Ramadhan Malah Diadakan Konser Musik

Musik Pasangan Zina dan Khamr

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

 

النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا فَيُبَيِّتُهُمْ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (البخاري)

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Pastilah akan ada dari ummatku kaum-kaum yang menganggap halal zina, sutera, khamr, dan musik-musik.

Dan pastilah akan ada kaum-kaum turun/ singgah ke dekat gunung, sore hari penggembala pulang kepada mereka dengan ternaknya, lalu datang kepada mereka seorang fakir untuk satu kebutuhan, maka mereka berkata, kembalilah kepada kami besuk, maka Allah menghancurkan mereka malam-malam dan menjatuhkan gunung itu atas mereka, dan ِAllah mengubah bentuk orang-orang lainnya jadi monyet dan babi sampai hari Kiamat. (HR Al-Bukhari).

وَوَقَعَ فِي رِوَايَة مَالِك بْن أَبِي مَرْيَم ” تَغْدُو عَلَيْهِمْ الْقِيَان وَتَرُوح عَلَيْهِمْ الْمَعَازِف “

Dalam riwayat Malik bin Abi Maryam: “Pagi-pagi datang pada mereka penyanyi-penyanyi dan sore-sore datang kepada mereka musik-musik.

وَقَدْ أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَابْن أَبِي شَيْبَة وَالْبُخَارِيّ فِي ” التَّارِيخ ” مِنْ طَرِيق مَالِك بْن أَبِي مَرْيَم ” عَنْ عَبْد الرَّحْمَن بْن غَنْم عَنْ أَبِي مَالِك الْأَشْعَرِيّ عَنْ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَيَشْرَبَنَّ أُنَاس مِنْ أُمَّتِي الْخَمْر يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اِسْمهَا تَغْدُو عَلَيْهِمْ الْقِيَان وَتَرُوح عَلَيْهِمْ الْمَعَازِف ” الْحَدِيث .

Pastilah sebagian manusia dari ummatku minum khamr, mereka namai dengan bukan namanya, pagi-pagi para penyanyi datang pada mereka dan sore-sore alat-alat musik datang pada mereka. (HR Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, dan al-Bukhari).

 

Republika Mengada-ada   

Apa yang disabdakan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam itu kini telah dilakukan orang secara terang-terangan. Tidak hanya menghalalkan musik, bahkan menganggap musik itu sebagai alat da’wah, penyemarak Islam, dan bahkan lebih berani lagi, musik yang menjauhkan dari ingat kepada Allah itu disebut dengan terang-terangan dan diiklankan berhari-hari bahkan ditontonkan ke mana-mana dengan sebutan musik dzikir.

Keberanian mereka tidak tanggung-tanggung. Sampai-sampai di koran Republika ada judul Islam Ibunya Musik. Astaghfirullah. Di sana ada tuduhan yang dikutip dari Prof Dr Emil Nauman: “Kalau bicara tentang Al-Qur’an itu bicara tentang Institut Musik yang tiada bandingannya di dunia.” (Republika, Kamis 7 Juni 2001, halaman 6). Rupanya koran yang suka kemaruk memberitakan kegiatan-kegiatan Syi’ah hingga acara bid’ah Maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dilangsungkan orang Syi’ah di Balai Sudirman Jakarta Juni 2001 diberitakan berkali-kali, bahkan sampai-sampai Republika dalam satu terbitan memberitakan acara Syi’ah yang bid’ah itu dobel-dobel, beritanya persis sama, di dua halaman bolak balik. Ini saking kemaruknya. Demikian pula kemaruknya  dalam menyeponsori dan memberitakan tentang penghalalan musik, tanpa takut ancaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang adanya da’i-da’i di atas pintu neraka Jahannam, dan adanya orang-orang yang menghalalkan zina, sutera (untuk lelaki, kalau untuk wanita memang halal), khamar/ minuman keras, dan musik. Saham dari Ummat Islam yang ditarik oleh koran itu tampaknya justru untuk mendukung propagandis-propagandis ke pintu Jahannam. Bisa dikutip tulisan di Repbublika  yang berjudul Nasyid Dapat Ngetrend seperti SKA sebagai berikut:

