Timur mengenai fisik, mental, dan kekebalan; kemudian berangkat ke Jakarta membela kepresidenan Abdurrahman Wahid. Untuk menghadapi sidang DPR yang diperkirakan akan memutuskan/ mengeluarkan Memorandum II untuk Presiden Wahid 30 April 2001, PBM pendukung Wahid itu didatangkan ke Jakarta berjumlah 350.000 orang.

Apa yang dilakukan pendukung Gus Dur itu paling kurang ada 2 pelanggaran besar terhadap Islam. Pertama, mereka pakai jimat. Kedua, mereka siap mati demi Gus Dur.

Masalah jimat, ada larangannya, jelas:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ.

Barangsiapa menggantung-gantungkan jimat maka sungguh benar-benar dia telah syirik—menyekutukan Alloh, dosa terbesar– . (Hadits Riwayat Ahmad).

إنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتُّوَلَةَ شِرْكٌ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَذِهِ الرُّقَى وَالتَّمَائِمُ قَدْ عَرَفْنَاهَا فَمَا التُّوَلَةُ ؟ قَالَ شَيْءٌ تَصْنَعُهُ النِّسَاءُ يَتَحَبَّبْنَ إلَى أَزْوَاجِهِنَّ

Sesungguhnya tangkal, jimat, dan tiwalah itu adalah kemusyrikan. Para sahabat kemudian bertanya: Wahai Abu Abdir Rahman, tangkal (mantra-mantra) dan jimat itu kami telah tahu, tetapi apakah yang namanya tiwalah itu? Ia menjawab: Tiwalah (pelet) adalah sesuatu yang dibuat oleh para wanita supaya dengan tiwalah (pelet) itu dicintai oleh suami-suami mereka.” (HR Ibnu Hibban dan Hakim).

Larangan memakai aji-aji, kekebalan atau supaya dogdeng (tidak mempan dibacok):

20535– عَنِ الْحَسَنِ قَالَ أَخْبَرَنِى عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ « وَيْحَكَ مَا هَذِهِ ». قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ « أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْناً انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِىَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَداً ». (رواه أحمد بسند لا بأس به).

“Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, “Bahwa Nabi melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, “Apakah ini?” Orang itu menjawab: “Penolak lemah”. Maka bersabda Nabi kepada orang itu, “Tanggalkanlah gelang itu, karena ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, dan apabila kamu mati sedangkan ia masih di tanganmu, tentulah engkau tidak akan selamat selama-lamanya.” (HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba’sa bih).

Adapun Pasukan Berani Mati demi Gus Dur, maka mereka itu jelas-jelas keberaniannya itu merupakan tingkah yang diingkari oleh Rasulullah saw dan pelakunya tidak diakui sebagai golongan umat Nabi Muhammad saw. Sedang kalau mati, maka ia tidak termasuk golongan umat Nabi Muhammad saw.

{ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إلَى عَصَبِيَّةٍ , وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَصَبِيَّةً , وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ } رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

Tidak termasuk (golongan) kami, orang yang menganjurkan ‘ashobiyah (fanatisme kekabilahan, golongan dan sebagainya, pen) dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang berperang membela fanatisme kekabilahan, dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang mati mempertahankan fanatisme kekabilahan.” (HR Abu Dawud).

Anehnya, yang menyerukan untuk berbuat seperti itu, bahkan yang mengisi jimat, kekebalan, atau ilmu yang dianggap bisa mendatangkan bala’ terhadap lawan itu justru para kiyai NU. Buktinya, KH Noer Muhammad Iskandar SQ tokoh NU, dalam suatu wawancara dengan terus terang mengakuinya:

Pertanyaan: Ilmu tersebut dimiliki lewat jimat atau benda apa?

Jawab KH Noer Muhammad Iskandar SQ: Ada yang memang bentuk ajimat, tapi kalau di pesantren kebanyakan mereka ambil dari ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kata Nabi dulu, orang dengan membaca bismillahir rahmanir rahiem sebanyak 113 kali bisa berjalan di atas air. Nah, sebagaimana dengan membaca ayat sebanyak itu, kita bisa memiliki kekuatan tersebut. Tentu ada proses-proses lainnya.

Pertanyaan: Tekanan terhadap anggota DPR oleh massa Pro Gus Dur tampaknya juga menggunakan cara lain, misalnya, adanya Pasukan Berani Mati. Kekuatan itu diperoleh dari mana?

