Polisi Tembak Guru Ngaji, NU-Muhammadiyah dan Ummat Islam Resah

Polisi itu sudah membunuh , dikhawatirkan masih pula membikin alasan yang membohongi masyarakat, maka dikutuklah.

Foto/ dok/ beritajatim

  • Riyadus Sholihin, seorang guru ngaji, kader Ansor warga Desa Sepande, Sidoarjo tewas terkapar karena ditembak polisi, Jumat (28/10/2011) dini hari.
  •  Penembakan terhadap korban merupakan perbuatan keji, apalagi dengan alasan yang membohongi masyarakat.
  •  Sholihin, yang sehari-harinya sebagai penjual tempe dan guru ngaji ini ditembak oknum reskrim Polres Sidoarjo seusai menyerempet seorang anggota polisi.
  •  Diduga Usai Pesta Miras Oknum Polisi Tembak Guru Ngaji, NU Jatim Marah Besar
  • Kejadian pembunuhan oleh oknum polisi di Sidoarjo, bagaimanapun telah mencoreng korps kepolisian.
  • NU, Muhammadiyah dan Ummat Islam memprotes keras dana khawatir ada kebohongan-kebohongan yang dibuat sebagai alasan.

Inilah berita-breritanya:

***

Kader Ansor Tewas di Tangan Polisi

Senin, 31/10/2011 16:25 WIB

Jika Sering Berbohong, Polisi akan Dibenci Masyarakat

Surabaya – Riyadus Sholihin, seorang kader Ansor warga Desa Sepande, Sidoarjo terkapar oleh terjangan peluru polisi, Jumat (28/10/2011) dini hari. Akibat tewasnya Solihin, yang juga seorang guru ngaji ini, Sidoarjo pun menjadi sorotan publik.

Menurut Mustofa B. Nahrawardaya, koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), polisi dianggap berlebihan dan cenderung membohongi publik lantaran alasan yang dibuat-buat untuk menutupi perbuatan itu.

“Penembakan terhadap korban merupakan perbuatan keji, apalagi dengan alasan yang membohongi masyarakat, baik itu masyarakat Ansor maupun masyarakat umum,” kata Mustofa saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Senin (31/10/2011).

Sholihin, yang sehari-harinya sebagai penjual tempe dan guru ngaji ini ditembak oknum reskrim Polres Sidoarjo seusai menyerempet seorang anggota polisi. Kader Ansor ini ditembak oleh polisi yang mengejarnya, karena diakui melawan petugas saat akan ditangkap. Bahkan dikatakan korban membawa celurit.

“Kebiasaan polisi memberi alasan stereotip, melawan dan ditembak, tidak bisa begitu saja ditimpakan pada setiap orang yang berurusan dengan polisi. Terhadap penjahat, kemungkinan polisi terbiasa memberikan alasan semacam itu. Namun terhadap aktifis ormas Islam, apalagi anggota Ansor, sudah tidak lagi polisi patut melakukannya,” jelas Mustofa.

Menurut Mustofa, sudah saatnya, polisi menghilangkan kebiasaan buruk dengan menyampaikan informasi yang menyesatkan kepada masyarakat, dan mencoba, sekali lagi mencoba meluruskan informasi agar tidak dituduh bohong.

Kejadian pembunuhan oleh oknum polisi di Sidoarjo, bagaimanapun telah mencoreng korps kepolisian. Kemungkinan peristiwa semacam itu sudah sering terjadi, namun tidak ada pihak yang peduli dan akhirnya tidak pernah terungkap ke publik.

Dengan adanya protes yang besar dari masyarakat, maka polisi harus berbenah diri, dan tidak boleh lagi mengulangi perbuatan memalukan tersebut, baik di Sidoarjo maupun di kota-kota lain seluruh Indonesia.

Untuk itu, Mustofa meminta agar Kapolri jangan mudah puas dan percaya begitu saja atas prestasi semu yang didapat bawahan, karena kadang prestasi tersebut bukan prestasi yang sebenarnya.

Mustofa mencontohkan, sangat banyak kabar penembakan kaki terhadap orang maupun tembak mati terhadap penjahat dengan kronologi dan stereotip yang mirip.

“Yang paling penting adalah mencoba tidak berbohong pada masyarakat, agar masyarakat tidak membenci polisi,” pungkas Mustofa.

(bdh/bdh) Budi Hartadi – detikSurabaya

***

Polisi Tembak Guru Ngaji

NU-Muhammadiyah Siap Back Up Kasus Solikhin

Senin, 31 Oktober 2011 21:29:31 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.

Surabaya (beritajatim.com) – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim meminta Polda Jatim mengusut tuntas kasus penembakan kader PC Ansor Sidoarjo, Solikhin hingga tewas.

Pihaknya meminta tidak hanya Briptu Eko yang diberi sanksi tegas, tapi empat rekan polisi lainnya yang terlibat dalam pengejaran juga dihukum.

