Oleh Abu Husein At-Thullaibi

siluet

Membuka Mata Hati,  Membela Kehormatan Para Da’i!!

Dalam rangka membela kehormatan para Da’i yang berdakwah di Jalan Allah,  menyeru kepada Tauhid,  memberantas Syirik,  mengajak kepada yang ma’ruf,  dan mencegah kemungkaran,  disini kami berkeinginan untuk memberikan sebuah renungan kepada Abu Mujahid dan orang-orang yang sepemahaman dengannya agar bertaqwa kepada Allah dan takutlah akan ‘Adzabnya. Demi Dzat yang bersemayam di atas ‘Arsy,  tuduhan-tuduhan Abu Mujahid di atas merupakan sebuah kesalah fahaman yang mesti diluruskan.

Bukanlah  niat kami untuk berbantah-bantahan atau ingin mendebat seorang Abu Mujahid,  karena kami hanyalah seorang penuntut Ilmu yang masih belia sedangkan Abu Mujahid adalah seorang ‘Alim. Tiada kepentingan kami melainkan membuka pintu munashohah untuk tujuan pengamalan dari Sabda Nabi yang mulia “Agama adalah Nasehat”.

Usatadz Yazid Bin Abdil Qadir Jawaz dan Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat adalah dua orang Da’i senior yang masyhur sebagai Da’i-da’i yang giat dalam mendakwahkan Manhaj Salaf Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. hal ini dapat dilihat dari tuisan-tulisannya & ceramah-ceramahnya. Kami kerap menghadiri majelisnya yang rutin diadakan di Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor. Bila seorang mengikuti kajian-kajiannya dan membaca buku-buku mereka,  ia akan dapati bahwa substansi dakwah yang mereka serukan adalah Menyeru kepada Tauhid dan memberantas Syirik,  mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah dengan metodologi Tashfiyah Wa Tarbiyah. Inilah yang didakwahkan oleh Ustadz Yazid Jawaz dan Ustadz Abdul Hakim Abdat Hafizhahumallah.

Tidak ada satu pun dari ceramah mereka atau tulisan-tulisan mereka yang mengajak kepada Faham Sururiyah,  atau mengajak kepada ‘Ashabiyah Hizbiyah,  tidak sama sekali. Kami secara pribadi memiliki Kitab-kitab buah karya mereka namun tidak kami dapati dari tulisan-tulisan mereka yang mengajak Ummat untuk memberontak kepada pemerintah Muslimin,  tidak kami dapati dari ceramah-ceramah mereka yang mengajak demonstrasi ke Istana Negara dan mencaci maki serta menghardik Presiden Republik Indonesia di hadapan orang banyak,  tidak kami dapati dari tulisan-tulisan mereka yang menghina,  mencela,  atau merendahkan kedudukan para Ulama. Bahkan Ustadz Yazid Menulis sebuah buku setebal 594 halaman berjudul MULIA DENGAN MANHAJ SALAF. yang di sana beliau membuat Bab khusus tentang Firqoh-firqoh sesat dan memasukkan SURURIYAH sebagai salah satu Firqoh sesat yang masuk di dalamnya hingga terbitlah sebuah buku berjudul MENDAMAIKAN AHLUS SUNNAH DI NUSANTARA karya AM. Waskito sebagai kritikan atas buku beliau yang dianggap kurang objektif dan berlebihan. Tampaknya Abu Mujahid belum memahami akan hal ini hingga ia pun hanyut dalam samudera Fitnah mengikuti sebagian orang yang telah tenggelam,  sampai akhirnya ia pun berkata tanpa Ilmu dan membutakan dirinya sendiri.

Di dalam bukunya itu Ustadz Yazid Menjelaskan tentang kewajiban berpegang teguh dengan Manhaj Salaf dan betapa mulianya Manhaj Salaf itu. ini yang mesti difahami kembali oleh sang Abu Mujahid. Demikian pula dengan Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat,  beliau banyak memiliki buah karya berupa kitab-kitab berharga,  di antaranya adalah Al-MASAAIL sebanyak 10 Jilid,  RISALAH BID’AH,  LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNA ILAIH,  dan masih banyak lagi di antara buah karya beliau yang menghiasi dunia Ilmiah. dalam buku LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNA ILAIH misalnya,  beliau memaparkan dengan sangat rinci dan argumentatif tentang kewajiban berpegang teguh dengan Sunnah dan pemahaman para Sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum Jami’an. Tampaknya Abu Mujahid belum membaca buku ini. . Entah karena memang tidak memilikinya atau karena telah terlanjur menganggap beliau-beliau itu sebagai “Dai-dai Sururi Tulen”,  jadi ketika melihat nama penulisnya Abu Mujahid pun kemungkinan spontan alergi. -,  Wallahu Ya’lamu Kulla Syai’-.

