PENGERTIAN aborsi (pengguguran janin) setidaknya terbagi ke dalam dua pemahaman besar, yaitu abortus spontan dan abortus provokatus (kini lebih dikenal dengan nama induced abortion atau procured abortion). Abortus spontan dalam bahasa awamnya biasa disebut dengan keguguran. Sedangkan abortus provokatus adalah upaya menggugurkan kandungan dengan cara-cara tertentu dan disengaja.

Abortus provokatus terbagi dua kategori. Pertama, abortus provokatus medisinalis (atau disebut juga abortus terapeutik). Kedua, abortus provokatus kriminalis.

Abortus provokatus medisinalis dilakukan oleh dokter ahli kandungan di lembaga (klinik atau Rumah Sakit) yang resmi, ada alasan medis dan alasan non medis (dalam rangka menolong atau menyelamatkan jiwa si ibu hamil), ada surat persetujuan keluarga, ada konseling psikologi dan keagamaan baik sebelum maupun sesudah aborsi.

Sedangkan abortus provokatus kriminalis, dilakukan bukan oleh ahlinya, tanpa alasan medis, menyalahi etika kedokteran, dan sebagainya. Meski pelakunya seorang dokter ahli, namun bila melanggar etika kedokteran, dan tanpa ada indikasi medis, serta tidak mengantongi izin praktek, maka abortus semacam ini tetap dikategorikan sebagai abortus provokatus kriminalis, sebagaimana terjadi baru-baru ini di Jakarta.

 

Kasus Warakas Jakarta Utara

 

Sebagaimana diberitakan berbagai media massa, pada tanggal 22 Januari 2009 lalu, aparat kepolisian sebuah tempat praktek dokter yang diduga (dan kemudian terbukti) menjadi tempat berlangsungnya abortus provokatus kriminalis.

Disebut kriminalis, karena izin praktek yang dimiliki yayasan tersebut adalah praktek dokter umum bukan kebidanan. Kedua, meski pelakunya beralasan bahwa pada umumnya yang mereka layani adalah pasangan suami isteri namun belum tentu ada alasan medis yang tepat.

Dari penggerebekan yang dilakukan polisi, beberapa pelaku abortus provokatus kriminalis ditangkap, di antaranya pasangan suami istri. Mereka adalah pasangan dokter umum dan bidan yang sudah beroperasi sejak 1987 di Jl Warakas I No 17 RT 03/RW 01, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun baru ketahuan melakukan aborsi ilegal sejak 17 Januari 2009, padahal lokasi praktek mereka berada di tengah-tengah pemukiman padat, dan berjarak hanya sekitar 200 meter dari Mapolsek Tanjung Priok.

Pasiennya selain berasal dari Jakarta, juga berasal dari berbagai tempat seperti Bekasi dan Tangerang. Dengan biaya Rp 1,5 juta pasien bisa mendapatkan pelayanan pengguguran kandungan di tempat praktek dokter itu. Tempat ini menjadi terkenal berkat ‘promosi’ dari mulut ke mulut alias gethok tular.

 

Dari Dokter Gigi Hingga Dukun

 

Praktek aborsi ilegal (abortus provokatus kriminalis) juga dilakukan oleh seorang dokter gigi. Hal ini pernah terjadi di Denpasar, Bali. Pelakunya bernama I Ketut Arik Wiantara (38). Praktek ilegalnya terbongkar setelah jatuh korban bernama Ni Komang Asih (30), yang meninggal dunia sehari setelah menggugurkan kandungan di tempat praktek aborsi ilegal di Jl Tukad Petanu, Gang Gelatik, Denpasar, pada Sabtu 15 November 2008. Korban meninggal dunia di RSUP Sanglah, Denpasar, Minggu 16 November karena mengalami pendarahan akibat luka robek di rahim. (detiknews Senin, 17/11/2008 14:37 WIB).

Ni Komang Asih hamil akibat dari hubungan zinanya dengan Suartama yang telah beristri. Suartama kemudian mengajak korban menggugurkan kandungannya di tempat praktek I Ketut Arik Wiantara.

Dokter gigi I Ketut Arik Wiantara beberapa tahun lalu sudah membuka praktik aborsi ilegal dan pernah divonis dua tahun penjara PN Denpasar pada tahun 2005. Setahun setelah menghirup udara bebas, ia kembali membuka praktik aborsi ilegal di tempat yang sama.

