Ratusan Muslim Rohingya Terlunta-lunta di Pantai Aceh

 

Senin (3/2 2009) kemarin, sebuah perahu kayu tanpa mesin yang berisi 198 Muslim Rohingya kembali ditemukan terapung-apung di perairan Indonesia. Petinggi TNI Angkatan Laut di Aceh, Tedi Sutardi, mengungkapkan, kondisi manusia perahu yang berasal dari Myanmar itu sangat mengenaskan. Muslim Rohingya itu terapung-paung di laut selama tiga pekan tanpa persediaan makanan dan peralatan yang cukup.

Mereka memasuki perairan Indonesia setelah dipaksa Angkatan Laut Thailand kembali ke lautan lepas. Akibat kelaparan dan kehausan, sebanyak 22 Muslim Rohingya meninggal saat terkatung-katung di lautan bebas. Perahu kayu yang mereka tumpangi ditemukan para nelayan Aceh pada Senin (2/2) di Pantai Aceh, sebelah utara Sumatra. (Republika, Rabu, 04 Februari 2009 pukul 07:47:00).


Sebelumnya, Januari yang lalu (07/01 2009) ada 200 orang Muslim Rohingya terdampar di Aceh, sebagian besar lelaki dewasa, di kapal kayu yang kecil mereka berdesak desakan, dehidrasi, kurang makan.

Di Malaysia tak kurang dari 20.000 orang mereka tidak jelas kewarganegaraannya, karena pemerintah Junta Militer tidak mengakui lagi mereka yang melarikan diri dari Myanmar. (http://hangtuahbatam.blogspot.com/search/label/Dunia%20Islam).

 

Dalam kondisi yang mengenaskan itu, Muslim Rohingya belum jelas nasibnya. Mana suara dan aksi uluran tangan dari orang-orang yang suka berkoar , mengaku sebagai pembela minoritas yang tertindas seperti Gus Dur dan Jil-Jil ataupun liberal-liberal yang teriakannya lantang itu. Mereka diam bagai orong-orong kepidak (serangga terinjak) bila minoritas yang ditindas hingga harus hijrah tetapi tak ada tempat  dan tiada bekal hingga terlunta-lunta dan terancam jiwanya itu Muslim. Ungkapan ini pun bukan karena meminta-minta agar mereka menolong Muslimin. Hanya sebagai salah satu bukti kedustaan dan plintat-plintut mereka saja. Cukup.

Ormas Islam Desak Pemerintah Bantu Rohingya

Rabu, 04 Februari 2009 pukul 07:47:00

 

JAKARTA — Nasib Muslim Rohingya yang mengenaskan mengundang keprihatinan ormas Islam Indonesia. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU)–dua ormas terbesar–mendesak Pemerintah Indonesia agar proaktif membantu Muslim Rohingya yang menjadi ‘bulan-bulanan’ Rezim Junta Militer Myanmar.

”Pemerintah Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia harus proaktif membantu kaum Muslim minoritas yang saat ini dalam kondisi memprihatinkan di Myanmar,” tegas Prof Yunahar Ilyas, ketua PP Muhammadiyah kepada Republika, Selasa (3/2).  Menurut dia, Indonesia harus menekan penguasa Myanmar untuk melindungi Muslim Rohingya sebagai warga negara minoritas. Yunahar menegaskan, Indonesia bisa menggunakan pendekatan pemerintah ke pemerintah (government to government).

”PP Muhammadiyah mendesak Pemerintah Myanmar agar memberikan hak hidup bagi warga Muslim. Pemerintah Indonesia juga kami harapkan bisa mengambil sikap bijak dan membantu kondisi masyarakat Muslim di Myanmar,” imbuhnya.Sikap senada juga dilontarkan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi. ”Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan sebagai sesama negara ASEAN, Indonesia sebaiknya tampil untuk membantu,” tegas Kiai Hasyim. Menurut dia, PBNU pun siap membantu memperjuangkan nasib Muslim Rohingya.

”PBNU siap bergabung dengan Pemerintah Indonesia untuk membantu masyarakat Muslim minoritas di Myanmar,” kata Kiai Hasyim yang juga  menjabat sebagai presiden Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian (WCRP) itu. Menurutnya, ketika tampil sebagai mayoritas di sebuah negara, umat Islam tak pernah melakukan tindakan penekanan ataupun represif terhadap umat agama lain.

