Sampai Rakyat Pada Mati Kelaparan pun Dana Masih Tetap Dihamburkan

Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede

Di sana-sini orang mati karena kelaparan bergelimpangan. Ironisnya, di pusat kekuasaan, rumah jabatan yang sama sekali tidak terancam ambruk pun direnovasi demi menguras ratusan miliar rupiah. Opo tumon?[1] (Apa tidak mengherankan?)

***

Setelah lebih dari 65 tahun berada di alam kemerdekaan, rasanya tak terbayang jika masih ada rakyat Indonesia yang harus mati karena kelaparan, sebagaimana sering terjadi pada masa penjajahan dulu.

Faktanya, pada 2010 lalu masih ada saja rakyat Indonesia yang mati kelaparan sebagaimana diberitakan media massa. Ironisnya, di kesempatan lain kita menemukan berita tentang besarnya biaya renovasi rumah jabatan yang mencapai ratusan miliar rupiah.

Mati kelaparan, disebabkan oleh ketidak-mampuan memenuhi kebutuhan primer. Sedangkan merenovasi rumah jabatan, adalah kebutuhan sekunder bahkan tersier. Namun yang sekunder dan tersier ini, bagi sebagian orang justru diperlakukan bagai kebutuhan primer.

Misalnya, renovasi rumah jabatan Menteri Keuangan yang menelan biaya sekitar Rp 3,4 milyar sejak Kementrian Keuangan dijabat oleh Dr. Sri Mulyani Indrawati. Tahun 2008, biaya renovasi rumah jabatan tersebut menelan dana sekitar Rp 2,1 milyar. Sedangkan tahun 2009, biaya renovasi kembali dikucurkan sebesar Rp 1,3 milyar.

Konon, biaya renovasi itu digelontorkan ‘hanya’ karena ada ketidak puasan terhadap upaya renovasi masa sebelumnya. Jadi, bukan karena ada sesuatu yang mendesak atau penting, namun semata-mata karena selera pribadi pejabatnya.

Selain rumah jabatan menteri, yang juga dihebohkan adalah renovasi rumah jabatan anggota DPR RI yang mencapai Rp445 milyar untuk 495 unit rumah jabatan di kompleks DPR RI. Atau, per unit dianggarkan Rp 900 juta rupiah.

Untuk kalangan atas, seperti pejabat dan sebagainya, mengucurkan uang dalam jumlah ratusan juta atau ratusan milyar terasa begitu mudah. Sementara itu, sebagian rakyat, untuk kebutuhan makan saja tidak dapat dipenuhi secara baik, hingga ada diantara mereka yang harus mati kelaparan, sebagaimana terjadi pada seorang pemulung di Tangerang yang ditemukan tewas akibat kelaparan.

Kasus mati karena kelaparan tersebut terjadi pertengahan Desember 2010 lalu. Jasad pemulung tanpa identitas berjenis kelamin laki-laki ini, pertama kali ditemukan oleh Aco Sudarso (petugas Jasa Marga cabang Jakarta-Tangerang) sekitar pukul 14:00 wib di kolong jembatan tol Tangerang-Jakarta, jalan KH Hasyim Ashari, Kelurahan Nerogtog, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, pada hari Kamis tanggal 16 Desember 2010.

Pada saat ditemukan, jasad korban sudah mengeluarkan bau busuk. Diduga, ia sudah mati sejak tiga hari sebelum ditemukan. Masya Allah, di tengah hiruk-pikuk kota satelit Tangerang, ternyata ada ketidak pedulian yang begitu kentara. Sehingga ada jasad pemulung yang tewas kelaparan baru ditemukan tiga hari kemudian. Padahal, Tangerang tidak jauh dari pusat kekuasaan Ibukota Jakarta.

Sekitar satu bulan sebelumnya (12 November 2010), di Magetan, Jawa Timur, ditemukan jasad seorang wanita tua dalam keadaan tewas mengenaskan tergeletak di tengah kebun tebu, di Desa Gondang, Kecamatan Karangrejo, Magetan. Ia diduga tewas karena kelaparan disamping usianya yang sudah lanjut. Korban bernama Sarinem, warga Desa Gulun, Kecamatan Maospati, Magetan. Kegiatan sehari-hari korban, antara lain mencari kayu bakar.

Di Kotabaru, Kalimantan Selatan, pada hari Jum’at tanggal 29 Oktober 2010, ditemukan sesosok jasad laki-laki berusia sekitar 50 tahun tewas di samping Gedung Dewan Kesenian Daerah (DKD) setempat. Saat ditemukan, korban mengenakan baju hitam polos, sarung motif kotak-kotak berwarna coklat, berperawakan kurus dan tinggi badan diperkirakan sekitar 155 sentimeter. Diduga, ia tewas karena kelaparan. Lokasi korban meninggal, tak jauh dari kantor Sekretariat Daerah Kotabaru.

