Shalawat Nariyah atau Kamilah dan Masalah Bid’ah

Ada pertanyaan dari ibu-ibu yang ditujukan kepada seorang penceramah wanita di televisi swasta, Jum’at ba’da shubuh 11 Maret 2011. Jama’ah ibu-ibu itu konon sengaja dihadirkan langsung ke studio tv hingga jauh-jauh dari sekitar Ciamis Jawa Barat (perjalanan mobil sekitar 7 jam). Mereka datang ke Jakarta itu konon menurut pengakuan ibu-ibu, dipanggil dari jauh oleh penceramahnya lewat telepon.

Ketika ibu-ibu di studio tv dengan siaran langsung itu apakah pertanyaannya sudah diplot lebih dulu atau tidak, wallahu a’lam. Tetapi di antara pertanyaannya adalah mengenai yang disebut shalawat kamilah atau nariyah. Apakah boleh dibaca untuk menghilangkan kesedihan, karena ada yang mengatakannya bahwa itu shalawat bid’ah.

Jawaban penceramah wanita itu tampaknya tidak memadai. Bukan membahas isinya secara jelas namun hanya mengkilahi, kalau itu bid’ah maka majlis ta’lim seperti ini juga bid’ah karena zaman Nabi tidak ada. Demikian kurang lebih jawabannya. Lalu penceramah wanita di tv swasta itu menganjurkan tetap membaca shalawat Nariyah itu, dia pandang bagus untuk menghilangkan kesedihan.

Padahal, untuk menjawab masalah bid’ah tidak cukup hanya dengan alasan “kalau hal itu disebut bid’ah maka ini dan itu juga bid’ah karena di zaman Nabi belum ada”.

Kenapa tidak cukup?

Karena, belum adanya sesuatu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu perlu dilihat dengan cermat:

1. Apakah itu urusan ibadah atau urusan dunia? Kalau urusan teknis keduniaan, selagi tidak ada larangan dalam Islam, maka boleh-boleh saja.

2. Juga harus dilihat, di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu itu belum adanya, apakah karena belum diperlukan oleh kepentingan umum sedang periode sesudahnya sangat diperlukan.

3. Perlu dilihat pula, belum adanya sesuatu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu masih ada halangan atau tidak.

n Bila belum adanya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dalam hal urusan teknis dunia, misalnya dulu untuk perjalanan itu dengan menunggang onta atau keledai, sedang sekarang pakai mobil, kapal terbang, motor dan sebagainya, ya tidak masalah selagi tidak ada nash (ayat atau hadits) yang melarangnya.

n Bila sesuatu belum diperlukan oleh kepentingan umum di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu zaman selanjutnya diperlukan oleh umum dan bila tidak diadakan maka akan repotlah dalam melaksanakan agama, maka diadakannya itu bukan bid’ah tetapi adalah maslahah mursalah. Contohnya, di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tulisan ayat-ayat Al-Qur’an belum ada tanda titik. Jadi huruf ba’, ta’ dan tsa’ sama saja. Para sahabat tidak kesulitan apa-apa, karena mereka hafal ayat-ayat. Kemudian sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diciptakanlah titik oleh Abul Aswad Ad-Duwali, sehingga diketahui persis mana ba’, ta’, dan tsa’. Karena sudah sangat diperlukan, agar Ummat mampu membacanya dan tidak bingung. Ini bukan bid’ah, karena ketika tidak diadakan maka justru Ummat Islam kerepotan ketika membaca al-Qur’an. Dengan diadakannya itu maka kemashlahatan Ummat dalam hal ini terpenuhi. Jadi bukan bid’ah.

n Demikian pula belum adanya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu karena masih ada halangan atu tidak? Ketika karena masih ada halangan, kemudian ketika sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat halangan itu sudah tiada, sedang untuk kemashlahatan diperlukan, maka diadakannya sesuatu itu bukan termasuk bid’ah tetapi mashlahah. Contohnya pembukuan Al-Qur’an menjadi mushaf satu bentuk buku. Ketika zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wahyu masih senantiasa turun, sehingga terhalang untuk dibukukan. Tentunya akan bongkar pasang, bila langsung dibukukan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah wafatnya beliau, berarti wahyu sudah tidak turun lagi, sudah sempurna, maka tidak terhalang lagi untuk dibukukan, dan hal itu sangat diperlukan untuk kemashlahatan Ummat Islam. Ini bukan bid’ah tetapi mashlahah.

