Dok: Sidang lanjutan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan. Foto: Antara


Rimanews – Saksi pelapor kasus dugaan penistaan Agama, Wilyudin Dhani mengatakan bahwa tidak semua pernyataan anggota Polresta Bogor, Briptu Ahmad Hamdani dalam persidangan adalah benar. Dalam kesaksiannya, Hamdani mengatakan bahwa saat itu, Wilyudin mendatangi Polresta Bogor berempat, padahal, kata Willy, ia hanya berdua datang membuat laporan kesana.

“Sebagian besar tidak benar. Saya datang hanya berdua karena saya naik motor. Dia (Hamdani) tidak menjelaskan bahwa saya uraikan ketika saya bertanya, kejadian pidato yang saya laporkan di Kepulauan Seribu tanggal 27 September 2016. Saya menjelaskan tapi tidak dicatat,” ujar Willyudin, di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, hari ini.

Dalam sidang dugaan penistaan agama, hakim mencecar saksi dari Polresta Bogor, akibat salah pengetikan waktu kejadian Ahok pidato di Kepulauan Seribu.

Hakim mencecar saksi karena laporan polisi itu tercatat peristiwa pidato Ahok yang diduga menista agama terjadi pada 6 September 2016. Padahal, Ahok berpidato di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

Kepada hakim, Hamdani menyatakan tidak mengetahui  tanggal berapa Ahok berpidato di Kepulauan Seribu. Dia hanya mengikuti keterangan pelapor.

Ketika melapor, Wilyudin mengaku pada Hamdani kalau ia melihat pidato kontroversial Ahok di Kepuluan Seribu lewat Youtube di kediamannya pada tanggal 6 Oktober 2016, lantas ia melapor esok harinya, 7 Oktober 2016. Wilyudin menampik disebut Hamdani menonton video itu tanggal 6 September 2016, seperti apa yang dikatakan Hamdani dalam kesaksiannya.

“Saya kembali diwawancarai lagi. Saya nonton video itu di rumah saya, Kamis, 6 Oktober 2016 jam 11,” tuturnya.

Kemudian, menurut Wilyudin, aparat kepolisian pun bersiap mencetak laporannya. Saat dicetak, ia menyebut ada kesalahan pada penulisan tanggal. Dirinya pun membenarkan kesalahan itu.

“Sebelum di print, printernya rusak, yang nge-print bukan dia (Hamdandi). Saya coret tanggal 6 September itu,” tandasnya.

Mendapati kesalahan itu, Wilyudin mengaku sempat menegor Hamdani. Hamdani pun mengatakan akan melakukan pembetulan kesalahan tanggal. Kemudian, saat ia melihat komputer, tanggal yang salah pun sudah terlihat tidak salah lagi.

“Kata dia mau benerin lagi, cukup lama juga hampir (salat) Isya. Saya lihat di monitor benar 6 Oktober. Yang terakhir saya tidak lihat, langsung tanda tangan, saya berkhusnudzon saja,” tuturnya.

Sumber : rimanews.com

(nahimunkar.com)