Pada hari Senin tanggal 19 Juli 2010, Satrio Gunawan seorang petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, saat sedang bertugas menemukan sesosok mayat perempuan berusia sekitar 60 tahun dalam keadaan sudah dirubungi semut, di tepi jalan Karimunjawa, Surabaya, Jawa Timur. Pada jasad korban tidak ditemukan identitas kependudukan, juga tidak ditemukan tanda-tanda bekas penganiayaan. Diduga, korban yang sudah renta ini tewas akibat kelaparan.

Masih di Jawa Timur, pada hari Selasa tanggal 8 Juni 2010, sekitar pukul 06:30 wib, ditemukan jasad seorang kakek bertubuh kurus kering di bantaran Sungai Kalimas, Jalan Raya Ngagel, Wonokromo. Pertama kali korban ditemukan oleh oleh Sigit (33 tahun) warga Jalan Ubi, Surabaya. Sejak tiga hari sebelum ditemukan, korban terlihat tiduran di lokasi kejadian. Berdasarkan pemeriksaan aparat, saat ditemukan tidak ada tanda-tanda kekerasan bekas penaniayaan. Diduga, korban tewas karena kelaparan.

Pada hari Selasa tanggal 13 April 2010, ditemukan jasad seorang wanita di kawasan jalan SM Raja Km 21, Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara. Diperkirakan korban berusia 40 tahun. Saat ditemukan kondisi sebagian tubuh korban dalam keadaan terinfeksi penyakit dan dikerubungi lalat. Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, sehingga ia diduga tewas karena kelaparan.

Pada hari Rabu tanggal 21 Januari 2010, di Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, ditemukan sesosok mayat laki-laki yang tergeletak di pinggir jalan raya. Diperkirakan usianya 70 tahun. Pada diri korban tidak ditemukan identitas. Diduga, ia tewas karena kelaparan.

Pada hari Senin tanggal 4 Januari 2010, ditemukan jasad seorang nenek yang diperkirakan berusia 72 tahun, akibat kelaparan. Jasad nenek tua itu ditemukan di bukit sebelah barat dusun Banyakan I, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Diperkirakan, sang nenek tua tewas satu hari sebelum ditemukan Rohadi (29 tahun), warga setempat.

Sebelum ditemukan tewas, selama lima hari sebelumnya, sang nenek tua terlihat mondar-mandir di dusun tersebut. Warga sempat beranya-tanya ketika sang nenek tua yang bisanya mondar-mandir tiba-tiba hilang begitu saja. Kekhawatiran tersebut disampaikan warga kepada Rohadi, yang kemudian melakukan pencarian. Akhirnya, Rohadi berhasil menemukan sang nenek tua dalam keadaan sudah tewas di bibir jurang di atas perbukitan, sebelah barat Dusun Banyakan I.

Orang setua itu seharusnya menjadi tanggungan negara. Apalagi bila ia sebatang kara. Di negeri yang makmur ini, orang setua itu ternyata masih harus memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri. Mengarungi hidup sendiri, hingga tersesat ke sebuah bukit, dan tewas karena kebingungan dan kelaparan.

Kasus tewas kelaparan di negeri yang makmur ini, bukan kali ini saja terjadi. Menurut catatan, hingga September 2009, sejumlah 113 warga Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua, tewas kelaparan. Kelaparan hebat yang menimpa tujuh distrik dari total 45 distrik yang ada, sudah berlangsung sejak Januari 2009.

Di tahun 2008, pernah terjadi kasus tewas akibat kelaparan yang amat memilukan hati. Seorang ibu muda bernama Basse (27 tahun) dalam kondisi hamil tujuh bulan tewas kelaparan, setelah tiga hari tidak makan. Lima menit berselang, salah seorang putranya Bahir yang masih berusia lima tahun, juga tewas akibat kelaparan.

Peristiwa tragis itu terjadi pada hari Jum’at tanggal 29 Februari 2009. Basse yang tewas sekitar jam 13:00 waktu setempat ini, adalah warga Jalan Daeng Tata I Blok 5, Kelurahan Karang Tambun, Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan. Almarhumah Basse bersuamikan Bahri (35 tahun). Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai empat anak bernama Salma (9 tahun), Baha (7 tahun), Bahir (5 tahun), dan Aco (4 tahun).

Bahri sang suami sehari-hari bekerja sebagai pengayuh becak, dengan penghasilan sekitar Rp 10 ribu per hari. Sedangkan Basse membantu tetangganya secara sukarela. Karena suka rela, kadang dibayar, kadang tidak. Dari penghasilan mereka berdua, hanya bisa digunakan membeli beras yang dimasak menjadi bubur, dan dimakan tanpa lauk. Sesekali, bubur beras tadi dicampur garam, namun seringkali hambar tanpa garam.

Namun demikian, meski penghasilan Bahir minim, ia tega mengalokasikan secara tetap penghasilannya untuk membeli rokok kretek secara rutin, bahkan juga minuman keras. Pasangan Basse-Bahri merupakan salah satu contoh kasus korban iklan rokok yang begitu gencar, dan korban tata niaga minuman keras yang amburadul.