Demikian pula dengan Ustadz Abu Nida’,  Ustadz Abu Haidar,  Ustadz Abu Qatadah,  dan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. mereka adalah Dai-dai Ilallah yang -Insya Allah- ikhlas dalam Dakwah Salafiyah yang Barokah ini. Adapun cara yang mereka tempuh dalam berdakwah tentu berbeda-beda,  demikian juga kedudukan mereka di hadapan para Mad’unya tentu memiliki tingkatan yang tidak serupa satu sama lain.

Bila Abu Mujahid mengaggap kebiasaan membicarakan keburukan dan kekurangan penguasa kaum muslimin itu merupakan tindakan yang salah dan bertentangan dengan syariat Islam,  lalu apa bedanya dengan MEMBICARAKAN KEBURUKAN DAN KEKURANGAN DAI-DAI KAUM MUSLIMIN SERTA MENCARI-CARI PLUS MENGUMBAR AIB MEREKA,  bila ditinjau dari sisi keharamannya??? Bukankah Allah berfirman,  “Hai orang-orang yang beriman jauhilah olehmu kebanyakan berprasangka,  sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa,  dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah pula sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. suka kah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentu lah kamu mersa jijik dengannya dan bertaqwalah kepada Allah,  Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang”. (QS. Al-Hujurat:12)

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam bersabda ketika ditanya tentang pengertian Ghibah: “Engkau menyebut saudaramu tentang apa yang tidak ia  sukai ” ,  Lalu beliau ditanya,  “Yaa Rasulullah,  Bagaimana apabila pada diri orang itu terdapat perkara yang aku sebutkan?” Lalu beliau -‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Shalawatullah Wa Salaamuh” menjawab,  “Jika pada orang itu terdapat apa yang engkau katakan maka sungguh engkau telah berbuat Ghibah,  Sedangkan jika tidak ada padanya apa yang engkau katakan maka sungguh engkau telah berbuat Buhtan (yakni menuduh dengan dusta)”.

Bila Abu Mujahid mengatakan bahwa tentang hukum Ghibah ini di sana terdapat perincian,  di antaranya apa yang dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi Radhiyallahu’anhu dalam Riyadhus Shaalihin Bab:‘Maa Yubaahu Minal-Ghibah’ (bentuk Ghibah yang diperbolehkan),  yaitu:

1. Pengaduan seseorang yang terzhalimi kepada penguasa atau Qadhi.

2. Permintaan tolong untuk merubah suatu kemungkaran dan mengembalikan seorang yang berbuat maksiat kepada kebenaran. 

3. Upaya meminta Fatwa kepada seorang Mufti dengan cara berkata demikian dan demikian sambil mengungkapkan keburukannya.

4. Dalam rangka memberikan peringatan keras (Tahdzir) kepada kaum Muslimin dari kejahatan seseorang dan memberikan Nasehat kepada mereka.

5. Seseorang yang menampakkan terang-terangan kefasiqan dan kebid’ahannya.

6. Dalam rangka mengenalkan seseorang dengan julukan tertentu yang ia tidak dikenal melainkan dengan julukan (yang jelek) itu. 

(Demikian Penjelasan Al-Imam An-Nawawi Radhiyallahu’anhu dalam Kitab Riyadhus Shalihin pada Bab di atas)

Maka kami katakan,  Bila kita cermati satu persatu dari penjelasan Imam An-Nawawi –Allah Yarham– di atas,  maka tidak ada satu pun yang bisa dijadikan Hujjah (alasan) oleh Abu Mujahid untuk menggibahi/mencari-cari aib para Da’i di atas,  dalam hal ini Ustadz Yazid Jawaz,  Ustadz Abdul Hakim Abdat,  Ustadz Hartono Ahmad Jaiz,  dll.

PERTAMA:  Abu Mujahid bukanlah orang yang diZhalimi oleh Ustadz-ustadz di atas sehingga ia harus menggunjing dan mencari-cari aib mereka. Kalaupun Ustadz-ustadz di atas menzhalimi Abu Mujahid maka bukanlah dengan cara menggibahinya lewa tulisan kemudian menyebarkannya di tengah-tengah Kaum Muslimin,  namun dengan mengadukannya kepada penguasa atau Qadhi.