Di Jakarta, praktek abortus provokatus kriminalis dilakoni seorang dukun urut bernama Kokom (56). Salah satu ‘pasiennya’ adalah Fitriani Arrazi alias Anny (17), siswi SMKN 9, Jalan Gedong Panjang, Jakarta Barat. Saat itu ia hamil 22,5 minggu akibat berzina dengan pacarnya bernama Suryadi (21).

Selama hamil, tidak ada yang tahu keadaannya yang sudah berbadan dua itu, termasuk teman-temannya di sekolah. Karena, setiap ke sekolah Anny selalu menutupi perutnya yang semakin membesar itu dengan mengenakan jaket. Namun, ia cemas akan diberhentikan dari sekolah bila ketahuan sedang hamil (di luar nikah). Maka, Anny pun menerima saran pacarnya untuk menggugurkan kandungan.

Proses pengguguran kandungan berjalan mulus, sampai akhirnya pada tanggal 6 April 2008 Rimin (45) dan Abdul Rasyid (32) warga Jl Mangga Besar XIIIA Mangga Dua Selatan Jakarta Pusat, mencium bau amis yang menyengat. Keduanya kemudian mencari sumber bau menyengat tadi. Ternyata, aroma menyengat itu berasal dari gundukan tanah di tepi sungai. Setelah digali, ada janin bayi yang masih berdarah beserta ari-arinya.

Maka, Rimin dan Abdul Rasyid pun segera melaporkan temuannya itu kepada warga sekitar, dan diteruskan dengan melaporkan ke Polsek Sawah Besar. Berdasarkan temuan tersebut, polisi melakukan penyidikan. Akhirnya, pada dini hari 9 April 2008 polisi menciduk Anny dan Suryadi, yang sedang berada di rumah Anny yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari tempat penguburan janin. Berdasarkan hasil visum, diketahui bayi dipaksa untuk keluar hingga janin mati.

Berdasarkan rasa kemanusiaan dan mengingat pelaku masih berstatus pelajar, kepolisian memutuskan untuk tidak menjebloskan Anny ke dalam tahanan. Namun, Suryadi dan dukun urut Kokom ditahan hingga proses hukum selesai. Beruntung nyawa Anny tidak melayang bersama sang janin. Praktek abortus provokatus kriminalis memang sangat riskan, ibarat menjemput maut.

Hal tersebut terjadi pada diri Novila Sutiana (21) warga Dusun Gegeran, Desa Sukorejo, Kabupaten Ponorogo. Novila berpacaran dengan Santoso (38) warga Desa Tempurejo, Kecamatan Wates, Kediri, yang masih tergolong pamannya sendiri, dan melakukan perzinaan. Ketika usia kehamilan Novila berusia 5 minggu, mereka mendatangi seorang bidan bernama Endang Purwatiningsih (40) di Desa Tunge, Kecamatan Wates, Kediri, untuk melakukan aborsi.

Sejak 14 Mei 2008, mereka melakukan konsultasi dan pembicaraan mendetail dengan bidan Endang. Akhirnya dicapai kesepakatan, aborsi dilakukan 17 Mei 2008 dengan biaya sebesar Rp 2 juta. Proses aborsi dilakukan bidan di klinik tempatnya bekerja yang sekaligus rumah tinggalnya.

Ketika itu, bidan Endang menyuntikkan sesuatu di bagian kiri bokong Novila. Selang satu jam, sang bidan kembali menyuntikkan vitamin ke bagian kanan bokong Novila. Maksudnya, agar cepat mengalami kontraksi dan janin dalam kandungan Novila dapat keluar dengan sendirinya. Namun perkiraan bidan meleset. Hingga beberapa jam kemudian Novila tak kunjung mengalami kontraksi. Akibatnya, Novila meninggalkan lokasi klinik bidan dan berkunjung ke rumah sahabatnya di Desa Plosoklaten.

Di tengah perjalanan tepatnya di Kecamatan Puncu, Novila muntah darah dan pingsan di jalan. Tentu saja hal ini membuat Santoso (pacar Novila) panik dan kembali menghubungi sang bidan. Atas rujukan bidan dan pertolongan warga, Novila dilarikan ke RSUD Pelem Pare, namun di tengah perawatan korban meninggal dunia. (detiknews Minggu, 18/05/2008 10:44 WIB)

 

Persoalan Serius

 

Menurut Fatni Sulani, Direktur Dinas Kesehatan Anak Departemen Kesehatan, kasus aborsi di Indonesia merupakan persoalan serius, karena jumlah aborsi yang terdata jauh lebih sedikit dibandingkan angka sebenarnya. Merujuk hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) sampai pertangahan 2008, sekitar 2,5 juta perempuan Indonesia melakukan aborsi. Dan 60 persen di antaranya dilakukan dengan cara tidak aman. Menurut Prof. Dr H. Jurnalis Uddin, P.AK, Guru Besar Universitas YARSI Jakarta, praktik aborsi di Indonesia tetap tinggi setiap tahunnya, data tersebut belum termasuk kasus aborsi yang dilakukan di jalur non medis (dukun).

