SHALAT ‘IED[1]

 

Pengertian ‘Ied

Dari segi bahasa ‘Ied berasal dari kata, عَادَ يَعُودُ ‘Aada-ya’uudu artinya kembali yaitu mereka kembali mendapati hari tersebut. Dikatakan pula berasal dari عَادَةٌ ‘aadah (kebiasaan) yakni karena ia merupakan kebiasaan yang dilakukan secara rutin. Bentuk jamaknya adalah  أَعْيَادٌ a’yad. Al-Azhari berkata,” ‘Ied dalam istilah orang Arab adalah waktu yang seseorang kembali lagi kepadanya baik berupa suka maupun duka. Ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa penamaan ‘Ied dikarenakan ia kembali lagi pada tiap tahun dengan kebahagiaan yang baru. Sementara itu Imam an-Nawawi berkata,” Orang-orang mengatakan, ”Di sebut dengan ‘Ied karena kembali dan berulang, juga karena kembali berbahagia pada hari itu.”

Sedangkan menurut istilah, ‘Ied adalah hari raya untuk memperingati kebahagiaan, atau kembali merayakan hari kebahagiaan. Kaum muslimin hanya memiliki Hari Raya ‘‘Iedul Fithri dan ‘‘Iedul Adha, dan yang ketiga adalah hari Jum’at, tidak ada lagi hari raya atau hari besar yang lain.

 

Landasan Pelaksanaan Shalat ‘Ied.

-Dari al-Qur’an: Al Kautsar: 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(2)

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (QS Al-Kautsar: 2).

Dari as-Sunnah:

Diriwayatkan secara mutawatir bahwa Rasulullah saw selalu melakukan shalat ‘‘Iedain (Ibnu Qudamah,Al-Mughni 3/253).

486 حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : شَهِدْتُ صَلَاةَ الْفِطْرِ مَعَ نَبِيِّ اللَّهِ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكُلُّهُمْ يُصَلِّيهَا قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ يَخْطُبُ قَالَ فَنَزَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ حِينَ يُجَلِّسُ الرِّجَالَ بِيَدِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ يَشُقُّهُمْ حَتَّى جَاءَ النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا ) فَتَلَا هَذِهِ الْآيَةَ حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ حِينَ فَرَغَ مِنْهَا أَنْتُنَّ عَلَى ذَلِكِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ لَمْ يُجِبْهُ غَيْرُهَا مِنْهُنَّ نَعَمْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ لَا يُدْرَى حِينَئِذٍ مَنْ هِيَ قَالَ فَتَصَدَّقْنَ فَبَسَطَ بِلَالٌ ثَوْبَهُ ثُمَّ قَالَ هَلُمَّ فِدًى لَكُنَّ أَبِي وَأُمِّي فَجَعَلْنَ يُلْقِينَ الْفَتَخَ وَالْخَوَاتِمَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ * 

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata,” Saya telah mengikuti ‘Ied bersama Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu anhum, mereka semua shalat sebelum khutbah.

Setelah itu barulah berkhutbah. Kemudian dia menyambung lagi dengan katanya: Nabi Allah s.a.w turun dan aku melihat ke arah baginda sehingga aku melihat baginda memberi isyarat kepada kaum lelaki supaya duduk dan kemudian datang dan berjalan di kalangan mereka menuju ke tempat para wanita dan Bilal ada bersama baginda. Lalu baginda membaca: ( يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا ) hingga selesai. Setelah itu baginda bertanya: Adakah kamu juga berjanji setia demikian؟  Seorang wanita menjawab di antara kelompok wanita itu dengan jawaban yang tegas: Benar, wahai Nabi Allah! Ketika itu wanita tersebut belum lagi dikenali. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda: Bersedekahlah kamu sekalian! Bilal r.a mulai menghamparkan pakaiannya sambil berkata: Ayolah demi ayah dan ibuku sebagai tebusan kamu! Mereka segera meletakkan gelang-gelang dan cincin-cincin ke dalam pakaian Bilal. (Muttafaq alaih).

489 حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Dan berkata Ibu Umar ra, ”Adalah Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar ra melakukakn shalat ‘‘Iedain sebelum khutbah.” (Muttafaq alaih).

-Ijma’:

Seluruh kaum muslimin tanpa kecuali telah sepakat mengenai disyariatkannya shalat ‘Ied ini.

