Seorang Tokoh NU Bicara tentang Kafir, Jauh dari Ilmu Ulama

Kalau ada tokoh NU (Nahdlatul Ulama) bicara agama tetapi semaunya, bagaimana ya. Belum lama ini ada tokoh NU yang memfardhu kifayahkan training ESQ. Padahal training ESQ itu difatwakan sesat oleh seorang Mufti di Malaysia. (lihat nahimunkar.com, Kelicikan ESQ: Di Depan Pengkritik Mengakui Salah, di Medianya Memfardhu Kifayahkan, 1:33 am).

Kini ada tokoh NU yang menyuara tak kalah anehnya: “NU-Muhammadiyah Harus Kafirkan Koruptor”. Bicaranya itu dalam peluncuran buku berjudul ‘Koruptor itu Kafir’ di Jakarta, Rabu 18 Agustus 2010.

Tokoh NU yang satu ini bicara tentang kafir, namun sangat jauh dari ilmu ulama. Untuk membedakan betapa jauhnya suara seorang tokoh NU dengan penjelasan ulama dalam hal istilah kafir, berikut ini dikutip suara tokoh NU, kemudian di bagian bawah dipaparkan penjelasan seorang ulama terkemuka mengenai istilah kufur.

Inilah suara seorang tokoh NU dalam berita:

“NU-Muhammadiyah Harus Kafirkan Koruptor”

Selama ini memerangi korupsi belum sampai pada tahap mengkafirkan para koruptor.

RABU, 18 AGUSTUS 2010, 21:40 WIB

Amril Amarullah, Eko Huda S

VIVAnews – Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah diminta lebih konkrit memerangi korupsi. Kedua organisasi itu harus berani mengkafirkan para koruptor.

“NU dan Muhammadiyah hukumnya wajib mengutuk korupsi. Kutukan itu harus dilakukan sesuai dengan pegangan kedua organisasi (NU dan Muhammadiyah). Jadi koruptor itu harus dikafirkan,” kata Sekjen Katib ‘Am Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Malik Madany dalam peluncuran buku ‘Koruptor itu Kafir’ di Jakarta, Rabu 18 Agustus 2010.

Dia mengatakan, sejauh ini keikutsertaan NU dan Muhammadiyah dalam memerangi korupsi belum sampai pada tahap mengkafirkan para koruptor.

“Kedua organisasi belum berani menyebut koruptor sebagai kafir dalam arti kaidah,” kata dia. “Selama ini hanya sebatas kufur nikmat.”

Menurut dia, pengertian kafir untuk para koruptor ini bukan berarti kafir dalam arti biasa. Dalam kaidah Islam dikenal dua macam kafir. Pertama kafir berat sesuai dengan kaidah dan yang kedua sebagai kafir khoffi atau samar-samar.

Harusnya, kata dia, para koruptor digolongkan sebagai kafir berat. “Karena (Koruptor) menganggap harta sebagai Tuhan, walau secara tidak sadar,” kata dia.

Sebelumnya, dia juga mengatakan bahwa jasad para koruptor tidak perlu disalatkan oleh para ulama. Kewajiban salat jenazah untuk jasad para koruptor cukup dilakukan orang biasa saja.

“Para koruptor itu tidak perlu disalati para ulama, cukuplah semacam Banser dan Garda Bangsa saja (yang mensalatkan). Karena para ulama ini adalah para pewaris nabi,” kata dia. (hs)

Sumber: • VIVAnews

Berikut ini penjelasan seorang ulama terkemuka mengenai istilah kafir:

Definisi Kufur dan Jenis-jenisnya

Posted on by Abu Aisyah Al Kediri

Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

[A]. Definisi Kufur

kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’ kufur adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

[B]. Jenis Kufur

Kufur ada dua jenis : Kufur Besar dan Kufur Kecil

Kufur Besar

Kufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Kufur besar ada lima macam

[1]. Kufur Karena Mendustakan

Dalilnya adalah firman Allah.

‘Artinya : Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mendustakan kebenaran tatkala yang hak itu datang kepadanya ? Bukankah dalam Neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir ?” [Al-Ankabut : 68]

[2]. Kufur Karena Enggan dan Sombong, Padahal Membenarkan.

Dalilnya firman Allah.

“Artinya : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, ‘Tunduklah kamu kepada Adam’. Lalu mereka tunduk kecuali iblis, ia enggan dan congkak dan adalah ia termasuk orang-orang kafir” [Al-Baqarah : 34]

[3]. Kufur Karena Ragu

Dalilnya adalah firman Allah.

“Artinya : Dan ia memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri ; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, niscaya akan kudapati tempat kembali yang baik” Temannya (yang mukmin) berkata kepadanya, ‘Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki ? Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun” [Al-Kahfi : 35-38]

[4]. Kufur Karena Berpaling

Dalilnya adalah firman Allah.

“Artinya : Dan orang-orang itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka” [Al-Ahqaf : 3]

[5]. Kufur Karena Nifaq

Dalilnya adalah firman Allah

“Artinya : Yang demikian itu adalah karena mereka beriman (secara) lahirnya lalu kafir (secara batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti” [Al-Munafiqun : 3]

Kufur Kecil

Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur amali. Kufur amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti kufur nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya.