Menurut Jurnalis, penelitian pada beberapa fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan lembaga kesehatan lainnya menunjukkan bahwa fenomena aborsi di Indonesia perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Dari penelitian WHO diperkirakan 20-60 persen aborsi di Indonesia adalah aborsi disengaja (induced abortion). Penelitian di 10 kota besar dan enam kabupaten di Indonesia memperkirakan sekitar 2 juta kasus aborsi, 50 persennya terjadi di perkotaan.

Kasus aborsi di perkotaan dilakukan secara diam-diam oleh tenaga kesehatan (70%), sedangkan di pedesaan dilakukan oleh dukun (84%). Klien aborsi terbanyak berada pada kisaran usia 20-29 tahun. Masih ada lagi data gelap kasus aborsi, yaitu mereka yang melakukan aborsi tanpa bantuan orang lain, yaitu mereka yang mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Apalagi, obat-obatan tertentu yang bisa digunakan untuk mengugurkan janin ini mudah diperoleh via internet. Ada situs yang memiliki 5 pilihan bahasa, menjual  2 jenis obat keras seharga 55 poundsterling. Bila dikombinasikan, kedua obat tadi digunakan untuk menggugurkan janin berusia lebih dari 9 minggu. Untuk membeli kedua obat keras tersebut, peminat harus mengisi lebih dari 25 pertanyaan menyangkut alasan-alasan mereka ingin melakukan aborsi.

 

Resiko Aborsi

 

Menurut www.aborsi.org, aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita. Ada dua macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi, pertama, resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik. Kedua, resiko gangguan psikologis.

Pada saat melakukan aborsi  dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita, yaitu:

 

01.   Kematian mendadak karena pendarahan hebat.

02.   Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.

03.   Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.

04.   Rahim yang sobek (Uterine Perforation).

05.   Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.

06.   Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita).

07.   Kanker indung telur (Ovarian Cancer).

08.   Kanker leher rahim (Cervical Cancer).

09.   Kanker hati (Liver Cancer).

10.   Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.

11.   Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy).

12.   Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).

13.   Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis) .

 

Sedangkan resiko kesehatan mental yang akan dialami wanita yang melakukan aborsi adalah:

 

01.   Kehilangan harga diri.

02.   Berteriak-teriak histeris.

03.   Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi.

04.   Ingin melakukan bunuh diri.

05.   Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang.

06.   Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual.

 

Di luar hal-hal tersebut di atas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya. Oleh karena itu, yang perlu disadari oleh para wanita adalah, bahwa sesungguhnya aborsi bukanlah jalan keluar dari suatu masalah. Bahkan aborsi hanya akan membuat suatu permasalahan menjadi kian besar.

Pada dasarnya, tidak ada satu pun alasan yang tepat untuk melakukan aborsi. Karena, sekecil apapun sebuah janin, ia adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak seorang manusia pun yang berhak mengeliminasinya. Pada usia satu bulan janin sudah memiliki jaringan syaraf, dan pada hari ke 24 jantungnya sudah mulai berdetak. Dengan demikian, aborsi merupakan tindakan pembunuhan dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, dicari-cari dan tidak masuk akal.

Keputusan untuk melakukan aborsi biasanya ditempuh oleh mereka yang sedang mengalami depresi atau kebingungan. Oleh karena itu, jangan mengambil keputusan saat sedang mengalami depresi, putus asa atau kecewa. Dalam keadaan tenang, sehat dan dapat berpikir jernih, keputusan untuk melakukan aborsi sama sekali tidak terlintas.

 

Zina kemudian aborsi, dosa ganda

Merajalelanya perzinaan dan kemudian kalau hamil, kejahatan berzina itu dilanjutkan dengan pembunuhan janin; itu dosa besar kwadrat. Bentuk kedzaliman yang nyata, dosa besar ganda. Maka upaya untuk memberantasnya mesti harus dilakukan secara serius dan terus menerus oleh pihak yang berwajib dan juga masyarakat, sesuai dengan kedudukan dan porsi masing-masing mengenai kewenangannya. Amar ma’ruf dan nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah keburukan) harus senantiasa dilangsungkan di masyarakat.