 

Hukum Melakukan Shalat ‘Ied

Ada perbedaan pendapat tentang hukum melakukan shalat ‘Ied. Sebagian pendapat mengatakan bahwa shalat ‘Ied adalah fardhu kifayah sebagaimana yang dipegang dalam madzhab Imam Ahmad. Sedang menurut Imam Abu Hanifah ia  dan adalah fardhu ain. Ibnu Abi Musa mengatakan,” Ia adalah sunnah muakkadah bukan wajib, demikian juga pendapat Imam Malik dan mayoritas dari ulama-ulama Asy-Syafi’i dengan alasan ketika disebutkan kewajiban shalat lima waktu oleh Nabi saw kepada seorang Arab Badui maka bertanyalah ia,” Apakah masih ada kewajiban (shalat) yang lain? Nabi menjawab,”Tidak, kecuali kalau kamu mau tathawwu’ (sukarela melakukan yang lain, pent).

Dan pendapat yang lebih kuat-wallahu a’lam- adalah bahwa shalat ‘Ied adalah fardhu ‘ain bagi kaum laki-laki berdasarkan dalil-dalil:

-Perintah Allah QS al-Kautsar

عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ { أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ , وَالْأَضْحَى : الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ , وَذَوَاتَ الْخُدُورِ , فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ , وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ , قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , إحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ ؟ قَالَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا } .

-Hadits dari Ummu Athiyah ia berkata,” Bahwa Nabi saw memerintahkan kami agar mengajak keluar di Hari Raya Fithri dan Adha: anak-anak perempuan yang telah mendekati baligh dan para gadis, beliau memerintahkan agar yang sedang haidh menjauh dari tempat shalat. Dan hendaklah mereka menyaksikan kebaikan dan da’wah muslimin. Aku (Ummi ‘Athiyah) katakan: Ya Rasulallah, salah satu dari kami tidak ada padanya jilbab? Beliau menjawab: Agar saudarinya memakaikan padanya dari jilbabnya.” (HR Muslim).

Jika kepada kaum wanita saja ditekankan sedemikian rupa bahkan bagi yang sedang haid pun diperintahkan keluar meskipun menjauhi tempat shalat maka bagi kaum laki-laki tentu lebih utama lagi.

-Bahwa Nabi dan para khulafaur rasyidin menaruh perhatian yang besar terhadapnya dan tidak pernah meninggalkannya hingga akhir hayat.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah, al-Imam Ibnul Qayyim, al ‘Allamah as-Sa’diy, al Imam Ibnu Baz dan al-‘Allamah Muhammad al-Utsaimin menguatkan pendapat (fardhu ‘ain untuk shalat ‘‘Ied bagi laki-laki) ini, sebagaiamana sebagian ulama madzhab asy-Syafi’i dan Ahmad juga ada yang berpendapat demikian.

 

ADAB-ADAB BERKENAAN DENGAN SHALAT ‘IED

1.Mandi Untuk Shalat ‘Ied

Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Abdullah Ibnu Umar ra mandi pada Hari Fithri sebelum berangkat ke mushalla (tanah lapang). Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata, ” Dalil terbaik tentang disunnahkannya mandi ‘‘Iedain adalah  riwayat al-Baihaqi melalui asy-Syafi’i dari Zaadzan ia berkata, Seseorang bertanya kepad Ali ra tentang mandi, maka ia menjawab, ” Mandilah setiap hari jika engkau mengehendakinya.” Kata orang itu, ”Bukan itu yang kumaksudkan, tetapi mandi yang memang mandi (dianjurkan). ”Maka Ali berkata, ”Hari Jum’at, Hari Arafah, Hari Nahr dan hari Fithri (Irwa’ul Ghalil 1/177 beliau berkata sanadnya shahih dan mauquf/terhenti pada Ali ra).

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa karena hari ‘‘Ied adalah hari berkumpulnya kaum muslimin untuk shalat, maka ia disunnahkan untuk mandi sebagaimana hari Jum’at.

-Disunnahkan Untuk Membersihkan Diri, Memakai Minyak Wangi (bagi laki-laki) dan Bersiwak.