Jawab KH Noer Iskandar SQ: Sebenarnya dalam dunia pesantren, ilmu-ilmu semacam itu tidak aneh lagi. Karena para santri yang umumnya mendalami berbagai macam kitab agama, juga dibekali ilmu kekebalan tubuh. Kekuatan itu akan muncul sesuai dengan batin mereka sendiri…. Di samping itu, ada juga yang mendapatkan ilmu dari para ulama khos. (Tabloid Aksi, vol 5 no. 314, 22-28 Maret 2001, halaman 6).

Betapa ngerinya mendengar jawaban Kyai Noer Iskandar itu. Justru yang menyebarkan ilmu kebal yang telah dilarang dalam Islam itu para Kiyai pesantren lingkungan NU. Masih pula Kyai Iskandar menimpakannya kepada Nabi saw seolah beliau adalah seperti para kyai yang pada hakekatnya adalah dukun-dukun itu. Na’udzubillahi min dzalik. Mau dikemanakan orang-orang NU ini oleh para Kyai dukun yang menyebarkan perdukunannya di pesantren-pesantren dengan memperbudak santri-santrinya sampai berpuluh-puluh tahun untuk mengabdi pada sang kiyai-kiyai dukun hanya agar menjadi orang yang tidak termasuk ummat Nabi Muhammad saw itu?

Uraian lebih komplit lagi tentang ini bisa Anda baca dalam buku Bila Kyai Dipertuhankan; Membedah Sikap Beragama NU, oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Abduh Zulfidar Akaha, Pustakan Al-Kautsar, Jakarta, April 2001.

Ilmu kebal yang dimiliki seseorang, sudah pasti bukan berasal dari Alloh. Sebab kalau ilmu seperti itu berasal dari Alloh, tentu para Nabi dan Sahabatnya yang akan lebih dulu menerima ilmu kebal. Faktanya, Nabi Muhammad dan Sahabatnya tidak memiliki ilmu kebal, sehingga pada Perang Uhud gigi Nabi Muhamad SAW patah, bahkan beliau menderita luka-luka ketika masuk ke dalam sumur perangkap yang disediakan musuh.

Meski seseorang itu tidak beriman kepada Alloh, dia bisa memiliki ilmu kebal. Karena, ilmu itu bukan berasal dari Alloh, tetapi dari syaithon. Dengan demikian, kyai yang memiliki ilmu kebal adalah pengikut syaithon, bukan pengikut nabi Muhammad SAW yang tidak kebal senjata.

Ini seharusnya menjadi perhatian kita semua, bahwa sesungguhnya sejumlah pesantren tidak saja mulai tercemari virus sepilis, namun sudah sejak lama tercemari virus kemusyrikan dan virus-virus berbahaya lainnya, sehingga mereka mendukung aliran dan paham sesat.

Begitu juga dengan sejumlah pesantren yang katanya berpaham Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), namun bila kita periksa lulusannya, maka ada di antara mereka yang tanpa sadar telah menjadi agen penyebar doktrin dan paham sesat milik kaum syi’ah, aliran sesat bahkan termasuk induk kesesatan. Sejumlah da’i muda lulusan pesantren berpaham aswaja, ketika berdiri tegak sebagai khatib Jum’at menyebarkan doktrin sesat dan paham sesat khas syi’ah. Mereka tidak sadar, dan belum tentu mau disadarkan atas kekeliruannya menyebarkan doktrin sesat dan paham sesat khas syi’ah. Hal itu bisa terjadi, karena mereka kurang bekal, menelan mentah-mentah ilmu yang diberikan para asatidz saat duduk di bangku pesantren.

Pesantren seperti ini juga harus dibersihkan. Masak sih pesantren yang katanya berpaham aswaja, tetapi lulusannya mengajarkan doktrin sesat dan paham sesat syi’ah!

Pesantren adalah milik Ummat Islam, untuk mendidik anak-anak Muslim. Keprihatinan ini hendaknya dibaca sebagai salah satu bentuk keikut sertaan untuk menghindari bahaya yang lebih kronis lagi. Bukan sebaliknya, justru disikapi dengan menggerakkan aneka manusia yang pro kekafiran untuk menolak kebenaran sambil mengusung dan mendukung kesesatan; sebagaimana pemandangan menjijikkan adanya gerombolan yang dibariskan nama-namanya bergelar KH (Kyai Haji) namun membela kafirin Ahmadiyah dalam AKKBB. (haji/tede)