“…Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid yang karib disapa Aa’ Gym (Abdullah Gymnastiar), melalui radio MQ yang akan pindah jalur ke FM, pada setiap kesempatan  mengangkat nasyid. “Nasyid itu bisa menyejukkan dan bisa menjaga kehormatan dan meninggikan Islam di muka bumi ini. Oleh karenanya perlu dukungan dari radio maupun televisi juga media cetak lainnya sehingga nasyid dikenal luas.  Dengan begitu insya Allah, nasyid akan membumi,” jelas Kiai yang tahun lalu dipilih HU Republika Jawa Barat sebagai Tokoh teladan.

Harapan Aa’ Gym, agaknya, beralasan. Di Bandung, misalkan, belakangan banyak yang menyelenggarakan pementasan Nasyid. Itu karena tujuannya untuk menghapus image bahwa musik itu haram. Padahal kalau melihat runtutan sejarah musik, ternyata Islamlah pelopornya. (Baca: Islam Ibunya Musik). (Republika, Kamis 7 Juni 2001, halaman 6).

Tuduhan Republika ataupun orang-orang lainnya yang menganggap Islam itu ibunya musik, atau bahkan Al-Qur’an itu institut musik, itu adalah tuduhan yang mengada-ada. Mana ada Al-Qur’an itu satu ayat pun yang menunjukkan bahwa kitab suci Ummat Islam itu adalah institut musik. Juga tak ada ayat ataupun hadits yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an itu institut musik, perguruan tinggi musik ataupun universitas musik. Juga tak ada ayat ataupun hadits yang menunjukkan bahwa Islam itu ibunya musik, neneknya musik, ataupun  iinduknya musik. Dan dalam sejarah pun tidak ada bahwa Islam itu terhormat, jaya, dan tinggi karena musik. Tidak ada pula sejarahnya kalau Islam itu menggalakkan musik.

Berbicara Islam hendaknya berlandaskan dalil yaitu ayat Al-Qur’an ataupun Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Bukan kata si Fulan dan Fulanah walaupun dia bertitel profesor, doktor dan sebagainya. Tetapi adalah bagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’ala dan sabda Rasulullah saw. Yang ada dalam hal musik di antaranya justru kecaman dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hirro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).

Oleh karena itu para ulama menjelaskan hukum musik berdasarkan dalil-dalil ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Hal itu bisa kita simak sebagai berikut:

 

Hukum Nyanyian dan Mendengarkannya

Hukum nyanyian dan mendengarkannya adalah haram serta munkar. Dan merupakan penyebab penyakit hati dan kerasnya. Sebagian besar ulama sepakat akan pengharamannya dan mereka menyebutkan dalil-dalil pengharamannya sebagai berikut:

1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Surat Luqman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ(6)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ ءَايَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ(7)

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalanAllah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepada ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di telinganya; maka beri khabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.”  (QS Luqman: 6-7).

Al-Wahidi dan para mufassir lainnya berkata bahwa yang dimaksud dengan lahwal hadiits (perkataan yang tidak berguna) pada ayat tersebut adalah nyanyian; menurut perkataan Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Ikrimah.

Dan diriwayatkan dari Ibnud Mas’ud bahwasanya ia berkata: “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, bahwasanya nyanyian itulah yang dimaksud dengan lahwal hadiits.”      

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

   

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ (رواه البخاري).

Layakununna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hirro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

Seseungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).

Dari Abi Hurairah ra, dari Rasulullah saw:

يُمْسَخ قَوْم مِنْ هَذِهِ الْأُمَّة فِي آخِر الزَّمَان قِرَدَة وَخَنَازِير

Yumsakhu qoumunmin haadhihil ummati fii aakhiriz zamani qirodatan wa khonaaziir.”

