Ilustrasi salah satu dampak keterpurukan ekonomi masyarakat kecil, bengong di jalanan, maka  perlu dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi siapa yang peduli? Foto yousaytoo.com

Naiknya harga kebutuhan pokok seperti beras, kacang, kedelai, daging, ayam telor, sayur-sayuran, bahan bakar minyak bensin, solar dan minyak tanah menimbulkan keresahan bagi semua lapisan masyarakat terutama saudara kita yang berpenghasilan kecil. Mereka mengeluh dan bingung mengatur perekonomian rumah tangganya. Naiknya harga kebutuhan pokok jelas mempengaruhi kehidupan setiap harinya.

Menyikapi peristiwa ini, sebagaian orang tidak dapat menahan emosi dan kemarahannya. Diantara mereka ada yang mengadakan demontrasi, perusakan dan sebagainya.Tindakan-tindakan ini jelas tidaklah langsung menyelesaikan perkara tersebut. Bahkan boleh jadi memperumit dan menambah masalah.

Inilah penyakit jiwa. Apabila melihat sesuatu yang tidak disepakati hawa nafsunya,muncul keluh kesah sebaiagmana diingatkan oleh firman Allah:

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩)إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠)وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS.  Al-Maarij 19-21)

Kiranya tidak ada jalan keluar dari segala kesulitan dari kesempitan hidup melainkan dengan kembali kepada hukum Allah.

Untuk memperoleh kecukupan dan ketenangan jiwa pada saat dilanda kekurangan kebutuhan hidup, maka lakukanlah hal-hal sebagai berikut:

Bersabar atas ketentuan Allah

Maksudnya kita umat Islam tidak boleh mengeluh dan putus asa. Karena tidak mungkin kita keluar dari ketentuan-Nya. Musibah ini bukan hanya menimpa diri kita saja, tetapi juga  menimpa para utusan sebelumnya, terutama Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ (٢١٤)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa malapetaka dan dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?”Ingatlah, sesunggunya pertolongan Allah itu amat dekat.”(QS.Al-Baqarah 214)

Orang yang bersabar akan mendapatkan pertolongan, sebagaimana firman Allah:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (٤٦)

“Bersabarlah sesungguhnya Allah menolong orang-orang yang bersabar.”(QS.Al-Anfal 46)

Bersabar atas tindakan pemimpin

Sikap Ahlus Sunnah waljamaah atau salafus shalih ketika melihat tindakan pemimpin yang dibenci, maka sudah ada petunjuknya dalam Hadits, yakni bersabar. Hudzaifah bin al Yaman berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ. قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ « نَعَمْ ». قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ « نَعَمْ ». قُلْتُ كَيْفَ قَالَ

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

Hudzaifah bin Yaman berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, dahulu saya berada dalam kejahatan, kemudian Allah menurunkan kebaikan (agama Islam) kepada kami, apakah setelah kebaikan ini timbul lagi kejatahan?” beliau menjawab: “Ya.” Saya bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan tersebut akan timbul lagi kebaikan?” beliau menjawab: “Ya.” Saya bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan ini timbul lagi kejahatan?” beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya, “Bagaimana hal itu?” beliau menjawab: “Setelahku nanti akan ada pemimpin yang memimpin tidak dengan petunjukku dan mengambil sunnah bukan dari sunnahku, lalu akan datang beberapa laki-laki yang hati mereka sebagaimana hatinya setan dalam rupa manusia.” Hudzaifah berkata; saya bertanya, “Wahai Rasulullah, jika hal itu menimpaku apa yang anda perintahkan kepadaku?” beliau menjawab: “Dengar dan patuhilah kepada amir, walaupun ia memukulmu dan merampas harta bendamu, dengar dan patuhilah dia.” (HRMuslim3/1476, al Mustadrak, ash Shahihah 4/547)

Mudah-mudahan hadits ini dapat memadamkan emosi dan kemarahan jiwa kaum muslimin yang kurang berkenan melihat tindakan pemimpinnya. Dengan bersabar insya Allah masalah menjadi lebih ringan dan akan ada jalan keluarnya. Namun perlu hati-hati pula, jangan sampai terjerumus. Karena ada peringatan dalam Hadits:

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ خَمْسَةٌ وَأَرْبَعَةٌ أَحَدُ الْعَدَدَيْنِ مِنْ الْعَرَبِ وَالْآخَرُ مِنْ الْعَجَمِ فَقَالَ اسْمَعُوا هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ مِسْعَرٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menghampiri kami, kami berjumlah Sembilan: lima dan empat, salah satu dari dua bilangan itu dari Arab sementara yang lain dari ‘ajam, beliau bersabda: “Dengarkan, apa kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku nanti akan ada pemimpin-pemimpin, barangsiapa yang memasuki mereka lalu membenarkan kedustaan mereka serta menolong kedhaliman mereka, ia tidak termasuk golonganku dan tidak akan mendatangi telagaku, barangsiapa tidak memasuki mereka, tidak membantu kedhaliman mereka dan tidak membenarkan kedustaan mereka, ia termasuk golonganku, aku termasuk golongannya dan ia akan mendatangi telagaku.” (HR At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini shahih, gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadits Mis’ar kecuali dari sanad ini, dan riwayat Ahmad dan An-Nasaai).

