Rekayasa Dosa Sistemik

Hasilkan Bayi-bayi Dibuang di Mana-mana


Rekayasa penggalakan apa yang dinamakan program KB (keluarga berencana) –padahal sejatinya penekanan dan penghalangan kelahiran bayi demi mengikuti program kafirin yang sangat khawatir akan makin bertambahnya Ummat Islam dengan banyaknya kelahiran di masyarakat Muslim— menjadikan masyarakat menjadi buas. Tidak sayang lagi kepada bayi dan anak.

Berbagai cara pun ditempuh untuk menakut-nakuti rakyat agar tidak beranak banyak. Kalau sampai sudah “terlanjur” punya anak lebih dari dua anak, maka diuber-uber oleh para petugas KB di desa-desa dan kampong kampong, para punggawa desa dan kampong, bahkan antek (kader) KB atau kader gizi pun bermulut ceriwis untuk mengomeli Ummat Islam yang beranak lebih dari dua. Kalau itu orang Cina yang memang tidak Islam, sejak zaman Soeharto, tidak disuruh KB apalagi sampai diuber-uber atau dikejar-kejar seperti orang kampong. Sama sekali tidak. Ya memang program dari kafirin dunia semula begitu, untuk menekan jumlah Ummat Islam. Alasan yang dibuat-buat adalah mengenai masa depan yang sulit, kemiskinan dan sebagainya. Padahal Allah Ta’ala telah menjamin, dan Dia adalah Maha Kaya. Jaminan rizqi telah diucapkan oleh Allah Ta’ala yang tidak ingkar janji, namun orang kafir tetap tak percaya kepada ayat ini:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئاً وَبِاْلوَالِدَيْنَ إِحْسَاناً وَلاَ تَقْتُلُوْا أَوْلاَدَكُمْ مِنَ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِياَّهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوْا اْلفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوْا النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ الله ُإِلاَّ بِاْلحَقَّ ذَلِكُمْ وَصَّاكمُ ْبِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ.

151. Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

[518] maksudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.

Dalam rangka mencegah bertambahnya kelahiran anak dengan dalih yang dibuat-buat itu penduduk yakni Muslimin dipaksa untuk dikebiri dengan digelandang ke tempat-tempat pengebirian dengan nama vasektomi dan tubektomi. Padahal MUI (Majelis Ulama Indonesia) sudah memfatwakan haramnya vasektomi dan tubektomi itu sejak lama, dan pemerintah ngakunya bahwa itu bukan program nasional dalam KB, tetapi kenyataannya rakyat dipaksa dan bahkan digelandang ke tempat-tempat pengebirian yang istilahnya disterilisasi, agar tidak akan hamil lagi.

Itu benar-benar program nasional (tidak diakui sebagai program, tetapi kenyataannya dipaksakan malahan) yang mengikuti syetan, sebagaimana Allah firmankan sebagai janji syetan:

وَلأُضِلَّنَّهُمْ وَلأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتّكُنَّ آذَان اْلأَنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرَنَّ خَلْقَ الله َومَنْ يَتَّخِذْ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُوْنِ اللهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَاناً مُبِيْناً # يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوْراُ

119. Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya[351], dan akan Aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya[352]”. barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

120. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS An-Nisaa’: 119-120).

[351] menurut kepercayaan Arab jahiliyah, binatang-binatang yang akan dipersembahkan kepada patung-patung berhala, haruslah dipotong telinganya lebih dahulu, dan binatang yang seperti Ini tidak boleh dikendarai dan tidak dipergunakan lagi, serta harus dilepaskan saja.

[352] mengubah ciptaan Allah dapat berarti, mengubah yang diciptakan Allah seperti mengebiri binatang. ada yang mengartikannya dengan mengubah agama Allah. (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI).

Kampanye Golkar yang sifatnya penuh intimidasi dan pengebirian massal telah menjadikan ketakutannya masyarakat di mana-mana secara berlama-lama di zaman jaya-jayanya Golkar dan Orde Baru.

