4. Sesuatu yang disayangkan di tengah ummat Islam sekarang ini adalah adanya pengurangan dan ketakutan terhadap konsep jihad. Sesungguhnya hal ini termasuk bid’ah. Bukankah bid’ah ada yang dengan ziyadah (menambah-nambah), dan ada juga dengan nuqsan (pengurangan). Kita mungkin hati-hati dengan bid’ah pertama, tetapi sering melakukan bid’ah kedua. Lihatlah bahwa banyak masjid dan sekolah yang perlu kita berikan bantuan, atau dalam lembaga kita, sangat diperlukan adanya sekolah khusus pengkaderan. Kader dalam arti orang-orang yang secara permanen terorganisir untuk menjadi kerangka atau pilar dalam perjuangan da’wah. Selain itu, dimasa sekarang, jika ingin besar maka kita juga perlu mendorong dan mengembangkan budaya dan lembaga penelitian dan pengembangan (research and development). Untuk jalan da’wah ini, maka diperlukan semangat jihad dari semua kalangan.

5. Selain itu, sebagai ummat Islam dewasa ini kita mempunyai tantangan da’wah yang sangat besar. Masalah tersebut dirumuskan dengan 5T.

a. Tasykik, yang berarti upaya menanamkan keraguan dalam agama ini. Ghazzul fikri sekarang gentayangan di tengah ummat Islam.

b. Tadhrib[1] maksudnya telah terjadinya kekisruhan atau pencampur adukan antara yang halal dan haram. Malah sekarang muncul mereka yang menyuarakan da’wah kultural, padahal Islam tidak pernah menyeru demikian. Coba cari satu ayat atau hadits saja kalau ada. Kelompok ini adalah mereka yang tidak mampu atau kehilangan nyali untuk bertarung di tengah pusaran medan da’wah yang sesungguhnya.

c. Tasywih yang berarti munculnya kelompok-kelompok dan pemahaman yang mencoba memutilasi/mempereteli ajaran Islam. Mereka hanya mengambil Islam dalam sudut pandang tertentu saja yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.

d. Taghrib yang bermakna terjadinya westernisasi (pembaratan) dalam metode melihat Islam sebagaimana dilakukan dalam sejarah kristen sehingga tumbuh suburnya paham sekularisme, hedonisme dan pluralisme. Mereka sudah gendeng (kurang waras, red) karena meniru barat. Lihat saja sekarang, di Jerman, Inggris atau beberapa negara lain, pernikahan sejenis (homo, red) sudah dilegalkan. Apakah kita ingin seperti mereka?

e. Tanshir, dengan semakin maraknya kritenisasi. Rupanya upaya kristenisasi dari masa penjajahan masih diwariskan sampai sekarang. Jumlah muslim di beberapa daerah di negara ini selalu berkurang bahkan drastis.

6. Terakhir, sebagai motivasi untuk semua, kita harus menjadi man of action, not just man of ideas or man of debates (pelaku bukan sekedar pemikir atau tukang debat). Kita harus menjadi intelektual kyai atau kyai intelektual. Fazlur Rahman mengatakan, “kepala syahadatain, dan di tangan kanan Al-Quran”. Hal ini bahkan dibenarkan oleh Einstein yang terkenal dengan “religion without science is weak and science without religion is blind”(agama tanpa ilmu pengetahuan lemah, dan ilmu pengetahuan tanpa agama buta). Ummat Islam harus berjuang untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang sekarang dihadapi dan juga perlu menguasai sistem politik dan ekonomi. Terserah orang mau bilang apa tentang kita, yang penting sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah.

Begitulah poin-poin ceramah yang beliau sampaikan waktu itu (beberapa waktu yang lalu). Sungguh, saya terharu dengan pemikiran-pemikiran beliau tersebut, semoga Allah menguatkan beliau dan kita semua untuk istiqomah di jalan Islam.

Malang, 24 R. Awal 1431 H.

Nur Muhammad Iskandar

Pembaca Qiblati


[1] Tidak ada definisi terorisme yang baku. Oleh karena itu menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif. Tidak mudahnya merumuskan definisi Terorisme, tampak dari usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membentuk Ad Hoc Committee on Terrorism tahun 1972 yang bersidang selama tujuh tahun tanpa menghasilkan rumusan definisi. Menurut The Arab Convention on the Suppression of Terrorism, Terorisme adalah tindakan atau ancaman kekerasan apapun motif dan tujuannya, yang terjadi untuk menjalankan agenda tindak kejahatan individu atau kolektif, yang menyebabkan teror di tengah masyarakat, rasa takut dengan melukai mereka atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan atau bertujuan untuk menyebabkan kerusakan lingkungan atau harta publik maupun pribadi atau menguasai dan merampasnya atau bertujuan untuk mengancam sumber daya nasional.

[1] Dua macam jihad tadi adalah syariat Allah yang berlaku sampai hari menjelang kiamat, tidak ada seorang pun yang dapat membatalkannya selain Nabi Isa as nanti dengan izin Allah swt. Hanya saja jihad ovensif memiliki syarat-syarat sebagaimana yang sudah termaktub dalam kitab-kitab fikih. (Editor). Jadi yang dimaksud oleh tokoh kita di sini adalah jihad untuk saat ini di Indonesia atau negara-negara yang tertindas seperti Palestina, Irak, Afghanistan dll.

[1] Itu yang saya dengar, sebab tanpa makalah. Wallu a’lam.