PMII Demo dengan Shalat Ghaib

Shalat Ghaib adalah ibadah. Ibadah itu tidak boleh ditiru-tiru untuk kepentingan lain. Hanya untuk Allah Ta’ala, dan harus sesuai dengan tatacara yang diatur oleh Allah lewat Nabi-Nya.

Shalat ghaib itu pernah dilaksanakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya ketika mendengar bahwa Raja Najasi di Habasyah yang telah masuk Islam wafat, sedang masyarakatnya Nasrani. Karena jenazah Raja Najasi itu belum ada yang menshalatinya (lantaran masyarakatnya Nasrani) maka dilakukanlah shalat ghaib oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya di Madinah. Namun kini ada bid’ah baru, shalat ghaib dilakukan oleh para mahasiswa PMII (dari lingkungan NU), mereka katakan sebagai simbol matinya demokrasi, dan itu dilakukan dalam demo untuk mengecam pelantikan SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden, Selasa (20/10 2009). Demo mengusung bid’ah dan mengecam pelantikan presiden RI itu dilakukan di Semarang Jawa Tengah.

Mengerjakan yang tidak diperintahkan

Ibadah telah diubah-ubah semaunya oleh mahasiswa PMII (dari kalangan NU). Satu gejala buruk yang dalam hadits disebut:

وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ ).

… dan mereka mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan.. (HR Muslim).

Apabila ulama diam saja terhadap gejala buruk dan bid’ah qabihah (bid’ah buruk) ini, maka kemungkinan sunnah sayyiah (laku buruk) ini akan diterus-teruskan dan mungkin akan ditiru oleh yang lainnya di mana-mana.

Kemunkaran tidak boleh didiamkan, karena Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam menyuruh, siapa yang melihat kemunkaran (kejelekan) maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya, bila tak mampu maka dengan lisannya, dan bila tak mampu maka dengan hatinya (yaitu membencinya) dan itu adalah selemah-lemah iman.

Tentang demo pakai shalat ghaib yang mereka sebut sebagai symbol matinya demokrasi itu beritanya sebagai berikut:

Kecam Pelantikan SBY-Boediono, Aktivis PMII Shalat Gaib

Selasa, 20/10/2009 11:29 WIB

Triono Wahyu Sudibyo – detikNews

pmii-demo-dengan-dholat-ghoibdok detikcom

Semarang – Ratusan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berunjukrasa menolak pelantikan SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Dalam aksinya mereka menggelar salat gaib.

“Ini sebagai simbol matinya demokrasi!” kata korlap aksi, Ainur, disambut teriakan “hidup mahasiswa”.

Aksi digelar di Bundaran Air Mancur Semarang, Jl. Pahlawan, Selasa (20/10/2009). Puluhan polisi mengawal aksi tersebut.

Meski diganggu kebisingan jalan raya, shalat gaib berlangsung khusyuk. Salah satu memimpin, sisanya mengikuti.

Beberapa poster yang dibawa bertuliskan, “Stop Dramatisasi Politik”, “Selamat Datang Kabinet Sinetron”, dan lain-lain.

Sebelumnya, para mahasiswa sempat adu dorong dengan polisi. Bahkan beberapa mahasiswa mendapat bogem. Pasalnya, polisi menilai aksi itu terlalu memenuhi jalan, sehingga arus lalulintas terganggu.

Aksi berakhir pukul 11.00 WIB. Mereka meninggalkan lokasi dengan tertib.

Selain PMII, aksi serupa juga digelar Persatuan Organ Mahasiswa Semarang (POROS). Setelah bergabung dengan PMII, aktivis POROS menuju kantor DPRD yang jaraknya hanya 50 meter dari Bundaran Air Mancur.

(try/djo) http://www.detiknews.com/read/2009/10/20/112901/1224747/10/kecam-pelantikan-sby-boediono-aktivis-pmii-shalat-gaib

Penyalahgunaan agama

Ungkapan yang biasa dilontarkan orang berupa perkataan “Agama jangan dibawa-bawa ke politik” mestinya yang pas adalah praktek penyalahgunaan agama seperti ini. Adapun membawa agama untuk mengatur seluruh kehidupan ini (termasuk pula hal-hal politik), justru merupakan penerapan fungsi agama. Karena perintahnya adalah agar kita masuk Islam secara kaaffah, keseluruhan atau total.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨﴾

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-baqarah/ 2: 208).

Memperuntukkan ibadah dalam hal ini shalat ghaib bukan untuk menshalati jenazah Muslim tetapi untuk apa yang mereka sebut sebagai symbol matinya demokrasi dalam berdemo adalah satu bentuk mengikuti langkah syetan. (Redaksi nahimunkar.com)