“Belajar” dari Akhlaq Abu Mujahid

Oleh Abu Husein At-Thullaibi

masjid3a

Ilustrasi, foto Masjidil Haram/ kakakrafli

Bismillahi Wasshalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillahi Wa ‘Ala Aalihi Wa Shahbihi Ajma’in. Amma Ba’du.   “Si fulan Sururi,   si fulan Hizbi“,  ,  ,  “Jangan hadiri majelis Ustadz fulan karena ia Hizbi,  jangan baca tulisan-tulisan Ustadz Fulan karena ia Sururi. . . “. dst.  Begitulah kira-kira fenomena yang kian dan terus terjadi di tengah lapangan dakwah di tanah air,  di antara para penuntut Ilmu dewasa ini.  Menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan mengobarkan api fitnah serta adu domba kepada sesama kaum Muslimin sudah menjadi kebiasaan & makanan sehari-hari.

 Allahu Akbar. . !! Tanpa ingin berpanjang lebar,  di sini kami hendak memberikan sebuah renungan bagi kita semua atas realita yang sudah terlanjur terjadi ini,  khususnya bagi para penuntut Ilmu dan siapa saja yang merasa dirinya sebagai juru dakwah, sekaligus nasehat untuk saudara kami yang kami cintai karena Allah, Saudara ABU MUJAHID Hadanallahu Wa Iyyah-. Tidaklah kami menulis artikel singkat ini kecuali dengan tujuan untuk Nasehat menasehati dalam kebenaran dengan mengajak kepada yang Ma’ruf dan mencegah dari yang Mungkar –Insya’ Allahu Wa Bi-Idznih-. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mengamalkan Firman-Nya yang mulia, yang artinya: “Demi Masa,  sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan yang beramal shalih,  serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran”. (QS. Al-Ashr:1-3)

Dua setengah tahun yang lalu,  kira kira pada bulan Juni atau bulan Juli tahun 2011 kami mendapatkan sebuah buku yang terbilang unik dan begitu menarik,  buku itu berjudul “TEROR NII”,  yang ditulis oleh Abu Mujahid dan diterbitkan oleh Toobagus Publishing Bandung,  cetakan pertama Mei 2011. Sesuai dengan judulnya,  buku tersebut membahas tentang ideologi sebuah kelompok yang disinyalir sebagai kelompok Hizbi Radikal yang identik dengan teroris.  Pemaparan sang Abu Mujahid dalam bukunya tersebut  tampak  begitu apik ketika membongkar berbagai ajaran NII yang menurutnya telah jauh menyimpang dari Syariat Islam. Wajar,  sebab buku tersebut dikoreksi (muroja’ah) oleh sang Guru tercinta,  Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary [salah seorang mantan petinggi Laskar Jihad].

Di sela-sela membaca buku TEROR NII karya  Abu Mujahid yang tebalnya 150 halaman (yang di sampul depannya terdapat gambar kopiah,   sorban,   dan Bom) ini,   kami terhentak sejenak tatkala sampai pada halaman 27 di bawah judul “Kebiasaan Mereka Untuk Membicarakan  Keburukan Dan Kekurangan Para Penguasa Negeri Negeri Kaum Muslimin”.  Di bawah judul ini,   Abu Mujahid menerangkan (dengan tidak terang) bahwa di antara ciri khusus  kelompok Hizbi adalah sering melakukan Ghibah [menggunjing dan menjelek jelekkan] kepada pengusa kaum Muslimin dan mengajak orang-orang memberontak kepada mereka.  Tidak hanya itu,  lalu  Abu Mujahid mempersepsikan bahwa di antara contoh kelompok Hizbi tersebut adalah “Sururiyah”.  Lalu pada halaman 27 Abu Mujahid menerangkan tentang Sururiyah dengan sangat tidak Ilmiah dan tanpa membawa fatwa para Ulama.  Bagaikan seorang detektif  ia pun mendeteksi ihwal Sururiyah,   siapa dan bagaimana Sururiyah itu. Dengan gampangnya lalu ia pun mencap beberapa nama Da’i di tanah air sebagai “Da’i-Da’i Sururiyah Tulen”.  Berikut kami nukilkan secara lengkap “Fatwa” sang Abu Mujahid –Semoga Allah meluruskan lisannya-:

“Dilihat dari akar kata,  istilah Sururiyah diambil dari nama Muhmmad bin Surur bin Nayif Zainal Abidin. Prakteknya,  istilah itu digunakan untuk siapa saja yang berafiliasi dengan Yayasan Al-Muntada dan Ihyaut Turats serta orang orang yang bersama da’i da’i mereka.

Yayasan Al-Muntada di London didirikan oleh Muhammad bin Surur bin Nayif Zainal Abidin. Semula,  dia adalah anggota Ikhwanul Muslimin. Menyatakan diri keluar dari kelompok itu,  ia kemudian mengaku sebagai seorang Salafi [pengikut pemahaman para Sahabat Rasulullah Ridhwanullah Alaihim dan para pengikut mereka].  Akan tetapi,  dengan statusnya yang baru ini,  Muhammad bin Surur justru mengenalkan sebuah pemahaman beragama baru yang akhirnya banyak diikuti oleh orang orang Timur Tengah,  Asia,  Eropa,  dan lebih-lebih lagi Indonesia.