Sementara itu pembinaan akhlaq agar terhindar dari zina dan maksiat yang dimuraki Allah Ta’ala sangat diabaikan, bahkan sebaliknya dimanjakanlah saran-sarana maksiat yang dialihkan namanya dengan sebutan sarana hiburan. Itu masih ditambah dengan gencarnya perusakan moral lewat aneka tayangan porno lewat televisi dan media lainnya.

Dalam kondisi rekayasa dosa sistemik yang digencarkan kepada rakyat seperti itu, maka akibatnya, manusia-manusia yang tadinya normal menjadi tidak normal. Tadinya sayang kepada bayi, kepada ank-anak dan sebagainya, menjadi tidak sayang-sayang lagi. Bahkan manusia-manusia yang tadinya normal pun berubah menjadi mengerti bahwa sesungguhnya pihak yang membuat rekayasa itu senang bila tidak banyak bayi yang lahir, sebagaimana tidak dipersoalkan berzina asal tidak menambah jumlah penduduk. Sebaliknya, masyarakat pun faham bahwa para pelaksana program kafirin itu tidak rela kepada keluarga-keluarga yang sah apabila bertambah jumlah anaknya.

Dari akumulasi yang amburadul itu maka terjadilah pemahaman yang rusak di masyarakat, berzina tidak apa-apa asal tak menghasilkan anak. Apalagi malahan kadang disebari kondom segala, itu menambah pemahaman yang jelas tegas bahwa berzinalah asal jangan beranak.

Ternyata berzinanya mereka lakukan sesuai “saran tanpa kata” itu, dan kontrasepsi atau alat pencegah kehamilan yang telah dipermudah mendapatkannya itu juga sudah mereka dapatkan, namun masih pula menghasilkan bayi. Maka mereka tanpa sungkan-sungkan lagi untuk membuang bayi-bayi mereka, atau menggugurkannya, atau upaya apa yang bisa diusahakan. Mereka tenang-tenang saja, karena mereka tahu bahwa itu sebenarnya hanya mengikuti “saran” dari para pembuat rekayasa dosa sistemik yang dilangsungkan selama ini.

Jadi sebenarnya siapa yang sangat jahat?

Tekanan hebat terhadap yang beranak banyak

Mereka adalah korban dari keadaan yang sudah lama dibuat dan direkayasa. Mereka tidak tahan menghadapi tekanan-tekanan yang dahsyat dari para pembuat rekayasa. Contoh nyata, pernah ditulis, dalam kaitan ini rupanya perlu diungkap lagi betapa gencarnya tekanan terhadap ibu hamil yang beranak banyak, sebagai berikut:

Yang jadi masalah, isteri itu sehat, namun ketika dalam keadaan mau melahirkan anak yang ketujuh, dia agak was-was. Pasalnya, di tempat-tempat melahirkan biasanya para petugasnya bersikap sangar-sangar terhadap wanita yang beranak banyak. Mereka pasang muka serem terhadap wanita yang akan melahirkan anak dalam bilangan kesekian alias lebih dari dua, apalagi lebih dari lima. Bahkan sebelumnya, pernah isteri saya itu diteror ramai-ramai oleh belasan dokter di Rumah Sakit Umum Pusat, Cipto Mangunkusumo Jakarta, pas setelah melahirkan, dalam keadaan lemah. Belasan dokter dipimpin kepala kebidanan yang bertitel doctor menghujat isteri saya karena beranak banyak. Para petugas kesehatan ini sama sekali tidak punya akhlaq. Wanita baru saja melahirkan, badannya masih sangat lemah, perasaannya pun belum tentu menentu, tetapi malah ramai-ramai dihujat. Bayangkan! Dasar mereka sama sekali tidak menggubris agama! Tetapi pertolongan Allah pun datang. Isteri saya cukup membantah mereka dengan suara lantang: Bahwa semua ini kehendak Allah. Yang memberi rizqi itu Allah. Bahkan semua anak-anak saya, sehat-sehat, alhamdulillah. Yang terkecil sudah hafal juz ‘amma sampai surat ke sekian. Kakaknya sudah lebih banyak lagi hafalan Al-Qur’annya.. Mereka insya Allah berbakti kepada Allah dan kepada kami. Kami menyayangi mereka dan mereka menyayangi kami. Kenapa saya dipersalahkan untuk melahirkan anak lagi? Sedangkan umur, rizqi, nasib dan sebagainya di tangan Allah? Alhamdulillah saya melahirkan yang keenam ini juga sehat. Darah saya normal. Ada apa masalahnya, hingga para dokter ini mengeroyok saya?