Sebagaimana hal ini dianjurkan ketika mendatangi shalat Jum’at, yaitu berdasarkan hadits Ibnu Abbas Nabi saw telah bersabda pada suatu hari Jum’at,

وَرَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم { : إنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ , جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ , فَمَنْ جَاءَ مِنْكُمْ إلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ , وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ , وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ }

“Sesungguhnya hari ini adalah hari ‘‘Ied yang telah ditetapkan oleh Allah untuk orang-orang Islam, maka barang siapa yang mendatangi Jum’at hendaknya ia mandi, jika ia memiliki minyak wangi maka hendaknya ia mengolesinya, dan hendaknya kalian semua bersiwak.”  (HR Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani).

 

-Mengenakan Pakaian yang Paling Bagus

Berdasarkan hadits Ibnu Umar ra ia berkata, “ Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dibeli dari pasar, kemudian ia membawanya kepada Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah berhiaslah Anda dengan mengenakan ini ketika ‘‘Ied dan ketika menjadi duta, maka Rasulullah saw bersabda,Pakaian ini hanya untuk orang yang tidak punya bagian (di akhirat, maksudnya orang kafir, pent).” (Muttafaq alaih). Al-Imam Ibnu Qudamah berkata, “ Hadits ini menunjukkan bahwa berhias pada hari ‘‘Ied adalah sesuatu yang masyhur. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatkan,” Ibnu Abi ad-Dunya dan al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dan mauquf pada Ibnu Umar ra bahwasanya dia biasa memakai pakaian yang paling bagus pada dua Hari Raya.”

 

Disunnahkan Makan Kurma Sebelum Berangkat Shalat ‘Iedul Fithri.

 Sebelum melakukan shalat ‘‘‘Iedul fithri dianjurkan agar makan kurma terlebih dahulu, dan lebih utama jika dalam jumlah ganjil, sedangkan dalam shalat ‘‘Iedul adha adalah sebaliknya tidak dianjurkan makan dulu kecuali setelah pulang dari shalat.

Diriwayatkan dari Buraidah ra ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْفِطْرِ لَمْ يَخْرُجْ حَتَّى يَأْكُلَ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ النَّحْرِ لَمْ يَأْكُلْ حَتَّى يَذْبَحَ.

“Rasulullah tidak keluar pada hari ‘‘Iedul fithri sehingga makan, dan tidak makan pada hari ‘‘Iedul adha sehingga beliau menyembelih qurban.”(HR Ahmad, lafal bagi beliau, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani). Salah satu hikmah mengapa pada hari raya ‘‘Iedul fithri dianjurkan makan lebih dulu sebelum shalat adalah sebagaimana yang di kemukakan Ibnu Qudamah bahwa pada hari tersebut diharamkan berpuasa setelah sebelumnya  diwajibkan berpuasa (Ramadhan), maka dianjurkan untuk segera berbuka untuk menampakkan ketaatan kepada Allah dengan bersegera menjalankan perintah-Nya untuk berbuka, berbeda dengan biasanya (al-Mughni 3/259).

 

Dianjurkan berjalan kaki dengan tenang dan khusyu’menuju tempat shalat.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra ia berkata,” Rasulullah saw biasa keluar menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki.(HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah 1/366). Para salaf menyukai berjalan kaki ketika menuju shalat ‘Ied, diantara mereka adalah Umar bin Abdul Aziz, an-Nakha’I, ats-Tsauri, asy-Syafi’I dan masih banyak yang lain (lihat al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/262). Berkata Ali ra,” Termasuk sunnah adalah berangkat shalat ‘Ied dengan berjalan kaki.” (riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani)

Disunnahkan Shalat ‘Ied di Mushalla (tanah lapang)

Berdasarkan hadist

490 حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ فَيَبْدَأُ بِالصَّلَاةِ فَإِذَا صَلَّى صَلَاتَهُ وَسَلَّمَ قَامَ فَأَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ جُلُوسٌ فِي مُصَلَّاهُمْ فَإِنْ كَانَ لَهُ حَاجَةٌ بِبَعْثٍ ذَكَرَهُ لِلنَّاسِ أَوْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ بِغَيْرِ ذَلِكَ أَمَرَهُمْ بِهَا وَكَانَ يَقُولُ تَصَدَّقُوا تَصَدَّقُوا تَصَدَّقُوا وَكَانَ أَكْثَرَ مَنْ يَتَصَدَّقُ النِّسَاءُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ * 