KEDUA: Abu Mujahid bukanlah dalam kondisi meminta tolong untuk merubah suatu kemungkaran atau kemaksiatan,  dan para Da’i di atas juga tidak sedang dalam melakukan suatu kemungkaran atau kemaksiatan. sedangkan Abu Mujahid pun tidak menyebutkan kemungkaran atau kemaksiatan yang mereka lakukan. Bila Abu Mujahid berargumentasi bahwa kemungkaran yang mereka lakukan adalah “berafiliasi dengan Ihyaut Turats”,  maka ini merupakan suatu hal yang megada-ada dan timbul dari hawa nafsu sang Abu Mujahid. Tidak ada satu pun Ulama yang menganggap “Khilafiyah Ijtihadiyah” sebagai suatu kemungkaran yang harus dicegah dan berlaku padanya Ingkarul Munkar atau prinsip Tahdzir dan Hajr.

KETIGA: Abu Mujahid bukan dalam kondisi meminta Fatwa kepada seorang Mufti.

KEEMPAT:Abu Mujahid bukan dalam keadaan memperingatkan Kaum Muslimin dari ‘kejahatan’ Ustadz-ustadz di atas. Dan Ustadz-ustadz di atas bukanlah ‘orang-orang jahat’ yang Ummat perlu ditahdzir dari mereka melainkan mereka adalah Para Da’i dan Maha Guru yang membimbing Ummat ini ke jalan yang lurus.

KELIMA:Ustadz-ustadz di atas bukanlah orang-orang Fasiq yang gemar bermaksiat justru merekalah para Pemberantas Kemaksiatan,  demikian juga mereka bukanlah para pengusung Bid’ah namun justru merekalah di antara para tokoh pemberantas Bid’ah di Nusantara. hingga Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat menulis sebuah Kitab yang lumayan tebal berjudul RISALAH BID’AH. Buku ini tentu ditulis dan dipersembahkan untuk umat dalam rangka Mengusung Sunnah dan memberantas Bid’ah.

KEENAM:Abu Mujahid bukan dalam keadaan sedang mengenalkan para Ustadz di atas dengan julukan tertentu.

Demikianlah tentang permasalahan MEMBICARAKAN KEBURUKAN DAN KEKURANGAN ORANG LAIN. Bila dari keenam point di atas yang dijadikan Ulama sebagai Syarat bolehnya berbuat Ghibah TIDAK DIPENUHI oleh Abu Mujahid,  maka dapat disimpulkan bahwa Abu Mujahid telah melakukan BUHTAN terhadap para Ustadz di atas,  dan menodai kehormatan mereka. !! Ketahuilah bahwa ini merupakan Dosa yang cukup besar dan tidaklah terampuni kecuali dengan mendatangi mereka untuk meminta ma’af kepada mereka serta meminta penghalalan dari mereka sekaligus meralat semua yang dituduhkan,  setelah memohon ampun kepada Allah tentunya.

Keras terhadap Orang Kafir dan Berkasih Sayang Sesama Muslim

Ayat Allah yang mulia mencerminkan Karakter dan Tabiat orang-orang Mukmin dalam firman-Nya, yang artinya:

“Muhammad adalah utusan Allah,  dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir,  tetapi BERKASIH SAYANG SESAMA MEREKA. kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan Ridho-Nya,  pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka yang diungkapkan dalam Taurat dan sifat-sifat mereka yang diungkapkan dalam Injil. . . “dst.

Allah menjelaskan bahwa di antara karakter Rasulullah dan orang-orang Mukmin adalah Keras Terhadap Orang Kafir Dan Berksih Sayang Sesama Muslim.  bukan di balik “Keras Terhadap Sesama Muslim” dan “Berlemah Lembut Dengan Orang-Orang Kafir”.  Ini jelas keliru!!

Bepecah belah merupakan ciri khas Ahli Bid’ah dan Hizbiyah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Prof. DR. Shalih Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan -Hafizhahullah- di beberapa kitabnya.  Ciri Ahlus Sunnah adalah bersatu padu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘Ala Manhjin Nubuwah,   meskipun berbeda Organisasi,   Yayasan,   pondok pesantren,   Lembaga,   Bangsa atau Negara.  Serta saling nasehat menasehati dalam kebenaran,   bukan malah berpecah belah dan saling menyesatkan.  Melihat kondisi yang ada dan fenomena menuduh  serta memecah belah yang dilakukan Abu Mujahid,   kami khawatir Abu Mujahid ini telah terjatuh dalam jurang Kebid’ahan,   dan kami khawatir pula kalau-kalau orang seperi Abu Mujahid ini lah yang justru merupakan Neo Hizbiyah Sururiyah.