 Pemahaman itu adalah sebuah pemahaman hibrid yang berusaha menggabungkan antara sebagian pemahaman para Sahabat  Rasulullah dalam beragama dan sebagian pemahaman kelompok Ikhwanul Muslimin. Dalam kalimat sederhana,  SURURIYAH ADALAH IKHWANUL MUSLIMIN BERBAJU SALAFI. Kecenderungan seperti ini juga dibawa oleh Abdurrahman Abdul Khaliq,  pendiri Yayasan Ihyaut Turats Kuwait.  Seperti Muhammad bin Surur,  Abdurrahman Abdul Khaliq adalah mantan anggota Ikhwanul Muslimin.  Didukung kekuatan finansial luar biasa,  Yayasan nya ikut menyebarkan pemahaman Sururiyah ke berbagai penjuru dunia,  termasuk Indonesia. Dengan Yayasan Al-Muntada,  Yayasan Ihyaut Turats juga mengucurkan dana dana untuk menerjemahkan,  menerbitkan,  dan menyebarkan buku-buku karya Syaikh-Syaikh Salafi yang berdiam di Arab Saudi,  Yordania,  dan Kuwait. Selain itu,  mereka juga membuka cabang cabang yayasan di berbagai negara. Di Indonesia,  yayasan AL-MUNTADA memiliki cabang berupa YAYASAN ASH-SHOFWAH DAN YAYASAN AL HARAMAIN,  sedangkan Yayasan Ihyaut Turats mendirikan – bahkan sering juga membantu-pesantren pesantren seperti MA’HAD JAMILURRAHMAN dan ISLAMIC CENTRE BIN BAZ DI JOGJAKARTA,  MA’HAD AL-FURQON DI GRESIK,  MA’HAD IMAM AL-BUKHORI DI SOLO,   dan tentu saja MA’HAD IHYA’US SUNNAH DI PASEH TASIK MALAYA.

Dari pesantren-pesantren seperti itu,  mereka mencetak da’i-da’i dan menyebarkannya ke berbagai tempat di Indonesia. Da’i da’i yang bisa dikatakan sebagai da’i da’i Sururiyah tulen di Indonesia,  untuk mengambil contoh mudah di sini adalah YAZID BIN ABDUL  QADIR JAWAZ,  ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT,  ABU NIDA’,  ABU HAIDAR,  ABU QATADAH,  AINUL HARITS. Bisa ditambahkan pula di sini,  seseorang yang banyak dikenal publik lewat tulisan-tulisannya,  HARTONO AHMAD JAIZ.  Yang  mesti dicatat,  tidak setiap da’i mereka atau orang-orang yang mengikuti pengajian-pengajian mereka mengetahui tentang hakikat Sururiyah. Di mata masyarakat,  penampilan mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang mengikuti pengajian-pengajian Salafi. ” [TEROR NII Hal. 27]

Walilahil Hamd,  setelah membaca “fatwa” sang Abu Mujahid yang meresahkan ini,  sambil menggeleng-gelengkan kepala seraya mengatakan “AJIIB. . “,  kami pun tergugah untuk mempelajari “Qawa’idh dan Dhawabith” yang diciptakan sang Abu Mujahid di atas bahwa “Sururiyah adalah istilah yang digunakan untuk siapa saja yang berafiliasi dengan Yayasan Al-Muntada & Ihya’ut Turats serta orang-orang yang bersama da’i-da’i mereka“. Berangkat dari kaedah tersebut,   di sini penting untuk kami tanyakan kepada ‘Syaikh‘ Abu Mujahid –Zadahullahu ‘Ilman-,  dari manakah anda mendapatkan sebuah kaedah ngawuriyah (kalau tidak dikatakan kaedah Syaithoniyyah) bahwa Sururiyah adalah Sebuah istilah yang prakteknya digunakan untuk siapa saja yang berafiliasi dengan “Yayasan Al-Muntada & Ihya’ut Turats” ???  Hingga dengan kaedah ini,  maka berkonsekuensi logis bahwa siapa saja yang berafiliasi atau punya hubungan dengan kedua Yayasan di atas maka ia dikategorikan sebagai “Sururiyah“!? maka muncul pertanyaan berikutnnya,  sebenarnya Sururiyah yang anda maksud itu nama sebuah kelompok,  jama’ah,  organisasi,  atau Yayasan,  atau sebuah pemahaman dalam beragama?? Jika anda mengatakan bahwa Sururiyah adalah sebuah kelompok yang memiliki pemahaman atau ajaran tertentu yang anda anggap menyimpang dari Manhaj Salaf,  lantas apa hubungannya dengan sebuah organisasi atau Yayasan tertentu??? Wahai Saudara Abu Mujahid,  ketahuilah bahwasanya Sururiyah pada hakikatnya adalah  sebuah istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga sebagian kaum Muslimin,  khususnya para Da’i  dan penuntut ‘Ilmu. Demikian juga dengan berbagai penyimpangan yang terdapat pada kelompok ini,  kita dapati pernyataan dan penjelasan dari para ‘Ulama  serta peringatan mereka terhadap Syubhat-syubhat yang ditimbulkannya. Namun,  Apa dan bagaimana Sururiyah itu yang sebenarnya serta bagaimana hakikat mereka,  maka di sini lah perlu pemahaman yang benar dan pentingnya mengikuti petunjuk para ‘Ulama.

Ikhwani Fillah Rahimani Wa Rahimakumullah. . .  Sejatinya,  Sururiyah adalah sebuah kelompok yang dinisbahkan (disandarkan) kepada  seorang tokoh asal Syiria yang bernama MUHAMMAD SURUR BIN NAYIF ZAINAL ABIDIN. Yang di antara ciri menonjol dari kelompok ini adalah gemar mencela para ‘Ulama seraya menjuluki mereka dengan gelar-gelar yang  tidak pantas,  berlebihan dalam menyikapi pemerintah (yang menurut mereka tidak berhukum dengan hukum Allah),  kecenderungan mereka kepada salah satu pemikiran khawarij yang tampak dari terlalu vokalnya mereka dalam mengkafirkan pemerintah dan kaum Muslimin hingga kebablasan,  loyalitas mereka pada Ahli Bid’ah dan lemahnya konsep Al-Wala’ wal Bara’ yang mereka terapkan,  dsb. maka dari sini bisa difahami bahwa Sururiyah adalah sekelompok kaum Muslimin yang memiliki kekeliruan atau penyimpangan dari beberapa permasalahan agama yang sifatnya Manhajiyah. Jadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan sebuah Yayasan atau Organisasi tertentu.