Kaum dari Ummat ini akan diubah pada akhir zaman  jadi kera dan babi

وَرَوَى اِبْن أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَاب الْمَلَاهِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَة مَرْفُوعًا ” يُمْسَخ قَوْم مِنْ هَذِهِ الْأُمَّة فِي آخِر الزَّمَان قِرَدَة وَخَنَازِير , فَقَالُوا يَا رَسُول اللَّه أَلَيْسَ يَشْهَدُونَ أَنْ لَا إِلَه إِلَّا اللَّه وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ بَلَى وَيَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ , قَالُوا فَمَا بَالهمْ ؟ قَالَ اِتَّخَذُوا الْمَعَازِف وَالدُّفُوف وَالْقَيْنَات فَبَاتُوا عَلَى شُرْبهمْ وَلَهْوهمْ فَأَصْبَحُوا وَقَدْ مُسِخُوا قِرَدَة وَخَنَازِير

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dalam kitab Al-Malahi, dari Abu Hurairah secara marfu’ (dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam): “Akan ada segolongan dari ummat ini yang  menyerupai kera dan babi di akhir zaman.”  Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, bukankah mereka bersyahadat bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya? Rasulullah saw bersabda: “Ya, bahkan mereka berpuasa dan mengerjakan shalat serta berhaji.”  Kemudian ditanyakan, “Maka apakah gerangan penyebabnya?” Beliau bersabda: “Mereka itu mengambil ma’azif (musik-musik/ bunyi-bunyi merdu –alat-alat musik), dan genderang serta biduanita/ penyanyi; maka mereka terus tenggelam semalam suntuk dengan minuman dan permainannya sehingga di pagi hari mereka menyerupai kera dan babi.” (Ighotsah al-Lihfaan, jilid 1 halaman 262, dikutip dalam buku Sifat Sholat Nabi saw dan Dzikir-Dzikir Pilihan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Pustaka Al-Kautsar, cetakan II, 1996, halaman 53-55).

وَلَيَمُرُّنَّ الرَّجُل عَلَى الرَّجُل فِي حَانُوته يَبِيع فَيَرْجِع إِلَيْهِ وَقَدْ مُسِخَ قِرْدًا أَوْ خِنْزِيرًا ” قَالَ أَبُو هُرَيْرَة لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى يَمْشِي الرَّجُلَانِ فِي الْأَمْر فَيُمْسَخ أَحَدهمَا قِرْدًا أَوْ خِنْزِيرًا وَلَا يَمْنَع الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا مَا رَأَى بِصَاحِبِهِ أَنْ يَمْضِي إِلَى شَأْنه حَتَّى يَقْضِي شَهْوَته .– الدر المنثور – (ج 9 / ص 194)

 

Dan pastilah seorang lelaki melewati lelaki di kedainya berjualan, lalu dia (yang lewat itu) kembali kepadanya (di kedai) dan dia (yang di kedai itu) sudah diubah bentuk jadi kera atau babi. Abu Hurairah berkata, Qiyamat tidak datang sehingga dua lelaki berjalan dalam satu urusan lalu salah satunya diubah bentuknya jadi kera atau babi dan tidak lah yang selamat dari keduanya itu enggan terhadap apa yang dia lihat pada temannya untuk berlangsung pada keadaannya sehingga dia melaksanakan hajat syahwatnya.  (Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Durrul Manstur juz 9/ halaman 194).

 

Ramadhan Malah Diadakan Konser Musik

Ramadhan 1429H/ September 2008M di Indonesia mengalami musibah, yakni adanya konser musik, masih disebut  pula dengan Konser Marhaban Ya Ramadhan Musik Religi.

Ini adalah awal prahara agama di bulan Ramadhan di Indonesia, karena konser musik di bulan Ramadhan ini untuk pertama kalinya, dan akan dilanjutkan tiap tahunnya, sebagaimana ditulis Republika:

Konser Marhaban Ya Ramadhan Musik Religi Tiga Generasi Konser ini diharapkan menjadi agenda tahunan setiap Ramadhan.

