Rintihan Atas Kekejaman Israel di Gaza

 

Di saat sebagian orang di belahan dunia ini berhura-hura, bahkan ikut-ikutan merayakan perayaan agama orang kafir, bahkan masuk ke tempat penyembahan orang kafir, dan masih menyiapkan apa yang mereka sebut perayaan tahun baru setelah mereka ikut-ikutan natalan yang telah diharamkan oleh para ulama; saat itu pula di belahan bumi di Timur Tengah, tepatnya di Ghazzah (Gaza), masyarakat sipil (mayoritas Muslimin) diserang secara membabi buta oleh Israel. Setelah warga sipil ini diisolir selama 19 bulan tidak ada akses ke mana-mana, kini justru dibombardir hingga ratusan orang tewas dan seribuan orang terluka. Di antara berita dan rintihan dari sana, kami turunkana sebagai berikut:

 

Monday, 29 December 2008 09:59

 

/Syuhada yang gugur akibat serangan Zionis Israel akhir-akhir ini ke Jalur Gaza sudah mencapai 400 orang/

 

*/Hidayatullah.com–/*Dilaporkan Pusat Penerangan Palestina dari Gaza, Juru Bicara Gerakan Perjuangan Islam Palestina (Hamas), Fauzi Barhoum, menyatakan sudah lebih dari 300 syuhada sudah teridentifikasi.

 

Dikatakannya pula, upaya untuk mencari jenazah di bawah reruntuhan bangunan terus dilakukan. Barhoum menambahkan, jumlah syuhada Gaza sudah bertambah hingga 400 orang.

 

Deputi Menteri Kesehatan Palestina, Moawiyah Hasanain seraya menyinggung bahwa korban cidera dalam serangan Israel dua hari terakhir mencapai seribu orang.

 

“Mengingat luka parah sekitar 200 warga dan krisisnya peralatan kedokteran di Gaza, jumlah warga yang gugur syahid diperkirakan akan bertambah.” [irb/www.hidayatullah.com </>]

 

Berikut ini rintihan yang dimuat di Republikaonline:

‘Tuhan, Tolong Kami’

 

 

Ali Abu-Fatahi tak akan pernah melupakan suara mengerikan yang mendekati rumahnya pada Sabtu (27/12). Suara itu berasal dari misil yang ditembakkan pesawat-pesawat tempur Israel. Saat suara-suara itu datang, dia sedang makan malam bersama keluarganya di Dir Al-Balah, Gaza City.

 

Hanya beberapa detik, peluru kendali atau misil itu melabrak rumahnya. Makan malam itu pun berantakan. Abu hanya ingat sempat melayang ke udara. Dia mendapati dirinya sudah terkapar di lantai rumah tetangganya, dengan luka di kepala.

 

Saat bangun, Abu mendapati rumahnya dan rumah tetangganya telah rata dengan tanah. Abu juga /shock/ mendapati tubuh tetangganya yang tercerai berai. Dia pun teringat pada 15 anggota keluarganya di rumah, terutama dua saudarinya yang saat makan malam berada di ruangan lain.

 

“Semua anggota keluarga saya kena,” kata Abu-Fatahi yang kini terbaring di Rumah Sakit (RS) Al-Shifa, Gaza City, kepada /islamonline/, dengan mata berkaca-kaca. Abu dan seluruh anggota keluarganya kini dirawat di RS terbesar di Gaza itu, bersama lebih dari seribu warga Gaza lainnya.

 

Abu dan ribuan warga Gaza lainnya di RS Shifa, adalah korban keganasan Israel. Sejak Sabtu (27/12)–dua hari setelah perayaan Natal dan dua hari sebelum Tahun Baru Hijriyah—Israel mengerahkan 60 jet tempur dan helikopter, kemudian, menghujani 230 titik di Jalur Gaza dengan misil.

 

Sampai dengan tadi malam, yang merupakan hari ketiga serangan, /Aljazeera/ melaporkan sekitar 300 warga Palestina meninggal dunia, dan sebanyak 1.400 lainnya dirawat. Kebanyakan di RS Al-Shifa.

 

Tapi, misil-misil itu menghantam sasaran tanpa peduli apakah itu markas para pejuang Hamas ataukah rumah penduduk. Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan sekitar 51 warga sipil Palestina, termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak, telah terkonfirmasi sebagai korban serangan Israel. Antara lain, empat gadis muda di utara Jabaliya dan dua anak laki-laki di Rafah.

