Robert Tantular Century, Anggodo Jilid Dua?

(Negara kita ini jadi diperintahkan oleh cukong-cukong seperti Robert Tantular yang bisa memerintah pejabat di Depkeu dan Bank Indonesia)

Kedekatan Robert Tantular dengan para pejabat diungkapkan oleh Ichsanoedin Noorsy. Pengamat ekonomi yang dulu pernah menjadi anggota Pansus Hak Angket Skandal Bank Bali.

“Iya, iya, benar. Bisa dibilang Robert Tantular itu seperti Anggodo. Makanya, sangat disayangkan kalau pengaruh bailout ke Bank Century itu justru datangnya dari Robert Tantular. Negara kita ini jadi diperintahkan oleh cukong-cukong seperti Robert Tantular yang bisa memerintah pejabat di Depkeu dan Bank Indonesia,” ujar Ichsanoedin Noorsy di Jakarta, Sabtu (12/12). (inilah.com)

Oleh karena itu dalam kasus skandal Bank Century tambah ramai ketika ada transkrip rekaman suara Sri Mulyani:

Sri Mulyani (Menteri Keuangan): Ya udah rapat tertutup  sekarang kita……ya Robert….

Namun Sri Mulyani membantah kalau itu dikatakan kepada Robert Tantular. Perkataannya itu bukan kepada Robert Tantular (walau memang Robert ada di ruang lain di Departemen Keuangan) tempat Sri Mulyani dan lainnya rapat. Perkataan itu diucapkan kepada Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo, menurut Sri Mulyani.

Beritanya sebagai berikut:

Minggu, 13 Desember 2009 | 17:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani melakukan klarifikasi atas kata-katanya dalam rekaman rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang mengatakan “Rapat tertutup, ya Robert.” Dalam jumpa pers, Minggu ( 13/12/2009 ), mantan Ketua KSSK ini menjelaskan bahwa kata-kata tersebut ditujukan kepada Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo.

Menurutnya itu merupakan kalimat jawaban atas pembicaraannya dengan Agus mengenai Robert Tantular. “Saya katakan ‘rapat tertutup ya Robert’. Itu menyambut urusan Robert Tantular seperti yang disebutkan Agus Martowardoyo,” kata Sri Mulyani.

Pembicaraan dengan Agus tersebut, kata Sri Mulyani, terkait dengan kondisi rapat yang ingin masuk kepada sesi rapat selanjutnya. Ia menjelaskan bahwa rapat berikutnya tersebut berlangsung tertutup dan hanya akan diikuti oleh pihak tertentu. “Karena itu sudah hampir pagi dan kita harus membuat keputusan. Jadi brain storming sudah cukup kita sudah harus masuk ke rapat pengambilan keputusan,” paparnya. (kompas.com).

Klarifikasi Sri Mulyani itu berkaitan dengan isi transkrip rekaman mengenai ucapan dia.

Berikut transkrip rekaman yang menuai kontroversi itu:

Marsilam Simanjuntak (Ketua UKP3R): Pasal 37 itu nggak mempersoalkan dampak sistemik, atau tidak dampak sistemik itu pokoknya ada kesulitan pembayaran, ada segala macam.

Siti Fadjrijah (Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Perbankan): Karena kita menyatakan itu sistemik bawalah ke KSSK.

Agus Martowardojo: Tapi saya rasa ya, yang dananya besar ada special deal mungkin dia kuasai pemilik. Jadi kalau seandainya yang 2 M mau diselamatkan diselamatkan. Yang di atas 2 M dimasukin ke ruangan minta jumlah itu untuk ditanggung sama Robert Tantular. Nanti Robert Tantular pasti nyanyi bahwa nggak yang ini sebetulnya pemilik, ini sebetulnya pemilik nanti mungkin  bisa diatasi, mungkin ya? Tapi betul-betul harus bisa keras dan proses hukumnya juga harus cepat gitu, karena pilihannya nggak banyak dan ..ee tetapi ada yang betul-betul gadis jujur kita berani bayarin juga dia gitu, karena dia memang nggak sengaja gitu.

Sri Mulyani (Menteri Keuangan): Ya udah rapat tertutup  sekarang kita……ya Robert….

Marsilam Simanjuntak: Saya kira Ibu rapat tertutup saja, dengan catatan bahwa kesimpulan ini..apalagi pasalnya adalah keadaan krisis yang kita hadapi sekarang….. Nah inilah setiap problem bank yang terangkat….supaya  siap-siap aja, saya kira itu. Kalau nggak gitu kita gak usah keluar dari….

Sri Mulyani: Sebenarnya rapat tertutup ada di kamar itu.