Thayyib,   Bila dikatakan “Asy-Syafi’iyyah“,  maka makna yang bisa difahami dari kata ini adalah “pengikut Imam Syafi’i“,  yang berarti mengikuti pehamaman atau konsep ajaran Imam Syafi’i baik itu dalam masalah ‘Aqidah ataupun Fiqih ‘Ibadah. Maka tidak tepat seandainya ada orang yang mengatakan bahwa “Syafi’iyyah adalah sebuah istilah yang prakteknya digunakan untuk siapa saja yang berafiliasi dengan Organisasi NU (Nahdhatul Ulama) dan Yayasan Al-Bayyinat serta orang-orang yang bersama da’i-da’i mereka“. Sungguh alangkah lucunya andaikan ada orang yang mengatakan demikian.

 Demikian juga dengan kata “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah“,  yang berarti adalah sebuah Jama’ah yang berjalan di atas Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam dalam ber’Aqidah,  ‘Ibadah,  Muamalah,  dan Dakwah”,  tidak terikat dengan Yayasan  atau Organisasi tertentu. Tidak pula sebagaimana yang diprovokasikan oleh Habib Muhammad Rizieq Shihab (di sebuah Radio bernama RASIL yang disinyalir sering mempersembahkan ceramah-ceramah yang mencela para Sahabat Nabi) bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang diwakili oleh kelompok Asy’ariyah & Maturidiyah. Ini juga merupakan sudut pandang  yang bisa dikatakan sesat & menyesatkan,  buta dan membutakan. Dari mana sejarahnya bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang disebut untuk mewakili kelompok Asy’ariyah & Maturidiyah???! Sebab Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu sudah dikenal sejak zaman Sahabat Nabi ketika Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu wa Ardhah menafsirkan sebuah ayat lalu beliau mengatakan “mereka adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. Pada saat itu ‘Asy’ariyah belum ada,  bahkan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari sendiri pun belum lahir. Jadi jauh sebelum kemunculan kelompok Asy’ariyah ,  Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu sudah demikian dikenal,  mereka adalah eksistensi dan aplikasi dari sebuah Jama’ah yang menjalankan agama Islam sesuai petunjuk Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam  &  Para Sahabat Nya Karramallahu Wujuuhahum,  kapan pun dan di mana pun mereka berada.

Apakah layak jika ada orang yang hobi datang ke kuburan meminta-minta kepada orang mati lalu ia dikatakan sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?? Apakah layak bila ada orang yang mencela bahkan memusuhi Sahabat-sahabat Nabi Radhiyallahu’anhum Jami’an lalu dikatakan ia Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?? Apakah layak bila ada orang yang enggan melaksanakan Sunnah Rasulullah namun gemar melakukan Bid’ah lalu ia dikatakan sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?? Apakah layak bila ada orang yang memusuhi Mujahidin yang berjuang menegakkan Sunnah namun ‘bergandeng tangan’ dengan Orang-orang Syi’ah (yang jelas memusuhi Sunnah),  lalu dikatakan ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?? Kalla Tsumma Kalla!!! Tidak Sama Sekali!!!

Kesimpulannya,  siapapun yang pengamalan Agamanya; baik ‘Aqidahnya,  ‘Ibadahnya,  Manhajnya,  Muamalahnya,  dan Dakwahnya menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam & Para Sahabat,   maka ia bukanlah termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bahkan tergolong Ahlul Bid’ah Wal Furqah,   sekalipun sorban yang melilit di kepalanya panjangnya dua meter.

***

Perkataan beberapa Ulama tentang Sururiyah

Menilik sedikit tentang Sururiyah,  ada baiknya kita simak perkataan beberapa ‘Ulama Rabbaniyyun tentangnya:

1). Samahatus Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Bin ‘Abdillah Ibnu Baz Radhiyallahu’anhu Wa Rahimah berkata,  “Berkaitan dengan celaan-celaan Muhammad Surur terhadap kitab-kitab ‘Aqidah Ulma Salaf,  maka ini merupakan kesalahan yang fatal. yang benar adalah bahwa kitab-kitab ‘Aqidah bukanlah suatu yang kering. . Jika ia mensifati Al-Qur’an & As-Sunnah dengan kering,  maka ini merupakan suatu bentuk pemurtadan dari Islam,  itu adalah ungkapan yang jelek lagi busuk”. (Kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘An As-ilatil Manhajij Jayyidah)

2). Samahatusy Syaikh Shalih Fauzan Bin ‘Abdillah Al-Fauzan Hafizhahullahu Ta’ala Wa Rahimahu berkata,  “Mengapa kita mengimpor pemikiran-pemikiran Muhammad Surur ini?. . Kenapa kita tidak merujuk saja kepada kitab-kitab yang ada di hadapan kita berupa kitab-kitab Salafush Shalih & kitab-kitab ‘Ulama Tauhid,  yang betul-betul ditulis oleh para ‘Ulama,  bukan oleh seorang penulis biasa atau seorang Cendikiawan yang  tidak diketahui maksudnya & tidak pula dikenal kadar ‘Ilmunya. Muhammad Surur ini dengan berbagai ucapannya,  ia telah menyesatkan para pemuda dan memalingkan mereka dari kitab-kitab ‘Aqidah Shahihah dan kitab-kitab ‘Ulama Salaf. Dia mengarahkan para pemuda kepada pemikiran-pemikiran baru dan kitab-kitab baru yang membawa para pemuda kepada pemikiran rancu. “(Ibid)

3). Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr Hafizhahullahu Ta’ala Wa Rahimahu berkata mengomentari seorang tokoh Sururiyah,   “Dia adalah orang yang sangat dengki,   sama sekali tidak punya hubungan dengan ‘Ilmu Syar’i dan Fiqih Agama,   lari ke ibu kota penjajah. . . dst” (pengantar pada kitab Madarikun Nazhar Fi Siyasah,  Syaikh ‘Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairi).

Masalah pemahaman, bukan karena ada kaitannya dengan Yayasan atau Lembaga tertentu.