 

Serangan brutal itu bukan hanya meruntuhkan gedung dan mengubur pemiliknya, tapi juga menciptakan pemandangan mengerikan: mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Bau amis mayat menyeruak dari balik puing dan reruntuhan di Gaza, bercampur dengan bau mesiu.

 

Di tengah kekalutan itu, banyak warga yang berusaha mencari mayat-mayat orang-orang yang dicintainya di antara reruntuhan bangunan. Um Abed langsung tak sadarkan diri saat mendapati anaknya termasuk di antara yang tewas oleh serangan Israel.

 

Um Ahmad Abu-Aqal mengatakan anaknya yang keluar pukul 10 pagi, belum kunjung pulang. “Saya sudah mencarinya ke seluruh rumah sakit, tapi sia-sia,” katanya berurai air mata. “Saya datang untuk melihat dan memastikan dia masih hidup atau meninggal di bawah reruntuhan bangunan.”

 

Um Ibrahim yang juga tinggal dekat markas keamanan yang dibom Israel, hanya bisa  berlari histeris, mencari anaknya yang masih kecil, yang beberapa saat setelah pengeboman tak ditemuinya. “Di mana anak saya? Apa yang terjadi pada mereka?” teriaknya berulang-ulang.

 

Umar (12), hanya berdiri tertegun sambil menangis, menyaksikan markas keamanan yang telah hancur. “Ayahku sedang bekerja di sana,” katanya. Teman sekolahnya, Fadi, juga hanya bisa menangis. “Saya takut pulang ke rumah. Pesawat-pesawat Israel masih berada di sana,” katanya.

 

Kuburan masal

/Islamonline/ menggambarkan Gaza yang merupakan salah satu wilayah terpadat di dunia, yang sejak enam bulan lalu diisolasi Israel itu, telah berubah menjadi kuburan masal. Hingga kemarin, Israel belum memberi izin jurnalis internasional melintas untuk memasuki Gaza.

 

Kami sudah banyak menggali mayat-mayat di antara reruntuhan. Sebagian mayat itu sudah tidak mempunyai tangan atau kepala,” kata seorang personel pasukan pertahanan sipil di Gaza.

 

Sherina Tadros dari /Aljazeera/ menyatakan situasi di RS Al-Shifa sangat kacau, karena para petugas kesehatan harus menangani lebih dari 1.400 orang yang terluka. “Ratusan orang hanya bisa menunggu di luar, karena tidak cukup tempat tidur untuk dipakai oleh mereka yang terluka.”

 

Hamada Abu Qammar, wartawan /BBC/ yang juga warga Gaza, menyatakan serangan Israel itu banyak menimpa warga sipil. Antara lain, kata dia, seorang pria yang sedang menuju klinik tempatnya bekerja.

 

Hamada menuturkan, pria itu sedang menuju klinik bersama anaknya yang berusia 14 tahun ketika mereka mendengar deru pesawat. Mereka pun mencoba kembali. Tapi naas, rudal Israel lebih dulu menjangkau mereka.  “Saat terbangun, mereka sudah berada di RS,” kata Hamada.

 

Pria itu terluka pada bagian tangan, kaki, dan perutnya. Adapun anaknya, terluka pada bagian kepala. “Anak itu merasakan sakit yang amat sangat.  Dia bahkan sudah tidak bisa lagi mengingat siapa namanya. Anak itu berkata, ‘Saya tidak tahu siapa saya’,” seperti ditirukan Hamada.

 

Rumah sakit, kata Hamada, dipenuhi mayat dan orang-orang yang terluka.  “Di RS-RS yang terdengar hanya jeritan dan jeritan. Mereka tidak mempunyai kata-kata lagi untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka hanya mengatakan, ‘Tuhan, tolong kami’ secara terus-menerus,” katanya.

 

Warga Gaza, tutur Hamada, hanya pasrah di rumahnya, karena tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan. “Gadis tetangga saya, Iman (14), mengatakan, ‘Saya tidak tahu harus ke mana, di mana tempat aman untuk tinggal. Kami tidak tahu ke mana mereka akan menyerang lagi’.”

