Polisi Dinilai Gegabah Tembak Mati Dulmatin

11/03/2010 – 11:56

INILAH.COM, Jakarta – Polri dinilai gegabah langsung menembak mati buronan teroris Dulmatin alias Yahya Ibrahim di sebuah Warnet di Pamulang, Tangerang.

“Jika polisi sudah tahu orang yang dibidik itu adalah Dulmatin, harusnya tidak perlu ditembak mati. Ini yang menyulitkan masyarakat memahami apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar, Kamis.

Sejauh ini, kata dia, masyarakat hanya mendengar penjelasan dari sudut polisi tanpa tahu latar belakang motif dan tujuan dari penyerangan yang dilakukan kelompok teroris.

Polisi tak mampu mengungkap pesan ideologi yang selama ini berada di balik sejumlah pengeboman. Oleh sebab itu, penangkapan pelaku secara hidup-hidup perlu diprioritaskan.

“Kenapa polisi kurang berusaha untuk menangkap tokoh utama yang masih hidup? Ini yang bisa menutup informasi tujuan pergerakan mereka. Ke depan, polisi harus bisa menangkap hidup-hidup sehingga bisa mendapatkan informasi tentang kelompok mereka,” kata Widodo yang juga purnawirawan Polri itu. [wdh]

http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/03/11/394332/polisi-dinilai-gegabah-tembak-mati-dulmatin/

Sayangnya, sikap mengkritisi seperti itu justru jarang dilakukan oleh media massa. Meskipun demikian, kalau ditelusuri, masih bisa kita temukan media yang bernada mengkritisi kasus ini, di antaranya adalah Koran Harian *Republika* sebagaimana ditulis oleh peneliti Insist Nuim Hidayat. Di antaranya dia tulis sebagai berikut:

Republika di halaman depan juga membuat tiga artikel. Artikel pertama
berjudul “DNA Dulmatin Cocok (judul besar), The 10 Million Dollar Man (judul
kecil).”  Artikel kedua berjudul “Presiden SBY: Hilangkan Saling Curiga.”
dan artikel ketiga berjudul “Yang Pulang untuk Berpulang.” Republika hari
ini tidak menurunkan artikel opini tentang Dulmatin.

Berlainan dengan arah Kompas, Republika cenderung kritis dengan tindakan
Polri/Densus 88 dalam menangani kasus Dulmatin. Republika menyindir
pengumuman terbunuhnya Dulmatin pertama kali ke publik dilakukan Presiden
SBY di depan Parlemen
Australia. Republika menulis lead beritanya : “Ratusan
orang di gedung parlemen
Australia menyambut pengumuman itu dengan tepuk
tangan” dan memberikan judul gambar Presiden SBY sedang berpidato dengan
tulisan: “Makin Mesra”.

Empati Republika kepada Dulmatin, (meski Republika tidak setuju dengan aksi
teror), makin terlihat di artikelnya yang ditulis oleh wartawannya Darmawan
Sepriyosa : “Yang Pulang untuk Berpulang.” Di artikel itu Darmawan
menceritakan riwayat hidup Dulmatin, kehebatannya dan kebohongan pemerintah
Filipina yang berulang-ulang mengumumkan kematian Dulmatin.

Di akhir tulisannya, Darmawan menulis : “Sudah lama wanita itu mengaku
menyerahkan nasib sang anak kepada Tuhan. Ia bahkan berujar, jika Dulmatin
meninggal, tak usah repot membawa jenazahnya pulang ke rumah. “Mati dimana
saja tidak masalah karena semua di tangan Allah,” kata dia, wanita tegar
itu. “Bila ajal tiba, tak soal tempat berkubur…”

Di tajuknya hari ini yang berjudul *Sampai Kapan Terorisme?* Republika
mengritik sikap pemerintah dalam menangani terorisme. Republika menulis :

“Cara Indonesia membasmi terorisme benar-benar mengikuti cara Amerika
Serikat. Awalnya penegakan hukum, yaitu tangkap, interogasi dan adili. Kini
hanya ada satu cara: tembak di tempat…”

“Selama ini pemerintah menyebut bahwa jaringan terorisme berakar pada
pejuang Indonesia di Afghanistan serta mujahidin Muslim di Ambon dan Poso.
Mereka awalnya adalah orang-orang yang memiliki semangat membela sesame umat
Islam yang dibiarkan dunia internasional terus dijajah Uni Soviet.  Mereka
juga awalnya orang-orang yang bersemangat membela umat Islam di Poso dan
Ambon yang dibiarkan oleh polisi dan tentara dibantai pihak lain.  Namun
setelah wilayah konflik tersebut damai, mereka tak mampu beradaptasi dengan
situasi normal. Sebagai masyarakat sipil,tentu mereka tak memiliki sistem
dan prosedur adaptasi. Hal itu berbeda dengan pasukan militer. Selesai
bertugas di
medan perang, mereka harus mengikuti terapi dan proses adaptasi
terlebih dulu sebelum kembali ke keluarganya…”

Selamat membaca!


www.nuimhidayat.blogspot.com