Dalam Kisah Mereka Terdapat Pelajaran

“Sesungguhnya tiada perselisihan di kalangan manusia bahwa kesudahan orang-orang yang dzalim adalah kehancuran dan kebinasaan, sebagaimana kesudahan dari keadilan adalah kemuliaan dan kejayaan”.[13]

Sejarah menjadi bukti dan saksi akan kebenaran ucapan di atas. Berikut beberapa kisah, semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang kesudahan orang-orang yang dzalim:

  1. Seorang wanita pernah menuduh sahabat Said bin Zaid bahwa beliau mengambil tanah miliknya, lalu beliau berdoa: “Ya Allah, apabila dia dusta maka butakanlah matanya, matikanlah dia di tanahnya”.Akhirnya, wanita itu buta, dan pada suatu malam dia berjalan di tanahnya, tiba-tiba dia jatuh di sumurnya lalu meninggal dunia”[14]
  1. Seorang laki-laki pernah menuduh Muthorrif bin Abdillah asy-Syikhir yang bukan-bukan, lalu beliau berkata: “Kalau kamu dusta, maka Allah akan menyegerakan kematianmu”. Lalu, seketika itu juga orang tersebut mati di tempatnya.[15]
  1. Sejarah mencatat kisah Yahya bin Kholid Al-Barmaky (190 H). Anak-anaknya pernah bertanya kepadanya tatkala semua ditahan dalam penjara kota “Roqoh”: “Wahai ayah, mengapa setelah kemuliaan, kekayaan dan kebahagiaan, kini keadaan kita berubah menjadi seperti ini? Dia menjawab: “Wahai anakku, doa orang yang terdzolimi kita lalaikan padahal Alloh tidak pernah melalaikannya”.[16]
  1. Seorang bisnismen besar pernah menderita sakit berkepanjangan di tangannya, para dokter tiada bermanfaat lagi baginya, kemudian dia mendatangi seorang syaikh guna diruqyah barangkali saja ada orang yang menyihirinya, tapi ruqyahpun tiada bermanfaat juga. Akhirnya, Syeikh tersebut berkata: “Introspeksilah, barangkali anda pernah mendzalimi orang lemah, maka segeralah bertaubat kepada Allah dan meminta maaf padanya”. Orang itupun pulang lalu memutar kaset rekaman yang ada di pikirannya: “Pernahkah aku mendzalimi seorang?”. Diapun teringat bahwa dia pernah merampas tanah milik wanita janda tua dan memalsu surat-surat untuk kepentingan istananya. Setelah itu, diapun mencari tahu tentang keberadaan janda tersebut, meminta maaf dan mengembalikan hak tanahnya. Demi Allah, seketika itu pula tangannya sembuh total!!.[17]

Ini hanyalah sekelumit kisah yang menunjukkan akibat perbuatan dzalim dan bahwasanya Allah akan menolong hambaNya yang terdzalimi, sekalipun dia adalah seorang yang lemah. Maka waspadalah wahai saudaraku dari perbuatan dzalim dan janganlah sekali-kali dirimu meremehkannya!! Ingatlah balasan Allah bila engkau hendak berbuat dzalim kepada manusia. Umar bin Abdil Aziz berkata: “Apabila kemampuanmu menggodamu untuk berbuat dzalim kepada manusia, maka ingatlah kemampuan Allah untuk membalasmu”.[18]

Alangkah indahnya ucapan seorang penyair:

لاَ تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرََا

فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ

نَامَتْ عُيُوْنُكَ وَالْمَظْلُوْمُ مُنْتَبِهٌ        

  يَدْعُوْ عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ

Janganlah engaku berbuat dzalim dalam kemampuanmu

Kedzaliman pada akhirnya akan menyedihkanmu

Matamu tidur dan orang yang terdzalimi tidak tidur

Dia mendoakan bencana bagimu, dan Mata Allah tidak tidur.[19]

Akhirnya, kita berlindung kepada Allah dari mendzalimi orang lain atau didzalimi orang. Ya Allah, sesungguhnya kami telah banyak berbuat dzalim maka ampunilah kami semuanya.[20]

Penyusun: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi/ di sini hanya dipetik bagian akhir dari tulisannya yang berjudul: Gelapnya Kedzaliman

[13] Majmu Fatawa 28/62 Ibnu Taimiyyah.

[14] Shohih Muslim: 1610

[15] Mujaabuu Da’wat 92 Ibnu Abi Dunya.

[16] Siyar A’lam Nubala’ 9/90 adz-Dzahabi.

[17] Istamti’ bi Hayatika hlm. 313-315 DR. Muhammad bin Abdurrahman al-‘Arifi.

[18] Siyar A’lam Nubala 5/131 adz-Dzahabi.

[19] Bashoir Dhawi Tamyiz 3/543 Fairuz Abadi.

[20] Penulis banyak mengambil manfaat pembahasan ini dari kitab Mausu’ah Nadhrotin Na’im 10/4871-4926 dan referensi penting lainnya.

http://abiubaidah.com

(nahimunkar.com)