Rintihan di Celah-celah 64 Tahun Merdeka


وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً ﴿١٦﴾ وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِن بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرَاً بَصِيراً ﴿١٧﴾

016. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.017. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (QS Al-Israa’/ 17: 16, 17).

TAHUN ini, pada 17 Agustus 2009, rakyat Indonesia merayakan hari ulangtahun kemerdekaan RI yang ke-64. Namun, masih ada saja suara-suara kritis yang mengumandangkan bahwa sesungguhnya kita masih belum lepas dari penjajahan.

Salah satu suara kritis itu datangnya dari Amien Rais, yang dijuluki Tokoh Reformasi Indonesia. Menurut Amien, bila dulu Indonesia dijajah oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), yang secara harfiahnya berarti Perserikatan Dagang Hindia Belanda, kini Indonesia masih dijajah oleh “VOC Baru” berupa Exxon Mobil, Chevron dan sejumlah korporasi asing lainnya. Fakta lain yang menunjukkan bahwa Indonsia masih dijajah, adalah bahwa saat ini hampir sebagian besar saham BUMN dikuasai oleh pihak asing.

Ironisnya lagi, penjajahan bentuk baru yang terjadi di Indonesia, menurut Amien, bukan hanya berlangsung di sektor ekonomi –seperti pelayaran, telekomunikasi dan pertambangan– tapi juga berkutat di dunia pendidikan, dalam bentuk dibolehkannya pihak asing memegang saham lembaga pendidikan.

Fakta yang paling parah, sumber daya alam kita dikelola oleh korporasi asing, namun hanya memberi sedikit keuntungan bagi Indonesia. Misalnya, pengeboran minyak lepas pantai di Natuna (Provinsi Kepulauan Riau), dalam 20 tahun terakhir hanya nol persen keuntungan yang disetorkan bagi Indonesia, sedangkan 100 persen untuk Freeport.

ٍSelain sumber daya alam (SDA) yang dikelola asing, juga ada kekeliruan besar dalam kebijakan pengelolaan SDA, terutama sektor migas. Di sektor ini, ada ketentuan bahwa hanya 20 persen gas yang bisa digunakan Indonesia selebihnya diekspor. Akibatnya, di beberapa daerah di kawasan Indonesia terjadi pemadaman listrik karena ketiadaan pasokan bahan bakar.

Menurut Amien, sejumlah korporasi asing memiliki kekuasaan terhadap para pemimpin kita, sementara itu rakyat tidak berhak mengetahui tentang pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki. Tanpa sepengetahuan kita, Exxon Mobil di Natuna membangun pipa gas di laut yang berujung di Singapura dan menjual hasil alam kita langsung ke sana.

Jangankan minyak, untuk air kemasan saja kta masih dijajah. Saat ini, ketergantungan terhadap air minum kemasan dengan merk terkenal dari luar, cukup tinggi. Karena adanya anggapan air minum kemasan selain merk terkenal tadi, tidak sehat. Padahal, sumber airnya diambil dari bumi Indonesia. Namun, tidak ada dari industi air minum kemasan tersebut yang 100 persen sahamnya dimiliki orang Indonesia. (http://blackkita.blogspot.com/2009/03/air-dan-minyak-indonesia-masih-dijajah.html)

Sementara itu, menurut Prabowo Subianto, selama 10 tahun belakangan ini, kekayaan Indonesia yang mengalir keluar terus bertambah, sehingga kekayaan di dalam negeri tidak dapat terakumulasi. Sehingga, devisa Indonesia tidak akan bertambah dan kesejahteraan masyarakat pun tidak akan terwujud.

Begitu mudahnya dana dari dalam negeri terbang keluar negeri, karena adanya kesalahan pada sistim yang berlaku. Yaitu, para eksportir tidak diwajibkan untuk memberikan ‘setoran’ setelah mereka menggunakan fasilitas yang ada. Para ekspotir dengan mudahnya menggunakan fasilitas transportasi, mendapat bahan baku dan tenaga kerja yang murah lalu barang itu diekspor tanpa ada timbal balik ke negara.

Bagi Abdullah Hehamahua, penjajahan bentuk baru yang dialami rakyat bisa berupa ada sejumlah pasien yang sekarat namun tidak ditangani oleh dokter karena belum membayar uang deposit; ada bayi yang lahir di rumah sakit tapi tidak bisa dibawa pulang oleh ibunya, karena belum melunasi biaya rumah sakit; ada kebijakan SPP gratis, tetapi orangtua murid harus membayar uang bangunan, uang kursi, uang buku dan sebagainya; ada perempuan hamil yang meninggal karena terlilit kemiskinan; bahkan ada ibu yang terpaksa membunuh anak-anaknya karena kemiskinan yang melanda keluarganya; ada anak sekolah yang menggantung diri karena tidak ada uang untuk membayar uang ekstra kulikuler; ada murid SD yang gantung diri karena tidak tahan dengan penyakit yang dideritanya. Semua penderitaan rakyat tersebut, menurut Abdullah Hehamanhua, karena ulah penjajah baru yang bernama koruptor.

