Kiri, Guru ngaji tewas ditembak polisi/InfoTrpns. Kanan, Warga Demo ke Polres Sidoarj.o Mereka menuntut pembunuh Riyadhus Sholikin anggota Polres Sidoarjo dihukum berat. 29 Oktober 2011 15:32:21 WIB  Fotografer : M. Ismail/beritajatim.com

  •  Riyadhus Solihin (40) yang sehari-hari menjadi guru ngaji itu tewas tertembak oleh Briptu Eko Ristanto, Jumat (28/10/2011) dini hari.
  • Kalau pun misalnya, Solihun dianggap salah, melakukan penyerempetan atau nabrak lari, bukankah sebaiknya ditangkap saja, bukan malah ditembak seperti penjahat, lalu dilempari tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Saya melihat, Kapolda tidak bijak mengumumkan semacam itu. Kalau masyarakat sudah marah,…
  • Petugas gabungan menutup Kafe Ponti di sekitar Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Langkah itu diambil sebagai buntut dari penembakan polisi mabuk yang menewaskan seorang guru ngaji pada Jumat silam. Saat itu, sebelum terjadi penembakan, enam anggota Satreskrim Polres Sidoarjo berpesta alkohol di kafe tersebut.
  • Coba cek, apakah oknum polisi itu minum atau tidak. Sebab, konon dari enam orang, oknum polisi itu menghabiskan sampai empat rak bir. Pertanyaannya, apakah polisi boleh pesta miras seperti itu.

Inilah beritanya:

***

Ketua PBNU: Tuduh Guru Ngaji Bawa Celurit, Copot Kapolda Jawa Timur

Jakarta– Menyikapi tertembaknya Riyadhus Solihin, seorang guru ngaji di Sidoarjo, Jawa Timur, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf mendesak, agar polisi mengusut kasus ini dengan setuntas-tuntasnya. Slamet juga meminta Kapolri untuk mencopot Kapolda Jawa Timur Irjen (Pol) Hadiatmoko karena telah gegabah dan tergesa-gesa menyatakan Solihin melakukan perlawanan dengan clurit.

Seperti diberitakan voa-islam sebelumnya, kasus penembakan terhadap Riyadhus Solihin oleh oknum polisi, menuai banjir protes dari warga Nahdliyin. Diduga, Briptu Eko Ristanto melakukan penembakan setelah pesta miras dengan sesama anggota polisi.

Riyadhus Solihin (40) yang sehari-hari menjadi guru ngaji itu tewas tertembak oleh Briptu Eko Ristanto, Jumat (28/10/2011) dini hari. Penembakan dilakukan karena Solihin yang menaiki mobil Real Van nomor polisi W 1499 NW diduga menyerempet anggota Reskrim Polres Sidoarjo bernama Briptu Widianto yang menaiki motor Supra W 5077 XL.

Ketika dijumpai voa-islam usai jumpa pers di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Slamet Effendy Yusuf yang juga mantan Ketua Umum GP Ansor mengatakan, polisi jangan membuat data-data palsu untuk melakukan pembelaan kepada anggotanya yang salah.

“Sebagaimana diketahui, Solihin adalah anggota Pemuda Ansor. Dia tak punya kebiasaan membawa clurit. Pernyataan Kapolda Jawa Timur, yang menyatakan oknum polisi itu tidak mabuk adalah pernyataan yang tergesa-gesa. Coba cek, apakah oknum polisi itu minum atau tidak. Sebab, konon dari enam orang, oknum polisi itu menghabiskan sampai empat rak bir. Pertanyaannya, apakah polisi boleh pesta miras seperti itu. Apakah oknum polisi itu sedang menjalankan tugas atau tidak, itu perlu dicek,” tanya Slamet yang juga salah seorang Ketua MUI.

Ihwal pernyataan Kapolda yang mengatakan, kesalahan ada pada Solihin karena melakukan perlawanan dan dianggap membawa clurit, telah menimbulkan keresahan yang luar biasa di Sidoarjo. Slamet menganjurkan agar Kapolda Jawa Timur ditarik alias dicopot saja, untuk kemudian dipindahkan ke daerah lain. Karena pernyataannya jelas-jelas melukai hati masyarakat.

“Kalau pun misalnya, Solihun dianggap salah, melakukan penyerempetan atau nabrak lari, bukankah sebaiknya ditangkap saja, bukan malah ditembak seperti pejahat, lalu dilempari tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Saya melihat, Kapolda tidak bijak mengumumkan semacam itu. Kalau masyarakat sudah marah, saya kira Kapolda sudah tidak efektif lagi berada di Jawa Timur. Sebagaimana diketahui, Jawa Timur merupakan pusat gerakan pemuda Ansor. Bila sudah menyakiti perasaan masyarakat , saya minta agar Kapolri menarik kapolda Jatim itu,” ungkapnya.

