• Dijerat Pasal Berlapis: Pembunuhan dan Penganiayaan
  • Belum ada keterangan, apakah dijerat pula tentang kebohongan polisi soal clurit dan upayanya menghilangkan barang bukti dengan memecah kaca mobil.

Ilustrasi: surabayapagi.com. kanan: 29 Oktober 2011 15:32:21 WIB , Warga Demo Polres Sidoarjo. Markas Polres Sidoarjo di jalan Kombes Pol M Duryat kembali dijaga oleh anggota terkait isu demo yang dilakukan warga Sepande Kecamatan Candi, Sabtu (29/10/2011). Mereka menuntut anggota Polres Sidoarjo dihukum berat  karena membunuh Riyadhus Sholikin guru ngaji./ Fotografer : M. Ismail/ beritajatim.com

  • Seluruh anggota Satreskrim Polres Sidoarjo yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penembakan mati guru ngaji bernama Riyadis Solichin ditetapkan sebagai tersangka.
  •  Mereka yang kini menjadi tersangka itu adalah AKP Ernesto Saiser mantan Kasatreskrim, Iptu Suwiji Kanit Idik I, Briptu Eko Ristanto, Aiptu Agus Sukwan Handoyo, Bripka Domingus Dacosta, Brigadir Sis Sudarwanto, Briptu Iwan Kristiawan, dan Briptu Widianto.
  • Guru ngaji yang jadi korban  itu tewas diterjang peluru polisi pada Jumat 28 Oktober dini hari. Dia ditemukan tewas di lokasi kejadian sekira 1,5 kilometer dari rumahnya. Saat itu, korban yang mengendarai mobil Suzuki Futura W 1499 NW hijau, baru saja mengantarkan karyawan PT Ecco Indonesia pulang.
  • Dijerat pasal berlapis. Briptu Eko Ristanto, tersangka pembunuhan seorang guru ngaji, Riyadhus Sholikin, terancam pasal berlapis. Setelah sebelumnya Eko dijerat Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dan juga 351 KUHP tentang Penganiayaan yang Menyebabkan Kematian oleh penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim), kini anggota Reskrim Polres Sidoarjo itu juga akan dikenai Pasal 357 KUHP tentang Penganiayaan Berat yang Mengakibatkan Kematian.

Inilah beritanya:

***

Delapan Polisi Jadi Tersangka Pembunuhan Solichin Guru Ngaji

Seluruh anggota Satreskrim Polres Sidoarjo yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penembakan mati Riyadis Solichin ditetapkan sebagai tersangka. Ini disampaikan Irjen Polisi Hadiatmoko Kapolda Jawa Timur usai Upacara Peringatan HUT Brimob ke-66 di Mapolda Jatim, tadi.

Menurut Kapolda, setelah Briptu Eko Ristanto ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal 338 dan 353 ayat 3 KUHP tentang pembunuhan, maka 7 anggota Satreskrim Polres Sidoarjo, termasuk Kasat dan Kanit Idik I juga ditetapkan sebagai tersangka.

“Semuanya jadi tersangka setelah kita lakukan penyidikan berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti. Mereka terdiri dari tamtama dan bintara,” kata dia.

Dengan penetapan tersangka ini, kata Kapolda menunjukkan bahwa tidak ada polisi yang kebal hukum. Dia juga menegaskan polisi tetap profesional menangani kasus ini tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Ditambahkan Kapolda, pihaknya tetap menerima masukan dari masyarakat, tapi diharapkannya, masukan itu disampaikan secara santun dan demi mengungkap kasus seadil-adilnya.”Tidak ada satu persen pun kami menutupi yang salah. Tidak ada polisi yang kebal hukum. Silakan masyarakat kawal kasus ini sampai tuntas,” tegasnya.

Tentang penetapan tersangka AKP Ernesto Saiser mantan Kasatreskrim Polres Sidoarjo, Kapolda menyatakan ada kaitannya dengan dugaan upaya penghapusan barang bukti. Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Pencari Fakta (TPF) PC Ansor Sidoarjo menduga Kasatreskrim berupaya menghilangkan barang bukti bekas tembakan di kaca depan samping dengan memecahkan kaca depan dan samping kanan. Keberadaan clurit yang mulanya disampaikan Kasatreskrim pun terbantahkan oleh TPF Polda Jatim.

Mereka yang kini menjadi tersangka itu adalah AKP Ernesto Saiser mantan Kasatreskrim, Iptu Suwiji Kanit Idik I, Briptu Eko Ristanto, Aiptu Agus Sukwan Handoyo, Bripka Domingus Dacosta, Brigadir Sis Sudarwanto, Briptu Iwan Kristiawan, dan Briptu Widianto.(edy)suarasurabaya.net, 14 November 2011, 14:23:33| Laporan Eddy Prastyo.

***

Dijerat pasal berlapis, pembunuhan dan penganiayaan

Republika co.id memberitakan dengan judul:

Aniaya dan Tembak Guru Ngaji, Oknum Polisi Diancam Pasal Berlapis

SURABAYA – Briptu Eko Ristanto, tersangka pembunuhan seorang guru ngaji, Riyadhus Sholikin, terancam pasal berlapis. Setelah sebelumnya Eko dijerat Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dan juga 351 KUHP tentang Penganiayaan yang Menyebabkan Kematian oleh penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim), kini anggota Reskrim Polres Sidoarjo itu juga akan dikenai Pasal 357 KUHP tentang Penganiayaan Berat yang Mengakibatkan Kematian.

Pasal ini, kata Asisten Pidana Kejaksaan tinggi (Kejati) Jatim Agus Tri Handoko, sesuai dengan petunjuk yang diberikan Kejati kepada Polda Jatim.

Pemberian pasal tersebut, menurut Handoko menjadi lapisan dari pasal-pasal sebelumnya yang telah dijeratkan kepada Eko. “Karena kematian Riyadhus disebabkan karena penembakan,” kata Handoko, Sabtu (12/11).

Selain itu, jelasnya, kematian Riyadhus juga disebabkan oleh beberapa hal, seperti penganiyaan berat atau penganiyaan biasa. Karena itu harus diberikan pasal berlapis kepada tersangka. “Supaya tidak lolos,” ujarnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Riyadhus Sholikin tewas ditembak anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10) dini hari sekitar pukul 02.30.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari

Reporter: Ahmad Reza Savitri, Sabtu, 12 November 2011 14:45 WIB

REPUBLIKA.CO.ID.

***

Dijerat pasal penganiayaan menyebabkan mati

Sementara itu newsokezone memberitakan, Para tersangka dijerat adalah Pasal 358 dan 353 KUHP tentang Penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal dunia.

Namun para tersangka tidak ditahan lantaran ancaman hukumanya di bawah lima tahun. Kapolda juga tidak menyebut identitas enam tersangka itu.

“Yang pasti, dari keenam tersangka ada yang berpangkat bintara dan ada pula yang berpangkat perwira,” jelasnya.

Seperti diberitakan, pengurus GP Ansor Sidoarjo itu tewas diterjang peluru polisi pada Jumat 28 Oktober dini hari. Dia ditemukan tewas di lokasi kejadian sekira 1,5 kilometer dari rumahnya. Saat itu, korban yang mengendarai mobil Suzuki Futura W 1499 NW hijau, baru saja mengantarkan karyawan PT Ecco Indonesia pulang.(ton) okezone.

(nahimunkar.com)