Ilustrasi foto: Google

“Kami datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam sedangkan waktu itu kami adalah pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama dua puluh malam. Beliau mengira kalau kami merindukan keluarga kami, maka beliau bertanya tentang keluarga kami yang kami tinggalkan. Kami pun memberitahukannya. Beliau adalah seorang yang sangat penyayang dan sangat lembut. Beliau bersabda:

ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Pulanglah ke keluarga kalian. Tinggallah bersama mereka dan ajari mereka serta perintahkan mereka dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. Jika telah datang waktu shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan yang paling tua dari kalian hendaknya menjadi imam kalian’.” (HR. Bukhari: 5549) – http://hadits.in/bukhari/5549

Di antara bentuk sayang kepada keluarga adalah mengajarkan kepada mereka sunnah (jalan hidup) Nabi – shallallahu alaihi wa sallam-.

Faedah penting lainnya: hendaknya seorang dai penyayang terhadap mad’u, terutama sekali jika mad’u tersebut usianya lebih muda darinya dan telah datang dari nun jauh di sana.

Allahumma shalli ala nabiyyina Muhammad.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)