Lha, ini kok umat Islam yang minoritas di Myanmar kemudian diperlakukan semena-mena seperti itu. Kita harus bertindak,” cetusnya. Pihaknya juga mendesak PBB agar turun langsung untuk melakukan tindakan-tindakan terhadap Pemerintah Myanmar atas perlakuan Pemerintah Myanmar pada masyarakat Muslim di sana. ”PBB saya harapkan juga turun tangan untuk mengatasi ini,” ungkap Kiai Hasyim.

Senin (3/2) kemarin, sebuah perahu kayu tanpa mesin yang berisi 198 Muslim Rohingya kembali ditemukan terapung-apung di perairan Indonesia. Petinggi TNI Angkatan Laut di Aceh, Tedi Sutardi, mengungkapkan, kondisi manusia perahu yang berasal dari Myanmar itu sangat mengenaskan. Muslim Rohingya itu terapung-paung di laut selama tiga pekan tanpa persediaan makanan dan peralatan yang cukup.

Mereka memasuki perairan Indonesia setelah dipaksa Angkatan Laut Thailand kembali ke lautan lepas. Akibat kelaparan dan kehausan, sebanyak 22 Muslim Rohingya meninggal saat terkatung-katung di lautan bebas. Perahu kayu yang mereka tumpangi ditemukan para nelayan Aceh pada Senin (2/2) di Pantai Aceh, sebelah utara Sumatra.

”Perahu mereka panjangnya 12 meter, tapi tanpa mesin,” tutur Tedi. Yang menakjubkan sekaligus memprihatinkan, para manusia perahu itu harus berdiri selama 21 hari di atas kapal kecil. Tak ada tempat duduk bagi mereka karena tempat terbatas. Mereka mencoba bertahan di lautan lepas yang ganas. ”Sungguh menakjubkan mereka masih bisa bertahan.”

Ini merupakan kedatangan kedua pengungsi Muslim Rohingya ke Indonesia dalam satu bulan terakhir. Sebelumnya, pada 7 Januari lalu, sebanyak 193 pengungsi dari wilayah yang sama juga berlabuh di Indonesia. Mereka berada dalam kondisi sehat, namun masih trauma. Itu berarti sudah ada sekitar 391 Muslim Rohingya mengungsi ke Nusantara.

Tedi menambahkan, pengungsi Muslim Rohingya yang baru ditemukan mengaku telah disiksa otoritas Thailand. Manusia perahu asal Rohingya itu langsung dirawat di Rumah Sakit Idirayeuk, Aceh. Di tempat itu, sebanyak 56 orang dirawat inap karena mengalami dehidrasi. Seorang perawat di RS itu menuturkan, di antara yang dirawat terdapat bocah berusia 13 tahun.Menurut seorang saksi mata, sekitar 1.000 Muslim Rohingya bekerja di Thailand sebagai pekerja migran. Mereka dipaksa untuk meninggalkan Negeri Gajah Putih itu dengan sembilan perahu tanpa mesin pada Desember. Mereka ditahan aparat Thailand dengan tudingan sebagai pekerja ilegal.

Tedi menambahkan, sebagian besar dari pengungsi asal Arakan, Myanmar, itu telah menjadi korban pemukulan. ”Kami dapat melihat bekas pemukulan di punggung mereka,” tuturnya. Rohingya merupakan sebuah etnik minoritas yang tak diakui rezim militer Myanmar. Jumlahnya mencapai 800 ribu jiwa. Mereka tak berdaya karena terus ditekan dan disiksa otoritas Junta Militer.Ratusan ribu Muslim Rohingya terpaksa harus melarikan diri ke Bangladesh, Malaysia, Timur Tengah, dan ada pula yang sampai di Indonesia. Mereka tak mau kembali ke tanah kelahirannya karena tak kuat dengan perlakukan kejam penguasa Myanmar.