Belasan dokter yang mengerumuni dan menghujat isteri saya dengan dipimpin oleh kepala kebidanan rumah sakit umum pusat bertitel doctor itu tampak kecut muka mereka. Tidak disangka, keadaan justru berbalik. Kepala kebidanan yang bertitel doctor itu justru mengatakan kepada belasan dokter (mereka kumpul karena masih bertemu antara yang tugas malam dengan yang baru datang untuk tugas siang) bahwa baru hari ini kita mendapatkan pelajaran sangat berharga dari ibu ini. Ini pelajaran yang sangat berharga. Kita harus menghargai kegigihan ibu ini, yang bahkan kita semua kalah. Saya yang hanya punya dua anak saja belum bisa mengurusnya sebaik ibu ini. Jadi ini pelajaran sangat berharga bagi kita semua. Maka mari sekarang kita lanjutkan kerja kita dengan lebih baik lagi.

Peristiwa itu hanyalah salah satu titik dari kampanye untuk menteror Ummat Islam agar takut beranak banyak. Kampanye-kampanye dalam aneka bentuk yang menakut-nakuti beranak banyak berseliweran di masyarakat. Baik lewat media massa maupun lewat lembaga-lembaga kesehatan sampai di kampung-kampung. Mereka telah menjadi budak orang-orang kafir dalam program mencegah bertambahnya jumlah Muslimin di dunia ini. Hal itu sudah diteriakkan oleh orang kafir, di antaranya John Paul dari German tahun 1935 (10 tahun sebelum Indonesia merdeka 1945), dalam bukunya, Masa Depan Muslimin di Dunia Esok. John Paul memperingatkan kepada sesama kafirin, bahwa pertumbuhan penduduk Muslim sangat cepat. Sedangkan kita (maksudnya orang-orang kafir) pikirannya hanya memfokuskan hal-hal yang sifatnya keuntungan pribadi belaka.

Misalnya, pemborong pembangunan jalan hanya memikirkan penambahan lekak-lekuk jalan, agar tambah panjang.

Keprihatinan orang kafir yang sudah diteriakkan sejak zaman penjajahan itu kini lebih menonjol lagi, sampai ada yang membakar diri, guna memperingatkan sesama orang kafir agar faham bahwa pertumbuhan Islam sangat cepat. (baca Kegelisahan Yahudi, Nasrani, dan Orang Munafik Terhadap Masa Depan Islam, nahimunkar.com August 19, 2008 2:08 am). (nahimunkar.com, Lebaran dan Sepenggal Jalan Hidupku, October 7, 2008 9:24 pm admin Artikel, bisa juga dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz, Islam dan Al-Qur’an pun Diserang, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta,Januari 2009).

Itu semua kaitannya dengan program kafirin ninternasional, di antaranya lewat jalur feminisme liberal internasional yang lebih sengit lagi perusakannya terhadap moral manusia dan Akhlaq Islam dengan diadakannya Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan di Mesir 1994 kemudian dilanjutkan di Beijing. Antek-anteknya pun bergentayangan di Indonesia bahkan masuk ke struktur dan mengais dana dari lembaga kafir untuk mengacak-acak hukum Islam (Kompilasi Hukum Islam) di antaranya dipimpin Musdah Mulia lewat Departemen Agama dalam kasus Counter Legal Draf Kompilasi Hukum Islam yang berisi aneka keanehan, di antaranya laki-laki pun dikenai ‘iddah (masa tunggu, tidak boleh nikah di masa ‘iddah itu). (Baca buku Hartono Ahmad jaiz, Ada Pemurtadan di IAN, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2005). Maka anggota MUI ada yang menyebutnya Kompilasi Hukum Iblis. Namun justru dari jalur itu kini telah diadakan RUU Peradilan Agama tentang Perkawinan yang muatannya berbau feminisme liberal itu pula, bahkan menurut pejabat Depag, sudah disetujui oleh Presiden SBY untuk selanjutnya akan dibahas di DPR untuk jadi Undang-undang. (Baca nahimunkar.com, February 13, 2009 10:28 pm admin Artikel, Hukum Waris Islam Digoncang Lagi, https://www.nahimunkar.com/?p=243#more-243), dan baca artikel mendatang insya Allah, berjudul Feminisme Liberal Internasional dan RUU Peradilan Agama tentang Perkawinan).