Seorang Ulama Kharismatik,  Syaikhul Islam Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah –Radhiyallahu’anhu– pernah berkata,  “Seorang Ahlus Sunnah adalah orang yang paling mengerti tentang kebenaran dan paling sayang terhadap Manusia”.

Ketika berita tentang Perpecahan dan saling boikot yang terjadi di antara Dai-dai yang mengaku Salafi di Indonesia disampaikan ke Syaikh Muhammad Bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah,  dengan murkanya beliau berkata,  “Semoga Allah tidak memasrahkan tugas Dakwah ini kepada Orang-orang semacam mereka“.

Terakhir,  kami teringat beberapa tahun yang lalu ketika mengikuti Daurah bersama seorang Pakar Ekonomi Syari’ah,  DR. Muhammad ‘Arifin Baderi,  MA. dalam Daurah itu ada satu perkataan indah yang hingga kini terus mendengung di telinga kami dan tak kan pernah terlupakan. beliau berkata,  “Ikhtilaf (beselisih pendapat) itu berbeda dengan Iftiraq (berpecah belah). Kita boleh Ikhtilaf (berselisih pendapat,  asal sama-sama memiliki Dalil dan Hujjah Syar’iyyah),  tapi tidak boleh Iftiraq (berpecah belah & berceri berai). Jadi perselisihan pendapat tidak boleh dijadikan bahan untuk berpecah belah”.  ALLAHU A’LAM.

MENJALIN UKHUWAH DI ATAS MANHAJ NUBUWAH.

Al-Habibul Mahbub Rasulullah Musthafa Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: “Setiap Bani Adam pastilah berbuat salah,  namun yang terbaik dari yang bersalah adalah yang bertaubat”.

Begitu pulalah dengan Ustadz Yazid Jawaz,  Ustadz Abdul Hakim Abdat,  Ustadz Hartono Ahmad Jaiz,  dan selainnya dari para Da’i Ahlus Sunnah di Nusantara,  mereka bukanlah orang-orang yang ma’shum,  yang terjaga dari dosa dan kesalahan. Tentu di sana sini masih terdapat kesalahan yang ada pada mereka baik yang kita ketahui atau tidak. Mereka bukanlah Rasul atau Malaikat yang Ma’shum,  namun apakah dengan begitu lantas Abu Mujahid bebas menggunjing mereka,  menuduh mereka,  dan mencari-cari aib mereka. !??

Andai mereka (Ustadz-ustadz yang dituduh Abu Mujahid sebagai Sururi) benar-benar terjatuh dalam kesalahan atau “penyimpangan”,   Apakah layak Abu Mujahid menggunjing mereka,  menjelekk-jelekkan mereka,  dan mencari-cari aib mereka!????? Wattaqi Da’watal Mazhluum Fa-Innahu Laisa Bainaha Wa Bainallahi Hijaab. . !!

Mengapa Abu Mujahid tidak menasehati mereka dengan akhlaqul karimah mengingat mereka adalah orang-orang tua yang patut dihormati,  mengapa Abu Mujahid tidak mendatangi mereka atau mengajak mereka berdialog dengan penuh kasih sayang ,  bila perlu mendatangi rumahnya untuk menyampaikan kritikan,  bila diterima itulah yang dikehendaki bila tidak maka urusannya kembali kepada Allah. Kami yakin Abu Mujahid SAMA SEKALI BELUM MENEMPUH LANGKAH INI. Mengapa mesti dijatuhkan,  ditahdzir tanpa alasan yang benar,  dan dicari-cari aibnya???

Sekali lagi kami mengingatkan Abu Mujahid dan siapapun yang mengikuti jalannya,  takutlah kepada Allah. . . Renungilah Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Maslamah Bin Mukhallad berikut ini,

“Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim di dunia,  maka Allah akan menutup aibnya   di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang menyelamatkan orang dalam kesulitan maka Allah akan menyelamatkannya dari salah satu kesulitan pada hari kiamat. Dan siapa saja yang menuntaskan keperluan Saudaranya,   niscaya Allah akan menuntaskan keperluannya”.

