Selama di Penjara Israel, Relawan Dilarang Ibadah ataupun Kencing

Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa) Ferry Nur mengatakan, selama di penjara, perbuatan jahat dilakukan tentara Israel, termasuk melarang relawan beribadah dan buang air kecil.

Inilah beritanya:

Kisah Relawan Dibalik Jeruji Israel

Selama di penjara, tentara Israel melarang relawan beribadah dan buang air kecil.

Selasa, 8 Juni 2010, 01:19 WIB

Amril Amarullah, Zaky Al-Yamani

VIVAnews – Senin, 7 Juni 2010, sore Bandar Udara Soekarno Hatta mendadak padat oleh kerumunan masyarakat yang bersiap menyambut kedatangan lima relawan Indonesia.

Tepat pukul, 15.30 WIB, mereka keluar melalui Terminal 2D kedatangan Internasional Bandara Soekarno Hatta. Ratusan orang langsung menyambut relawan dengan takbir.

Suasana pun berubah haru, tangis bahagia terlukis diraut wajah para relawan Indonesia, setelah selama dua hari berada di dalam penjara Israel. Lalu bagaimana mereka mengisahkan pengalamannya?

Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa) Ferry Nur mengatakan, selama di penjara, perbuatan jahat dilakukan tentara Israel, termasuk melarang relawan beribadah dan buang air kecil.

“Kami dipersulit, tidak bisa melakukan apapun, karena kami diborgol selama 15 jam,” kata Ferry kepada wartawan.

Ia juga menceritakan selama di penjara tidak diperbolehkan berbicara dengan sesama relawan lainnya, apalagi berbahasa Indonesia, mereka akan marah sekali.

Saat di penjara pun, relawan diinterogasi terkait barang-barang yang dibawa, terutama alat-alat elektronik seperti kamera dan handphone.

Mengenai makanan yang diberikan selama di penjara, Ferry mengaku belum mengetahui apakah mengandung racun atau tidak. Hasil laboratorium rumah sakit di Amman baru diketahui pukul 10.00 waktu Yordania.

“Kita berharap, kondisi kesehatan baik-baik saja setelah mengkonsumsi makanan dari mereka seperti nasi, sayur, buah mentimun dan air putih,”

Sementara, Muhammad Yasin, jurnalis tvOne yang ikut tersandera dalam insiden tersebut mengaku sulit menggambarkan kondisi saat tentara Israel menyerang kapal bantuan ke Gaza.

“Karena memang suasananya saat itu kacau sekali, brutal, dimana kami ditembaki terus menerus tanpa dikasih ampun, bahkan mereka tidak segan-segan melempari kami bom. Sniper mereka juga mengawasi kami dimana-mana,” tutur Yasin.

Bahkan, semua kamera, dokumentasi hasil penyergapan dan juga barang-barang elektronik seperti handphone milik relawan tidak satupun dikembalikan tentara Israel.

“Semua dirampas, termasuk kaset, dokumentasi kami tidak bisa diselamatkan, karena diperiksa secara ketat,” ujar Yasin pasrah. (umi)

Sumber: VIVAnews

Sengitnya Yahudi kepada Muslim bukan hanya di zaman Nabi

Peristiwa itu membuktikan bahwa sengitnya Yahudi kepada Muslimin bukan hanya di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Bahkan di dalam ayat disebutkan, walan tardho, mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak akan rela.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ [البقرة/120]

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS Al-Baqarah: 120).

Meskipun ayat itu sudah jelas, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka namun di Indonesia ada penulis tafsir yang manafsiri tidak akan senang itu hanya yaumaidz, pada hari itu, ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

Orang yang menulis tafsir “Al-Lampu” (maksudnya lampu sinagog, kata Ridwan Saidi pengamat tentang Yahudi) di Indonesia itulah di antaranya yang menafsiri QS Al-Baqarah ayat 120 bahwa tidak relanya Yahudi terhadap orang Islam itu hanya pada hari itu (yaumaidz, ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada). Tokoh tafsir yang diisukan sebagai cenderung kepada aliran sesat Syi’ah ini perlu mengaca kembali, apakah tafsirnya itu sesuai dengan maksud ayat yang sebenarnya, dan sesuai dengan kenyataan atau tidak. Secara kenyataan, dalam berita itu orang Yahudi melarang orang Muslim beribadah.

Di mana benarnya penafsiran anda wahai ahli tafsir “al-lampu”? (nahimunkar.com).