Tak Mampu Bayar SPP

Meski sudah 64 tahun merdeka, dan ada program sekolah gratis, namun kasus tak mampu bayar SPP tetap terjadi di sejumlah wilayah Republik Indonesia. Antara lain terjadi di Lamongan. Demi memenuhi kewajiban membayar SPP seorang siswa tega membunuh tetanganya. Pelakunya, Anshori (19 tahun) pelajar SMA di Lamongan yang nunggak SPP selama beberapa bulan sebesar Rp 300 ribu. Korbannya Ririn (16 tahun), teman satu kampung, warga Dusun Margoanyar, Desa Kalianyar, Kecamatan Glagah, Lamongan.

Ansori tega membunuh Ririn demi melunasi tunggakan SPP-nya yang tak terbayar, apalagi sang ibu yang sehari-hari berjualan nasi di kawasan Surabaya, terkena operasi penertiban yang dilancarkan Satpol PP setempat, sehingga tidak ada pemasukan.

Peristiwa Ansori membunuh Ririn, terjadi pada Jum’at sore tanggal 3 April 2009. Ketika itu, Ansori mengajak Ririn jalan-jalan sore. Saat jalan-jalan itulah, Ansori menghabisi Ririn dengan cara dicekik kemudian diceburkan ke sebuah tambak di Desa Bucu Kidul, Kecamatan Glagah Lamongan. Mayat Ririn ditemukan warga pada hari Sabtu malam, tanggal 4 April 2009.

Di Semarang, seorang Bapak beranak lima dalam rangka memenuhi kewajiban membayar SPP tiga anaknya, terperosok menjadi pengepul judi togel. Sehari-hari Amrul Ridho Noer Suhendro (47 tahun), warga Kampung Jeruk Kingkit, Kebonagung, Demak ini adalah makelar sekaligus calo di kawasan Terminal Induk Terboyo, namun penghasilannya tidak mampu mencukupi kebutuhan istri dan kelima anaknya. Sehingga ia nekat menjadi pengepul judi togel.

Sebelum menjadi pengepul judi togel, Amrul pernah bertaruh dengan uang sebesar seribu rupiah dan berhasil menang sebesar Rp 60.000. Uang itu kemudian digunakan untuk membayar SPP anak-anaknya. Belakangan Amrul tertarik menjadi pengepul judi togel, namun belum sampai 10 hari, ia sudah tertangkap (9 Januari 2009).

Di Solok, Sumatera Barat, seorang gadis berusia 17 tahun, karena malu nunggak SPP berbulan-bulan, nekat menenggak racun serangga. Untung nyawanya masih dapat diselamatkan. (Antara, Rabu, 17 Juni 2009).

Di Kota Mataram, NTB, dua pelajar berusia 16 dan 18 tahun nekat mencuri pisang agar bisa bayar SPP. Didit Bagus Pramana (16 tahun) merupakan pelajar kelas III salah satu SMP swasta di Mataram. Sedangkan Setiawandi (18 tahun) merupakan pelajar kelas I salah satu SMU swasta di Kota Mataram. Kasus pencurian pisang itu terjadi di lingkungan Karang Bedil, Kota Mataram, pada Sabtu tengah malam, tanggal 9 Mei 2009.

Didit dan Setiawandi dibekuk warga setempat yang melakukan pengintaian bersama beberapa polisi. Jika pencurian itu berhasil, hasil penjualan pisang akan digunakan untuk menutupi tunggakan SPP sebesar Rp 70.000. Perbuatan mencuri pisang, konon merupakan kali pertama mereka lakukan.

Seorang ibu berusia 50 tahun, Suratmi, warga Kelurahan Dukuh, Sidomukti, Salatiga, Jawa Tengah, karena kepepet tidak mempunyai uang untuk membayar SPP anaknya, ia nekat mencuri uang di RS Pantiwilasa (jalan Dr. Cipto). Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu, tanggal 9 Mei 2009. Namun nahas, aksi Suratmi dipergoki satpam rumah sakit setempat. Akibatnya, Suratmi harus mendekam di jeruji besi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Suratmi nekat mencuri karena butuh uang untuk membayar SPP anaknya yang belum lunas dalam tiga bulan belakangan. Sehari-hari, Suatmi yang berstatus janda tiga anak ini menjalani profesi sebagai pembantu rumah tangga di Kota Yogyakarta, namun penghasilannya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

Di masa penjajahan dulu, rakyat kebanyakan tidak bisa bersekolah karena memang mendapat perlakuan diskrimimatif dari pemerintah kolonial. Lha, bila di tahun 2009, yang salah satu program pemerintahnya berupa kebijakan sekolah gratis, ternyata masih ada saja yang tidak mampu bayar SPP. Padahal, pendidikan itu merupakan hak seluruh rakyat dan merupakan kewajiban pemerintah…..

Kalau untuk urusan pendidikan saja rakyat belum ‘merdeka’ lalu apa makna kemerdekaan bagi rakyat kebanyakan? Paling tidak, kemerdekaan bagi rakyat adalah pasang bendera dan umbul-umbul, bikin gapura, ikut gerak jalan dan aneka lomba lainnya, termasuk panjat pinang.