Lantas pertanyaannya, apakah shalawat Nariyah yang dibuat jauh setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu termasuk:

1. Urusan dunia yang boleh-boleh saja

2. Sesuatu yang kini diperlukan untuk kemashlahatan Ummat, yang di zaman Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam termasuk belum diperlukan.

3. Sesuatu yang diperlukan untuk kemashlahatan Ummat Islam sedang di zaman Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam masih terhalang.

n Kenyataannya, bukan sekadar urusan teknis dunia tetapi ibadah, karena shalawat adalah ibadah. Sedang ibadah sifatnya tauqifi, berlandaskan dalil (ayat atau hadits yang sah).

n Bukan pula yang tadinya belum diperlukan di zaman Nabi dan baru diperlukan sesudahnya.

n Serta bukan pula yang terhalang di zaman Nabi kemudian diperlukan oleh kemashlahatan umum di zaman sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika kenyataannya seperti itu, shalawat nariyah atau kamilah ya jelas bid’ah. Lebih jelas bid’ahnya lagi ketika ditentukan untuk dibaca 4.444 kali maka diiming-imingi akan mendapatkan ini dan itu. Sekali lagi, shalawat adalah ibadah, sedang ibadah harus berlandaskan dalil yang sah.

Sekadar tambahan mengenai gambaran keadaan yang dibicarakan ini, saat itu ibu-ibu dikerahkan dari sekitar Ciamis Jawa Barat (perjalanan mobil sekitar 7 jam) ke Jakarta, lalu harus duduk rapi di studio sekitar jam 05 pagi, sedang seperempat jam sebelumnya baru masuk waktu shubuh. Entah bagaimana mereka shalat shubuhnya. Sedang acara itupun dalam rentang sampai sekitar habisnya waktu shubuh . Itu urusan mereka dan yang memanggilnya. Kemudian mereka dan bahkan para pemirsa tv yang jutaan orang disuguhi jawaban yang justru menjerumuskan seperti tersebut. Dan berikut ini bukti menjerumuskannya pula.

Perlu diketahui ada amalan-amalan yang belum tentu syar’I namun ditekuni pengamalannya. Itu banyak dilakukan oleh kelompok shufi (orang tasawuf) dan tarekat (thoriqot) dengan berbagai sebutan dan amaliahnya.

Di samping tarekat-tarekat yang ternyata tidak syar’i karena rata-rata menggunakan tawassul yang tidak syar’i dan beberapa penyimpangan lainnya, bahkan sering jauh dari Islam yang murni[i], ada pula shalawat-shalawat bid’ah yang sangat populer di masyarakat tradisional, tidak ketinggalan pula di kalangan sebagian Nahdliyin atau orang NU (Nahdlatul Ulama). Di antara shalawat bid’ah yang sangat terkenal, bahkan dipasang di rumah-rumah atau bahkan di mobil dan dibaca di mana-mana adalah Shalawat Nariyah yang kadang disebut juga shalawat Kamilah.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu[ii] menjelaskan bahaya Shalawat Nariyah itu dalam kitabnya Minhajul Firqah An-Najiyah sebagai berikut:

Shalawat Nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4.444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, niscaya akan terpenuhi.

Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafadh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Secara lengkap, lafadh Shalawat Nariyah itu adalah sebagai berikut:

“اللهم صلِّ صلاة كاملة، وسلِّم سلاماً تامّاً على سيدنا محمد، الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم، و يُستسقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى آله وصحبه وسلم في كل لمحه ونفس بعدد كل معلوم لك.”

“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan/pungkasan yang baik, dan diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga dan sahabatnya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui.”

1. Aqidah tauhid yang diserukan Al-Qur’anul karim dan diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada kita menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika berdo’a.

Setiap muslim tidak boleh berdo’a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).

Al-Qur’an mengingkari berdo’a kepada selain Allah, baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا(56)أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا(57)

Katakanlah, ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan siksa-Nya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-Isra’: 56-57)

Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo’a dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih dari jenis makhluk jin.

2. Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur’an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ(188)

Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 188)

ُ وجاء رَجُلإلى الرسول فقال لهٌ : مَا شَاءَ اللَّهُ , وَشِئْت , فَقَالَ : أَجَعَلْتنِي لِلَّهِ نِدًّا ؟ , قل مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ . (رواه النسائي بسند حسن)

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu ia berkata kepada beliau, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’. Maka Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah, ‘Hanya atas kehendak Allah sendiri.’” (HR. An-Nasa’i dengan sanad hasan).

Di samping itu, di akhir lafadh Shalawat Nariyah tersebut, terdapat pembatasan dalam masalah ilmu-ilmu Allah. Ini adalah suatu kesalahan besar.

