Saharudin Daming: Saya Sudah Lama Tidak Percaya Densus 88

Jakarta (SI ONLINE) – Komisioner Komnas HAM Saharudin Daming mengakui bahwa dirinya telah lama tidak mempercayai klaim Detasemen Khusus 88 yang mengatakan telah menemukan senjata api atau bahan peledak dalam diri atau tempat tinggal para tersangka terorisme.

“Saya pikir ini hanya alibi yang sengaja diciptakan  menjadi alat legitimasi bagi Densus 88 untuk membela diri atas aksi penembakan kepada para tersangka yang berujung pada kematian”, kata Daming kepada Suara Islam, Ahad (19/5/2011) lalu.

Padahal, kata Daming, semua klaim Densus 88 itu hanyalah cara untuk menutupi ketidakprofesionalan Densus 88 dalam menangani terorisme. Ini disebabkan sifat temperamental  pimpinan Densus 88 yang dikatakan Daming sudah kehilangan rasa kemanusiaan. Padahal pasal 1 ayat 3 UUD 1945  menyebut Indonesia sebagai Negara hukum sehingga tidak boleh ada proses penegakan hukum, tetapi melanggar hukum.

Disisi lain Daming menawarkan gagasan bahwa pada dasarnya untuk menanggulangi bahaya terorisme tidak mungkin selesai hanya dengan pendekatan represif.

“Ssudah saatnya negara khususnya pemerintah mengambil strategi yang lebih persuasif, dalam hal ini perlu ada ruang dialog menuju perdamaian didahului dengan amnesti dan abolisi oleh presiden kepada semua kelompok teroris sebagaimana yang dulu dilakukan kepada GAM”, ujar pria penyandang gelar Doktor pertama dari kalangan tuna netra itu.

Sebelumnya diberitakan dalam aksi penggerebekan tersangka terorisme di Sukoharjo beberapa hari yang lalu, Densus 88 mengklaim telah menemukan barang bukti berupa senapan laras panjang di rumah Sigit Qurdowi. Kenyataannya itu bukanlah senjata laras panjang, tetapi senapan angin yang sering digunakan orang tuanya untuk menembak burung. Salah satunya bahkan dalam kondisi rusak. Densus 88 juga mengambil uang warisan hasil jual rumah orang tua Sigit senilai Rp. 53,2 juta.

Rep: Shodiq Ramadhan

suara-islam.com, Thursday, 19 May 2011 14:43 | Written by Shodiq Ramadhan

(nahimunkar.com)