Akibat rekayasa dosa secara sistemik itu maka berbagai kasus bayi-bayi dibuang di mana-mana ada buktinya, di antaranya sebagai berikut.

Bayi-bayi dibuang di mana-mana

BEBERAPA waktu belakangan ini kecenderungan membuang bayi bahkan di tempat-tempat tak layak seolah menjadi kecenderungan baru. Penyebabnya bisa macam-macam, namun yang seringkali menjadi penyebab adalah karena bayi yang dibuang itu berasal dari kehamilan yang tidak diinginkan sebagai akibat dari perzinaan (seks bebas, perselingkuhan).

Menurut catatan Pos Kota, seks bebas menjadi faktor utama fenomena membuang bayi. Sejak Februari 2009 sedikitnya ditemukan 11 mayat bayi di berbagai tempat di Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Bekasi, Depok dan Tangerang. Sedangkan menurut catatan SERGAP RCTI per 21 Februari 2009, bayi yang dibuang pada kurun waktu Januari-Februari 2009 mencapai 36 bayi dan hanya 2 yang hidup, sedangkan lainnya rata-rata kehilangan nyawanya secara tragis.

Hasil Hubungan Gelap

Di Jogjakarta, seorang mahasiswi asal Bangka Hulu Sumatera ditangkap polisi karena terbukti membuang bayi. Mahasiswi semester IV sebuah perguruan tinggi di Jogjakarta itu ditangkap di pondokannya di Jl Kaliurang Km 5,2 Caturtunggal Depok Sleman. Ia mengakui bayi yang dibuangnya itu merupakan hasil hubungan gelap dengan pacarnya bernama Lilik (berusia 23 tahun). Namun sejak usia kehamilannya memasuki bulan keempat, sang pacar meninggalkannya begitu saja.

Sang pacar tak juga muncul hingga ia melahirkan bayinya di RSUP Sardjito, pada tanggal 6 Januari jam 19.00 wib. Ia sempat merawat sang bayi selama lima hari, sampai akhirnya pada 11 Januari 2009, timbul gagasan nekat membuang bayi karena didorong rasa takut bila kelak kedua orangtuanya mengetahui keadaannya sekarang. Dengan bantuan temannya, mereka menggunakan sepeda motor Honda Supra Fit BD 6927 AS, untuk membuang bayi tak berdosa itu di teras rumah Harwanto (54), warga perumahan Griya Tirta Amarta Ngaglik Sleman.

Di Semarang, seorang bayi yang diduga merupakan hasil hubungan gelap, dibuang di sebuah bangunan rumah kosong dekat kawasan hutan Mijen, Semarang Barat (10 Februari 2009). Bayi tak berdosa itu diduga baru berumur dua hari dan dipastikan dilahirkan atas bantuan tenaga medis. Pasalnya tali pusar bayi terpotong dengan rapi dan diberi obat yang semestinya.

Di Makassar, pada tanggal 26 Februari 2009, ditemukan bayi laki-laki berusia 4 bulan di dalam kardus rokok, terbungkus handuk berwarna putih. Pertama kali bayi itu ditemukan Dillah siswi SD berusia 9 tahun. Sekitar pukul 10:00 waktu setempat, saat pulang sekolah, Dillah melihat sebuah bungkusan di depan ruko, di Jl AP Pettarani IV, di sekitar Pasar Tamamau, Kelurahan Tamamau, Kecamatan Panakkukang. Dillah pada mulanya bungkusan itu berisi barang berharga, ternyata berisi bayi.