 

Apa yang akan dialami oleh Iman dan warga Gaza lainnya memang belum akan berakhir. Para pemimpin Israel telah menyatakan serangan tiga hari ke Gaza itu barulah permulaan dari sebuah serangan gencar yang lebih masif dan ofensif untuk meruntuhkan kekuasaan Hamas di Gaza.

 

“Operasi ini akan terus berlangsung dan diintensifkan sepanjang diperlukan,” kata Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak. “Pertempuran akan berlangsung lama dan sulit.”

 

Dalam serangan tiga hari terakhir, ayat-ayat suci Alquran terus bergemadari masjid-masjid di Gaza, bercampur dengan suara ledakan. Ratap tangisdan suara orang-orang berdoa, juga bercampur dengan panggilan berjihad yang diperdengarkan dari mikrofon. (iol/bbc/aljazeera/run) (Republika Online <#> 02 Muharram 1430 H/ 30 Desember 2008). /Selasa, 30 Desember 2008 pukul 07:26:00/

 

Rintihan dari seorang Indonesia di Timur Tengah

 

Berikut ini kami kutip rintihan seorang Indonesia di Timur Tengah yang mengirimkan isi hatinya dalam kasus kekejaman Israel di Gaza yang disampaikan ke suatu milis:

Tanggal:        Mon, 29 Dec 2008 04:13:10 -0800 (PST)

Topik: [INSISTS] Kita adalah buih

 

assalamu ‘alaikum,

 

Ketika saya ketemu teman saya org mesir, saya berkata kepadanya, “Presidenmu itu laa husni wa laa mubaarak”. Dia menjawab, “Nahnu ghutsaa’ “. (Kita adalah buih). Semua negri islam itu cuman ghutsaa’. Baik saudi maupun indonesia cuman ghutsaa’. Penyakit wahn itu menyebar di semua bumi Islam.

 

Jika pemerintah mesir itu males berperang menghadapi yahudi, sebenarnya mereka cukup membuka perbatasannya saja, maka mujahidin di seluruh dunia akan masuk. Tapi mereka milih menutup perbatasannya dg ghazzah (gaza)

 

Sebenarnya saudi sbg negri arab yg paling besar dan merupakan“imam” bagi negri khalij (teluk) yg lain, bisa saja ngirim jet2 tempurnya utk menggempur yahudi sebagaimana yg telah dilakukan di era Raja Faisal rahimahullah, tapi Raja Abdullah lebih suka cara yg aman yaitu nelpon bush utk “tabayyun”

http://www.alarabiya.net/articles/2008/12/27/62928.html

 

Bagaimana dg UAE? Waduh, nahnu nasif ya ikhwatii. Kita ada janjian dg shakira nih di abu dhabi.

http://thenational.ae/article/20081223/ONLINESPECIAL/183144000

paling2 nanti habis tahun baru berita gaza juga berhenti. Kan kita sudah mengecam? Kurang apalagi? Kita juga ngirim bantuan ke Palestina lho…Dan jangan lupa, banyak insinyur2 dan profesional dari palestina yg kerja di UAE

 

Anyway, kita juga “berjihad” membangun bumi islam yg maju, lho. Coba lihat, berapa ribu gedung pencakar langit yg udah kelar di UAE. Dan begitu banyak kaum muslimin yg kecipratan rejeki dari projects itu. Dan kita mau istirahat dulu lah dari “jihad yg panjang” dg nonton shakira. Buat “refreshing” sebelum puasa asyura.

 

Lalu bagaimana dg org2 palestina sendiri? Org2 baik di antara mereka adalah jarang. Palestinians yg bekerja di arab dikenal tidak

baik, hatta mereka yg dari gaza. Cewek2 palestina juga dikenal show-off seperti layaknya artis2 lubnan/lebanon. (Allah menganugerahkan kesempurnaan fisik kepada mereka melebihi wanita2 eropa (kaukasia) atau wanita arab lainnya maupun asia).

 

Ketika sahabat mendapat jaminan masuk surga, mereka tambah all-out ibadahnya. Malah berjihad di shaf depan. Tapi kita hanyalah buih.  Begitu banyak ayat jaminan dari Allah ttg keutamaan2 org2 beriman, tapi kita malah santai seolah2 surga itu milik kita. Maka pantas kita diinjak2 dan dihinakan mulai dari Iraq, Afghanistan, Palestina, Kashmir, Chechnya, etc. Dan pantas jika SDA bumi Islam dirampok krn kita hanyalah buih.