Wahai Ummat Islam, takutlah ancaman Allah Ta’ala;

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ اْلعِقَابِ

25.  Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfaal: 25).

 

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ فَيُعْلِنُوا بِهَا إلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي  أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali,  lantas mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan kecuali mereka akan dilanda penyakit wabah dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (HR (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Dari Ibnu Abbas rhadhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu kampung maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).

1558 حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا*.

1558 Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Di antara tanda-tanda hampir Kiamat ialah terhapusnya ilmu Islam, meratanya kejahilan, ramainya peminum arak dan perzinaan dilakukan secara terang-terangan * (Muttafaq ‘alaih/ HR Al-Bukhari dan Muslim).

Zina adalah kejahatan besar, berdosa besar. Menggugurkan kandungan yang bila termasuk membunuh jiwa maka termasuk kejahatan besar, berdosa besar. Dosa besar ditambah lagi dengan dosa besar yang kadang dilakukan dengan resiko habisnya umur alias mati terjadi di mana-mana. Astaghfirullah… makin banyaknya praktek zina, menggugurkan kandungan, dan resiko mati akibat tindak kejahatan ganda itu tidak pantas untuk didiamkan. Maka wajib dicegah.

Sarana-sarana yang menjurus kepada perzinaan seperti tempat-tempat karaoke pun mestinya dibersihkan dari masyarakat. Di samping rawan perzinaan, tempat-tempat maksiat itu rawan narkoba dan minuman keras. Tetapi anehnya, seorang Inul Daratista yang penampilannya joget goyang ngebor sering dicekal di mana-mana, baik di daerah-daerah di Indonesia maupun di Malaysia, justru dia sudah mendirikan 19 karaoke di Jakarta dan berbagai kota dengan nama Inul Vista atau Vizta. Karaoke milik Inul ratu maksiat goyang ngebor itu menurut pengakuan netter yang mengunjunginya, dijajakan pula aneka minuman keras. Pantas saja Ummat Islam Depok, Dewan Dakwah bersama anggota DPRD memprotes keberadaan karaoke Inul Vista di Depok, Januari 2009.

Yang lebih menyakitkan Ummat Islam,pembukaan karaoke Inul Vista di Depok Jawa Barat itu peresmiannya didoakan langsungoleh orang yang disebut KyaiHaji,berpeci putih, jubah putih, dan berselendang sorban hijau denganmenadahkan tangan, komat-kamit berdoa di samping Inulyang menggunting rangkaian bunga pertanda dibukanya tempat maksiat itu. Astaghfirullaah…

Keruan saja kasus itu membuat geram Ummat Islam, dan mengingkari perbuatan Kyai Haji yang konon namanya Ruslan itu. Sarana yang menjurus ke arah perzinaan dan maksiat yang ujung-ujungnya aborsi  telah disemarakkan bahkan dengan mengatas namakan Islam yakni orang yang disebut Kyai Haji dengan penampilan ulama, lengkap dengan sorban hijau, jubah putih dan peci putihnya.

 

Fatwa Haramnya Aborsi

 

Tidak Boleh Aborsi Kecuali Darurat

 

Soal:

Apa hukum pengguguran kehamilan jika masa hamil telah mencapai 35 hari dengan kesepakatan bersama sang suami atasnya dengan pengetahuan adanya pencegah kehamilan yang alami?

 

Jawab:

Tidak diperbolehkan menggugurkan janin walau bentuknya belum mencapai 40 hari. Karena air mani dengan darah-darah saat itu sudah hampir berbentuk menjadi makhluk ciptaan. Dan dalam penggugurannya ada penentangan terhadap asal penciptaan manusia. Tidak ada pengaruh terhadap sepakat atau tidaknya  suami dalam perkara seperti ini, sebagaimana tidak adanya ungkapan dengan keberadaan pencegah kehamilan atau ketidak adaannya. Karena aborsi hanya diperbolehkan jika kehamilan itu mengundang darurat seperti khawatir akan kehidupan sang ibu, atau ia terkena penyakit yang bisa menyebabkan kerusakan terhadap kesehatannya dan sebagainya.

Wallahu a’lam.

Mufti markaz Fatwa dengan bimbingan Dr Abdullah Al-Faqih. (islamweb/ 17 Shafar 1424),

 

 

Pengguguran Kandungan Adalah Kejahatan/ Dosa Besar

Soal:

Apakah boleh menggugurkan kandungan jika janin belum mencapai 4 bulan dan hal itu dilakukan karena keberadaan 5 anak kecil dan yang terkecil berumur satu setengah tahun dan kelahiran akan terjadi di selain Negara kami?