 Dari perkataan para ‘Ulama di atas tampak bahwa peringatan mereka terhadap fitnah Sururiyah muncul dari penyimpangan-penyimpangan yang ada pada mereka,  berupa pemahaman mereka terhadap agama ini yang dinilai ghuluw lagi ekstrim. Bukan karena ada kaitannya dengan Yayasan atau Lembaga tertentu. Ini jelas tidak masuk akal dan terlalu dipaksakan. Kendati memang Yayasan Al-Muntada tersebut didirikan oleh Muhammad Surur,  begitu pun juga Yayasan Ihya’ut Turats  yang didirikan oleh Abdurrahman Abdul Khaliq di Kuwait. Kita tidak menutup mata dari berbagai kesalahan atau bahkan penyimpangan yang ada pada dua orang tersebut sesuai dengan kadar kesalahan mereka yang telah dijelaskan dan diperingatkan oleh sejumlah ‘Ulama,  namun apakah dengan hanya sekedar bermuamalah bersama mereka lalu dengan serta merta kita menjadi “Sururi”??

          Lantas yang sesat dan menyimpang itu pemikirannya atau Lembaganya?? yang diperingatkan para Ulama itu kesesatan pemikiran & penyimpangan Manhaj orang-orangnya atau Organisasinya?? Lalu mana Qawa’id dan Dhawabithnya bahwa Siapa saja yang berafiliasi atau punya hubungan muamalah dengan sebuah Organisasi tertentu lantas ia menjadi pengikut si pendiri Organisasi tersebut??

Contoh misal,  ada seseorang yang ia berafiliasi dengan Organisasi Nahdhatul Ulama (NU),  namun bersamaan dengan itu ia tidak pernah ikut serta dalam acara-acara keagaman yang menjadi ciri khas dan tradisi kaum Nahdhiyyin (NU),  seperti Tahlilan,   Maulidan,   Yasinan,   Tawassulan,  dan Ratiban,   dan seterusnya.  Nah lantas Apakah ia dapat dikatakan sebagai Nahdhiy (Seorang NU/Pengikut faham NU)??

Begitu pula dengan seseorang yang baerafiliasi dengan yayasan tertentu namun ia tidak mengikuti pemahaman dan pemikiran si pendiri Yayasan,  Apakah ia dapat dikatakan sebagai pengikut faham si pendiri Yayasan?? tentu tidak.

Sebaliknya, misalnya,  ada seseorang atau katakanlah sekelompok Jama’ah yang  memiliki pemikiran bahwa orang yang tidak berhukum pada hukum Allah adalah mutlak kafir,  senang memberontak pada penguasa Muslim,  memisahkan diri dari jama’ah kaum Muslimin dan membuat gerakan bawah tanah (Tanzhim Sirri),  mencela para ‘Ulama dan kitab-kitab mereka,  berwala’ kepada Ahli Bid’ah dan Bara’ dari Ahli Sunnah dan lain-lain dari ciri-ciri ajaran Sururi. Akan tetapi,  mereka ini Tidak Berafiliasi Dengan Yayasan Al-Muntada & Ihya’ Atturats,  Tidak Bermuamalah Dengannya Dan Tidak Pula Memiliki Hubungan Apapun Dengannya,  lantas apakah mereka ini dikatakan Sururiyah ataukah tidak???

Dalam pada itu,  Abu Mujahid menyatakan bahwa Yayasan Ihya’ut Turats Kuwait pimpinan Abdurrahman Abdul Khaliq membantu pesantren-pesantren seperti Ma’had Jamilurrahman,  Islamic Centre Bin Baz,  Ma’had Al-Furqan,  Ma’had Imam Bukhari. . dst.  kami heran dengan pola fikir Abu Mujahid yang dangkal ini,  entah apa maksud & tujuannya ia seolah mencoba mengait-kaitkan Abdurrahman Abdul Khaliq yang berfaham Sururi dengan Ma’had-ma’had yang disebut di atas. Apakah ia sengaja ingin memaksakan Prasangkanya yang rusak itu bahwa Ma’had-ma’had yang tersebut di atas sebagai Ma’had-ma’had Sururiyah atau minimal Ma’had-ma’had di atas merupakan Ma’had-ma’had yang menyebarkan pemikiran Muhammad Surur??? Kalla Tsumma Kalla!! Haatuu Burhaanakum In Kuntum Shoodiqiin. . !!

Dulu Kami pernah bertanya langsung kepada Fadhilatul Ustadz Abu Usamah Zaid Susanto,  Lc –Hafizhahullah Wa Katstsarallahu Khairoh– tentang dari mana bantuan dana yang didapatkan oleh Ma’had Jamilurrahman,  yang pada waktu itu Beliau -Hafizhahullah- menjabat sebagai Mudir (Direktur). Sebatas yang beliau terangkan bahwa Ma’had Jamilurrahman pada waktu itu tidak ada hubungannya dengan Jum’iyyah Ihya’ut Turats Kuwait-Wallahu A’lam-,  dana yang didapatkan adalah dari para Muhsinin (Dunatur)-Zadahumullahu Rizqan Thayyiba Wa ‘Amalan Shalihan Mutaqabbala-. Termasuk Infaq rutin yang diterima oleh Ma’had pada waktu itu adalah Pemberian dari salah seorang darmawan,  Istri seorang menteri di Republik ini –Jazahallahu Ahsanal Jaza’-. Demikian pula dengan Ma’had Imam Bukhari di Solo,  yang dulu kami sering berkunjung ke sana,  Ma’had yang hingga kini dipimpin oleh Ustadz Ahmaz Faiz Asifuddin,  Lc. MA ini  pun berjalan dengan bantuan/infaq Dari para Darmawan yang semoga Allah membalas segala kebaikan dan menerima amal ibadah mereka. Kalaulah Ma’had-ma’had ini sering menerima kucuran dana dan kekutan vinansial yang melimpah ruah-menurut Abu Mujahid-,  tentu saja Para Thullab di Ma’had tersebut pada waktu itu sudah menyantap makanan yang serba enak dan lezat-lezat,  padahal para santri pada waktu itu makan dalam satu nampan dengan lima bahkan enam orang,  dan menu nya pun hampir tidak ada yang istimewa dan bisa dibilang itu-itu saja.  Sungguh Hidup mereka terbilang sangat sederhana. Begitu pula para Asatidzah yang menjadi guru-guru disana. Tidak ada yang istimewa dari kehidupan mereka,  mereka hidup sederhana dan apa adanya. Bahkan Mudir Al-Ustadz Abu Usamah Zaid Susanto tergolong seorang Ustadz yang  Zuhud dan sangat Tawadhu’. Demi Rabb Ibrahim dan Musa,  kami belum pernah menyaksikan sebelumnya ada seorang Direktur sebuah pondok pesantren yang Sezuhud & Setawadhu’ beliau. Rumah beliau terbilang kecil dan sangat sempit,  kendaraan beliau adalah sebuah sepeda motor tempo dulu yang sudah tidak enak dipandang mata,  sederhana dalam berpakaian dan lembut dalam bertutur kata tampak begitu melekat pada diri beliau. Kalau saja kekuatan vinansial mengucur deras kepada Ma’had,  logisnya Mudir sudah dari dulu mengendarai mobil bergengsi,  rumah yang istimewa,  dsb.