Tetap istiqomah dan taqwa kepada Allah

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (٣)

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS.Ath Thalaq:2-3)

Optimis dan yakin Allah tetap memberi rizki

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لاَ تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوتَ الْعَبْدُ حَتَّى يَبْلُغَهُ آخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ ، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ : أَخَذِ الْحَلاَلِ ، وَتَرَكِ الْحَرَامِ. أخرجه ابن حبان والحاكم وأبو عبد الرزاق وقال الحاكم صحيح على شرط الشيخين ووافقه الذهبي

Dari jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Janganlah kalian menganggap lambat terhadap rizqi, karena sesungguhnya salah seorang dari kalian tidak akan mati hingga sampai kepadanya akhir rizqi baginya, maka perbaguslah dalam mencari rizqi, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram. (Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, Abu Adir Razzaq, berkata al-Hakim shahih atas syarat syaikhan dan disepakati adz-Dzahabi, Musnad asy-Syihab 2/185,al-Hakim2/4, Ibnu Hatim 2/1, al-Hilya 10/27.Hadits Shahih, lihat Takhrij Hadits Musykilatil Faqri hal 14 oleh Al-Albani)

Tanamkan rasa qona’ah dan merasa cukup

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ ». صحيح مسلم

Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sungguh beruntung orang Islam yang berserah diri dan merasa cukup dengan rizki yang ada dan merasa puas atas pemberian-Nya. (HR Muslim 2/370)

Hindari ambisi rakus dunia

Faktor utama hancurnya umat dan perusak zaman dahulu maupun sekarang adalah tamak atau rakus kedudukan dan harta. Padahal kaya yang hakiki ialah kaya jiwa, mampu menghadapi semua masalah. Hal ini tidak mungkin diperoleh kecuali bagi orang yang beriman dan berilmu dienul Islam. Abu Hurairah berkata, Nabi bersabda:

« لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ ».

Bukanlah kaya itu orang yang banyak harta, tetapi kaya itu kaya jiwa.” (HR Bukhari 6081, Muslim 1051)

Hindarkan pemborosan dan israf

Sebenarnya rizki yang Allah berikan kepada hamba-Nya sudah cukup untuk kepentingan primer setiap harinya. Namun hawa nafsu tidaklah pernah menyuruh kita boros dan membeli sesuatu   yang tidak ada gunanya. Misalnya menghiasi rumah  dengan yang tidak berfaedah, makan minum yang berlebihan. Allah berfirman:

 وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (٣١)

“Dan makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS.Al-A’Raf 31)

Dengan menjauhi perkara ini, insya Allah rezki dari Allah cukup untuk menutup kebutuhan.

Hindarkan segala tindakan yang merusak badan dan keimanan

Misalkan merokok, maka ketahuilah bahwa perokok adalah perusak badan dan ekonomi keluarga. Demikian juga judi dan minum minuman yang memabukkan.

Seharusnya kita bisa berpikir, bila uang untuk membeli rokok dikumpulkan untuk menafkahi keluarga, insya Allah lebih dari cukup dan manfaatnya jelas. Perhatikan peringatan Allah:

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah 195)

Adapun yang merusak keimanan, seperti menggunakan harta ke tempat yang dianggap keramat (kuburan) untuk minta berkah, inilah perusak kekayaan dan keimanan. Demikian juga membeli jimat untuk mencari kekayaan dan ketenangan. Ini adalah pekerjaan kyai tukang sihir yang mengeruk harta orang awam dan merusak tauhid mereka.

Berusaha hidup hemat sesuai dengan rizki yang diterima

Kita hendaknya bisa membedakan antara kebutuhan perut dengan keinginan. Jangan sampai rezki yang sudah cukup menjadi kurang kerena mengikuti hawa nafsu. Cermatilah firman Allah berikut:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا (٧)

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”(QS.Ath-Thalaq 7)

Choirul Hisyam –Sidoarjo Jawa Timur

(nahimunkar.com)