Preman Berkedok Agamawan

Lebih Berbahaya daripada Preman Jalanan

 

BAMBANG Hendarso Danuri Kapolri baru yang menggantikan posisi Jenderal Sutanto pada 30 September 2008, sejak awal Oktober lalu sudah menunjukkan eksistensinya dengan menggelar program operasi pemberantasan preman.

Preman, menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah ‘sebutan kepada orang jahat (todong, copet, rampok, dsb.)’. Dari definisi tersebut dan kenyataan di masyarakat, yang namanya preman tidak dapat dipisahkan dengan tindak kejahatan. Mungkin bahasa baku yang sudah dikenal masyarakat luas adalah penjahat.

Penampilan dari penjahat itu biasanya bertampang sangar, dan berdandanan menyeramkan. Ini penjahat jalanan yang biasa disebut preman. Adapun penjahat-penjahat lain, pada hakekatnya preman juga, namun karena penampilannya tidak seperti penjahat jalanan tetapi bahkan sebaliknya, maka sebutan preman tidak lekat pada diri mereka, dan mereka merasa bukan sebagai preman. Karena memang kelasnya beda. Kalau preman biasanya beraksi di jalanan, di pasar, di terminal atau di lapangan, sedang penjahat yang penampilannya bukan preman itu operasinya bisa di pergedungan, di kantor-kantor, di lembaga-lembaga dan sebagainya. Yang jelas, bukan kelas preman jalanan, walau sama-sama penjahatnya.

Mengenai operasi preman (jalanan), mulanya diimplementasikan di lima Polda termasuk Polda Metro Jaya, dengan tujuan antara lain untuk membuat situasi yang lebih kondusif, aman, dan terkendali. Sejak awal November 2008, operasi pemberantasan preman diperluas jangkauannya, tidak hanya di lima polda namun seluruh polda.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri sudah memerintahkan kepada seluruh Kapolda untuk menggelar operasi pemberantasan preman selama satu bulan penuh, yang dipimpin langsung oleh Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol Susno Duaji.

Operasi pemberantasan premanisme telah menjadi agenda serius Kapolri, karena banyak keluhan dan laporan dari masyarakat yang terganggu saat beraktivitas baik di jalan, tempat keramaian, pasar ataupun di perumahan. Menurut Kapolri, para preman yang biasa beroperasi di jalanan sudah sangat meresahkan karena melakukan banyak tindakan kriminal seperti pencurian, pemerasan, aksi copet dan rampok.

Dari operasi ini, ribuan preman berhasil diciduk, ratusan di antaranya ditahan. Operasi pemberantasan preman yang dicanangkan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri ini memang jauh lebih lunak dibandingkan dengan operasi pemberantasan preman yang pernah terjadi pada tahun 1983-1985.

 

Petrus

Kala itu, dikenal istilah petrus singkatan dari penembak misterius. Disebut petrus (penembak misterius), karena pelaku penembakannya tidak jelas siapa, namun korbannya jelas banyak. Menurut catatan Kontras, di seluruh Indonesia pada 1983 korban tewas pada operasi preman kala itu tercatat 532 orang (dari jumlah tersebut, 367 diantaranya tewas dengan luka tembak). Sedangkan pada 1984, korban tewas mencapai 107 orang (15 orang di antaranya akibat luka tembak). Sedangkan pada pada tahun 1985, tercatat 74 tewas (24 di antaranya akibat luka tembak). Namun ada juga yang mengatakan, korban operasi preman 1983-1985 mencapai 10.000 orang.

 

Masyarakat berharap, operasi preman yang digencarkan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri diagendakan secara baik dan dilaksanakan secara profesional, sehingga betul-betul mampu menekan tingkat kriminalitas di seluruh wilayah Indonesia.

Masyarakat juga berharap, operasi ini tidak hanya tertuju kepada preman jalanan, tetapi juga preman terorganisir, preman yang melakukan pembalakan liar (illegal logging), illegal mining, illegal fishing, dan sebagainya. Juga, para debt collector dan preman berdasi yang ada di lembaga-lembaga resmi.

Masih ada satu lagi, yaitu preman berkedok agamawan, berupa orang-orang yang mengobok-obok ajaran agama semau-maunya, seperti Gus Dur (Abdurrahman Wahid), Ahmad Syafii Maarif, Musdah Mulia, Ulil Abshar Abdalla dan sebagainya.

