RUU Nikah Siri Sia-sia Bila Poligami Masih Dipersulit

RUU nikah siri yang berisi pemidanaan bagi pelaku nikah siri (di bawah tangan, tidak dicatatkan ke Kantor Urusan Agama) akan sia-sia bila poligami masih dipersulit. Mestinya justru pemerintah mencabut pasal wajibnya mendapatkan izin tertulis dari istri pertama bagi seorang pria yang hendak berpoligami. Bila tidak, maka jika RUU Nikah siri itu jadi undang-undang hanya akan menimbulkan pelanggaran massal.

Draft sanksi dalam RUU Nikah Siri baik hukuman selama enam bulan hingga tiga tahun maupun denda Rp6-12 juta sebagaimana ada dalam Pasal 142 Ayat 3, akan sia-sia selama pemerintah tidak mengubah sistem pencatatan nikah.

“Seharusnya yang dilakukan pemerintah saat ini adalah mempermudah `itsbat` (pencatatan) nikah dan menghilangkan pasal wajib mendapatkan izin tertulis dari istri pertama bagi seorang pria yang hendak berpoligami,” kata Ustaz Mahsus, selaku perumus “Bahtsul Masail” PP Al Falah, Ploso, Kediri Jawa Timur.

Masalah nikah siri, tambah dia, tidak hanya berasal dari niat seorang pria, melainkan juga dari seorang perempuan karena perbandingan populasi pria dan wanita. Mahsus merasa khawatir pemberlakuan undang-undang tersebut justru menjadi bumerang bagi pemerintah karena akan terjadi pelanggaran secara massal.

Inilah beritanya:

RUU Nikah Siri tak Perlu Dipatuhi

Jumat, 21 Mei 2010, 05:57 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA–Hasil “Bahtsul Masail” di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada 19-20 Mei 2010 merekomendasikan bahwa Rancangan Undang-Undang Pernikahan Siri yang di dalamnya mengatur sanksi pidana bagi pelakunya tak wajib dipatuhi. “Undang-undang itu sangat diskriminatif, sehingga wajibnya hanya bersifat `dlohir` (lahir). Tidak dipatuhi, juga tidak apa-apa,” kata Ustaz Mahsus, selaku perumus “Bahtsul Masail” PP Al Falah saat dihubungi dari Surabaya, Kamis malam.

Mengacu referensi yang bersumber dari Alquran, hadis, dan sejumlah kitab kuning karya ulama salaf, dia menjelaskan, agama tidak mengatur kewajiban mencatatkan pernikahan kepada pemerintah.

Para peserta `Bahtsul Masail` bersepakat bahwa bagi seorang pria dan wanita yang usianya sudah mencukupi, wajib menyegerakan nikah untuk menghindari perbuatan dosa. Mengingat sekarang ini banyak orang tidak mampu mengeluarkan biaya nikah, apalagi mereka yang tinggal di perdesaan, maka nikah siri menjadi jalan keluar,” katanya seraya menyatakan agama membolehkan  pria berpoligami.

“Agama juga tidak mengatur kewajiban bersikap adil dalam hal kasih sayang karena tidak bisa diukur dengan takaran tertentu. Berbeda dengan nafkah lahir, memang mutlak diperlukan bagi orang yang berpoligami,” katanya.

Oleh sebab itu, dia menganggap, draft sanksi dalam RUU Nikah Siri baik hukuman selama enam bulan hingga tiga tahun maupun denda Rp6-12 juta sebagaimana ada dalam Pasal 142 Ayat 3, maka itu akan sia-sia selama pemerintah tidak mengubah sistem pencatatan nikah. “Seharusnya yang dilakukan pemerintah saat ini adalah mempermudah `itsbat` (pencatatan) nikah dan menghilangkan pasal wajib mendapatkan izin tertulis dari istri pertama bagi seorang pria yang hendak berpoligami,” katanya.

Masalah nikah siri, tambah dia, tidak hanya berasal dari niat seorang pria, melainkan juga dari seorang perempuan karena perbandingan populasi pria dan wanita. Mahsus merasa khawatir pemberlakuan undang-undang tersebut justru menjadi bumerang bagi pemerintah karena akan terjadi pelanggaran secara massal.

“Bahstul Masail” di PP Al Falah itu diikuti sekitar 200 santri dari 140 lembaga pondok pesantren yang tersebar di Pulau Jawa dan Pulau Madura. Selain Alquran dan hadis, para peserta “Bahtsul Masail” mengacu kitab-kitab fikih bermazhab Syafi`i, Hanafi, Maliki, dan Hambali dalam memutuskan persoalan yang berkembang di masyarakat.

Red: Krisman Purwoko

Sumber: ant

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/05/21/116529-ruu-nikah-siri-tak-perlu-dipatuhi

Misi orang kafir

Misi orang kafir –yang sangat ketakutan dengan jumlah banyaknya orang Muslim—disuntikkan ke aneka segi kehidupan. Ada yang dengan cara pencegahan penambahahan jumlah anak, padahal justru banyaknya jumlah anak itu dibanggakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Biasanya para antek kafirin menakut-nakuti wanita-wanita yang hamil setelah punya dua anak. Di klinik-klinik, suara nyinyir itu sudah jadi lagu lama secara seragam. Bahkan hanya petugas kader gizi saja bertandang menakut-nakuti pula. Media massa liberal antek kafirin pun demikian.

Bukti dari penyambung lidah misi orang kafir adalah terbitnya buku Islam Kekuatan Dunia Esok karya John Paul di Jerman 1935. Isinya, menyayangkan teman-teman mereka (sesama kafirin) yang saat itu tahun 1935 mereka hanya memikirkan bagaimana cara melika-likukan proyek pembuatan jalan agar jumlah meterannya tambah panjang. Sedangkan di Mesir negeri Islam semakin hari semakin bertambah jumlah penduduknya. Hingga tahun 1950 nanti (15 tahun lagi) akan berjumlah 50 juta orang yang mereka itu adalah kekuatan Islam.

Itulah yang ditakuti oleh orang kafir, yakni makin bertambahnya jumlah orang Muslim. Maka sekarang para antek kafirin di negeri-negeri Muslim menjadi kepanjangan lidah misi kafirin itu untuk mencegah sekuat tenaga bertambahnya jumlah Muslimin.

Di samping mereka menakut-nakuti wanita hamil agar tidak banyak anaknya, rupanya ditempuh pula penghalangan poligami lewat undang-undang.

Penghalangan lewat undang-undang di antaranya wajib mendapatkan izin tertulis dari istri pertama bagi seorang pria yang hendak berpoligami, tampaknya mengakibatkan orang menempuh jalan dengan nikah siri di bawah tangan, tidak dicatatkan ke KUA. Nikah siri itu secara agama telah sah, bukan zina. Lalu antek kafirin yang kini berlabel liberal atau feminis dan sebagainya masih “dituntut” untuk menghalanginya, maka disusunlah RUU pemidanaan terhadapMuslimin yang nikah siri.

Para antek kafirin itu lebih rela terhadap merajalelanya zina dibanding nikah yang sah, yang mengakibatkan semakin banyaknya jumlah Ummat Islam. Hingga mereka yang berzina sampai diketahui nyata pun tidak diapa-apakan, sementara itu orang yang nikah sah, akan dipidanakan.

Itulah yang di dalam Al-Qur’an disindir keras:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة/11، 12]

11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 11, 12). (nahimunkar.com).