Tampilan antarmuka Bigo Live di Android.© Bigo Live /Google Playstore


Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memblokir Domain Name System (DNS) Bigo Live.

“Layanan Bigo diblokir, tetapi baru DNS-nya saja. Ada beberapa fitur yang sudah tak bisa diakses pengguna,” kata (Plt) Biro Humas Kominfo, Noor Iza, dikutip Liputan6.comRabu (14/12).

Sejauh ini, baru satu DNS yang diblokir. Padahal, menurut Kominfo, saat ini ada satu DNS dan sembilan sub DNS yang digunakan untuk mengakses Bigo Live. Pemblokiran juga belum menyasar alamat Internet Protokol (IP).

Bigo Live memang primadona baru bagi khalayak internet Indonesia. Konten-konten bernuansa pornografi jadi pemikatnya. Isu pemblokiran pun sudah bergulir beberapa bulan terakhir.

Karena masalah ini, Direktur Eksekutif Bigo Live, David Li, berkunjung ke Indonesia, guna bertemu Menkominfo, Rudiantara, Rabu (14/12).

Seperti ditulis detikcom, Rudiantara mengatakan bahwa bos Bigo Live melobi agar Indonesia membatalkan pemblokiran. Meski demikian, Rudiantara tidak mengiyakan permintaan itu. Sebaliknya, dia meminta Bigo Live memastikan layanan mereka bersih dari konten negatif.

“Saat ini mereka juga sedang take down (menurunkan) konten-konten nudity yang sebelumnya bisa diakses dari Indonesia. Jika rencana di atas berjalan, dan rencana atau metoda penapisan Bigo sudah dianggap memadai, maka Bigo dapat kita normalisasi,” kata dia.

Hal ihwal syur di Bigo Live

Bigo Live adalah aplikasi pengaliran langsung (live streaming), kepunyaan perusahaan Singapura, Bigo Technology Pte. Lte.

Nyaris tiada yang baru dari aplikasi ini. Layanannya mirip Periscope (milik Twitter), atau Meerkat yang populer sekitar dua tahun silam, maupun fitur “Live” punya Facebook.

Keunikan Bigo Live adalah respons berbagi “Gift” berupa “Diamond”.

Pengguna bisa membeli “Diamond”, dan membagikannya kepada para broadcaster (penyiar) kesayangan mereka. Di Indonesia, model macam itu kita kenal dengan istilah “menyawer”.

Kumpulan “Diamond” itu bisa dikonversi menjadi uang. Misalnya, 6.000-an “Diamond” bisa ditukar uang senilai lebih kurang Rp6 juta. Chip.co.id pernah mengilustrasikan hitungan transaksi ini.

Agaknya ada celah dalam model itu. Pasalnya, demi mengoleksi “Diamond” sejumlah penyiar berani mempertontonkan siaran “panas”.

Setidaknya, banyak penyiar yang kerap tampil mengenakan baju serba minim, bertutur setengah mendesah, dan berinteraksi dalam topik seksual. Ada pula yang menampilkan tarian seksi –diiringi musik disko hingga remix-dangdut– dari pelantam suara.

Boleh jadi, pertunjukan macam itu masih normal, sepanjang tidak menampilkan ketelanjangan. Namun, Beritagar.id juga menemukan sejumlah konten lebih seronok. Ada penyiar yang sengaja memutar film porno dari layar kaca atau komputer mereka, misalnya.

Sebenarnya, Bigo Live punya peraturan ketat soal konten negatif. “Adegan merokok, vulgar, pornografi, dan menampilkan ketelanjangan dilarang di Bigo Live. Jika dilakukan, akun akan dilarang dalam layanan. Moderator terus melakukan pemeriksaan selama 24 jam,” demikian peringatan mereka.

Namun peringatan itu tak banyak membantu. Citra Bigo Live telanjur dekat dengan kemesuman, sekalipun tidak sedikit konten positif di aplikasi tersebut –macam tip dandan, fesyen, kesehatan, dan kuliner.

Pemikat lain dari Bigo Live adalah kanal-kanal milik beberapa selebriti, macam Dewi Persik, Nikita Mirzani, dan Duo Serigala. Itu belum menghitung sejumlah bintang anyar nan berani yang kesohor karena Bigo Live. Sebutlah Rhenata Soenotoi dan Safa Marwah.

Dengan segala citra dan daya pikatnya itu, Bigo Live menempati posisi 16 dalam daftar aplikasi gratis paling top di Playstore, Rabu (14/12). Di gerai milik Google itu, Bigo Live berstatus aplikasi bintang empat, dengan pengunduh puluhan juta.

Menariknya, pencapaian itu diraih dalam hitungan bulan. Bigo Live memang baru rilis Maret 2016. Di Indonesia, aplikasi ini juga baru tiba sebulan berikutnya. Kini, delapan bulan setelah datang di Indonesia, Bigo Live kena blokir.

Sumber: beritagar.id/Oleh : Muammar Fikrie/Rabu , 14 Desember 2016

(nahimunkar.com)