Marsilam Simanjuntak: Iya, kalau gitu kita nggak usah keluar ya, yang mau rapat tertutup yang pindah……hanya 4-5 orang kan, bisa nggak?

Editor: mbonk (kompas.com)

Klarifikasi Sri Mulyani seperti tersebut di atas masih berbuntut pertanyaan serius, apa relevansinya Robert Tantular berada di Departemen Keuangan tempat Sri Mulyani dan lainnya rapat? (Walau disebut tempatnya di ruangan lain).

Inilah berita yang mempertanyakan masalah itu:

Senin, 14/12/2009 02:45 WIB

Skandal Bank Century

Keberadaan Robert Tantular di Gedung Depkeu Dipertanyakan

Reza Yunanto – detikNews

Jakarta – Meski disebut-sebut tak pernah mengikuti rapat, namun keberadaan Robert Tantular diketahui berada di Gedung Departemen Keuangan. Keberadaan Robert itulah yang akan dipertanyakan oleh anggota Pansus DPR Andi Rahmat.

“Apa relevansinya dia sudah ada di situ? Ini akan menjadi objek penyelidikan,” kata Andi saat dihubungi, Minggu (13/12/2009).

http://www.detiknews.com/read/2009/12/14/

Di antara kejahatan yang diduga dilakukan Robert Tantular yang berkaitan dengan data di Bank Century yang dipimpinnya sebagai berikut:

13 Desember 2009 | 18:17 wib | Nasional

Status Century Sudah Bobrok Sebelum Ditangani LPS

Robert Tantular Diduga Manipulasi Laporan Keuangan Century

Jakarta, CyberNews. Pengamat hukum perbankan Pradjoto menyatakan kondisi kesehatan Bank Century sebelum diambilalih Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jauh lebih buruk dari apa yang tertera dalam laporan keuangan yang diterima Bank Indonesia (BI). Diduga Robert Tantular, sebagai salah satu pemilik Bank Century sebelum diambilalih, memanipulasi laporan keuangan September 2008.

“Sebenarnya keadaan Bank Century sebenarnya jauh lebih buruk dari apa yang dilukiskan dalam laporan keuangan yang disusun oleh manajemen lama,” ujar Pradjoto, Minggu (13/12).

Dalam laporan keuangan yang disusun manajemen lama, banyak kredit yang masuk kategori macet namun malah dianggap lancar. Manipulasi laporan tersebut berpengaruh terhadap posisi modal perseroan dimana manajemen tidak perlu melakukan pencadangan untuk kredit macetnya. “Dengan demikian maka pencadangannya jadi berkurang, sehingga seolah-olah modalnya masih banyak, padahal seharusnya sudah merosot jauh,” tutur Pradjoto.

Menurutnya, dugaan manipulasi tersebut dikuatkan dengan adanya temuan Badan Pemeriksa Keuangan yang menyatakan posisi rasio kecukupan modal Bank Century per Oktober 2008 negatif. Robert juga diduga melakan kecurangan, dengan banyak mencantumkan kredit fiktif serta aset yang ternyata bodong dalam laporan keuangan.

( Wahyu Wijayanto / CN14 )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2009/12/13/41980/Robert-Tantular-Diduga-Manipulasi-Laporan-Keuangan-Century

Itu semua menunjukkan:

1. Robert Tantular diduga sebagai pemain yang sangat licik.

2. Kedekatannya dengan para pejabat jelas sekali.

Oleh karena itu tidak mengherankan ada media yang menulis (disebut akan berseri/ bersambung) dengan diberi judul Robert Tantular, Anggodo Jilid Dua?

Tulisan seri pertama telah keluar, sebagai berikut:

13/12/2009 – 09:59

Bagian 1

Robert Tantular, Anggodo Jilid Dua?

Dwifantya Aquina & Reza Aulia

INILAH.COM, Jakarta – Robert Tantular, bukan pemain baru di bisnis bank Indonesia. Juga, bukan orang baru di kalangan pemerintahan. Terutama buat para pejabat yang berada di wilayah keuangan. Robert adalah generasi ketiga dari imperium bisnis keluarga Tantular.

Tentang kedekatan Robert Tantular dengan para pejabat itu, diungkapkan oleh Ichsanoedin Noorsy. Pengamat ekonomi yang dulu pernah menjadi anggota Pansus Hak Angket Skandal Bank Bali ini mengungkapkan bahwa Robert memang dikenal dekat dengan para pejabat.

Kepada INILAH.COM, Noorsy malah menganalogikan, bahwa begitu dekatnya Robert dengan pejabat, hampir seperti gaya Anggodo Widjojo yang dalam rekaman yang disadap KPK, bisa memerintah para pejabat.