 Terakhir,   Prakata dari kami sebagai penutup,   kami ingin menyampaikan bahwasanya secara pribadi kami tidaklah begitu mengenal sosok Abu Mujahid ini.  Namun setidaknya kami mengetahui tentang beliau  dari buku-buku yang menjadi karyanya.  Tidaklah beliau melainkan seorang Aktivis Dakwah yang giat menulis buku-buku bermanfaat.  Di antara buah karyanya yang cukup bagus dan berfaedah adalah buku yang berjudul ‘SYIAH DI INDONESIA,   Sejarah,   Jaringan,   & Pengaruhnya’.  Dalam buku setebal 244 halaman yang diterbitkan oleh Toobagus Publishing Bandung ini Abu Mujahid sungguh memukau dalam memaparkan tentang Sejarah & Pengaruh Jaringan Syiah Dhalalah Di Indonesia.  Ini merupakan buah karya yang patut kita hargai dan layak untuk dimiliki dan dijadikan Referensi Ilmiah oleh para penuntut ‘Ilmu,   para Da’i,   dan juga para pencari kebenaran.  Yang tak kalah bagus adalah Salah satu buah karya beliau yang mengurai tentang Filsafat dan Ilmu Kalam serta bahaya mempelajarinya,   judulnya ‘PEMUJA FILSAFAT’.  Buku ini penting untuk dibaca oleh Mahasiswa-mahasiswa Fakultas Ushuluddin di Universitas sebagai pengantar agar tidak menyukai FILSAFAT & ILMU KALAM serta dapat mengetahui betapa besar kerusakannya.  Selain itu Abu Mujahid juga menulis buku-buku di antaranya: “VIRUS WAHABI,  Mitos Negatif Bagi Salafi”,   “SEJARAH SALAFI DI INDONESIA” yang terbit 2 Jilid,  dsb yang seluruhnya diterbitkan oleh Toobagus Publishing Bandung.

Semoga kita bukan termasuk orang-orang sombong yang enggan menerima kebenaran dari orang lain dan merasa diri yang paling benar.  Bila kita enggan menerima nasehat dan taujihat dari saudara-saudar Muslim yang tidak sealiran,  tidak sepengajian,  tidak seperguruan dsb,  maka apa bedanya kita dengan kelompok sesat dan meyesatkan seperti LDII/Islam Jama’ah yang menolak nasehat dan kritikan dari yang bukan kelompoknya atau ‘Amirnya karena dianggap tidak manqul.

Dan semoga kita berlapang dada dalam menerima nasehat serta kebenaran tanpa mengabaikan orang lain dan menganggap diri kita yang paling benar,  karena Allah berfirmanyang artinya, “Dan janganlah kalian menganggap suci diri-diri kalian,  Dialah yang maha mengetahui siapa di antara kalian yang paling bertaqwa”.

Semoga Ustadz Yazid Jawaz,  Ustadz Abdul Hakim Abdat,  Ustadz Abu Nida’,  Ustadz Abu Qatadah,  Ustadz Hartono Ahmad Jaiz,  Ustadz Abu Mujahid dan seluruh para Da’i serta Mujahidin yang melanjutkan risalah para Nabi dan Rasul untuk menegakkan Tauhid dan Menghancurkan Syirik di bumi pertiwi ini dipanjangkan Umur mereka oleh Allah dalam Ketaatan kepadanya. Dan semoga kita dapat menjadi generasi-generasi penerus yang melanjutkan Dakwah mereka dalam Amar Makruf dan Nahi Munkar.

Dan tak ketinggalan kami beharap semoga Allah membimbing   pemimpin-pemimpin kaum Muslimin di Negeri ini agar dapat bekerja sama dengan para Da’i dan Mujahidin serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menjalankan Syariat Islam,   memberantas Teroris-teroris yang meggerogoti uang Rakyat,   memberangus Aliran-aliran Sesat yang menodai agama dan  terus meneror Ideologi Kaum Muslimin serta semakin mengancam seperti LDII/ISLAM JAMA’AH,   SYIAH RAFIDHAH,   AHMADIYAH,   JARINGAN ISLAM LIBERAL,  INGKAR SUNNAH,   dll.  Serta menjalankan Amar Ma’ruf  dan Nahi Munkar.  

 Aamiin Yaa Mujibassa-iliin. . . . .

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin Wa ‘Ala Aalihi Wa Ash-Haabihi Ajma’iin Subhaanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allaa Ilaaha Illa Anta Astaghfiruuka Wa Atuubu Ilaik,  Walhamdulilahi Rabbil ‘Aalamin.

Bogor,  Senin 14 Mei 2013.