Ilustrasi/Muslim.Or.Id


Sebelum beranjak ke inti status sebagaimana judulnya, perlu kita ketahui makna ‘fitnah’ yang kerap dituturkan di perut kitab dan serat lidah para ulama dan asatidzah. Fitnah adalah hal-hal dan kesulitan-kesulitan yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya sebagai ujian dan cobaan yang mengandung hikmah.

Pada akhirnya, berkat karunia Allah, fitnah kelak akan diangkat sehingga meninggalkan dampak positif bagi orang-orang beriman dan berbuat baik (sesuai syariat), dan sebaliknya, meninggalkan dampak yang buruk bagi yang berbuat jahat dan tidak beriman.

Fitnah ada yang bersifat khusus (individual) juga bersifat umum (global). Fitnah yang khusus menyerang individu terbagi menjadi beragam macam: [1] Fitnah berupa musibah, [2] fitnah berupa kenikmatan, [3] fitnah hawa nafsu (masuk di dalamnya wanita), dan [4] fitnah syubhat. Adapun fitnah yang bersifat umum, dengannya kaum muslimin berada dalam cobaan besar, sehingga menjadi lemah, penganutnya tampak begitu hina, dan umat-umat kafir mengerumuninya layaknya orang-orang lapar mengerumuni hidangan mereka.

Disebabkan konteks kekinian sangat erat dengan fitnah global yang masif, maka kami sebutkan sebab-sebab terjadinya fitnah secara ringkas. Semua fawaid di status ini kami ringkas dari kitab ‘Al-Fitnah, wa Mawqif al-Muslim minha’ karya Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab al-Aqil, diterjemahkan oleh Ahmad Yunus, M.Si dan diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’i dengan judul “Fitnah AKhir Zaman, Menyikapi Huru Hara dan Kekacauan di Akhir Zaman”.

Sebab Terjadinya Fitnah terbagi menjadi dua:

[1] Sebab Kauniyah (Sunnatullah), dan

[2] Sebab Khusus (manusiawai)

Sebab terjadinya fitnah secara kauniyah:

a. Allah ingin menunjukkan hikmah dan keadilan-Nya dengan menguji antar sesama manusia.

b. Wafatnya Nabi Muhammad.

c. Meninggalnya para sahabat.

Adapun sebab terjadinya fitnah secara khusus (manusiawi) dan INILAH yang lebih kita fokuskan:

a. Kaum Muslimin MENYEPELEKAN perintah untuk mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, terutama ketika terjadi fitnah dan perselisihan.

Keselamatan umat ini sangat bergantung pada sejauh mana mereka berpegang pada al-Qur’an dan as-Sunnah pada setiap urusan agama, terutama ketika terjadi fitnah, perselisihan dan kekacauan. Ibnu Katsir ketika menafsirkan an-Nuur ayat 63, beliau menekankan tentang jalan, manhaj (cara beragama), sunnah dan syariat Rasulullah.

Muncullah firqah atau aliran yang mempunyai seorang pemimpin yang mengajak, membela, dan berperang demi kelompoknya, sehingga umat mengalami kehancuran. Bencana yang ditimbulkan oleh Rafidhah, Khawarij, Bathiniyyah dan firqah menyimpang lainnya bisa menjadi bukti. Semua ini disebabkan mereka jauh dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

b. Konspirasi musuh-musuh Islam

c. Munculnya benyak pelanggaran syariat dan kemaksiatan serta ditinggalkannya amar ma’ruf nahi munkar

d. Memberontak dan merebut kekuasaan dari tangan para pemimpin kaum Muslimin dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar.

Point d ini kembali perlu ditekankan. Diteruskan oleh Syaikh Muhammad dalam masalah ‘membentuk demonstrasi massal’:

“Ketika terjadi fitnah -kami berlindung kepada Allah darinya-, setiap orang akan kembali kepada sesuatu yang menjadi pedoman bagi dirinya, guna mencari jalan keluar dari fitnah tersebut. Dan, yang menjadi pedoman bagi umat Islam adalah AL-QUR’AN dan AS-SUNNAH, serta komitmen kepada jamaah dan pemimpin kaum Muslimin.

Namun, sebagian orang yang telah terkena fitnah tidak merasa tertarik kepada pedoman-pedoman tersebut. Mereka juga tidak suka merujuk kepada Ahlul Hall wal Aqd, karena merasa bukan termasuk dari golongannya. Oleh karena itulah, mereka mencari tempat lain yang dapat menjadi pelindung ketika terjadi fitnah. Karena (mereka) merasa benar-benar mengetahui realita (menurut anggapan mereka), maka mereka pun mengadopsi sulusi dari luar Islam, dengan anggapan bahwa solusi tersebut akan memberi jalan keluar dari fitnah yang terjadi pada umat ini.

Ketika orang-orang yang terkena fitnah itu merasa pendapatnya yang bathil tidak didengar oleh ahlul hall wal aqd (ulama) di negara-negara kaum Muslimin, maka mereka pun merangkul orang-orang awam. Mereka memprovokasi orang-orang awam itu untuk menentang ahlul hall wal aqd (ulama), dengan memanfaatkan kecintaan orang-orang awam tersebut kepada Islam, antusisasme mereka dalam membela Islam, dan gairah mereka dalam melakukan jihad.”

Sekian dulu kutipan demi kutipan kami dari kitab tersebut. Sebenarnya banyak sekali hal dan ilmu yang perlu disebarkan dari kitab itu; disebabkan sangat mencerminkan kondisi saat ini. Namun semoga Allah beri taufiq ke depannya untuk menuturkan lebih lanjut. Semoga Allah memberi hidayah dan taufiq pada para pemimpin negeri ini, juga kaum muslimin secara keumuman. Semoga Allah menjaga darah kaum muslimin dan menghilangkan makar kuffar serta menghinakan mereka dunia dan akhirat. Allahumma aamiin.

Oleh Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)