Tidak Mampu Bayar Biaya Rumah Sakit

Bukan hanya tidak mampu bayar SPP yang masih menghiasi kemerdekaan kita, tetapi juga tidak mampu membayar biaya rumah sakit masih jadi hiasan kemerdekaan. Tak mampu membayar biaya rumah sakit, kemungkinan karena kemampuannya sangat rendah, bisa juga karena biaya rumah sakit yang begitu mahal, atau bisa juga karena dua-duanya. Hal ini pernah terjadi di Tabanan, Bali.

Rabu, 1 Juli 2009, Meta Ulandari yang baru berusia 13 bulan, dibawa orangtuanya ke RSU Tabanan. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata Meta diduga menderita radang paru-paru. Oleh karena itu Meta disarankan untuk menjalani rawat inap, mengingat kondisinya yang agak mengkhawatirkan. Maka, Meta pun akhirnya dirawat di bangsal Anggrek kelas tiga dalam pengawasan dr. Suwija.

Pihak rumah sakit sudah menjelaskan, biaya perawatan Meta hanya Rp 90 ribu per hari sudah termasuk obat, kunjungan dokter, sampai biaya kamar. Bahkan, biaya tersebut dapat dibicarakan kembali bila memang kondisinya benar-benar tidak mampu. Namun, baru sehari, kedua orangtua Meta (Usman dan Siti Kotiah), minta pulang paksa dengan alasan tidak punya biaya. Meski pihak rumah sakit sudah mencegah, namun sekitar pukul 15.00 wita, ketika dicari ke kamarnya untuk pemeriksaan, ternyata Meta Ulandari bersama kedua orangtuanya sudah pulang diam-diam. Meski pihak rumah sakit sudah berupaya mencari, tetapi keberadaan Meta dan kedua orangtuanya tidak ditemukan. (http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita& kid=2&id=16380)

Kasus di atas menunjukkan, betapa rendahnya kemampuan pasien untuk membayar biaya rumah sakit, meski pihak rumahsakit sudah menjelaskan adanya kemungkinan membicarakan biaya rumahsakit yang sudah cukup murah itu. Namun, karena benar-benar tidak mampu, Meta pun dibawa pulang secara paksa oeh kedua orangtuanya.

Bagi sebagian orang, uang sembilan puluh ribu atau seratus ribu, bukanlah angka yang signifikan. Namun bagi sebagian lain, jumlah itu adalah segala-galanya. Penghasilan seorang tukang kayu di Jakarta berkisar antara Rp 70.000 hingga Rp 100.000 sedangkan kernet (asisten tukang) antara Rp 40-50 ribu.

Kalau di Indonesia masih ditemukan segolongan masyarakat yang penghasilan per harinya hanya Rp 20 ribu, maka seyogyanya biaya pendidikan dan rumah sakit harus diberikan secara cuma-cuma. Kewajiban pemerintah adalah melayani masyarakat termasuk di bidang kesehatan. Masyarakat paling miskin sekalipun, ia harus mendapat pelayanan kesehatan yang baik, dihargai oleh dokter dan perawatnya, jangan mentang-mentang karena miskin kemudian disepelekan. Mereka dan seluruh masyarakat Indonesia harus dihargai oleh pemerintah dan seluruh bangsa Indonesia. Lha, kalau bangsa sendiri saja sudah tidak saling menghargai, bagaimana bangsa lain mau menghargai bangsa kita.

Kasus TKI (tenaga kerja Indonesia) yang tidak dihargai oleh bangsa lain adalah contoh nyata. Meski para TKI itu disebut sebagai pahlawan devisa, namun mereka tidak dihargai, bahkan menjadi objek pemerasan. Mulai dari saat berhubungan dengan calo, hingga sampai ke tempat tujuan, para TKI itu diperas. Begitu juga ketika mereka kembali, diperas lagi, ditipu, dibius dan dirampok hartanya. Oleh bangsanya sendiri, para TKI itu tidak dihargai, namun dibutuhkan. Kalau oleh bangsanya sendiri saja sudah tidak dihargai, maka jangan heran bila para TKI itu direndahkan bahkan menjadi objek penyiksaan oleh bangsa lain.

Indonesia sudah merdeka selama 64 tahun, tapi sesama anak bangsa tidak mampu atau tidak mau saling menghargai. Yang dihargai hanya orang berpunya. Maka, tumbuh suburlah budaya korupsi. Tujuan korupsi adalah agar supaya menjadi orang berpunya, dan kalau sudah menjadi orang berpunya maka otomatis akan dihargai. Semua itu jelas menuju pada murka Allah Ta’ala. Maka bagaimana kemerdekaan ini akan mendapat berkah (kebaikan yang banyak) dari Allah, bila berbagai seginya kemerdekaan itu tidak disyukuri dengan diisi hal-hal yang diridhoiNya tetapi justru menjauhkan dariNya. Maka bertaubatlah wahai saudara-saudaraku, sebelum keadaan yang parah ini tambah parah lagi, dan kelak di akherat sulit dipertanggung jawabkan di hadapan Allah yang Maha pedih siksa dan adzabNya. (haji/tede)