Di Sumatera Utara, bayi berjenis kelamin laki-laki dibuang seseorang tak dikenal di areal pemakaman Tualang Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatra Utara. Bayi tersebut pertama kali ditemukan seorang penjaga kuburan bernama Sariman pada hari Jum’at tanggal 27 Februari 2009, dengan kondisi dibalut kain putih dan dimasukkan ke dalam kardus, dalam keadaan hidup. Namun tak lama kemudian bayi tak berdosa itu meniggal dunia. Meski demikian, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh bayi tersebut.

Di Lamongan, Jawa Timur, pada hari Ahad 2 Februari 2009, bayi laki-laki berusia dua hari ditemukan tergeletak di tepi hutan Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong. Diduga, bayi itu sengaja dibuang karena hasil hubungan gelap. Pertama kali bayi itu ditemukan Sumolastrip (54 tahun), sekitar 50 meter dari kediamannya.

Bayi itu ditemukan Sumolastrip tanpa sengaja, ketika ia sedang mencari kayu bakar. Saat itu ia dikejutkan oleh suara tangis bayi. Karena suara tangis bayi itu semakin keras, Sumolastrip pun memasang telinganya. Ketika suara itu semakin didekati, ternyata dia melihat ada bayi tergeletak di tepi hutan dalam kondisi terbungkus kain. Sumolastrip lalu mengangkat bayi tersebut. Selanjutnya, bayi itu diserahkan kepada warga yang ditemuinya. Penemuan bayi tersebut akhirnya dilaporkan warga ke perangkat desa dan polsek setempat.

Macam-macam Cara

Dalam upaya membuang bayi, berbagai cara ditempuh pelakunya. Paling sering, bayi yang sudah jadi mayat, dibungkus kardus lalu dibuang ke tempat sampah, di semak-semak atau dilempar ke kali (sungai). Sebagaimana dilakukan Dea (35 tahun) seorang pelacur di Bekasi. Dea membunuh dua bayi yang lahir dari rahimnya, lalu dimasukkan ke dalam kardus dan disimpan di rumah. Belum sempat dibuang, sudah keburu ketahuan.

Di Jakarta, pada Januari 2009 lalu, di jalan KH Wahid Hasyim pernah ditemukan sesosok bayi yang baru dilahirkan. Bayi itu ditemukan di semak-semak dalam keadaan dikerubuti semut. Ternyata bayi itu masih hidup. Masih di Jakarta, seorang siswi SMA di Kebon Jeruk, melahirkan bayi di kamar mandi rumahnya. Selama ini, dia menyembunyikan kehamilannya karena malu (Pos Kota, 8 Feb 2009).

Ada juga mayat bayi yang dibuang di dalam sebuah angkot di Jalan Sentra Primer, Pulo Gebang, Jakarta Timur. Peristiwa ini terjadi pada 14 Maret 2008. Mayat bayi perempuan itu ditemukan di kolong bangku belakang di dalam angkot bernomor 31 jurusan Pulogadung-Harapan Indah Bekasi. Ketika ditemukan pertama kali oleh Darwin (karyawan tempat cucian mobil), bayi yang masih ada ari-arinya itu dalam keadaan terbungkus kain putih yang dimasukkan ke dalam bungkusan plastik warna hitam. Sumardi sang sopir angkot tidak tahu siapa yang meletakkan bungkusan itu. Namun dia mengingat ada dua orang perempuan yang naik dengan membawa sebuah bungkusan.

Di Semarang, bayi yang baru dilahirkan dibuang ke dalam sumur oleh ibu kandungnya sendiri. Sang ibu mengaku melakukan hal itu karena bingung tak punya uang untuk membesarkan si bayi. (http://video.vivanews.com/read/3994-himpitan_ekonomi__bayi_dibuang_ibunya_ke_sumur_1, Rabu, 25 Februari 2009, 13:38 WIB).

Masih ada lagi, yaitu ditinggalkan atau dibuang di toilet wanita, sebagaimana pernah terjadi pada hari Ahad tanggal 8 Februari 2009. Ketika itu, ditemukan bayi perempuan yang telah jadi mayat di toilet wanita lantai 2 Mega Mall Bekasi. Bayi tersebut ditemukan petugas kebersihan dalam keadaan masih berlumuran darah.