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra berkata,” Bahwasanya Nabi saw keluar pada hari ‘‘Iedul Adha dan ‘‘Iedul fithri menuju mushalla, dan yang pertama beliau lakukan adalah shalat. Setelah selesai shalat dan memberi salam, baginda berdiri menghadap ke (arah) orang-orang yang masih duduk di tempat shalat mereka masing-masing. Jika baginda mempunyai hajat yang ingin disampaikan, baginda tuturkannya kepada orang-orang ataupun ada keperluan lain, maka baginda akan membuat perintah kepada kaum muslimin. Baginda pernah bersabda dalam salah satu khutbahnya pada Hari Raya: Bersedekahlah kamu! Bersedekahlah! Bersedekahlah! Kebanyakan yang memberi sedekah adalah kaum wanita. Kemudian baginda berajnak pergi. (Muttafaq alaih)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa al-mushalla di Madinah adalah sebuah tempat yang terkenal yang berjarak seribu dhira’ dari pintu masjid (Nabawi). Ini dikatakan oleh Umar bin Syibah dalam Akhbarul Madinah dari Ghassan al-Kanani seorang sahabat Imam Malik.(Fathul Baari 2/449).Sedangkan bagi penduduk Makkah maka mereka selalu shalat di masjidil haram semenjak dahulu kala (Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim 6/427).

 

Dianjurkan agar berbeda jalan ketika berangkat dan pulang shalat ‘Ied.

َوَاهُ عَنْ جَابِرٍ { كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ }

Sebagaimana hadits Jabir ra ia berkata, ” Adalah Rasulullah saw ketika di hari ‘Ied berbeda jalan (ketika berangkat dan pulang).”(HR al-Bukhari)

 

Disunnahkakn bagi makmum agar berangkat lebih awal menuju shalat.

Dalil-dalil yang menerangkan agar bersegera menuju sahalat ‘Ied menurut al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah adalah:

Pertama, Perbuatan para shahabat yang demikian, karena Nabi saw menuju mushalla setelah matahari terbit dan beliau mendapati orang-orang telah hadir di sana, artinya mereka datang lebih awal.

Kedua, karena yang demikian berarti lebih cepat dalam kebaikan.

Ketiga, karena jika datang lebih awal maka dapat memilih tempat terdepan yang lebih dekat dengan imam.

Adapun Imam maka disunnahkan datang belakangan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw, juga karena keberadaan imam adalah ditunggu-tunggu bukannya menunggu. Tidak apa-apa jika imam datang awal, namun sebaiknya mengambil tempat terpisah/tertutup dari makmum.

 

Bertakbir ketika berangkat menuju shalat ‘Ied dengan mengeraskan suara.

Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani adalah merupakan perkara yang disyariatkan berdasarkan hadits riwayat Az-Zuhri dan Ibnu Umar ra meskipun banyak kaum muslimin yang kurang perhatian dalam masalah ini.

Berdasarkan beberapa riwayat bacaan takbir ini berhenti sampai batas datangnya imam (mulainya shalat ‘Ied), sebagaimana dikatakan juga oleh al-Qadhi (‘Iyadh) dan Ibnu Abi Musa.

Tidak melakukan shalat sebelum dan sesudah shalat ‘Ied.

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas ra, Bahwa Nabi saw pada hari ‘‘Iedul Fithri shalat dua rakaat (shalat ‘Ied) dan tidak shalat sebelum dan sesudahnya, dan bersama beliau ada Bilal.” Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, “Tidak pernah Nabi saw dan para shahabatnya shalat ketika di mushalla baik sebelum shalat ‘Ied ataupun setelahnya.”(Zaadul Ma’ad 1/443).

Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berpendapat bahwa penafian shalat sebelum dan sesudah shalat ‘Ied berlaku apabila shalat dilakukkan di mushalla (tanah lapang), adapaun jika karena suatu udzur lalu shalat ‘Ied di masjid maka tetap dianjurkan shalat tahiyatul masjid.

Tidak Ada Adzan dan Iqamat Dalam Shalat ‘Ied.

Berdasarkan pada hadits Jabir bin Samurah ra ia berkata,” Aku shalat ‘Ied bersama Rasulullah saw bukan sekali dua kali dengan tanpa adzan dan iqamah.”(HR Muslim).