Pada pekan pertama Maret 2008, ada lima warga Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, yang meninggal dunia setelah sebelumnya menderita busung lapar dan mengalami gangguan gizi. Tiga diantaranya berusia di bawah lima tahun, sedangkan dua lainnya masing-masing berusia 13 dan 15 tahun.

Masih di bulan Maret 2008, kali ini di Jombang, Jawa Timur, seorang pria lajang bernama Sai’in (39 tahun) asal Desa Jeblok Kecamatan Sumobito, ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di dekat areal pemakaman Desa Kepuhdoko Kecamatan Tembelang. Jasadnya ditemukan pada tangal 5 Maret 2008 siang. Diduga, pria yang setiap harinya luntang-lantung ini meninggal dunia lantaran tak makan selama sepekan.

Di Bogor, pada hari Selasa tanggal 3 Juni 2008 siang ditemukan jasad seorang penyapu jalan di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Jawa Barat. Pria itu bernama Adin (46 tahun), petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor. Diduga, ia tewas akibat kelaparan, akibat hanya makan satu kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.

Almarhum Adin memiliki seorang istri bernama Neglasari (40 tahun), warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Menurut sang istri, penghasilan Adin per bulan sekitar Rp 750 ribu. Sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan memenuhi kebutuhan hidup. Seringkali mereka dalam sehari hanya makan satu kali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuk mereka dan ketiga anaknya, Neglasari dan Adin terpaksa cuma minum air putih.

Rupanya, di negeri yang makmur ini, tidak ada jaminan bisa memenuhi kebutuhan pokok secara baik, meski seseorang itu bekerja untuk pemerintah daerah setempat, seperti Adin yang malang itu.

Akibat tingkah buruk manusia

Adanya kelaparan itu tidak lain adalah akibat tingkah buruk manusia. Tngkah buruk itu dapat disederhanakan pembahasannya menjadi dua:

Satu, tingkah buruk masyarakat itu sendiri.

Dua, tingkah buruk para pemimpinnya.

Dari dua tingkah buruk itu ada yang justru sama-sama dilakukan, baik oleh rakyat maupun pemimpinnya. Sama-sama berbuat buruk. Di antaranya baik pemimpin maupun rakyat telah sama-sama melakukan kecurangan dan ketidak jujuran, bahkan sudah sampai ke tarap merajalela.

Dalam hadits diungkap dengan sebutan mengurangi takaran dan timbangan. Tetapi yang terjadi di masyarakat kini justru lebih dari itu, bukan hanya mengurangi takaran dan timbangan namun apa saja yang dapat dicurangi maka dicurangi. Bahkan yang tidak dapat dicurangi pun dicari jalannya, dikotak-katik agar dapat dicurangi. Sedangkan ketika masyarakat telah mengurangi takaran dan timbangan (belum yang lain-lain) saja sudah diancam dalam hadits sebagai berikut:

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

Dan tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, sulitnya (bahan) kebutuhan, dan dhalimnya penguasa atas mereka. (HR Ibnu Majah no 4019, hasan menurut Al-Albani dalam As-Silisilah As-Shohihah 106/ 4009).

Sekali lagi, di masyarakat ini, yang dicurangi itu bukan hanya takaran dan timbangan, namun sudah menjalar sampai aneka macam jenis apapun. Dan pelakunya bukan hanya rakyat tetapi juga pemimpinnya. (Buktinya, betapa banyak pemimpin yang dihukum penjara karena terbukti korupsi. Itu saja yang ketahuan dan tertangkap. Entah berapa lagi yang tidak terdeteksi). Sampai di masyarakat ada pemeo: kalau yang dititipkan itu duit maka bakal berkurang. Tetapi kalau yang dititipkan itu omongan (perkataan) maka bakal bertambah. Ini artinya, sudah curang masih bohong pula atau menjilat pula.

Dalam kondisi yang masyarakat dan pemimpinnya seperti itu, tahu-tahu di sana-sini ada yang mati kelaparan. Sementara itu rumah jabatan yang belum jebol dan atapnya tidak bocor pun direnovasi dengan menghabiskan ratusan miliar rupiah.

Bagaimana ini menurut agama? Katanya negeri ini kan suasananya religious, jadi ya perlu dipandang secara agama gitu lho!

Apabila matinya rakyat di sana-sini karena kelaparan itu akibat dari curangnya para pemimpin, maka ada ancaman yang sangat berat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, kecuali tak bakalan mendapat bau surga.” (HR Al-Bukhari – 6617).

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.”

(HR Al-Bukhari- 6618).

*Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, penulis buku Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah


[1] Dalam bahasa Inggris mungkin yang mirip ungkapan Opo Tumon… ini adalah What On Earth…? .

Intinya adalah keheranan kita untuk sesuatu yang tidak seharusnya terjadi atau ada, tetapi buktinya ada. (http://geraidinar.com/2008/07/uang-kertas-dengan-nilai-nominal.php)

(nahimunkar.com)