“Iya, iya, benar. Bisa dibilang Robert Tantular itu seperti Anggodo. Makanya, sangat disayangkan kalau pengaruh bailout ke Bank Century itu justru datangnya dari Robert Tantular. Negara kita ini jadi diperintahkan oleh cukong-cukong seperti Robert Tantular yang bisa memerintah pejabat di Depkeu dan Bank Indonesia,” ujar Ichsanoedin Noorsy di Jakarta, Sabtu (12/12).

Ichsan menuturkan bahwa keberadaan Robert Tantular di gedung yang sama dimana rapat KSSK berlangsung menimbulkan begitu banyak pertanyaan. Yang jelas, keberadaan Robert itu memunculkan spekulasi, bahwa mantan komisaris Bank Century ini memang memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan.

“Tanpa dibantah pun masyarakat akan menilai seperti itu, pasti Robert Tantular punya pengaruh sampai bisa berada dalam gedung yang sama dan hanya beda satu lantai saja. Kalau misalkan dia tidak punya pengaruh, pasti waktu itu sudah diusir,” kata Noorsy.

Terkait rekaman antara Robert Tantular dengan Sri Mulyani, Ichsan menganggap bahwa Bambang Soesatyo tidak bicara sembarangan soal ini. Ichsan mendukung Bambang dan anggota pansus lainnya untuk segera membuktikan rekaman ini.

Jejak Rekam Robert

Wajah Robert Tantular sebenarnya sudah mulai muncul ke publik saat dia menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasusnya sama, yaitu soal dana Bank Century.

Robert sebagai pemilik Bank Century menjadi terdakwa atas kasus penggelapan dana Bank Century senilai Rp 1,4 triliun dan reksadana Antaboga sebesar Rp 1,3 triliun. Robert ditangkap polisi akhir tahun lalu.

Waktu itu, publik tak banyak mereaksi. Robert dianggap sebagai bankir crime yang menggelapkan dana nasabahnya. Baru, setelah ditelusuri dan muncul desakan Pansus Hak Angket, terungkap bahwa ada bailout dana sebesar Rp 6,7 triliun ke bank tersebut.

Bank Century sendiri tercatat pada bulan September 2008 memiliki aset mencapai Rp 15,23 triliun. Jika di peringkat berdasarkan aset, Bank Century masuk dalam posisi 26 dari 127 bank yang ada di Indonesia.

Namun ketika surat berharga valas yang jatuh tempo tidak bisa dicairkan, posisi Bank Century terjun bebas.

Deputi Gubernur BI bidang Pengendalian Perbankan, Siti Fadjrijah pernah menyebut, kejadian itu akibat ulah pemiliknya yang membawa bukti kepemilikan surat berharga. Sehingga, pencairan dana sulit dilakukan.

Yang menarik lagi, Bank Century ternyata lahir dari merger tiga bank. Kisahnya bermula ketika keluarga Hasjim Tantular mendirikan PT Bank CIC Internasional Tbk (Bank CIC) pada bulan Mei 1989.

Bank CIC (Century Intervest Corporations) mulai beroperasi sebagai Bank Umum pada tahun 1990. Setelah itu statusnya meningkat sebagai Bank Devisa pada tahun 1993.

Bank CIC resmi menjadi Bank Publik pada tanggal 25 Juni 1997, saat melakukan Penawaran Umum atau Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta serta Bursa Efek Surabaya.

Bank yang kemudian dijalankan oleh Robert Tantular ini, kemudian menjalin hubungan erat dengan Bank Central Dagang yang dikendalikan kakaknya Robert, Hovert Tantular.

Bank Central Dagang (BCD) berantakan dan dilikuidasi ketika terjadi krisis ekonomi 1998. Bank CIC juga sempat berhubungan dengan PT Great Rivers Industry yang ditangani Sunyoto Tanoedjaja.

Pada tanggal 22 Oktober 2004, PT Bank CIC Internasional Tbk melakukan merger dengan PT Bank Danpac Tbk dan PT Bank Pikko Tbk. Hasil merger itu menghasilkan bank baru dengan nama baru. Namanya: Bank Century.[bersambung/ims]

http://www.inilah.com/berita/politik/2009/12/13/219332/robert-tantular-anggodo-jilid-dua/

Pansus Century di DPR apakah akan mampu menggarap masalah skandal Bank Century dengan pemain Robert Tantular yang gambarannya seperti itu dengan aneka rangkaiannya? Wallahu a’lam. (Redaksi nahimunkar.com).