Kenapa kita membaca shalawat-shalawat bid’ah yang merupakan perkataan manusia, kemudian kita meninggalkan shalawat Ibrahimiyah yang merupakan ajaran Al-Ma’shum (Muhammad) Shallallahu Alaihi wa Sallam?[1]

منهاج الفرقة الناجية – (ج 1 / ص 67)

الصلاة النارية

الصلاة النارية معروفة عد كثير من الناس و أن من قرأها 4444 مرّة بنية تفريج كرب أو قضاء حاجة تُقضى له ، و هذا زعم باطل لا دليل عليه ، و لا سيما إذا عرفت نصها و رأيت الشرك ظاهرا فيها و هذه صيغتها:

“اللهم صلِّ صلاة كاملة، وسلِّم سلاماً تامّاً على سيدنا محمد، الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم، و يُستسقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى آله وصحبه وسلم في كل لمحه ونفس بعدد كل معلوم لك.”

1. إن عقيدة التوحيد التي دعا إليها القرآن الكريم و علمنا إياها رسول الله صلى الله عليه و سلم تحتم على كل مسلم أن يعتقد أن الله وحده هو الذي يحل العقد و يُفرِّج الكرب و يقضي الحوائج و يعطي ما يطلبه الإنسان حين يدعوه ، و لا يجوز لمسلم أن يدعو غير الله لتفريج همه أو شفاء مرضه ، و لوكان المدعو مَلكا مُرسلاً أو نبيا مُقرّبا ، و هذا القرآن يُنكر دعاء غير الله من المرسلين و الأولياء فيقول : “قل ادعوا الذين زعمتمْ من دونه ، فلا يملكون كشْفَ الضُّرّ عنكم و لا تحويلا ، أولئك الذين يدعون يَبْتغون إلى ربهم الوسيلة أيُّهم أقرب و يرجون رحمته و يخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذورا” (سورة الإسراء)

ققال المفسرون : نزلت في جماعة كانوا يدعون المسيح، أو الملائكة أو الصالحين من الجن. (ذكره ابن كثير)

منهاج الفرقة الناجية – (ج 1 / ص 68(

2. كيف يرضى رسول الله صلى الله عليه و سلم بأن يُقال عنه يحل العُقد و يُفرّج الكرب و القرآن يأمره و يقول له : “قل لا أملك لنفسي نفعا و لا ضرّا إلا ما شاء الله و لو كنتُ أعلم الغيب لاستكثرتُ من الخير و ما مسَّني السُّوء إنْ أنا إلا نذيرٌ و بشير لقوم يُؤمنون” (سورة الأعراف)

و جاء رجل إلى الرسول صلى الله عليه و سلم فقال له : “ما شاء الله و شئت، فقال : أجعلتني لله ندّا ؟ قل ما شاء الله وحده “(رواه النسائي بسند حسن)

الندُّ : المثيل و الشريك

3. و لو حذفنا كلمة “به” ووضعنا بدلا عها كلمة “بها” لكان معنى الصيغة حيح بدون العدد السابق، و تكون كالآتي: ” اللهم صل صلاة كاملة ، و سلم سلاماً تاماً على محمد ، التي تُحلّ بها العقد(أي بالصلاة) ” لأن الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم عبادة يُتوسل بها لتفريج الهم و الكرب.

4. لماذا نقرأ هذه الصلوات البدعية من كلام المخلوق، و نترك الصلاة الابراهيمية و هي من كلام المعصوم.

*****

(nahimunkar.com)


[1] Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Minhajul Firqah An-Najiyah wat Thaifah Al-Manshurah, diterjemahkan Ainul Haris Umar Arifin Thayib Lc, Jalan Golongan Selamat, Darul Haq, Jakarta, cet. I, 1419 H, hlm. 173-176. Lihat pula di buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan 7, 2004M, halaman 266-268.


[i] Untuk mengetahui kesesatan-kesesatannya dapat dibaca buku Hartomo Ahmad Jaiz, Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan, terbitan WIP, Solo.

[ii] . المدرس في دار الحديث الخيرية بمكة المكرمة

Syeikh Muhammad Jamil Zainu Rahimahullah, pengajar di Darul Hadits Khairiyah, Makkah al-Mukarramah telah wafat pada hari Jumaat lalu, 8 Oktober 2010/29 Syawal 1431 H, setelah sholat Isya’, jenazah Syeikh Muhammad Jamil Zainu disholati oleh jama’ah di Masjidil Haram, Makkah.