Profesor Kok Ngawur

Entek Ngalas Entek Ngomah

Untuk mengetahui kualitas sebuah pohon, dan keseriusan petani yang bekerja untuk pertumbuhan pohon tersebut, lihatlah buahnya. Kalau buahnya bagus, berarti pohon itu sehat dan petaninya serius mengurus. Untuk dunia pendidikan, keberhasilan lembaga pendidikan bisa dilihat dari lulusannya. Kalau banyak lulusannya yang ngawur, pasti ada yang salah. Pohonnya harus ditebang, petaninya harus diganti.

Salah satu buah UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta yang busuk adalah Musdah Mulia. Nama lengkapnya Prof. Dr. Siti Musdah Mulia. Semula, namanya tidak terkenal meski dalam usia relatif muda sudah menyandang gelar doktor. Perempuan pula. Mungkin Musdah termasuk yang justru mengamalkan apa yang sudah disindir oleh pepatah Arab terhadap orang yang ingin terkenal dengan melontarkan pendapat aneh (nyeleneh): kencingilah sumur zamzam maka kau akan terkenal.

Dan akhirnya, Musdah pun jadi terkenal setelah berkali-kali ‘kencing’ sembarangan. Terakhir, Musdah mengeluarkan air kencingnya berbunyi: homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam. Pendapatnya itu dikutip Harian The Jakarta Post, edisi Jumat (28 Mar 2008).

Masalah itu disoroti tajam oleh Adian Husaini, dengan judul “Prof UIN Jakarta Halalkan Homoseksual, bagian awalnya sebagai berikut:

Harian The Jakarta Post, edisi Jumat (28/3/2008) pada halaman mukanya menerbitkan sebuah berita berjudul Islam ‘recognizes homosexuality’ (Islam mengakui homoseksualitas). Mengutip pendapat dari Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, guru besar di UIN Jakarta, koran berbahasa Inggris itu menulis bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam. (Homosexuals and homosexuality are natural and created by God, thus permissible within Islam).

Menurut Musdah, para sarjana Muslim moderat berpendapat, bahwa tidak ada alasan untuk menolak homoseksual. Dan bahwasanya pengecaman terhadap homoseksual atau homoseksualitas oleh kalangan ulama aurus utama dan Muslim lainnya hanyalah didasarkan pada penafsiran sempit

terhadap ajaran Islam. Tepatnya, ditulis oleh Koran ini: Moderate Muslim scholars said there were no reasons to reject homosexuals under Islam, and that the condemnation of homosexuals and homosexuality by mainstream ulema and many other Muslims was based on narrow-minded interpretations of Islamic teachings.”

Mengutip QS 49 ayat 3, Musdah menyatakan, salah satu berkah Tuhan adalah bahwasanya semua manusia, baik laki-laki atau wanita, adalah sederajat, memandang etnis, kekayaan, posisi social atau pun orientasi seksual.

Karena itu, aktivis liberal dan kebebasan beragama dari ICRP (Indonesia Conference of Religions and Peace) ini, tidak ada perbedaan antara lesbian dengan non-lesbian. Dalam pandangan Tuhan, manusia dihargai hanya berdasarkan ketaatannya. (There is no difference between lesbians and nonlesbians. In the eyes of God, people are valued based on their piety).

Demikian pendapat guru besar UIN Jakarta ini dalam diskusi yang

diselenggarakan suatu organisasi bernama Arus Pelangi, di Jakarta, Kamis (27/3/2008). (hidayatullah.com, Selasa, 01 April 2008) Pernyataan Musdah jelas ngawur, dia menetapkan hukum berdasarkan apa yang ada di akalnya semata. Padahal, untuk menetapkan suatu hukum, seseorang itu harus menguasai bahasa Arab, menguasai ushul fiqih, juga mengetahui ijma’ ulama. Dalam hal ini Musdah tidak memenuhi kualifikasi itu.

Larangan terhadap praktek homoseksualitas sudah sedemikian jelas di dalam Al-Qur’an. Kisah kaum Nabi Luth-‘alaihis salam yang dibinasakan Allah karena gemar mempraktekkan orientasi seks menyimpang (7:80-84), ternyata tidak digubris Musdah. Berarti Musdah sudah mengingkari Al-Qur’an. Dan telah diperingatkan Allah swt bahwa orang yang mengingkari Al-Qur’an adalah kafir.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ(80)إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ(81)وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ(82)فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاَّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ(83)وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ(84)

Dan (Kami juga Telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia Berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu[551], yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bu-kan kepada wanita, malah kamu Ini adalah kaum yang melampaui batas.

Jawab kaumnya tidak lain Hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-peng-ikutnya) dari kotamu ini; Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.”

Kemudian kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

Dan kami turunkan kepada mereka hujan (batu); Maka perhatikanlah bagaimana kesuda- han orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf/ 7: 80-84).

[551] perbuatan faahisyah di sini ialah: homoseksual sebagaimana diterangkan dalam ayat 81.

Allah subhanahu wata’ala telah memperingatkan keras terhadap yang menghujat ayat Allah:

وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلاَّ الْكَافِرُونَ

Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir. (QS Al-‘Ankabut: 47).

بَلْ هُوَ ءَايَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلاَّ الظَّالِمُونَ

Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS Al-‘Ankabut: 49).

وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلاَّ كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ

Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS Luqman: 32).

Popularitas Musdah meroket setelah menyusun Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam, antara lain berisi ketentuan bahwa terhadap laki-laki pun diberlakukan ketentuan masa ‘iddah (masa menunggu) setelah perceraian. Ini jelas ngawur bahkan menandingi Allah swt, yaitu membuat syari’at baru. Tapi, kengawuran itu membuahkan hasil. Pada Maret tahun lalu (2007) Musdah sempat menerima penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di kantor kementerian luar negeri Amerika Serikat (AS), Washington.