 

Preman di lingkungan agama

Memang benar, ada lagi penjahat agama, biasanya disebut sebagai penyesat ummat karena pendapat-pendapatnya yang nyeleneh (aneh) bahkan menyesatkan. Juga disebut mujrim (orang yang berdosa, penjahat juga) ahli bid’ah (ahlul ahwa’ wal ibtida’, pengikut hawa nafsu dan bid’ah). Itu preman juga, hanya saja kelasnya pun beda, serta penampilannya pun lain. Sedang bahayanya justru jauh lebih berbahaya ketimbang preman jalanan. Karena preman jalanan biasanya adalah penjahat krucilan (kelas rendah, tidak main otak secara tinggi), seakan sebagai pengikut setan belaka, sedangkan preman agama itu bukan sekadar pengikut setan tetapi bahkan jadi setan (karena otak dan hawa nafsunya menjadi panduan dalam menyesatkan manusia), atau malahan pemimpin di antara para setan. Jadi maqomnya (kedudukannya) dalam kepremanan/ kejahatan jauh lebih tinggi dibanding sekadar preman jalanan. Makanya Allah Ta’ala berfirman, memperingatkan kepada manusia, agar tidak tertipu oleh tipu daya dan kejahatannya:

وَكَذلِكَ جَعَلْناَ فيِ كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَاِبرَ مُجْرِمِيْهاَ لِيَمْكرُوُاْ فِيْهَا وَمَا َيمْكُرُوْنَ إِلاَّ بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ (123) وَإِذَا جاَءَتهُمْ آيَةٌ قَالُوْا لَنْ نُؤْمِنَ حَتىَّ نُؤْتِيَ مِثْلَ مآ أُوْتِيَ رُسُلُ اللهِ اللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ سَيُصِيْبُ الَّذِيْنَ أَجْرَمُوْا صَغَار عِنْدَ الله وَعَذَابٌ شَدِيْدٌ بِمَا كَانُوْا يَمْكُرُوْنَ(124)

123.  Dan Demikianlah kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

124.  Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya. (QS Al-An’am: 123, 124).

 

 

وَكَذلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَاْلجِنِّ يُوْحَى بَعْضُهُمْ إِلىَ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْراً وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ (112) وَلَتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ اَّلذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاْلأَخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوْا مَا هُمْ مُقْتَرِفُوْنَ

112.  Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

113.  Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (QS Al-An’am: 112, 113).

 

[499]  maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada nabi.

وَكَذلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّا مِنَ اْلمُجْرِمِيْنَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيْراً

31. Dan seperti itulah, Telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh, dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. (QS Al-Furqan: 31).

Demikianlah peringatan-peringatan Allah Ta’ala tentang bahaya para penjahat agama alias preman agama yang kerjanya membisiki manusia ke jalan syetan, tetapi dengan perkataan yang indah-indah agar manusia tersesat. Dan itu wujudnya di sekitar kita banyak, insya Allah ada uraiannya di sini dengan bukti-bukti kejahatannya.

 

Adapun yang digelar polisi berupa program pemberantasan preman itu tampaknya adalah baru jenis preman jalanan, yakni penjahat yang biasa disebut preman karena penampilannya sangar, serem, dan meresahkan masyarakat. Sedangkan preman yang kelas atasnya, yakni penjahat di pergedungan dan sebagainya, dan bentuk kejahatannya agak beda dengan preman jalanan, kita tunggu saja kapan program operasinya dicanangkan kemudian dilaksanakan.  Lebih ditunggu lagi adalah operasi preman agama, yaitu para penyesat ummat yang telah mengobok-obok agama semau-mau mereka. Ummat resah, bahkan MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun tampaknya resah, namun beberapa kasus yang telah dilaporkan ke polisi, jarang terdengar kasus preman agama itu ditindaklanjuti. Contohnya kasus Ulil yang menghina hukum Islam dan sudah dilaporkan ke polisi namun tak ada khabar beritanya lagi.

 

Berikut ini mari kita lihat contoh-contoh kasusnya.

Gus Dur pernah mencemooh Kitab Suci Al-Qur’an dengan julukan kitab suci paling porno. Hal itu dikatakan Gus Dur ketika ia diwawancarai M. Guntur Romli dan Alif Nurlambang dari Jaringan Islam Liberal (JIL). Hasil wawancara itu dipublikasikan di situs JIL islamlib.com edisi 10 April 2006.

Hasil wawancara itu nampaknya dipublikasikan dalam rangka membela kepentingan sekelompok orang yang menolak RUU APP (kemudian menjadi RUU Pornogafi) disahkan. Ketika itu dari pihak JIL mengajukan pertanyaan: “Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno?”