“Artinya : Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkari dan kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir” [An-Nahl : 83]

Termasuk juga membunuh orang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Mencaci orang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Termasuk juga bersumpah dengan nama selain Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik” [At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh Al-Hakim]

Yang demikian itu karena Allah tetap menjadikan para pelaku dosa sebagai orang-orang mukmin. Allah berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenan dengan orang-orang yang dibunuh” [Al-Baqarah : 178]

Allah tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan menjadikannya sebagai saudara bagi wali yang (berhak melakukan) qishash[1].

Allah berfirman

“Artinya : Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudarnya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yangmemberi maaf dengan cara yang baik (pula)” Al-Baqarah : 178]

Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat di atas –tanpa diargukan lagi- adalah saudara seagama, berdasarkan firman Allah.

“Artinya : Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah, jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” [Al-Hujurat : 9-10] [2]

Kesimpulan Perbedaan Antara Kufur Besar Dan Kufur Kecil

[1]. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

[2]. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal dalam neraka, sedangkan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah memberikan ampunan kepada pelakunya, sehingga ia tiada masuk neraka sama sekali.

[3]. Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.

[4]. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kemaksiatannya.

Hal yang sama juga dikatakan dalam perbedaan antara pelaku syirik besar dan syirik kecil

[Disalin dari kitab At-Tauhid Lis Shaffitss Tsalis Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tuhid 3, Penulis Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Penerjemah Ainul Harits Arifin Lc, Penerbit Darul Haq]

__________
Foote Note:

[1]. Qishash ialah mengambil pembalasan yang sama. Qishash itu tidak dilakukan bila yang membunuh mendapat pemaafan dari ahlis waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, umpanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaknya membayar dengan baik, umpanya dengan tidak menangguh-nagguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Allah menjelaskan hukum-hukum ini membunuh yang bukan si pembunuh atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat maka terhadapnya di dunia di ambil qishah dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih,-pent
[2]. Lihat Syarhhuts Thahawiyah hal.361, cet. Al-Maktab Al-Islami.

Sumber: http://alatsari.wordpress.com/2008/02/15/definisi-kufur-dan-jenis-jenisnya/

Didudukkan dalam organisasi berlabel Ulama

Bagaimana dapat terjadi, orang yang berbicara mengenai masalah prinsip dalam Islam yang menyangkut pengkafiran terhadap pelaku perbuatan, namun tidak berlandaskan ilmu. Sehingga tampak jauh sekali dari ilmu Ulama.

Dengan kenyataan bahwa orang yang menyuara semaunya tentang istilah Islam itu punya kedudukan yang penting dalam organisasi berlabel Ulama, maka perlu sekali Ummat Islam memperhatikan peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya:

وَرَدَ فِي حَدِيث سَمُرَة عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ , وَحَدِيث أَنَس ” أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ ” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة ” ( فتح الباري).

Telah datang dalam Hadits Samurah menurut At-Thabrani, dan Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. (Hadits dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, Al-Bazzar, dan sanadnya jayyid/ baik). Dan hadits seperti itu oleh Ibnu Majah dari Hadits Abi Hurairah, di dalamnya ada:

” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة ”

Nabi saw ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan umum. (hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84, shahih menurut Adz-Dzahabi dalam Talkhish ).

Itulah peringatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kembali kepada tokoh NU tersebut: Harusnya, kata dia, para koruptor digolongkan sebagai kafir berat. “Karena (Koruptor) menganggap harta sebagai Tuhan, walau secara tidak sadar,” kata dia.

Dengan pendapatnya itu, berarti tokoh NU ini mendudukkan koruptor sebagai orang yang tergolong:

n Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya

n Kufur besar menjadikan pelakunya kekal dalam neraka

n Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya

n Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin.

Untuk mengeluarkan dari Islam, mengekalkan di neraka dan seterusnya itu mesti harus dilandasi dalil yang tegas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih. Sedangkan alasan dia hanyalah: Harusnya, kata dia, para koruptor digolongkan sebagai kafir berat. “Karena (Koruptor) menganggap harta sebagai Tuhan, walau secara tidak sadar,” kata dia.

Mari kita analisis. Di sini ada dua perkara:1. Koruptor adalah pelaku korupsi. 2. Orang yang menganggap harta sebagai Tuhan adalah belum tentu pelakunya itu koruptor. Sehingga dua hal itu tidak saling berhubungan, apalagi otomatis. Karena koruptor belum tentu menganggap harta sebagai Tuhan, sedang orang yang menganggap harta sebagai Tuhan belum tentu koruptor.

Atau dengan perkataan lain, koruptor belum tentu orang kafir, sedang orang kafir juga belum tentu koruptor.

Bukti lain lagi, ketika Muhammadiyah dan NU mengikuti apa yang diharuskan tokoh NU ini yakni mengkafirkan koruptor, sedang yang dihadapi adalah seorang yang memang sudah kafir sejak semula sebelum jadi koruptor, misalnya, lantas bagaimana? Tidak perlu diberantas korupsinya, cukup dikafirkan? Lha kan sudah kafir dari kemarin-kemarin Kang?

(nahimunkar.com)