Sikh, Druz, Baha’i dan Ahmadiyah

Hanya ada dua pilihan bagi segelintir pengikut Ahmadiyah di Indonesia, yakni menjadi agama tersendiri di luar Islam atau dibubarkan pemerintah. Kalau tidak mau dibubarkan, seharusnya para pengikut Ahmadiyah memproklamirkan dirinya menjadi agama baru di luar Islam, seperti agama Sikh di India, Druz di Lebanon dan Baha’i di Iran. Sedangkan Ahmadiyah sendiri juga berasal dari India.

“Seperti agama Sikh, Druz dan Baha’i, seharusnya Ahmadiyah menjadi agama tersendiri diluar Islam. Apakah itu namanya Agama Ahmadiyah, Agama Mirza atau apapun silahkan. Yang penting jangan penyebut dirinya Islam, sebab selama ini pengikut Ahmadiyah hanya menjadi duri dalam daging bagi umat Islam, karena tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,” ungkap Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama, Abdul Fatah, kepada Suara Islam Online baru-baru ini.

Menurut Abdul Fatah, kalau Ahmadiyah memiliki Nabi dan Kitab Suci sendiri yakni Mirza Ghulam Ahmad dan Tadzkirah, maka agama Sikh, Druz dan Baha’i juga memiliki Nabi dan Kitab Suci sendiri. Dikatakannya. sampai sekarang dirinya tidak mengetahui mengapa Ahmadiyah yang jelas-jelas kafir karena tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir dan punya Kitab Suci sendiri, tetap menyebutnya sebagai sebagai Islam. Apakah memang ada grand design dari pihak luar yang tidak menyukai pada Islam, agar Ahmadiyah terus menyebut dirinya sebagai Islam. Namun kalau mereka diingatkan begitu, mereka malah menantang berdebat dengan mengatakan mana yang lebih benar pemahamannya mengenai Al Qur’an.

“Saya kira kalau kelompok minoritas seperti Ahmadiyah justru menantang kelompok mayoritas umat Islam, itu namanya arogan. Sekarang ini umat Islam sudah kesal karena terus dihina, dilecehkan dan disalahkan oleh pengikut Ahmadiyah. Kalau umat Islam sampai hilang kesabarannya, mengapa justru umat Islam yang selalu disalahkan ?” tanya Abdul Fatah.

Seperti di Pakistan, Ahmadiyah diakui sebagai kelompok minoritas diluar Islam, sehingga mereka bebas melaksanakan ibadahnya. Mereka menamakan tempat ibadahnya sebagai Mosque Ahmadiyah. Mereka tetap dibolehkan adzan tetapi dilarang disuarakan keluar. Namun karena para pimpinan pusat Ahmadiyah merasa tidak nyaman terus berada di Pakistan, maka mereka ramai-ramai memindahkan kantor pusatnya di London, Inggris.(Lim)

Suara Islam online, Kamis, 14 Oct 2010

(nahimunkar.com)