Kemudian oleh Gus Dur dijawab: “Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al-Qur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh).” Ketika ditanya lebih jauh apa maksud pernyataannya itu, Gus Dur menjawab: “Loh, jelas kelihatan sekali. Di Al-Qur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini.  Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha…” (Lebih komplitnya mengenai kasus ini silahkan membaca buku Hartono Ahmad Jaiz, Al-Qur’an Dihina Gus Dur, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2006).

Cemoohan Gus Dur terhadap Al-Qur’an itu menimbulkan reaksi. Pada pertengahan Juni 2006, sekitar 500 ulama yang kebanyakan dari pesantren NU mengadukan Gus Dur ke Polisi. Pelapor diwakili oleh KH Ahmad Chamid Baidlowi, pengasuh Pondok Pesantren Al Wadah, Rembang, Jawa Tengah. Beliau yang didampingi tiga penasihat hukumnya yakni Sugito, Adnan Assegaf, dan Asad Yusuf langsung mendatangi Polda Jakarta Pusat. Laporan itu tercatat dengan nomor TBL/99/VI/2006/Siaga I tertanggal 13 Juni 2006.

Kenyataannya, hingga kini sang preman berkedok agamawan ini tetap berkeliaran dengan bebas dan tetap dengan cemoohannya. Kasus Gus Dur ini mengingatkan kita pada kasus Suradi dan Amos yang melecehkan Islam, meski sudah dilaporkan ke aparat kepolisian, namun perjalanan kasusnya tidak jelas.

Juga, mengingatkan kita pada kasus Tabloid Monitor, yang memuat hasil polling orang-orang terkenal, dengan menempatkan Arswendo Atmowiloto pemimpin tabloid itu pada peringkat di atas Nabi Muhammad shlallallahu ‘alaihi wa sallam. Gara-gara polling itu, Arswendo harus mendekam di penjara selama beberapa tahun. Seharusnya Gus Dur menjalani hukuman sebagaimana Arswendo.

Terbaru, sang preman berkedok agamawan ini mencemooh aparat hukum dengan mengutarakan keragu-raguan seolah-olah trio pelaku pemboman Bali (Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas) belum dieksekusi mati oleh aparat penegak hukum.

Sebagaimana dikutip Karo Cyber Community (www.karodalnet.blogspot.com) edisi 15 Nov 2008, Gus Dur mengatakan bahwa meski foto wajah Amrozi cs dalam keadaan berkafan sudah beredar, ia mengaku masih meragukan trio bomber Bali itu sudah ditembak mati. Soal jasad, bisa jasad siapa saja, namun bukan Amrozi, Mukhlas, maupun Imam Samudra. Begitu kata Gus Dur. “Saya itu malah bertanya, dalam hati, apa betul Amrozi itu dihukum tembak. Jangan-jangan nggak,” ujar Gus Dur di sela-sela HUT ke-3 Kongkow Bareng Gus Dur di Utan Kayu, Jakarta, Sabtu 15 Nov 2008.

Selain itu, sang preman berkedok agamawan ini juga sesumbar mau memboikot Pemilu 2009, dengan cara memprovokasi konstituen PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) untuk bersikap Golput pada Pemilu legislatif dan pilpres 2009 mendatang. Bahkan, Gus Dur juga sesumbar tidak takut ditangkap. “Tangkap saja saya! Saya tunggu mereka tangkap saya. Tapi mana buktinya sampai saat ini mereka toh belum menangkap juga. Kalau begitu artinya mereka takut sama sini,” begitu sesumbar Gus Dur di hadapan wartawan di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (19 November 208) lalu.

Preman berkedok agamawan tidak hanya berasal dari kalangan tua, tapi juga berasal dari kalangan muda, bahkan jumlahnya lebih banyak daripada yang sudah sepuh. Salah satu tokoh preman muda berkedok agamawan dan cendekiawan muslim adalah Ulil Abshar Abdalla, keponakan Gus Dur (?). Sebagai preman berkedok agamawan, kerjaannya memprovokasi ummat Islam dengan pemikiran-pemikiran yang bertentangan, namun disebutnya sebagai pemikiran yang segar.

Bila penganut atheisme mengatakan tidak ada tuhan, maka Ulil mengatakan, “Menurut saya, tidak ada yang disebut ‘hukum Tuhan’ dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam…”

Nampaknya, antara Ulil dengan penganut atheisme saling melengkapi. Jangan lupa, atheisme yang sempurna berada di dalam komunsime.

Pernyataan Ulil itu selain bertentangan dengan Al-Qur’an, juga bertentangan dengan logika. Bahkan juga bermuatan provokasi terhadap ummat beragama pada umumnya. Ulil sendiri mengakui ia memang sedang memprovokasi ummat Islam melalui tulisan-tulisannya.