Andaipun apa yang dikatakan Abu Mujahid bahwa Ma’had-ma’had di atas mendapatkan bantuan dana & kekuatan vinansial yang luar biasa dari Yayasan Ihya’ut Turats itu benar,  lantas apakah dengan begitu melazimkan bahwa Ma’had-ma’had di atas merupakan Ma’had-ma’had yang beraliran ‘Sururiyah’?? Sungguh kaedah Abu Mujahid ini merupakan Kaedah Bid’ah yang sangat menyesatkan. Tahukah anda bahwa seluruh Asatidzah yang mengajar di Ma’had Syaikh Jamilurrahman itu menentang pemahaman Sururi??? Majalah Al-Furqon & Majalah As-Sunnah beberapa kali pernah membahas tema Sururiyah dan Fitnahnya,  begitu juga dengan Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyah yang terbit dari Surabaya pernah membahas tema yang sama bahkan terbit dalm edisi khusus dengan judul MENYIBAK KABUT SURURIYAH. Kitab-kitab manhaj yang diajarkan di Ma’had Syaikh Jamilurrahman seluruhnya adalah kitab-kitab para ‘Ulama Mu’tabar yang menentang Sururiyah dan tidak ada satu pun kitab Sururi yang diajarkan di Ma’had tersebut. Tidak terdapat satu pun kitab Muhammad Surur yang ada di Maktabah/Perpustakaannya. Yang ada dan diajarkan justru kitab-kitab para Masyayikh yang Ma’ruf seperti Syaikh Bin Baz,  Syaikh ‘Utsaimin,  Syaikh Al-Albani,  Syaikh Shalih Al-Fauzan,  Syaikh Jamil Zainu,  Syaikh Ibnu Jibrin,  Syaikh Bakr Bin Abdillah Abu Zaid,   dll.

Kalau Abu Mujahid menganggap bahwa guru-guru/da’i-da’i di atas adalah Da’i-da’i Sururiyah hanya karena sekedar bemuamalah dengan Jum’iyyah Ihyaut Turats,  maka kami katakan SUBHAANAKALLAHUMMA HAADZA BUHTAANUN ‘ADZIIM!!!

Demi Dzat yang memelihara Ka’bah,  mereka tidak pernah menanamkan Ideologi Sururi kepada santri-santrinya,  mereka tidak pernah mengajarkan kepada para santrinya untuk memberontak penguasa kaum muslimin justru sebaliknya mereka mengajarkan bahwa wajib taat kepada pemerintah dalam hal yang ma’ruf dan menyelisihi mereka dalam hal yang mungkar,  mereka  juga tidak pernah mengajarkan agar para santri mencela para ‘Ulama justru sebaliknya mereka mengajarkan kepada murid-muridnya agar menghormati para ‘Ulama serta mencintai mereka tanpa taqlid pada mereka,  mereka tidak pernah mengatakan bahwa Syaikh Bin Baz,  Syaikh Al-Albani,  Syaikh ‘Utsaimin,  Syaikh Shalih Fauzan,  Syaikh Abdul Muhsin,  Syaikh Muqbil,  Syaikh Ubaid Al-Jabiri,  Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi,  dll sebagai “Ulama-Ulama Penjilat” atau “Ulama-ulama Haidh dan Nifas” dst.  Kalla Tsumma Kalla!! Inilah fakta yang tidak difahami secara cerdas oleh seorang Abu Mujahid. Rasanya Abu Mujahid perlu untuk belajar ke Ma’had Syaikh Jamilurrahman Bantul Jogjakarta agar ia tahu apa dan bagaimana yang diajarkan di sana. Maka sungguh ironis bila Abu Mujahid begitu semangat menjelaskan tentang bahaya Sururiyah namun melontarkan tuduhan-tuduhan yang faktanya salah alamat. Shalawat dan Salam kepada baginda Rasulullah Yang telah bersabda “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam”.   

Sungguh disayangkan,  membuat sebuah kaedah bid’ah lalu dengan mudah melekatkannya pada orang lain. Tuduhan Sururiyah (yang merupakan kelompok yang di antara ciri menonjol manhajnya adalah nencela para ‘Ulama) ditujukan pada sekelompok kaum Muslimin (yang hakikatnya tidak berfaham Sururi) hanya karena bermuamalah dengan Yayasan tertentu seperti Jum’iyyah Ihya’ut Turats dan selainnya,  lalu mentahdzir siapa saja yang bermuamalah dengannya dan menuduhnya sebagai “Sururi”.

Wahai Abu Mujahid,  tahukah anda bahwa sebelas atau kurang lebih dua belas tahun yang lalu Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Madinah Of University mengukirkan sebuah sejarah dalam hal pengiriman kitab-kitab ke negara mereka Indonesia,  yaitu dengan cara dikirim secara kolektif dengan menggunakan kontainer,  pengiriman tersebut didanai oleh Yayasan Ihya’ut Turats yang bermarkaz di Kuwait. Ini adalah awal pengiriman kitab dengan cara seperti ini di Madinah Of University. Nah, pada kesempatan ini kami bertanya kepada Abu Mujahid yang kemungkinan sudah malang melintang di dunia dakwah hingga mentahdzir setiap orang yang ada hubungan dengan Yayasan Ihya’ut Turats,  kenapa anda tidak mentahdzir teman-teman anda atau mungkin ada yang menjadi guru anda yang pernah menjadi Alumni-alumni Madinah Of University yang telah menerima sumbangan dari Ihyaut Turats?? Apakah Yayasan Ihya’ut Turats menjadi Jum’iyyah Salafiyyah bila yang menerima sumbangan adalah teman-teman anda sendiri dan menjadi Jum’iyyah Hizbiyyah Sururiyyah  bila yang menerimanya adalah anak-anak yatim,  orang-orang faqir yang menuntut Ilmu di Jamilurrahman (seperti kami),  para janda,  masyarakat gunung kidul yang menjadi korban letusan gunung merapi,  dsb?? Ataukah memang barometer Manhaj Salaf versi anda yang warna warni??

