• « ”Habib palsu” » yang Dipanggil KPK Itu Pembela Artis Porno
  • Beberapa media dinilai berdusta terhadap publik.

HabibPalsuFoto youtube

Masih ingat tulisan nahimunkar.com tentang Tiga Sosok Assegaf Yang Menghebohkan?

Kini salah satu “habib palsu” itu jadi berita heboh lagi, dalam kasus pajak. Namun tampaknya diungkap pula bahwa dia adalah pembela artis porno.

FPI tampaknya kipo-kipo (menolak keras) ketika “habib palsu” ini diberitakan sebagai orang FPI. Apalagi ketika KPK menghadirkan “habib palsu” itu sebagai salah satu saksi dalam kasus suap pengurusan pajak. Bukan hanya “habib palsu” ini saja yang dikecam, sejumlah media pun dinilai berdusta kepada public.

Dalam kasus dugaan suap pengurusan Pajak PT Master Steel yang melibatkan oknum penyidik pajak di Jakarta Timur, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan beberapa saksi. Antara lain adalah seorang yang dikenal sebagai “habib palsu” “Abdurrahman Assegaf” yang memiliki nama asli Abdul Haris Umarella asal Ambon dan dicatut media sebagai anggota FPI. Ia terakhir diketahui tinggal di Tangerang, Kompleks Witana Harja III, Pamulang Barat, Tangerang Selatan.

Sudah menjadi kewenangan KPK untuk memanggil semua pihak yang terlibat dalam suatu kasus. Namun sangat disayangkan saat pemanggilan ““habib palsu”” ini, hampir seluruh media online bersemangat memberikan stempel sebagai anggota FPI.

Lebih aneh lagi, label abal-abal “Anggota FPI” dijadikan judul utama berita meskipun dalam pembahasan berita tidak didapati kaitan apa pun antara FPI dan sosok ini serta hubungannya dengan kasus suap pajak.

Menurut Pihak FPI, Abdurrahman Assegaf yang dipanggil KPK bukanlah seorang habib, bukan pula anggota FPI. Habaib dan FPI tidak bertanggung-jawab atas semua tindak tanduk “habib palsu” tersebut baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

“Abdul Haris Umarella bukan Habib dan bukan anggota FPI. Dia berasal dari Ambon dan suka ngaku-ngaku Habib. Habaib dan FPI tidak bertanggung-jawab atas semua sepak terjangnya”, kata Pihak FPI seperti dikutip situs fpi.or.id, Selasa 18 Rajab 1432 H/ 28 Mei 2013 M.

Pihak FPI menceritakan, bahwa Abdul Haris Umarela ketika datang ke Jakarta awalnya mengaku bernama Habib Abdul Harits Bin Syeikh Abu Bakar, lalu tiba-tiba berubah menjadi Habib Abdurrahman Assegaf.

Haris Umarela kerap tampil membawa nama Habib namun membela preman dan artis porno serta sepak terjangnya sering bertentangan dengan perjuangan FPI. Pihak FPI mengancam akan mengambil langkah yang lebih tegas terhadap Haris Umarela. Bahkan sudah lama berita beredar tentang sejumlah kemaksiatan yang dilakukan Habib gadungan ini, seperti praktik perdukunan dan penipuan”, tegas Pihak FPI.

Kembali pada pemberitaan kasus suap pajak, media tetap saja mencantumkan label FPI pada Haris Umarela sebagai anggota bahkan petinggi FPI. Berikut adalah judul-judul pemberitaan bohong dari media pencatut nama Front Pembela Islam (FPI), yang sangat antusias dan gegap gempita mengaitkan FPI dalam kasus suap pajak:

  1. INILAH.COM = Suap Pajak PT MS, KPK Periksa Anggota FPI
  2. RAKYATMERDEKAONLINE.COM = Anggota FPI Jadi Saksi Suap Penyidik KPK
  3. MERDEKA.COM = Kasus pajak Master, KPK periksa anggota FPI Habib Abdurrachman
  4. OKEZONE.COM = KPK Periksa Anggota FPI Terkait Suap Pajak
  5. KORANINDONESIA.COM = KPK Periksa Anggota FPI Terkait Suap Pajak
  6. KANTOR BERITA WMC = Anggota FPI Diperiksa KPK Terkait Suap Pajak
  7. AKTUAL.CO = Ada Kader FPI yang Diperiksa KPK Terkait Suap Pajak
  8. PESATNEWS.COM = KPK Periksa Petinggi FPI
  9. PLASA.MSN.COM = KPK Periksa Anggota FPI Terkait Suap Pajak
  10. CENTROONE.COM = Anggota FPI Diperiksa untuk Kasus Pajak PT Master Steel
  11. BBC.WEB.ID = KPK Periksa Anggota FPI Terkait Suap Pajak

Seharusnya media-media yang tergolong besar ini menjaga citra sebagai penghantar informasi yang baik, jujur, adil dan akurat, bukan malah menjadi corong sebuah kepentingan golongan atau pihak tertentu. Bagaimana akhlak bangsa bisa membaik, jika personel media tidak mampu menghadirkan informasi kredibel, hingga masyarakat bisa lebih cerdas dan terbuka wawasannya. Janganlah gegap gempita dan bangga menjadi media pembawa berita fabrikasi apalagi berita asal jadi. Demikian menurut laman voais dan fpi.

(nahimunkar.com)