”Di sana (Myanmar), Junta Militer sedang berusaha membersihkan masyarakat minoritas Muslim dengan memaksa mereka meninggalkan rumah dan menjalani kerja paksa tanpa bayaran. Perkosaan, pembunuhan, dan penyiksaan lain terjadi di mana-mana,” tutur Abdul Motaleb, seorang pemimpin pengungsi Rohingya yang menetap di kamp tak resmi di Ledha, di tepi sungai Naf, di sepanjang 320 kilometer perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar.

Sebelumnya, Juru Bicara Deplu, Teuku Faizasyah, menilai, keberadaan  Muslim Rohingya di Pulau Sabang bermotifkan ekonomi. ”Berdasarkan informasi yang kami peroleh, adanya indikasi bahwa kedatangan mereka bermotifkan ekonomi. Mereka mencari kehidupan yang lebih baik,”  ucapnya.

Menurut Teuku, mereka juga datang tanpa dokumen lengkap. Biasanya, kata dia, pendatang yang masuk ke negara lain tanpa dokumen maka mereka akan dideportasi. Namun, ia juga menambahkan bahwa Indonesia telah melakukan kontak dengan Myanmar dan Bangladesh. ”Myanmar telah berjanji akan memperlakukan Muslim Rohingya dengan baik jika mereka dideportasi,” ungkapnya.  osa/hri/ap/fer http://ng.republika.co.id/koran/14/29289/Ormas_Islam_Desak_Pemerintah_Bantu_Rohingya

 

Rabu, 2009 Januari 07

Myanmar, Burma, Rohingya, Junta Militer dan Muslim Yang Tertindas

hang tuah0 komentar

200 orang terdampar di Aceh, sebagian besar lelaki dewasa, di kapal kayu yang kecil mereka berdesak desakan, dehidrasi, kurang makan.

Di Malaysia tak kurang dari 20.000 orang mereka tidak jelas kewarganegaraannya, karena pemerintah Junta Militer tidak mengakui lagi mereka yang melarikan diri dari Myanmar.

Masyarakat Sabang Beri Bantuan Warga Myanmar yang Terdampar

Banda Aceh – Sejumlah warga Sabang mendatangi Rumah Sakit Umum (RSU) Sabang. Kedatangan mereka untuk melihat dan memberikan bantuan makanan dan minuman kepada 200 warga Myanmar yang terdampar di Sabang.

“Warga ramai datang ke Rumah Sakit Umum (RSU) Sabang untuk melihat dan memberikan bantuan kemanusiaan seperti bahan makanan, minuman ringan dan pakaian,” kata Direktur RSU Sabang dr Srido Sugono, Rabu (7/1/ 2009).

Srido menjelaskan, sebanyak 45 dari warga yang terdampar itu kini masih dalam perawatan. Mereka mengalami dehidrasi akibat kekurang cairan dan makanan dalam tubuh.

“Warga yang sedang dalam perawatan kami itu semuanya laki-laki berusia antara 30 sampai 50 tahun,” ujar Sugono.

Sugono menambahkan, saat ini ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Sabang dipenuhi warga Myanmar. Begitu pula dengan aula di rumah sakit milik pemerintah itu.

“Mereka terpaksa kita baringkan di lantai. Namun sebagian besar masalah kesehatan warga asing itu sudah tertanggani dengan pemberian makanan dan minuman serta obat-obatan,” kata dia.Koordinasi dengan Kedutaan Myanmar

Pemerintah Kota Sabang telah melakukan koordinasi dengan kedutaan Myanmar terkait kasus ini. Menurut rencana, sebelum dipulangkan ke negara asalnya, para imigran ini akan ditampung di kompleks Lanal Sabang.

“Kami akan siapkan tenda untuk mereka sementara waktu sebelum dipulangkan. Mengenai makanan mereka selama di penampungan juga akan kami tanggung,” tutur Wakil walikota Sabang Islamuddin.(djo/djo) http://hangtuahbatam.blogspot.com/search/label/Dunia%20Islam

 

Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran Muslimin Rohingya yang tertindas itu dan Allah aselamatkan jiwa dan iman mereka. Dan semoga Ummat Islam dan pemerintah yang penduduknya mayoritas Muslim ini terketuk hatinya sehingga mau dan peduli untuk menolong Muslim Rohingya yang sedang terlunta-lunta dalam keadaan diusir kafirin itu. (haji).