Contoh lain misalnya,  Jum’iyyah Al-Haramain yang berpusat di Riyadh dalam beberapa periode memberikan sumbangan kepada setiap Mahasiswa yang lulus dari Madinah Of University tanpa terkecuali,  besarnya sumbangan tersebut dari tahun ke tahun berbeda-beda,  kadang 1000 Real dan kadang 500 Real. Nah kami yakin,  para pembaca pasti bertanya-tanya . . ‘Berarti Alumnus-alumnus Madinah Of University yang sekarang sudah melanglang buana berdakwah kepada Manhaj Salaf dan mentahdzir setiap orang yang ada hubungan dengan Jum’iyyah Al-Haramain juga menerima sumbangan tersebut??’ Jawabannya adalah ‘YA,  mereka menerima itu semua dengan kedua tangan terbuka tanpa ada sedikitpun keraguan’. Pada beberapa tahun yang lalu,  ada dua orang Alumni Madinah Of University yang sekarang-sekarang ini dengan lantang mentahdzir setiap orang yang menerima sumbangan dari Jum’iyyah Al-Haramain setelah menerima sumbangan sebesar 1000 Real,  mereka menerima sumbangan itu dalam keadaan sadar dan tahu betul bahwa sumbangan itu berasal dari Jum’iyyah Al-Haramain. Apakah hal ini diketahui oleh Abu Mujahid?? Atau ia berpura-pura tidak tahu?? Allahu A’lam,  kami berhusnuzhon kepada Abu Mujahid,  semoga saja ia memang tidak tahu karena ia bukan Alumnus Madinah Of University dan sepertinya memang tidak pernah menjadi Mahasiswa Madinah Of University.

 Selain itu,  bila kaedah Abu Mujahid ini (Bahwa Sururiyah adalah Ikhwanul Muslimin berbaju Salafi yang istilahnya digunakan untuk siapa saja yang berafiliasi dengan Jum’iyyah Ihya’ut Turats) diterapkan,  maka tentu konsekuensinya sungguh berat sekali. Di sana bukan tidak ada para ‘Ulama yang merekomendasikan Jum’iyyah ini,  bahkan bermuamalah langsung dengan Jum’iyyah ini,  semisal Fadhilatusy Syaikh ‘Abdurrazaq Bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr Hafizhahullah, seorang ‘Ulama yang demikian ma’ruf di kota Madinah dan menjabat sebagai Dosen resmi di Universitas Islamiyah Madinah An-Nabawiyyah. Apakah Syaikh Abdurrazaq adalah ‘Sururi’?? Selain memiliki hubungan dengan Jum’iyyah ini beliau juga merekomendasikan Jum’iyyah ini dalam hal yang ma’ruf berupa Ta’awun Syar’iyyah Fid Da’wah Ilallah. !? Apakah Syaikh ‘Abdurrazaq dan termasuk ayah beliau Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad yang merekomendasikan Jum’iyyah ini serta Ulama-ulama lain yang merekomendasikan Jum’iyyah ini adalah “Ulama-ulama Sururi”??? Allahu Akbar!!

Tentu saja kita tidak menafikan adanya  Fatwa dari sejumlah ‘Ulama di antaranya seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani -Rahimahullahu Ta’ala Rahmatan Waasi’an- yang mentahdzir Jum’iyyah ini. Namun ini merupakan perkara yang Ijtihadiyyah Khilafiyyah yang di dalamnya kita mesti berlapang dada dan menghormati perbedaan Ijtihad satu sama lain. Kiranya Akhlaq ini lah yang semestainya diterapkan oleh Abu Mujahid dan kita bersama. Andai Abu Mujahid mengatakan bahwa Syaikh Fulan dan Syaikh fulan mengharamkan ta’awun dengan Jum’iyyah ini dengan dalil dan argumentasi ini dan itu serta tetap bersikeras memaksakan kehendaknya,  maka kami juga mengatakan bahwa Syaikh Fulan dan Syaikh Fulan juga merekomendasikan Jum’iyyah ini dan menganjurkan berta’awun dengannya selama didapatkan Mashlahat dalam dakwah tanpa mengikuti berbagai kesalahan atau penyimpangannya.  Perkaranya sangatlah sederhana,  Insya Allah dengan bermuamalah bersama Yayasan ini (dan Yayasan-yayasan lain yang mengandung maslahat)  tidak lah menjadikan pelakunya menjadi murtad,  atau kekal dalam neraka,  atau membuat pelakunya dilaknat oleh Allah,  sehingga sebagian manusia menjadikannya sebagai tolok ukur untuk “Memurtadkan” orang dari Ahlus Sunnah,  memvonisnya sebagai Ahli Bid’ah Wal Hawa,  menuduhnya sebagai  Dajjal Fajir Al-Khabits,  dan segudang celaan yang ringan di lisan namun berat di timbangan.

Demikianlah bergampang-gampang dalam menyesatkan orang,  mengHizbikan orang dst tanpa Qawa’id dan Dhawabith yang jelas serta bimbingan para ‘Ulama merupakan kesalahan fatal yang tidak sesuai dengan  Manhaj Salaf. Demikian juga menjadikan suatu masalah kecil yang Khilafiyah Ilmiyah Ijtihadiyah sebagai pintu untuk menyerang sekelompok kaum Muslimin dan menjelek-jelekkan mereka merupakan suatu hal yang tidak benar bahkan  bisa dibilang sebagai tindakan yang berbahaya,  sebab hal ini memiliki mafsadat yang begitu besar,  berdampak pada melemahnya persatuan kaum muslimin sesama Ahlus Sunnah,  memperluas jurang pertikaian,  dan menyebarkan fitnah serta adu domba,  –Wallahul Musta’an-. Semoga Shalawat dan Salam senatiasa tercurahkan pada baginda Rasulullah yang telah bersabda “Mencela seorang muslim adalah kefasiqan dan memeranginya adalah kekufuran”.

