Prof. Sofjan: Gerombolan BK DPR RI Itu Seharusnya Ditangkap!

Laporan dari Den Haag

Eddi Santosa – detikNews

Den Haag – Gerombolan BK DPR RI yang berlagak studi banding ke Yunani seharusnya ditangkap, sebab perjalanan mereka penuh kebohongan.

Hal itu disampaikan presiden Islamic university of Europe Rotterdam Prof. Dr. sofjan Siregar dalam bincang-bincang dengan detikcom di Den Haag, Jumat (3/12/2010).

“Plesiran BK DPR RI ke Yunani untuk kedok studi banding etika, ternyata penuh kebohongan dan pembohongan publik. Bahkan mereka ngaku mau belajar etika, tapi mereka pula yang menginjak injak etika,” ujar Sofjan.

Menurut Sofjan, kebohongan dan pembohongan publik pertama semula mereka mengatakan hanya transit dua jam di Turki.

Kebohongan dan pembohongan kedua, pimpinan rombongan bilang terpaksa dua hari transit di Turki karena tidak ada pesawat. Dari dalih dua jam berkembang menjadi dua hari.

Kebohongan dan pembohongan ketiga dikatakan tidak ada pesawat ke Jakarta.

“Kalau BK DPR RI itu bepergian 30 tahun silam mungkin masih bisa dipercaya bahwa tidak ada connecting flight dari Turki ke Jakarta. Tapi di masa sekarang ini ke ibukota negara mana pun ada connecting flight paling sedikit lima connecting flight dari Eropa ke Jakarta, khususnya dari Turki ke Jakarta,” tandas Sofjan.

Lanjut Sofjan, untuk menutupi kebohongan itu para anggota yang berpretensi wakil rakyat itu lalu mengembangkan dalih melakukan manuver bisnis, berlagak mencari investor atau buyer furnitur.

“Ketua gerombolan dewan penipu rakyat itu pun ngomong bahwa ratusan miliar devisa akan dipasok awal januari 2011, jadi nilai tiket dan plesiran mereka tidak ada artinya, jika mereka bisa memasukkan uang ratusan miliar rupiah, kibul ketua pengkhianat rakyat itu,” kecam Sofjan.

Dikatakan, bahwa hanya di Indonesia pejabat parlemen negara bisa menyalahgunakan uang negara tidak sesuai peruntukan dan berbohong terang-terangan tanpa ada tindakan dan proses hukum.

“Jika betul Indonesia adalah negara hukum, maka para penipu dan pembohong itu seharusnya sudah ditangkap dan diperiksa,” tegas Sofjan.

Indikasi kebohongan-kebohongan tim BK DPR RI itu menurut Sofjan sudah sangat jelas, sebab tidak ada satu pun pebisnis asing yang serta merta mau transaksi miliaran rupiah hanya berdasarkan ketemu orang parlemen, apalagi cuma lisan.

Sofjan menilai klarifikasi dari pimpinan DPR RI bahwa studi banding ke Yunani tidak bermasalah dan dianggap selesai, merupakan pelecehan hukum, bukti ketidakbecusan pimpinan DPR RI dan mereka gerombolan yang setali tiga uang.

“Ini suatu delik hukum yang sangat serius. Sudah saatnya KPK menangkap gerombolan BK DPR ke Yunani untuk di proses secara hukum,” demikian Sofjan.

(es/es) detiknews, Jumat, 03/12/2010 21:08 WIB

Sebelumnya, sorotan tajam pun banyak beredar. Di antaranya tulisan ini:

Benar-benar Miskin Etika

Belajar Mencaci Muslimin dengan Kata Kotor, Yunani lah Tempatnya

Belajar etika ke Yunani dengan menguras duit Negara sekitar Rp 1,5 miliar (menurut perkiraan), telah menggemparkan banyak orang yang masih punya daya nalar waras.

Kritikan bahkan kecaman pun dilontarkan, namun 11 anggota Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat pada hari Ahad 23 Oktober 2010 tetap berangkat ke Yunani negeri terkorup ( tahun 2007), dan negeri tertua kemusyrikannya itu.

Alasan mereka, karena Yunani adalah negeri demokrasi tertua, sehingga mereka selama sepekan belajar etika ke sana (Yunani), di antaranya ada yang menyebut, mereka belajar etika merokok.

Kalau mereka ini (anggota Dewan Kehormatan DPR) orang-orang Muslim, mestinya mengerti bahwa etika yang paling baik hanyalah etika Islam. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (Hadits riwayat Ahmad, dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth).

Sehingga kalau mau belajar etika mestinya ke negeri yang dikenal penduduknya teguh keislamannya. Bukan ke Yunani, negeri kemusyrikan tertua, masyarakatnya bermulut kotor , dan moralnya paling korup.

Bukti mulutnya paling kotor adalah kasus yang terjadi di Athena Yunani pada hari raya Idul Adha 1431H/ 2010, tepatnya hari Selasa 16 November 2010. Sementara umat Islam shalat, beberapa penduduk setempat berteriak dengan kata-kata kotor dari balkon dan melambaikan bendera Yunani. Leaflet yang menggambarkan seekor babi, yang merupakan binatang najis dan haram dalam Islam – tersebar di seluruh alun-alun.

(nahimunkar.com, November 22, 2010 8:44 am, Benar-benar Miskin Etika)