Ketika ditanya apakah PBNU akan menyikapinya secara resmi? Ketua PBNU itu mengatakan, belum sampai ke arah situ. “Mungkin dalam rapat harian PBNU akan saya sampaikan. Intinya, saya sebagai mantan Ketua Umum GP Ansor,  sangat menyesalkan pernyataan gegabah Kapolda yang asbun dan ngawur seperti itu. Sungguh ini melukai perasaan masyarakat, khususnya di Sidoarjo. (Desastian) voaislam.com, Rabu, 02 Nov 2011

***

Buntut Penembakan Guru Ngaji, Kafe Ponti Ditutup

Sidoarjo:Petugas gabungan menutup Kafe Ponti di sekitar Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Langkah itu diambil sebagai buntut dari penembakan polisi mabuk yang menewaskan seorang guru ngaji pada Jumat silam. Saat itu, sebelum terjadi penembakan, enam anggota Satreskrim Polres Sidoarjo berpesta alkohol di kafe tersebut.

Penutupan Kafe Ponti dilakukan petugas Dinas Pariwisata, gabungan Satpol PP, Garnisun, dan Polres Sidoarjo. Meski demikian, alasan penutupan itu tidak terkait insiden penembakan pada Jumat silam. Penutupan berdalih kafe melanggar izin Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10/2008 tentang Kepariwisataan. Padahal Kafe Ponti sudah beroperasi cukup lama, dan baru dinyatakan bermasalah izin setelah terjadi penembakan dari polisi yang mabuk.

Penembakan terjadi saat serombongan polisi pulang dari kafe dalam kondisi mabuk. Dua polisi yang mengendarai sepeda motor bertabrakan dengan sebuah mobil. Entah mengapa, anggota Reserse Polres Sidoarjo Briptu Eko Ristanto, langsung melepaskan tembakan yang mengenai pengendara mobil, Riyadhis Sholihin, seorang guru ngaji. Korban tewas di tempat.

Insiden itu memacing protes warga Sidoarjo, yang didukung ormas Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama. Unjuk rasa dilakukan serempak sejak Selasa kemarin di seluruh Polres di Jatim.

Sementara dalam pernyataan sebelumnya, Wakapolda Jatim Brigjen Polisi Eddi Sumantri menyatakan, ada kejanggalan antara versi tersangka Briptu Eko dan di lapangan. Briptu Eko menyebutkan bahwa korban mengeluarkan celurit, dan mengancam keselamatan jiwanya, sehingga ia melepaskan tembakan. Namun keterangan itu diragukan. Apalagi, belakangan diketahui, tidak ada sidik jari korban di celurit yang dimaksud.(DSY) Ekonomi – / Rabu, 2 November 2011 09:12 WIB

Metrotvnews.com.

***

Bahaya minuman keras (miras) dan tugas syetan

Minuman keras adalah induk kejahatan. Itu telah disabdakan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن عَمْرِو بن الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ، فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ صَلاتُهُ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِي بَطْنِهِ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً”. (ابن النجار عن ابن عمرو)أخرجه أيضًا : الطبرانى فى الأوسط (4/81 ، رقم 3667) ، والدارقطنى (4/247) قال الشيخ الألباني : ( حسن ) انظر حديث رقم : 3344 في صحيح الجامع

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Khamr (minuman keras) adalah induk kejelekan, maka barangsiapa meminumnya, tidak diterima shalatnya 40 hari, maka jika ia mati dan minuman keras itu di dalam perutnya maka ia mati (bagai) bangkai jahiliyyah. (HR Ibnu An-Najjar dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani dan DaraQuthni. Syaikh Al-Albani berkata: hadits hasan, lihat Shahih al-jami’ nomor 3344).

Sudah minum minuman keras, lalu membunuh, kemudian melemparkan tuduhan bohong… itu semua jelas kejahatan yang berganda-ganda. Korbannya bukan hanya orang yang dibunuh, tetapi yang menderita dan bahkan sakit hati adalah keluarganya, sahabat-sahabatnya, bahkan siapa saja sesama Muslimin.

Perlu ditinjau lebih jauh, miras, narkoba, dan aneka kejahatan termasuk yang berseliweran di tempat-tempat pelacuran dan maksiat dengan nama hiburan malam; semua itu adalah pusat-pusat kejahatan dan kemaksiatan. Namun kemungkinan justru dipiara.

Bagaimana pula ketika kejahatan itu dari induknya sampai rangkaian-rangkainnya  justru dipelihara?

Tubuh saja kalau dihinggapi penyakit lalu dibiarkan saja maka bisa jadi akan parah sakitnya bahkan terancam nyawanya. Lantas kalau yang jadi pasangan tubuh (raga) yakni jiwa dan keimanan bila dihadapkan dengan kejahatan dan aneka kemaksiatan (yang justru dipiara), apakah jiwa dan keimanan itu tidak terancam?

Hanya orang yang sudah tidak punya iman (plus orang yang memang menjadi antek syetan yaitu menggerogoti iman orang) saja yang akan menjawab tidak. Ibarat  orang yang tidak punya uang ataupun copet, maka tidak akan khawatir adanya bahaya copet. Karena diri sendiri adalah copet, atau memang tidak punya uang, maka siapa yang mau mencopetnya? Dan apanya yang mau dicopet?

Yang paling parah adalah orang sudah tidak punya iman, masih pula jadi antek syetan untuk menghalangi iman orang. Dan lebih dipuji syetan lagi bila itu justru tugasnya. Kira-kira ada nggak ya?

(nahimunkar.com)