BELAJAR AKHLAQ DENGAN USTADZ JA’FAR.

Dalam paragraf terakhir tentang “Sururiyah“,  Abu Mujahid mengatakan bahwa“Dai-dai yang bisa dikatakan sebagai Sururiyah tulen di Indonesia adalah YAZID BIN ABDIL QADIR JAWAZ,  ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT,  ABU NIDA’,  ABU HAIDAR,  ABU QOTADAH,  AINUL HARITS. dan bisa ditambahkan seseorang yang banyak dikenal publik lewat tulisan- tulisannya,  HARTONO AHMAD JAIZ“.

Melihat hal ini,  kami tidak perlu kaget. Bila Da’i-da’i di atas yang notabennya  adalah Da’i-da’i Salafiyyin yang aktif berdakwah dan memberantas kekerasan serta sikap Ekstrim dalam beragama,  dituduh oleh Abu Mujahid sebagai ‘Dai-dai Sururiyah tulen’,  Maka ini merupakan hal yang tidak mengherankan. Karena kami teringat dengan sebuah artikel yang berjudulPENYESATAN UMAT ALA JA’FAR SHALIH AL-JAKARTI,  tulisan seorang hamba yang semoga Allah memberinya Hidayah, yang mana kami meyakini bahwa saudara Abu Mujahid tahu siapa si penulis artikel itu dan kemungkinan besar mereka sepaham. Dalam artikel tersebut si penulis menyatakan bahwa Ustadz Ja’far Shalih Al-Jakarti melakukan ‘PENYESATAN‘ dengan alasan bahwa Ustadz Ja’far Shalih ‘mempropagandakan‘ Radio Rodja sekaligus mengatakan bahwa Ustadz Yazid Jawaz,  Usatdz Abdul Hakim Abdat,  serta Ustadz Firanda membela Sunnah dan memerangi Bid’ah dalam ceramah-ceramahnya.

‘Ajiib Jiddan. . . ?! Hanya mengatakan bahwa Ustadz Yazid Jawaz,  Ustadz ‘Abdul Hakim Abdat,  dan Ustadz Firanda sebagai Da’i-da’i pembela Sunnah & pemberantas Bid’ah lalu dianggap sebagai “PENYESATAN“??? Allahummaghfir Li-Haadza Rajul Wahdinii Wa Iyyahu Ilaa Shiraathil Mustaqiim. .

Al-Ustadz Ja’far Shalih –Thawwalallahu ‘Umrahu Fi Da’watihi– adalah seorang Da’i Salafi yang dikenal Istiqamah dalam Dakwah di atas jalan yang lurus. Beliau adalah salah seorang Alumni Yaman, bertindak sebagai Staf Redaksi dalam Majalah AKHWAT, dikenal santun dan sangat Tawadhu’. Secara internal beliau merupakan Ustadz di kalangan ‘Salafi’ nya Abu Mujahid. Namun justru beliau dicela dan direndahkan oleh sebagian pengikutnya hanya karena mengatakan sesuatu yang haq yang masih membutakan mata hati sebagian orang.

Bilamana ada orang yang mengatakan bahwa si Fulan pembela Sunnah & pemberantas Bid’ah (karena memang faktanya demikian) kemudian dianggap sebagai “PENYESATAN“,   lalu bagaimana dengan seorang “Syaikh” yang pernah mengatakan bahwa Syaikh Ibnu Jibrin adalah Imamud Dhalalah (Imam Kesesatan)!?? Bagaimana dengan “Syaikh” yang pernah mengatakan bahwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhaan bukanlah Salafi!?? Bagaimana dengan “Syaikh” yang mencela seorang Ulama besar Madinah (Syaikh ‘Abdurrazaq Bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad) dengan celaan yang amat sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang muslim yang paling Awam sekalipun apalagi seorang “Syaikh“!!?? Bagaimana dengan “Syaikh” yang pernah mengatakan bahwa orang-orang  Salafi yang belajar di Darul Hadits Dammaj bersama Syaikh Muqbil Rahimahullah belum tentu orang Sunni dan mereka adalah khawarij yang terpengaruh dengan pemikiran guru mereka (yakni Syaikh Muqbil Rahimahullah)!?? “Syaikh” ini yang beberapa tahun terakhir sering kalian undang dari Madinah dalam Acara Dauroh Nasional di Bantul Yogyakarta yang kalian adakan?! Bagaimana dengan “Syaikh”  ini?? yang mengatakan:

1. Syaikh Ibnu Jibrin adalah Imam Kesesatan.

2. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhaan bukan Salafi.

3. Menghina Syaikh ‘Abdurrazaq dengan hinaan yang amat sangat tidak pantas,  salah satunya adalah “Syaikh Abdurrazaq baru saja Istiqamah kemudian jadi Salafi lantas begitu cepat ia berbalik”.

4. Syaikh Muqbil Bin Hadi Al-Wadi’i yang diindikasikan sebagai “Khawarij“.  

Apakah ini bukan PENYESATAN?? Ataukah ini merupakan PETUNJUK??

Abdullah Bin Amr Bin Al-Ash pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam bersabda “Seorang Muslim itu ialah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya“.

Bila mencermati ciri-ciri Muhammad Surur Bin Nayif Zainal Abidin –Ghafarallahu Lahu- yang pernah mencela dan merendahkan para ‘Ulama,  maka alangkah miripnya ia dengan “Syaikh” ini,  -Wallahu A’lam-.

