DARI: AL shahida

KEPADA: insistnet, kibar

Pesan berbendera

Selasa, 13 September 2011 23:02

 

Badan pesan

Salam

Saya paham betul kondisi Ambon, April lalu baru saja menjenguk mereka para ibu2 janda dan anak-anak yatimnya untuk menyemangati dan memberi motivasi, meyakinkan bahwa kita tetap peduli..

karena mereka masih tinggal dan berstatus pengungsi, gubuk2 yang kumuh dan pengap.

Walau perdamaian sudah  ada (baca dipaksakan) antara mereka ada dendam kesumat.

Muslim yang tersingkir dan pernah bertetangga sudah bersumpah tidak akan pernah lagi

untuk bertetangga atau hidup bersebalahan dengan warga Kristen.

Dan benar adanya pemisahan antara warga Muslim yang tinggal dibawah (mirip di Bosnia),

dipesisir dan menguasai pusat perdagangan Ambon sementara yang lainnya tinggal  dibukit bukit atas sana terpaksa memulai hidup mandiri seperti terpaksa narik beca, bikin tempe/tahu dan jualan baso atau koran dsb dsb. Sementara pemerintahan jelas dikuasai mereka dan kondisi Muslim disana sebagai minoritas kl 40%.

Karena perjanjian Malino kini warga K sudah mau berbelanja ke Mardika dan Batu Merah..

dicoba untuk membaur kembali lewat transportasi dsb dan perdagangan..dan ini sudah berjalan.

Sejatinya warga K yang biasa/awam merasa lelah dg konflik dan merindukan hidup berdampingan dengan Muslim.

Namun  rupanya masih saja ada oknum tertentu  ingin melanjutkan kerusuhan.

Kemarin saya membaca peringatan untuk tidak terprovokasi, untuk tenang dan semua pihak begitu mengingatkan kita…sambil saya terus memantau..karena desa Waringin dan Talake tempat tinggal anak2 yatim kami kini terpaksa  diungsikan ke masjid Al Fatah..kampung mereka habis punah dibakar, kecuali masjid.

Sahabat..inilah berita yang baru saya baca atas forwardan…karena partner kami tidak bisa

bergerak kecuali memberi logistik bagi pengungsi, semetara semua kawasan dibloke oleh tentara/brimob (spt biasanya).

Silahkan simak:

http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/09/12/16107/polri-berbohong-tukang-ojek-itu-betulbetul-tewas-dibunuh/

 

Polri Berbohong? Tukang Ojek itu Betul-betul Tewas Dibunuh

Jakarta (voa-islam) – Dalam pengamatan voa-islam, terjadi kesimpang-siuran pemberitaan oleh media massa seputar jumlah yang tewas terkait insiden berdarah di Ambon, Ahad (9/11) lalu. Termasuk, apakah tukang ojek itu tewas karena murni kecelakaan atau betul-betul dianiaya. Diperlukan kejujuran dari sikap aparat untuk mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi? Ini penting, agar akar masalah itu bisa diselesaikan dengan baik, tanpa harus memanipulasi fakta sesungguhnya.

Bukan rahasia umum, giliran banyak korban yang menimpa umat Islam, media massa didesak untuk tidak memperkeruh suasana. Tapi begitu korbannya menimpa umat Nasrani, media massa dan para pengamat membesar-besarkan pemberitaan dan memvonis umat Islam sebagai provokator. Sungguh sikap yang tidak fair.

Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto maupun Menteri Koordinator Politik, Hukum & Keamanan Djoko Suyanto berharap kerusuhan di Ambon pada hari Minggu lalu tidak sampai berkembang seperti kerusuhan pada 1999. Ia berharap media massa turut memelihara situasi damai di sana dan  berhati-hati dalam memberitakan pascakerusuhan di Ambon. Pasalnya, konflik antarkelompok yang terjadi di Ambon kemarin bisa membesar bahkan meluas jika pers salah menyikapi.

Menurut keterangan resmi Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam, setidaknya tiga warga tewas dalam kerusuhan di Kota Ambon, Ahad (11/9), di antaranya karena tertembak. Korban yang tewas tertembak itu adalah Sahrun Ely (22), Djefry Siahaan (tertembak di bagian perut), dan Cliford Belegur (tertembak di bagian dada sebelah kiri).

Padahal, sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan, jumlah korban tewas di Ambon mencapai lima orang. Hal ini disampaikan Djoko berdasarkan laporan tertulis yang diterimanya. “Saya tidak usah bilang korban dari kelompok siapa. Sementara yang tewas ini ya lima orang itu,” kata Djoko kepada para wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/9/2011).

Dibunuh, Bukan Kecelakaan

Mabes Polri menyatakan, berdasarkan hasil otopsi dan keterangan saksi, tewasnya tukang ojek Darmin Saiman, yang diduga menjadi pemicu kerusuhan Ambon, adalah murni kecelakaan tunggal.”Hasil otopsi dari dokter dan keterangan saksi di sana bilang dia kecelakaan murni,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen (Pol) Anton Bachrul Alam.

Senada dengan statemen Kepala Bareskrim Polri, Komjen (Pol) Sutarman, kerusuhan di Ambon dipicu tewasnya seorang tukang ojek dalam kecelakaan tunggal, namun sempat dipukuli oleh sekelompok orang. Nyawanya tidak tertolong saat dilarikan ke rumah sakit. Perbedaan keyakinan antara kelompok si tukang ojek dan kelompok pemukul memicu kerusuhan makin meluas.

“Ada seorang tukang ojek yang sebenarnya kecelakaan tunggal tapi malah dipukuli kelompok tertentu, sehingga terjadi balas dendam setelah upacara pemakaman,” ujar Sutarman saat hendak mengikuti rapat perihal rusuh Ambon ini di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (11/9/2011) petang.

Sementara itu dikatakan Bernard Abdul Jabbar dari Forum Umat Islam (FUI), jumlah korban yang tewas dalam bentrokan di Ambon sebanyak 8 orang. Adapun, tukang ojek itu faktanya betul-betul dibunuh, bukan murni kecelakaan, seperti dikatakan pihak kepolisian. “Saya punya fotonya, banyak bekas tusukan, sangat jelas sekali, ada unsur penganiyaan dengan motif dibunuh,” kata Bernard yang juga aktivis Hizbut Dakwah Islam (HDI) kepada voa-islam via SMS.

Umat Islam mendesak Polisi untuk mengotopsi ulang tukang ojek yang tewas itu dengan melibatkan tim investigasi yang didalamnya terdapat perwakilan dari ormas Islam.

Besok, rencananya, Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan memanggil Kepala BIN untuk dimintai keterangannya terkait kerusuhan di Ambon, Maluku. (Desastian)

***

http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=0v34dvs1cu6eo

Demikian tulisan dari seorang Muslimah (kalau tak salah tinggal di Eropa) anggota mailis mengemukakan keprihatinannya.

(nahimunkar.com)