 

Jawab:

 Sesungguhnya aborsi adalah haram secara syar’i. Dia termasuk upaya pengrusakan di muka bumi dan pemutus keturunan.

Allah berfirman:

وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسَادَ

 

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan keturunan, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS Al-Baqarah: 205).

 

Pengharaman dan dosa itu menjadi lebih besar lagi jika masa kehamilan telah mencapai 4 bulan, karena saat itu merupakan tahap ditiupkan ruh ke janin, maka hal itu merupakan pembunuhan jiwa yang Allah haramkan.

          Pengharaman menjadi lebih besar lagi jika pengguguran disebabkan karena takut miskin seperti yang dilakukan oleh orang Jahiliyyah. Allah telah melarang hal itu dan mensifatinya dengan kesalahan yang besar. Maka Allah Ta’ala berfirman:

 

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئاً كَبِيراً [الإسراء:31].

31.  Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS Al-Israa’/ 17: 31).

 

Wallahu a’lam.

Mufti Markaz Fatwa dengan bimbingan Dr Abdullah Al-Faqih. (islamweb/ 17 Shafar 1424). (haji/tede)

 

 

Teks Fatwa-fatwa Haramnya Aborsi:

فتاوى الشبكة الإسلامية معدلة – (ج 5/ ص 989)

رقم الفتوى 30866 لا يجوز الإجهاض إلا لضرورة

تاريخ الفتوى : 17 صفر 1424

السؤال

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أرجو الإجابة على السؤال التالي مع جزيل الشكر

ما حكم إجهاض الحامل إذا كانت مدة الحمل 35 يوماً لتاريخ اليوم مع موافقة الزوج على الإجهاض مع العلم بوجود مانع طبيعي لعدم الحمل؟ ولكم الشكر.

الفتوى

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فلا يجوز إجهاض الجنين ولو كان قبل اكتمال أربعين يوماً على تكوينه، لأن النطفة بالعلوق تكون آيلة للتخلق، وفي إسقاطها اعتداء على أصل خلق الإنسان، وفي هذا من الإفساد والإهلاك ما هو واضح معلوم، ولا تأثير لموافقة الزوج أو عدم موافقته في مثل هذا الأمر، كما أنه لا عبرة بوجود مانع للحمل أو عدم وجوده، علماً بأن الإجهاض يجوز إذا دعت إليه الضرورة كالخوف على حياة الأم من استمراره، أو إصابتها بمرض يستديم معها أثره مما يؤدي إلى الإخلال بحياتها، ونحو ذلك.

والله أعلم.

المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

فتاوى ذات صلة

حكم تنظيم النسل

لا يجوز الإجهاض تحت أي ذريعة مالم يكن هناك تضرر ببقاء الجنين

قرار المجمع الفقهي حول تحديد النسل

المزيد

30867

إسقاط الحمل جريمة كبيرة

الفهرس » فقه الأسرة المسلمة » النكاح » الحقوق الزوجية » العزل وتحديد النسل والإجهاض (255)

 

فتاوى الشبكة الإسلامية معدلة – (ج 5/ ص 990)

رقم الفتوى 30867 إسقاط الحمل جريمة كبيرة

تاريخ الفتوى :17 صفر 1424

السؤال

هل يجوز إسقاط الحمل إذا لم يبلغ 4 أشهر وذلك لوجود 5 أطفال صغار والصغرى تبلغ عاماً ونصفاً

وستكون الولادة فى غير وطننا؟

الفتوى

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فإن إسقاط الحمل محرم شرعاً، فهو من الإفساد في الأرض وإهلاك النسل… قال الله تعالى: وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسَادَ [البقرة:205].

ويشتد التحريم وتعظم الجريمة إذا وصل الحمل إلى أربعة أشهر، وهي المرحلة التي تنفخ فيها الروح، فيكون من قتل النفس التي حرم الله إلا بالحق.

ويكون التحريم أشد إذا كان الباعث على ذلك خشية الإملاق كما كان أهل الجاهلية يفعلون، وقد نهى الله تعالى عن ذلك ووصفه بالخطأ الكبير.

فقال الله تعالى: وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئاً كَبِيراً [الإسراء:31].

ولمزيد من الفائدة نرجو الاطلاع على الفتوى رقم: 2016 .

والله أعلم.

المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

فتاوى ذات صلة

حكم تنظيم النسل

لا يجوز الإجهاض تحت أي ذريعة مالم يكن هناك تضرر ببقاء الجنين

قرار المجمع الفقهي حول تحديد النسل