Ketika masih menjadi santri di sebuah pondok pesantren,  kami pernah bertanya dengan Ustadz Ja’far Shalih tentang Ihya’ut Turats & Vonis Hizbi/ Mubtadi’ terhadap Ustadz Abdul Hakim Abdat,  Ustadz Yazid,  Ustadz Abu Qatadah,  Ustadz Firanda dan lain-lain yang disematkan oleh teman-temannya.

Berikut Jawaban beliau,

Saya tidak berani memvonis Ustadz-ustadz tersebut dengan Mubtadi’ (Ahli Bid’ah) apalagi sampai mengeluarkan mereka dari Ahus Sunnah. ini perkara yang besar sekali,  tidak sembarangan. Adapun teman-teman yakni sebagian Ustadz mantan Laskar Jihad yang menyatakan demikian,  yang sampai pada tingkat mengeluarkan Ustadz-ustadz di atas dari Ahlus Sunnah,  itu urusan mereka dan saya berlepas diri dari apa yang mereka katakan. Apa yang mereka katakan tentang Ustadz Yazid,  Ustadz Abdul Hakim,  Ustadz Abu Qatadah,  Ustadz Firanda,  dsb itu semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah. Mereka mesti punya Hujjah atas itu semua. Adapun terkait dengan mengambil dana dari Jum’iyyah Ihya’ut  Turats,  maka yang saya ketahui ini adalah permasalahan Khilafiyah Ijtihadiyah di kalangan para ‘Ulama;ada yang membolehkan dan ada pula yang melarang. Jadi sebenarnya masalahnya mudah,  bagi yang tidak ingin mengambil  dana ya silahkan,  itu lebih selamat dan berhati-hati. adapun bagi yang ingin mengambil dana ya silahkan saja,  asal jangan berubah Manhaj. . . begitu juga dengan Radio Rodja,  saya sering mendengar Kajian-kajian di Radio Rodja,  ceramah-ceramah Ustadz Abdul Hakim,  Ustadz Yazid,  Ustadz Abu Qatadah,  Syaikh Abdurrazaq,  dan lain-lain. Meskipun yang perlu diketahui bahwa bukan berarti saya setuju dengan Ustadz-ustadz tersebut dalam seluruh permasalahan,  tentunya ada beberapa point yang menjadi catatan saya terhadap beberapa Ustadz di atas,  namun tidak semestinya juga bila saya harus memvonis mereka sebagai Hizbi apalagi bila sampai mengeluarkan mereka dari lingkaran Ahlus Sunnah. Ini sungguh tidak Adil. “

Demikianlah tanya jawab singkat antara kami dengan Ustadz Ja’far Shalih Al-Jakarti Hafizhahullah ketika kami masih menuntut Ilmu dan beliau mengetahui betul bahwa kami pada waktu itu sedang menjadi santri di Ma’had yang ditahdzir.

Kira-kira enam bulan yang lalu,  kami bertemu lagi dengan beliau di Bogor yang kebetulan pada waktu itu beliau sedang melakukan Survei lahan tanah untuk pembangunan sebuah pondok pesantren,  kami berbincang-bincang dengan begitu santai di mobilnya,  kami bertanya-tanya tentang Masalah yang kian menghangat yakni sebagian Ustadz yang mengaku Salafi namun bersamaan dengan itu mereka memusuhi Radio Rodja dan menghasut kaum Muslimin serta para penuntut ‘Ilmu agar jangan mendengarkan Radio Rodja dengan alasan Hizbi Sururi. Lalu spontan Ustadz Ja’far Shalih menyalakan Radio di mobilnya dan ternyata itu adalah Radio Rodja,  seraya mengatakan,

Ini lihat,  begitu ana menyalakan Radio,  langsung Radio Rodja. Tsumma Li Ayyi Sababin La Nasma’ Haadzihil Midzya’? Ya Akhii,  Fiihi Qaalallah Wa Qaala Rasuul Wa Aqwal minal ‘Ulama  (beliau berbahasa Arab,  pen-),  Wa Sami’na minha Ad-Du’aat Yad’unnaas Ilal Kheir,  Yad’unnaas  Ila Tauhidi Wa Sunnah,  Ila Manhaj As-Salafiyyah. . !!? Tsumma Bi-Ayyi Hujjatin An Naquulu Li-Haadzihil Midzya’ Laisa Fiiha Faaidah?? (lalu beliau berbahasa Indonesia lagi,  pen-) Untuk mengetahui pemikiran dan Manhaj seseorang kita ukur Dengan Kaedah-kaedah Ushuliyah,  apakah Ushul-ushul Bid’ah ada pada mereka. . dst,  Coba kita buka Kitab Ushulus Sunnah Imam Al-Barbahari,  kita pelajari lalu kita cocokkan dengan Ustadz-ustadz yang dituduh Sururi tersebut apakah Ushul-ushul Bid’ah ada pada mereka!!??  (Lalu beliau menukil Ucapan Ustadz Hanan Bahanan) bahwa ‘suara-suara yang menjelek-jelekkan Radio Rodja adalah BISIKAN SYAITHON. “

Kemudian kami memotong pembicaraan beliau dengan pertanyaan,  “lalu Ustadz,  bila mana antum membela Radio Rodja kemudian murid-murid Antum dan sebagian pengikut antum menjauhi antum  bagaimana?”

Dengan lantang beliau menjawab,

La Syai’,  Apa yang ana katakan dan menjadi Mauqif ana Adalah Haq Insya’ Allah,  lalu untuk membela kebenaran apa yang harus kita takuti? Andai tidak ada yang mau ngaji sama ana gara-gara ana tidak ikut serta mentahdzir Radio Rodja,  ya ana Dagang. ana punya usaha kecil-kecilan ana dagang. . Repot amat,  simple kan. . ?” Dalam hati kami,  pun berkata,  “Yaa Ustadz,  seratus jama’ah yang meninggalkan antum,  ada seribu jama’ah yang mau ngaji sama Antum“.

Demikianlah kira-kira perbincangan yang terjadi antara kami dan Ustadz Ja’far Shalih. Semoga Allah menjaga beliau dan melimpahkan karunia-Nya kepada beliau sekeluarga.  Aamiin. .

(Bersambung ke bagian 2, insya Allah).

(nahimunkar.com)