488 حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ قَالَا لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلَا يَوْمَ الْأَضْحَى ثُمَّ سَأَلْتُهُ بَعْدَ حِينٍ عَنْ ذَلِكَ فَأَخْبَرَنِي قَالَ أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ أَنْ لَا أَذَانَ لِلصَّلَاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِينَ يَخْرُجُ الْإِمَامُ وَلَا بَعْدَ مَا يَخْرُجُ وَلَا إِقَامَةَ وَلَا نِدَاءَ وَلَا شَيْءَ لَا نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلَا إِقَامَةَ * 

 

 Juga hadits dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah, keduanya berkata, ”Tidak dikumandangkan adzan pada hari ‘‘Iedul Fithri dan ‘‘Iedul Adha.”

Selepas beberapa saat aku bertanya Atha’ tentang perkara tersebut: Lantas dia menjawab dengan berkata: Aku telah diberitahu oleh Jabir bin Abdullah al-Ansari r.a bahwa: Tidak ada azan bagi shalat Hari Raya Fithri (‘‘Iedulfithri), baik ketika imam keluar atau sesudahnya. Juga tiada iqamat atau apa-apa pun. (Muttafaq alaih)

 

Dibolehkan Bermain Duff bagi Anak-Anak Perempuan.

Ini didasarkan pada hadits Aisyah ra ia berkata, ” Rasulullah saw masuk ke tempatku sedangkan di hadapanku ada dua anak perempuan melantunkan bait-bait Bu’ats. Maka Rasulullah saw merebahkan badannya di atas gelaran lalu membalikkan wajahnya. Kemudian datang Abu Bakar ra dan dia membentakku dengan mengatakan, ”Ada seruling setan dihadapan Rasulullah,” Maka Rasulullah menoleh ke arah Abu Bakar dan bersabda, “Biarkanlah keduanya.” Dalam lafal yang lain disebutkan,” Biarkan keduanya wahai Abu Bakar karena hari ini adalah Hari Raya (‘Ied),” dan kejadian ini pada hari-hari Mina. Dalam riwayat Muslim disebutkan,” Ada dua anak perempuan yang sedang bermain duff (semacam rebana). Adapaun Bu’ats yaitu suatu tempat yang berjarak dua malam dari Madinah, dikatakan pula nama sebuah benteng milik suku Aus, ada pula yang mengatakan sebuah kampung di Bani Quraidzah yang kaya dan merupakan pusat pertanian. Dan akhir peperangan antara suku Aus dan Khazraj juga di kenal dengan hari Buats. Maka syair yang dimaksudkan adalah syair yang berisi kepahlawanan, keberanian dan segala yang dapat menggerakkan semangat jihad.

 

Para Wanita Harus Memakai Hijab dan Dilarang Menggunakan Parfum.

عَنْ { أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ , وَالْأَضْحَى : الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ , وَذَوَاتَ الْخُدُورِ , فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ , وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ , قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , إحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ ؟ قَالَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا }

Hadits dari Ummu Athiyah ia berkata,” Bahwa Nabi saw memerintahkan kami agar mengajak keluar di Hari Raya Fithri dan Adha: anak-anak perempuan yang telah mendekati baligh dan para gadis, beliau memerintahkan agar yang sedang haidh menjauh dari tempat shalat. Dan hendaklah mereka menyaksikan kebaikan dan da’wah muslimin. Aku (Ummi ‘Athiyah) katakan: Ya Rasulallah, salah satu dari kami tidak ada padanya jilbab? Beliau menjawab: Agar saudarinya memakaikan padanya dari (salah satu) jilbabnya.” (HR Muslim).

 

Mengucapkan Selamat Hari Raya.

Ini dicontohkan oleh para sahabat Nabi saw, dari Jabir bin Nufair berkata, “Adalah para sahabat Rasul saw apabila bertemu pada hari ‘Ied berkata sebagian mereka kepada yang lain, ”Taqabbalallahu minna wa minka.” (Fathul Baari 2/446). Ibnu Qudamah menukil dari Ibnu Aqil tentang ucapan selamat di hari raya, bahwa Muhammad bin Ziyad berkata,  “ Aku pernah bersama-sama dengan Abu Umamah al -Bahili dan para sahabat yang lain, bahwasannya ketika mereka pulang dari shalat ‘Ied sebagian dari mereka mengucapkan kepada yang lain, ” Taqabbalallahu minna wa minka.” (al-Mughni 3/294)

-Bagi yang ketinggalan shalat ‘‘Ied hendaknya mengqadla’.

 

 

 

 



 

[1] Dikutip dari Departemen Dakwah/ Ilmiah Yayasan Al-Shofwah Jakarta dengan dilengkapi teks dalilnya oleh redaksi nahimunkar.com.