Oleh Tuan Guru H Syafruddin Saleh Sai Gergaji

SUMPAH Allaah dengan zaman, wantiwanti agar kita berhati-hati menyikapi keadaan pada zaman tertentu dari kehidupan kita. Hal itu, supaya kita tidak menjadi hamba yang merugi  di dunia (tidak dipelasah di barzakh, tidak nanar di mahsyar, dan tidak melarat di akhirat). Ada keadaan yang terang benderang, dek yang berkuasa orang-orang yang cerlang cemerlang oleh iimaannya yang terbendang kebenaran. Ada keadaan telungkup redup, karena disungkup oleh para penguasa yang korup. Ada kala kelam, akibat dibelam pejabat bejat yang kejam dan zholim.

ALLAAH al-Qudroh, mengingatkan kita supaya cermat menghadapi situasi. Tak layak kita terjebak. Tak  patut kita surut dijujut kalut. Seyogyanya kita pasrah hanya kepada Allaah dengan menebalkan tawakkal, memapankan iimaan dengan ‘ama sholih ke punca taqwa. Saling bimbing agar tak terpelanting ke tebing cabaran yang lebar menganga. Menguatkan masyarakat dengan merekat nashihat lekat-lekat ke lemari sanubari.

KEBENARAN, boleh jadi dikebiri oleh para pendengki yang kemaruk dan busuk hati. Orang-orang pintar, tak gentar dan tidak merasa getir memelintir kebenaran dengan mengalirkan pikiran-pikiran anyir ke bilik-bilik kurikulum pendidikan picisan yang bernajis. Penguasa pun kuasa semena-mena merekayasa keburukan – dari ceruk lubuk hatinya yang busuk – menjadi produk yang seolah-olah elok, untuk membelokkan sesuatu yang mestinya tak begitu. Para pedagang tak lagi bimbang mengurangi timbangan, menyukat cengkelat, mengukur tak jujur, menghitung pun lancung tanpa dirundung gerun. Ada masa mendera, sehingga kita tidak selesa mengengapa. Situasi pucat-lesi, kehidupan berderau oleh kesilauan duniawi. Waktu yang silu, memilukan qolbu.

WAJIB kita menjauh dari lebuh kekumuhan dan berlari menghindari ruwaibidhoh yang tak senonoh, sebagaimana sabda Rosul Allaah shola Allaahu ‘alahi wasaallam. Orang-orang bodoh yang berlagak pintar mesti dicecar dan dihajar dengan palu godam yang digenggam bersatupadu. Tak boleh ruwaibhidoh berpendar berkeliaran menjalari pagar-pagar kebenaran, supaya tak tumbang dihegang mereka.

DITEGAKKAN pancang-pancang kebenaran dengan rancangan yang mengancang-ancang merobohkan ruwaibhidoh si Orang(orang) bodoh. Kerakusan mereka yang ingin mengurus kehidupan harus terus digerus. Kiat caranya: wa ta’aawanuu ‘ala al-birri wa al-taqwaa, wa laa ta’aawanuu ‘ala al-itsmi wa al-‘udwaan.

“ … dan saling tolonglah (bimbing bersama) Anda (berbuat) bajik guna taqwa,

dan jangan Anda (justru) saling tolong berbuat dosa dan pelanggaran( saja)…”

– tarjamah-tafsir Q.S. 5, al-Maa-idah: 2/VI

Akhir dari ayat itu, tarjamah tafsirnya: “dan, bertaqwalah Anda kepada Allaah. Sesungguhnyalah, ‘azab (dari) Allaah, sungguh teramat berat siksaNya (bagi yang berlaku tak semenggah).” Sumpah Allaah, kebenaran wajib ditegakkan. Diingatkan oleh Rosul Allaah, berhati-hatilah terhadap ruwaibhidoh (si Orang[orang] bodoh) yang menyungkup kebenaran merampas kekuasaan pengurusan kehidupan bermasyarakat berbangsa. Jangan padahnya kemudhorotan, tapi rekrut yang patut supaya mendapatkan kemashlahatan.

Allaahu akbar. Wa lillaahilhamd. Alhamdulillaah. Salaam. ***

Sumber: senuju.com

(nahimunkar.com)