Cara lain membuang bayi adalah dengan membiarkannya tergeletak di pinggir jalan. Kasus ini sebagaimana pernah terjadi pada awal Maret 2009 lalu, di Jalan Raya Bogor KM 39, Cilangkap, Cimanggis, Depok. Ketika itu, Senin pagi (jam 06:00 wib) tanggal 2 Maret 2009, Mursani seorang penjual nasi berusia 50 tahun, saat sedang membuka warungnya ia melihat buntalan kain hijau di bawah papan ucapan selamat datang ke Kabupaten Bogor. Ternyata isinya mayat bayi perempuan. Bersama mayat bayi tersebut, ditemukan pula bungkusan berisi obat-obatan dalam lilitan kain tersebut. Dari temuan tersebut Kapolsek Cimanggis AKP Dede Yudi mensinyalir pelaku pembuangan bayi berasal dari Bekasi. Pasalnya, label obat menunjukkan sebuah apotek yang beralamat di Bekasi.

Meningggalkan mayat bayi di pinggir jalan, termasuk di pinggir selokan yang berada di tepi jalan, pernah terjadi pada hari Sabtu tanggal 21 Februari 2009 lalu. Ketika itu, mayat bayi perempuan berusia 1 hari ditemukan di pinggir selokan di Jalan Margasaeri Rt 03/03 Kelurahan Margasari kecamatan Karawaci Kota Tangerang. Saat ditemukan mayat bayi tersebut dalam kondisi terbungkus rok sekolah SMP dengan ari-ari yang masih menyatu.

Mayat bayi itu pertama kali ditemukan Agung (penjaga WC umum). Mulanya, Agung mendapat kabar dari anaknya yang melihat ada bungkusan berbentuk pocong di pinggir selokan dekat toilet. Agung pun langsung mendatangi lokasi tersebut, dan mendapati sebuah bungkusan berbentuk pocong. Setelah dibuka, isinya bayi perempuan dengan wajah yang penuh berlumuran darah. Rok seragam yang dijadikan pembungkus bayi juga berlumuran darah. Temuan tersebut dilaporkan Agung kepada ketua RT setempat dan warga sekitar. Selanjutnya, warga segera melaporkan kejadian tersebut kepada aparat kepolisian.

Sebelumnya, pada hari Ahad tanggal 01 Februari 2009, sesosok mayat bayi perempuan ditemukan di pinggir pintu air Gudang Pompa RT 2/RW 7, Penjaringan, Jakarta Utara, pukul 15.30 WIB. Mayat tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang pemulung bernama Edi (49 tahun), yang sedang mencari barang bekas di sekitar lokasi. Edi menemukan mayat bayi itu terbungkus plastik kresek warna putih, dan tertutup handuk warna merah.

Di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, bayi laki-laki diperkirakan berusia dua hari dibuang di semak-semak di belakang rumah Siti Aminah (45 tahun), warga Desa Bunder, Kecamatan Pademawu Pamekasan. Peristiwa itu terjadi pada hari Selasa tanggal 3 Februari 2009, sekitar pukul 05.00 WIB. Saat ditemukan, bayi itu dalam keadaan hidup dan kondisinya bersih. Tubuhnya terbalut kain jarik, lengkap dengan botol susu, bedak bayi dan selimut yang ditaruh di dalam karton.

Ada juga bayi yang ditinggalkan begitu saja di sekitar jembatan. Hal ini terjadi di Sulawesi Selatan tanggal 5 Maret 2009. Warga di sekitar jembatan Sungai Papa, Kecamatan Patalasang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, kala itu menemukan bayi perempuan yang diperkirakan baru berumur empat hari, dalam keadaan masih hidup.

Tempat Favorit

Ada tempat “favorit” bagi warga Jakarta dalam hal membuang bayi, yaitu Pintu Air Kharisma di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Utara. Kawasan ini menjadi favorit karena selain gelap dan kumuh, lokasinya terletak di perbatasan antara Jakarta Utara dengan Jakarta Timur (Jaktim), sehingga cukup mempersulit aparat kepolisian melacak para pelaku pembuangan bayi. Sepanjang 2008, sudah belasan bayi dibuang di kawasan ini.