“Solikhin itu anak buah kami. Dia generasi penerus NU ke depan. Polisi harusnya bisa hati-hati dalam bertugas, jangan dipersenjatai malah sembarangan menembaki orang tak bersalah,” tegas Rois Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar kepada beritajatim.com, Senin (31/10/2011) malam.

Dirinya bersama beberapa pengurus harian PWNU Jatim telah mengunjungi rumah duka Riyadus Solikhin di Dusun Kauman, Desa Sepande, Kecamatan Candi-Sidoarjo malam ini. Dalam kesempatan itu, PWNU Jatim juga memberikan santunan untuk keluarga Solikhin.

“Kami telah menugaskan pengurus harian PWNU Jatim dan PCNU Sidoarjo untuk mengawal kasus ini hingga tuntas dan tidak ada rekayasa dari kepolisian. Memang ini merupakan musibah, tapi tidak bisa diterima kalau ada pelanggaran dalam kasus ini,” tukas Kiai Miftah panggilan akrab KH Miftachul Akhyar.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim menyatakan turut berbela sungkawa atas wafatnya Solikhin. “Semoga Allah mengampuni semua kekhilafannya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta keteguhan iman,” kata Sekretaris PWM Jatim Nadjib Hamid kepada beritajatim.com

Sebagai wujud kepedulian sosial, PWM Jatim bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo juga turut membantu biaya pendidikan dua orang anak Solikhin. “Malam ini Mas Tamhid atas nama PWM Jatim bersama karyawan Unmuh Sidoarjo sedang menuju ke rumah duka untuk serahkan bantuan,” pungkasnya. [tok/kun]

***

Usai Pesta Miras Oknum Polisi Tembak Guru Ngaji, NU Jatim Marah Besar

SIDOARJO– Kasus penembakan terhadap Riyadhus Solihin, seorang guru ngaji di Sidoarjo  Jawa Timur oleh oknum polisi, menuai banjir protes dari warga Nahdliyin. Diduga, Briptu Eko Ristanto pesta miras dengan sesama anggota polisi sebelum melakukan tembak mati.

Riyadhus Sholikhin (40) yang sehari-hari menjadi guru ngaji itu tewas tertembak oleh Briptu Eko Ristanto, Jumat (28/10/2011) dini hari. Penembakan dilakukan karena Sholikhin yang menaiki mobil Real Van nomor polisi W 1499 NW diduga serempetan dengan anggota Reskrim Polres Sidoarjo bernama Briptu Widianto yang menaiki motor Supra W 5077 XL.

Saat ini, Briptu Eko sudah dilakukan penahanan oleh Propam Polda Jatim. Briptu Eko dikenakan pasal 359 tentang perbuatan atau penganiayaan yang mengakibatkan orang meninggal dunia.

Buntutnya, ribuan warga menggelar aksi demo memprotes penembakan Riyadhus Sholikhin (40) oleh Briptu Eko Ristanto terus berlanjut, Senin (31/10/2011). Dalam demo itu, warga bersama mahasiswa mendatangi Mapolres Sidoarjo Jalan Kombes Duryat no 45 Sidoarjo, Jawa Timur.

Tetapi karena susah menembus jalan menuju Mapolres Sidoarjo, warga akhirnya balik arah dan melakukan pemblokiran jalan A Yani depan Makodim Sidoarjo. Pemblokiran dilakukan untuk arah Surabaya dan arah Malang.

Ribuan warga bergerombol duduk di atas aspal jalan. Kendaraannya pun diparkir di tengah jalan raya. Sebagian warga berlonjak-lonjak meneriakkan yel-yel dan meneriaki polisi sebagai pembunuh.

Sementara itu, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur Alfa Isnaini menuntut institusi Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda) dan Kepolisian Resor Sidoarjo meminta maaf secara atas insiden penembakan yang menewaskan kader Ansor asal Candi Sidoarjo, Riyadhus Sholihin.

Tudingan polisi bahwa Sholihin sebagai perampok sehingga patut dilumpuhkan, bagi Alfa merupakan fitnah yang keji. “Kami minta ungkapan maaf itu dilakukan secara terbuka melalui media massa, termasuk meluruskan bahwa tidak ada kader Ansor yang menjadi perampok seperti tuduhan aparat kepolisian,“ ujar Alfa, Senin (31/10/2011).

Secara administrasi, Sholihin merupakan kader Ansor di PAC Candi. Di dalam organisasi badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, Sholihin tercatat sebagai anggota yang aktif. Sebagai Ansor, pria kelahiran Kabupaten Trenggalek tersebut juga berprofesi sebagai guru mengaji di lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam catatan GP Anshor, Solihin adalah kader dan guru ngaji yang baik. Tuduhan polisi bahwa Solihin adalah perampok, sangat tidak bisa diterima.