 

hanif yang juga cuman buih

 

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Akan terjadi masa di mana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian, wahai umat Islam. Sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan.” Lalu,

seorang sahabat bertanya, “Apakah kami pada saat itu sedikit, wahai Rasulullah?’ ‘ Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan, ketika itu, jumlah kalian banyak. Akan tetapi, kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu, Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian dan kalian tertimpa penyakit wahn.” Sahabat tadi bertanya lagi, “Wahai

 

Rasulullah, apa yang baginda maksud dengan wahn itu?” Rasulullah menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

 

GAZA

(Arrahmah.com) – Sekjen PBB, Ban Ki-moon menuntut penghentian kekerasan di Gaza menyusul serangan udara Zionis-Israel ke Jalur Gaza yang menggugurkan lebih dari 200 warga Palestina.

 

Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita AFP, Juru Bicara Kantor Sekjen PBB, dalam statemennya menyatakan, Ban mengkhawatirkan berlanjutnya kekerasan di Gaza dan pertumpahan darah di kawasan ini yang terjadikemarin Sabtu.

 

Dalam statemen itu disebutkan bahwa Sekjen PBB menuntut penghentian kekerasan dan diperbolehkannya truk-truk pembawa bantuan kemanusiaan untuk masuk ke kawasan Gaza.

Dilaporkan pula, Jurubicara Ketua Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Uni Eropa menyatakan kekhawatirannya atas kondisi akhir-akhir ini di Gaza menyusul serangan besar-besaran Israel ke kawasan ini. Jurubicara itu menegaskan bahwa Uni Eropa menuntut adanya gencatan senjata segera.

 

Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI), Ekmaleddin Ehsan-Oghlu dan Sekjen Liga Arab , Amr Mousa, secara tegas mengecam tindakan brutal Zionis Israel terhadap warga Jalur Gaza yang mengugurkan lebih dari 200 warga di kawasan ini.

 

Oghlu meminta pelaksanaan segera sidang Komite Pelaksana OKI di tingkat menteri untuk membahas brutalitas Zionis Israel akhir-akhir ini. Hal yang sama juga ditekankan oleh Amr Mousa. Sekjen Liga Arab meminta digelarnya sidang darurat untuk membahas kondisi akhir-akhir ini di Gaza.

 

Sementara dari dunia Arab, pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang pertama kali melontarkan kecaman atas serangan brutal Zionis Israel ke Jalur Gaza. Ia menyerukan dunia Arab mengambil sikap tegas terhadap Israel dan mendesak agar perbatasan-perbatas an di Gaza dibuka.

 

Di saat yang sama, helikopter-helikopter Israel masih melayang-layang diatas wilayah Gaza setelah membantai lebih dari 200

warga Gaza. Diperkirakan jumlah warga Gaza yang gugur syahid akanbertambah karena masih ada ratusan orang yang mengalami luka-luka berat dan ringan.

 

Namun, militer Israel menyatakan masih akan melakukan operasi militer lagi ke Gaza dan kemungkinan serangan yang akan dilakukan lebih besar dari serangan kemarin. Israel menargetkan serangannya ke utara dan selatan Gaza, terutama kota Khan Younis dan Rafah yang diklaim sebagai basis utama Hamas.

 

BBC melaporkan, rumah-rumah sakit di Gaza penuh dengan para korban.  Padahal rumah-rumah sakit itu tidak memiliki banyak persediaan obat-obatan akibat blokade Israel ke Jalur Gaza. Sedangkan masjid-masjid di Gaza melalui pengeras suara menghimbau warga Gaza yang selamat untuk mendonorkan darahnya guna membantu para korban luka.

 

Duka Gaza adalah duka bagi umat Islam sedunia. Menjelang tahun baru umat Islam, saudara-saudara kita dizalimi oleh rezim ilegal Zionis Israel. Selayaknya kita memanjatkan doa buat warga Gaza dan merenungkan kembali seberapa jauh kita mengingat penderitaan saudara seiman kita di Jalur Gaza. [Hanin Mazaya/hidayatullah /era]