Refleksi Keislaman Seorang Tokoh

Dalam suatu kesempatan (15 Rabi’ul. Awal 1431 H), saya mengikuti ceramah yang disampaikan oleh seorang tokoh besar dalam pergerakan Islam dan politik di negara kita (yakni M Amien Rais, red). Saya sangat senang dengan pertemuan tersebut karena beliau menyampaikan pemikiran yang menurut saya sangat bersih. Beberapa poin pemikiran yang beliau sampaikan antara lain:

1. Organisasi yang pernah beliau pimpin dilahirkan dalam suasana yang sangat sulit dimana negaranya masih dikuasai penjajah asing, sementara itu sistem feodalisme dan keyakinan masyarakat yang diwarnai animisme, dinamisme, takhayul, bid’ah dan khurafat merajalela. Dalam kondisi tersebut, ulama yang mendirikan organisasi yang sempat beliau pimpin begitu cerdas melihat peluang. Bagi beliau kesulitan tidak menjadikan da’wah mandeg, melainkan harus dijalankan dengan cerdas. Pendidikan, kesehatan dan kegiatan sosial adalah bidang da’wah strategis yang beliau galakkan.

2. Oleh karena itu, ditengah berbagai persoalan bangsa sekarang ini, perlu dilakukan perenungan kembali terhadap keislaman kita. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut Islam sebagai ummatan wasathon (umat pertengahan, adil), khairan ummah (umat terbaik) dan syuhada’ ‘alannaas (saksi atas manusia/contoh dan teladan bagi manusia). Contoh terbaik kita adalah Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam sehingga kita harus melihat apa yang Rasul lakukan untuk kehidupan manusia pada umumnya terutama untuk menunjukkan ketiga atribut tadi. Rasul bukan hanya seorang yang pandai berucap dan membuat konsep, tetapi beliau adalah aktor ulung dalam setiap bidang. Beliau adalah pemimpin agama, pemimpin politik, bahkan komandan dalam peperangan. Beliau punya keutamaan dibandingkan nabi dan rasul yang lain sehingga termasuk kelompok rasul ulul ‘azmi, bahkan yang terdepan. Sama dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang berhadapan dengan raja Namrud, Nabi Musa ‘alaihissalam dengan Fir’aun, Nabi Isa ‘alaihissalam dengan kekuasaan raja-raja Romawi dan Persia, Rasul Muhammad shallallahu’alaihi wassallam menghadapi kerasnya tantangan kaum Quraisy.

3. Hal yang membuat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamlebih utama dibandingkan dengan rasul ulul azmi yang lain adalah jihad. Jihad berarti mengerahkan segala energi, pikiran, harta dan apapun yang kita miliki untuk melakukan perubahan yang lebih baik ke tengah masyarakat. Jika pun dimaknai perang, maka lebih bersifat defensive (pertahanan), bukan ofensive (penyerangan) sebagaimana dilakukan oleh kelompok teroris[1] yang justru merugikan kepentingan ummat.[2] Sesungguhnya jihad ini adalah hidup dan hidup itu adalah jihad. Tidak ada da’wah kecuali dengan jihad, dan tidak ada jihad kecuali dengan pengorbanan. Ingat, Allah berfirman,

ôأَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ) [آل عمران/

Artinya:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.(Q.S.Ali Imran:142)