“Rekam jejak Solikhin di kami (GP Ansor, red.) sangat jelas, dia tidak pernah memiliki catatan kriminal, apalagi terlibat dalam aksi kejahatan. Kami tidak terima jika anggota kami disebut sebagai perampok,” kata Alfa.  “Sekali lagi kami tidak menerima jika polisi menyebut kader kami sebagai perampok,“ tegasnya.

Secara resmi Ansor telah mengirim surat tuntutan maaf  tersebut ke Polda Jawa Timur dan Polres Sidoarjo. Ansor juga menuntut kepolisian menanggung biaya hidup dan masa depan pendidikan anak korban. “Karena dengan meninggalnya korban, tidak ada lagi yang menjadi sumber kehidupan bagi keluarga yang ditinggalkan,“ terang Alfa.

Di tempat terpisah, puluhan perwakilan dari Dewan Koordinasi Wilayah Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa (DKW Garda Bangsa) mendatangi Mapolda Jatim.

Zaini Nashiruddin, Ketua DKW Garda Bangsa Jatim, mengatakan kedatangannya ke Mapolda menuntut agar Kapolda Jatim secara sungguh-sungguh menuntaskan kasus tersebut. Sebab, banyak kasus yang menimpa anggota Polri terkesan berjalan lamban.

“Kita juga ingin memastikan apakah pelaku penembakan itu benar-benar ditahan atau hanya disembunyikan,” kata Zaini di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Senin (31/10/2011).

Dia juga menyayangkan dengan pernyataan Polisi yang menyebut bahwa Riyadhus membawa celurit seperti disebutkan polisi. Namun hal itu, kata Zaini, dibantah keluarga korban. Terlepas dari perspektif kedua belah pihak antara polisi dan korban, kasus penembakan ini merupakan kasus pelanggaran HAM.

Dia juga menuntut agar Kapolda Jatim Irjen Pol Hadiatmoko segera memberikan sanksi tegas kepada Briptu Eko dan oknum polisi yang menembak Solihin. “Pasal yang dikenakan seharusnya bukan pasal kelalaian, tapi pembunuhan,” tegasnya.

Sebelum Menembak, Oknum Polisi Pesta Miras

Sekretaris DKW Garda Bangsa, Ka’bil Mubarok, mengungkapkan oknum polisi yang menembak Riyadhus Sholikin, Guru Ngaji asal Sidoarjo, sebelumnya pesta miras di sebuah kafe yang tak jauh dari lokasi kejadian. Diduga aksi penembakan itu di bawah pengaruh alkohol.

“Sebanyak 4 oknum polisi ini sebelumnya sedang kumpul-kumpul di sebuah Cafe Ponti, kuat dugaan mereka pesta miras,” kata Ka’bil saat berada di Mapolda Jatim, Senin (31/10/2011).

Dia menjelaskan, saat itu Sholikin yang mengendarai mobil bernopol L 1499 NW diduga serempetan dengan anggota Reskrim Polres Sidoarjo Briptu Widianto yang menaiki motor Supra bernopol W 5077 XL.

Riyadhus Sholikin dikejar oleh polisi yang mengendarai mobil Daihatsu Xenia. Bahkan informasi yang diperoleh Ka’bil, Riyadhus dikejar oleh dua mobil yang dikendarai polisi.

Sejauh ini belum diketahui apakah korban setelah menyerempet mobil polisi memang sengaja melarikan diri.

“Informasinya polisi juga sempat mengeluarkan tembakan peringatan, kata sahabat Sholikin mengeluarkan celurit. Ini kan aneh, semasa hidup sahabat Sholikin adalah kader terbaik PC Ansor Sidoarjo. Mana mungkin dia membawa celurit,” kata Ka’bil.

Oleh karena itu, demi menjaga ketertiban dan keamanann secara bersama-sama dan suasana kondusif di Sidoarjo, maka DKW Garda Bangsa Jatim meminta pihak Kepolisian untuk tidak mengeluarkan statemen yang kontra produktif dan tendensius.

“Pernyataan Polisi seolah-olah sahabat Sholikin adalah orang jahat dengan melakukan perlawanan mengeluarkan celurit. Padahal Sholikin dipercaya sebagai pendidik di daerah lingkungannya,” tandasnya.

Sementara itu, Kepolisian membatah terkait tudingan pelaku penembakan dalam kondisi mabuk. Pjs Kabid Humas Polda Jawa Timur, AKBP Elijas Hendra, mengatakan pihak propam sudah melakukan tes urin ke beberapa polisi yang diduga terlibat atas kasus tersebut. “Semua yang terlibat sudah diperiksa oleh Propam Polres Sidoarjo. Dari hasil test urine mereka dinyatakan negatif dari pengaruh alkohol,” kata Elijas ketika dikonfirmasi.

Polda Jatim juga telah menurunkan tim khusus untuk menyelidiki kasus tersebut. Sebanyak 7 anggota yang diterjunkan. “Hasilnya belum diketahui,” tukasnya. [taz/okz, inl] / Selasa, 01 Nov 2011 (voa-islam.com)

(nahimunkar.com)