Setelah itu sepi. Maka, Musdah pun kembali ‘kencing’ sembarangan untuk mendongkrak reputasi kengawurannya. Kali ini, ia memilih tema homoseksualitas.

Boleh jadi ia terinspirasi dan meneladani pendirian Uskup Agung Gereja Anglikan, Rowan Williams, yang pernah mengatakan hubungan monogami antara dua orang homoseks tidak bertentangan dengan ajaran kitab suci (Bible). Pendirian itu dia sampaikan pertengahan 2003, ketika ditanya sikapnya atas pengangkatan pendeta homoseksual, Jeffrey John, sebagai uskup kota Reading, Inggris Selatan.

Bukan sekali ini Musdah suka ‘kencing’ sembarangan. Tahun 2005, pada sebuah forum yang digelar MBM TEMPO, Musdah secara kurang ajar mengecam MUI yang mengharamkan nikah beda agama. Bahkan ia berani menjamin, nikah beda agama antara Muslimah dengan pria non Muslim, tidak akan membuat si Muslimah terseret mengikuti agama suaminya.

Musdah tidak sekedar ngawur, ia dibayar ‘kekuatan asing’. Untuk proyek melawan hukum Islam yang syar’i, bersama dua lusin lebih gerombolannya, ia mendapat dana sekitar Rp 6 milyar dari the Asia Foundation yang berpusat di Amerika.

Bukan hanya Musdah yang bertekad Maju tak gentar membela yang bayar, tetapi juga ada profesor ngawur lainnya, yaitu Dawam Rahardjo pembela Ahmadiyah Qadian (JAI – Jemaat Ahmadiyah Indonesia). Tak mungkin Dawam dengan sukarela membela aliran sesat Ahmadiyah, tanpa dibayar seperak pun. Pasti dibayar lah…

Kenyataannya, Dawam hanya membela Ahmadiyah Qadian yang menjadikan Mirza Ghulam Ahmad (MGA) sebagai nabi. Ahmadiyah Qadian berpusat di London, dan banyak duitnya. Sedangkan Ahmadiyah Lahore (GAI – Gerakan Ahmadiyah Indonesia) yang menjadikan MGA sebagai pembaharu (mujaddid) namun mengakui pula MGA mendapatkan wahyu dari Allah; kemungkinan mereka tak berduit, maka tak dibela oleh Dawam. Ini hanya salah satu alasan bahwa ada duit di balik pembelaan Dawam.

Alasan lain, sejak tahun 1930 pimpinan Muhammadiyah sudah secara resmi menyatakan Ahmadiyah sesat. Tapi kok Dawam sebagai petinggi Muhammadiyah kala itu justru membela Ahmadiyah Qadian (JAI). Bahkan di tahun 2000, ketika presiden RI dijabat temannya Dawam yakni Gus Dur, Dawam secara lancang mengundang Thahir Ahmad (Khalifah IV Ahmadiyah di London) untuk hadir ke Indonesia. Dawam ketika itu mengatas-namakan ormas Muhammadiyah segala. Maka dawam dipecatlah dari Muhammadiyah.

Tahun 1980, pada Munas ke-2 MUI, diterbitkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah millah (agama) tersendiri di luar Islam, sesat menyesatkan. Fatwa MUI itu diperkuat pula oleh surat edaran dari Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama, yang menganjurkan agar ulama menjelaskan tentang sesatnya Ahmadiyah kepada masyarakat luas.

Sikap pemerintah Indonesia memang agak terlambat dan tidak tegas dibandingkan dengan sikap tegas pemerintah Malaysia yang telah melarang Ahmadiyah sejak 1975. Barulah pada 16 April 2008 ini, Bakor Pakem Kejakgung –setelah mengamati JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) alias Ahmadiyah Qadian selama tiga bulan– menegaskan bahwa Ahmadiyah adalah aliran terlarang dan menyimpang dari ajaran pokok agama Islam. Sebagaimana disampaikan Wisnu Subroto selaku Koordinator Bakor Pakem yang juga menjabat sebagai JAM Intel Kejaksaan Agung.

Bagaimana sikap sang profesor ngawur pembela Ahmadiyah itu kini? Pasti ia akan terus maju dengan sikap pembelaannya. Keputusan Bakor Pakem tentang kesesatan Ahmadiyah justru akan jadi proyek baru bagi sang profesor ngawur ini. Hanya saja kabarnya, konon lagi sakit berat, maka belum terdengar suaranya. Sedang teman-temannya yang lain sedang ‘berebut proyek’ pembelaan terhadap aliran sesat itu, maka ‘proyek lain’ berupa pembelaan terhadap ribuan situs porno yang diberedel Menteri Komuniaksi dan Informasi (Menkoinfo) dan artis goyang porno Dewi Persik yang kini sedang dicekal di mana-mana tidak sempat mereka bela. Mungkin mereka sedang ‘berebut proyek’ membela Ahmadiyah, dan mungkin pula artis itu tak punya duit. Maka tidak sempat diendus oleh tukang-tukang pembela kesesatan, kepornoan, kemaksiatan dan semacamnya itu. Sang professor pembela Ahmadiyah pun kalau dengar masalah ini mungkin akan tambah sakitnya. Sudah tidak dapat tampil ‘berebut proyek’, masih pula tidak bisa ngapa-ngapa. Entek ngalas entek ngomah (panenan di sawah amblas, simpanan di rumah juga ludes) kata orang Jawa. (haji/tede)