Berbeda dengan kaum agamawan yang berusaha mengarahkan ummat beragama untuk meyakini keberadaan Tuhan dan Kitab Suci-Nya, mentaati Hukum-hukum Tuhan, preman berkedok agamawan justru melakukan sebaliknya. Meski belum sampai kepada tahap mengatakan tuhan itu tidak ada, preman berkedok agamawan ini berusaha membuat penganut agama menjadi ragu-ragu dengan ajaran agamanya, bahkan dengan eksistensi Allah Ta’ala.

Sebutan preman berkedok agamawan juga layak disandangkan kepada Ahmad Syafii Maarif. Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini, dikenal sebagai saah satu cendekiawan muslim. Pada salah satu tulisannya, Ahmad Syafii Maarif pernah mengatakan bahwa Allah sendiri yang memberikan hak kepada umat manusia untuk beragama atau tidak. Pernyataan itu, merupakan proses pemahaman Ahmad Syafii Maarif terhadap firman Allah pada surat Yunus ayat 99; Al-Baqarah ayat 256 dan Al-Isra ayat 107.

Melalui pesannya tadi, Ahmad Syafii Maarif seolah-olah sedang ngeledekin ummat, yang repot-repot menjalankan ritual agama, berdakwah, membela agama Allah demi masuk surga-Nya; padahal, meski tidak percaya Tuhan asal melakukan amal saleh, tetap bisa masuk surga-Nya. Begitu menurut pemahaman dia.

Itu adalah tindakan mengacak-acak agama semau-maunya. Seakan Allah memberikan hak yang sama antara orang yang beriman dan orang yang pilih tidak beragama. Syafii Maarif perlu mengkaji pula ancaman terhadap mereka untuk diperangi, dan ayat itu dari Allah Ta’ala:

قتِلُوْا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ باِللهِ وَلاَ بِاْليَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ وَرَسُوْلَهُ وَلاَ يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ اْلحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الِجْزيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُوْنَ

29.  Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS At-Taubah: 29).

 

[638]  Jizyah ialah pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam dari orang-orang yang bukan Islam, sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka.

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قتِلُوْا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِنَ اْلكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ اْلمُتَّقِيْنَ

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan Ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. (QS At-taubah: 123).

 

Kalau kekafiran itu bukan kejahatan, maka tidak mungkin Allah Ta’ala menyuruh untuk memeranginya. Apa maslahatnya bagi manusia, kalau kekafiran atau pun tidak beragama itu bukan kejahatan, kok perlu-perlunya diperintahkan untuk diperangi? Jadi kekafiran atau tidak beragama, itu jelas kejahatan. Bukan hak seperti yang difahami Syafii Maarif. Sebagaimana mengacak-acak agama itu adalah kejahatan, bukan hak, sehingga Syafii Maarif lakukan semau-maunya seperti ini. Adapun orang menyebut pelaku kejahatan itu sebagai preman itu adalah hak, karena menempatkan sesuatu pada tempatnya, lebih-lebih kalau hal itu untuk menjelaskan kepada manusia. Dan itu tidak boleh disebut sebagai melanggar hak pelaku kejahatan.

 

Preman berkedok agamawan juga ada yang berjenis kelamin perempuan. Namanya Musdah Mulia. Pada sebuah diskusi di Jakarta akhir Maret 2008, Musdah mengatakan: “Menarik sekali membaca ayat-ayat Alquran soal hidup berpasangan (Ar-Rum:21; Az Zariyat:49 dan Yasin :36) di sana  tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo dan bisa lesbi. Maha suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam. Sayangnya tidak banyak manusia  mau memahami ciptaan-Nya,” ujarnya.

Jadi menurut Musdah, yang dilarang dalam Al-Qur’an adalah perilaku seksualnya (misalnya melakukan sodomi), bukan pada orientasi seksualnya. Karena, menurut pemahaman Musdah, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), dan biseksual adalah kodrati, atau sunnatullah.

Ini lagi. Bagaimana mau dikatakan sebagai bukan preman, kalau cara berpikirnya yang dia sebarkan seperti itu. Sebab sudah jelas kaumnya Nabi Luth ‘alaihis salam diadzab Allah Ta’ala adalah karena berbuat homoseks yang sampai sekarang disebut sodomi, dari lafal Sodom, negeri kaum Luth itu.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ(54)أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ(55)فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا ءَالَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ(56)فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِينَ(57)وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ(58)

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat (nya)?”

Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”.

Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda`wakan dirinya) bersih”.

Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (QS An-Naml: 54, 55, 56, 57, 58).

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ , فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ } . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد . وَفِي لَفْظٍ : { فَارْجُمُوا الْأَعْلَى وَالْأَسْفَلَ } .