Bisa jadi, konser Marhaban Ya Ramadhan yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), malam (9/9) nanti, menjadi ajang pertemuan tiga generasi musisi religi. Konser yang mengusung tema The Spirit of Ramadhan tersebut akan mempertemukan dan menampilkan beberapa artis generasi muda dan senior, di antaranya Gita Gutawa, Sulis, GIGI, Ungu, Opick, Syam Bimbo, serta penyair senior Taufik Ismail.

Gita Gutawa, pendukung konser yang paling muda, mengaku sangat senang berada di tengah-tengah para musisi religi terbesar di negeri ini. ‘terus terang, ini merupakan kesempatan yang sangat berharga buat aku bisa tampil bareng dengan para musisi religi terbaik negeri ini. Aku senang karena bisa tampil bareng dengan aki (kakek) Bimbo,’ ujarnya. (Republika, rubric Warna 2008-09-09 11:24:00 –republika online)

Tekad itu masih dikuatkan lagi:

Sementara itu, Tatang Suherman, promotor penyelenggara konser Marhaban Ya Ramadhan, berharap acara ini dapat menjadi kegiatan tahunan. Dengan benang merahnya adalah perjalanan musik religius,_ kata dia. Tatang dan Jay

menyampaikan juga obsesinya menjadikan pertunjukan ini sebagai agenda tahunan di masa Ramadhan. dam (republika, rubric Warna 2008-09-09 11:24:00 –republika online)

Entah kenapa, Koran Republika sebegitu bersemangatnya untuk mengusung konser musik di tengah Ramadhan ini. Bahkan pada hari H (Selasa, 09 September 2009) Koran Republika memuat satu halaman penuh tentang konser musik yang malamnya akan diselenggarakan. Masih pula iklan berwarna seperempat halaman, di samping iklan-iklan yang sama sebelum -sebelumnya.

Dari publikasi yang sebegitu gencarnya, bahkan tercatat media-media yang mengaku media Islam pun mendukung konser musik ini, maka dikabarkan konser musik itu menyeret 5.000 pengunjung untuk ikut ‘menodai’ Ramadhan.

Mau dibawa ke mana Ummat Islam Indonesia ini, wahai teman-teman yang masih mengaku Muslim dan bekerja di media-media Islam, yang seharusnya mendandani Ummat agar jadi bener akhlaqnya, imannya, dan husnul khatimah, tetapi di saat mestinya orang membenahi diri untuk kembali mendekat kepada Allah Ta’ala, malah kalian seret ke musik? Masih pula kalian berani-beraninya menyebut religi?

Kalau memang religi, apakah ada contohnya dari Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama yang shalih?

Ingatlah peringatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.)رواه مسلم والنسائي وابن ماجه والترمذي باختصار القصة)

Barangsiapa membuat/ merintis dalam Islam suatu perbuatan kebaikan maka baginya pahala kebaikan itu dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat/ merintis dalam Islam suatu perbuatan kejelekan maka dosa kejelekan itu (menimpa) atasnya dan (ditambah dengan) dosa orang yang mengerjakannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. (HR Muslim, An-Nasaa’i, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dengan kisah ringkas).

Siapakah yang lebih layak diikuti? Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para musisi?

Tekad untuk menjadikan Ramadhan tiap tahun untuk konser musik adalah tekad yang merancang keburukan belaka, sesuai dengan hadits-hadits maupun fatwa-fatwa ulama yang terpercaya. Sedangkan Ramadhan tahun 1429H/ 2008 ini merupakan rintisan awal konser musik itu. Nanti ketika ditiru dan dilanjutkan, padahal para perintisnya itu sudah dipanggil Allah Ta’ala, misalnya, maka tabungan keburukan yang masih ada. Betapa ruginya. Maka berhentilah wahai saudara-saudaraku.