Antara lain, pada hari Senin tanggal 23 Juni 2008, sekitar pukul 08:00 wib, seorang petugas kebersihan bernama Suhendra (36 tahun), menemukan jenazah bayi kembar di pintu air Kharisma. Kedua bayi itu dibungkus dalam tas plastik kresek hitam. Sore harinya, sekitar pukul 16:00 wib, petugas kebersihan lainnya, Alim (29 tahun), kembali menemukan jenazah seorang bayi, tak jauh dari pintu air. Mayat janin yang ditemukan di sela tumpukan sampah itu juga terbungkus plastik kresek hitam. Sebelumnya, Hari Ahad, 22 Juni 2008, petugas kebersihan di sana juga menemukan satu jenazah bayi.

Tempat sampah merupakan favorit bagi pelaku pembuang bayi, baik dalam keadaan hidup maupun sudah menjadi mayat. Pada hari Ahad, 15 Februari 2009, sesosok bayi merah dengan bibir sumbing dalam keadaan terbungkus kantong plastik hitam ditemukan warga di tong sampah, di kawasan perumahan Bekasi Indah Jaya, Mekarsari, Bekasi, Jawa Barat. Bayi perempuan mungil tersebut ditemukan masih dalam kondisi hidup dengan tali pusar yang masih menempel pada tubuhnya. Warga menduga bayi dibuang karena orangtuanya tidak bisa menerima kondisi bayi yang cacat pada bibirnya.

Bayi itu pertama kali ditemukan oleh Samsudin (seorang petugas keamanan di kawasan perumahan tersebut). Saat itu Samsudin sedang melakukan patroli, ia mendengar suara aneh. Ketika Samsudin melakukan pencarian, ditemukan kantong plastik berisi bayi yang masih hidup. Bayi tak berdosa ini langsung dilarikan warga ke Rumah Sakit Umum Kota Bekasi untuk mendapatkan pertolongan medis. Dalam pemeriksaan tim dokter diketahui, bayi perempuan ini baru saja dilahirkan dengan panjang 49 centimeter, berat 2,4 kilogram dan mengalami kelainan pada bibirnya atau sumbing. Beberapa jam setelah bayi ditemukan, pelaku pembuang bayi sekaligus ibu kandung korban ditemukan dan tertangkap. Pelaku adalah seorang pembantu rumah tangga yang telah bekerja selama 4 bulan di perumahan tersebut. Ia mengaku panik karena menerima bayi yang baru dilahirkannya itu tidak normal.

Begitu banyak kasus pembuangan bayi, namun hanya sedikit saja pelaku yang berhasil ditangkap. Selain itu, menurut Kriminolog Adrianus Meliala, kasus pembuangan bayi bukan hanya sebagai masalah kriminalitas, namun juga sebagai masalah sosial.

Menurut Ustadzah Hajjah Rosmani, banyaknya kasus pembuangan bayi, baik itu diaborsi saat masih janin, ataupun dibuang setelah lahir mencerminkan betapa merosotnya moral, akhlak serta iman seseorang. Padahal, para orangtua bertanggung jawab mendidik anaknya terutama anak perempuan. Dari sisi agama, membuang bayi merupakan perbuatan dosa besar.

Rekayasa dosa sistemik telah menghasilkan aneka maksiat dan merajalelanya zina. Ketika menghasilkan bayi maka mereka buang begitu saja. Seolah yang membuang bayi itu tidak merasa berdosa, sebagaimana para pengelola keadaan dengan cara rekayasa dosa sistemik itu pun tidak merasa berdosa. Kalau sudah mati baru tahu rasa siksa dari Allah Ta’ala yang sangat dahsyat lagi berat! Sedang untuk menyesal sudah tidak ada gunanya. Maka bertaubatlah wahai para manusia, dan hentikanlah tingkah rekayasa dosa sistemik itu. Berbaktilah kepada Allah Ta’ala, agar akhir hayat dalam husnul khatimah, bukan su-ul khatimah. (haji/tede)