Sekiranya kamu melihat orang melakukan perbuatan kaum Luth (liwath, sodomi, homoseks, ataupun lesbi) maka bunuhlah pelaku dan yang diperlakukan dengannya. (HR Abu Dawud). Dan dalam lafal yang lain: “Maka rajamlah (pelaku) yang atas dan yang bawah”.

Rajam adalah hukuman mati dengan cara melempari batu kepada orang yang dihukum mati itu.

Dosa besar karena homoskes dan lesbi telah mengakibatkan adzab berupa hujan batu terhadap kaum Nabi Luth as. Juga hukumannya sangat keras, yaitu dirajam, dilempari batu sampai mati. Namun ada gerakan dari sekelompok mahasiswa IAIN Semarang Jawa Tengah untuk memasyarakatkan pelanggaran dosa besar yang terlaknat dan teradzab itu.

Bila Ahmad Syafii Maarif mengatakan bahwa menjadi atheis atau tidak itu merupakan hak yang diberikan Allah, dan penganut atheisme tetap bisa masuk surga berkat amal saleh yag dilakukannya; Musdah juga menggunakan argumen yang sejenis. Yaitu, seorang pengidap homoseks bisa saja menjadi orang yang bertaqwa atau tidak. Musdah pada  satu kesempatan mengatakan, “Islam mengajarkan bahwa seorang lesbian sebagaimana manusia lainnya sangat berpotensi menjadi orang yang salah atau (pun) taqwa selama dia menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu tidak menduakan Tuhan (syirik), meyakini kerasulan Muhammad Saw serta menjalankan ibadah yang diperintahkan. Dia tidak menyakiti pasangannya dan berbuat baik kepada sesama manusia, baik kepada sesama makhluk dan peduli pada lingkungannya. Seorang lesbian yang bertaqwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini.”

Jadi, menurut kampanye Musdah, jangan takut menjadi lesbian, asal tetap bertaqwa kepada Allah dan tidak musyrik, akan tetap mendapat posisi mulia di sisi Allah.

Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian!

Kampanye para preman berkedok agamawan ini, tentu saja merupakan perbuatan membuat keonaran, menggangu ketenteraman ummat yang meyakini Kitab Suci Al-Qur’an bukan kitab porno, Hukum-hukum Allah memang ada dan wajib ditaati, Atheisme bertentangan dengan ajaran Islam, perilaku seksual menyimpang termasuk homoseksualitas adalah bertentangan dengan ajaran Islam.

Para preman berkedok agamawan itu seharusnya ditangkap seperti preman jalanan, disidang, dan ditahan sesuai dengan tingkat kesalahannya. Jangan sampai sekelompok orang penganut garis keras mengambil tindakan sendiri-sendiri, karena aparat hukum dianggap tidak berani memproses mereka secara hukum, membiarkan para preman berkedok agamawan itu tetap dengan provokasinya. Preman jenis ini disebut lebih berbahaya dari preman jalanan, karena meski jumlahnya lebih sedikit dari preman jalanan, namun karena mendapat bantuan dana dari kekuatan asing dan mendapat dukungan dari media lokal, resonansinya mampu melintasi batas kepulauan Indonesia. Artinya, potensi konflik yang mungkin diproduksi dari kelompok kecil ini jauh lebih dahsyat dibanding preman jalanan.

Itulah sebagian dari preman di lingkungan agama, yang jumlahnya tampak semakin banyak, dan ada di berbagai lembaga resmi dan informal. Ada di perguruan-perguruan tinggi Islam se-Indonesia, di Ormas-ormas Islam, dan di tempat-tempat lainnya. Mereka sambil menangguk atau mengais-ngais dana dari kafirin asing dan lainnya telah merelakan diri sebagai preman dalam bentuk lain yang sangat membahayakan bagi masyarakat, mengubah isi dada masyarakat, dari Tauhid kepada kemusyrikan, dari iman yang benar dirusak jadi penyamaan semua agama yakni kemusyrikan baru yang kini namanya pluralisme agama. Keresahan Ummat sudah memuncak. Bila aksi premanisme di lingkungan agama ini tidak diberantas, maka konflik dan gejolak yang selama ini seakan bagai gunung es, maka bisa-bisa meledak.

Seyogyanya pemerintah dan aparat keamanan bersikap tegas terhadap tingkah polah para preman berkedok agamawan ini, jangan sampai sekelompok penganut garis keras menerapkan operasi petrus terhadap para preman berkedok agamawan tersebut, karena terinspirasi oleh kebijakan pemerintah di masa lalu yang ternyata efektif membasmi premanisme jalanan di tahun 1983-1985. (haji/tede)