Ilustrasi Oleh: ridwansyahyusufachmad.wordpress.com

Jakarta – Kasus skandal Bank Century tak lama lagi bakal memanas. Ini tidak terlepas dua momentum yang bakal terjadi di DPR yakni audit forensik BPK serta berakhirnya masa tugas Tim Pengawas Century DPR. Tidak sekadar itu, kini mencuat tiga surat Sri Mulyani kepada SBY. Ke mana bolanya?

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengatakan pekan depan dijadwalkan Timwas Century bakal meminta hasil audit forensik aliran dana bailout Century ke BPK untuk disampaikan ke publik. “Pekan depan kita meminta BPK untuk menyampaikan hasil audit forensik BPK,” ujar Taufik seusai rapat internal Tim Pengawas Century di gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/11/2011).

Selain itu, Taufik mengungkapkan, dalam rapat internal Tim Pengawas Century DPR mengemuka usulan untuk mengklarifikasi tiga surat yang dikirimkan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada Presiden SBY. “Ada keinginan dari sebagian anggota Timwas Century untuk mengklarifikasi surat Sri Mulyani ke Presiden SBY,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal DPP PAN ini mengungkapkan surat Sri Mulyani ini penting diklarifkasi sebagai tambahan data dalam penanganan kasus Century. Langkah klarifikasi ini, sambung Taufik, agar kasus Century menjadi terang di hadapan masyarakat.

Tidak sekadar itu, Taufik juga menyebutkan bisa saja masa kerja Timwas Century akan diperpanjang jika dinilai masih belum cukup maksimal hasil kerjanya. “Asal menjadi kesepakatan di paripurna,” Taufik memberi catatan.

Sebelumnya, anggota Tim Pengawas Century Bambang Soesatyo menyebutkan terdapat bukti baru dalam kasus Century. Dia menyebutkan tiga surat yang dikirimkan Sri Mulyani kepada Presiden SBY. “Bukti ini menggugurkan klaim atau argumentasi yang menekankan Presiden tidak tahu tentang apa-apa tentang dana talangan untuk Bank Century,” kata Bambang awal pekan ini.

Jika merujuk surat Sri Mulyani yang ditujukan kepada Presiden SBY memang secara jelas, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani secara intensif melaporkan perkembangan terkini terkait penanganan Bank Century. Sebagaimana copi surat Sri Mulyani kepada Presiden SBY yang diterima INILAH.COM sedikitnya terdapat tiga surat.

Pertama surat tertanggal 25 November 2008 nomor s-01:KSSK.01/2008. Dalam surat yang tertulis sifatnya sangat rahasia/segera itu, Sri Mulyani dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melaporkan empat poin. Di samping itu, Sri Mulyani juga melampirkan notuken rapat KSSK tertanggal 21 November 2008.

Surat berikutnya yang dikirimkan Menkeu/Ketua KSSK Sri Mulyani kepada Presiden SBY tertanggal 4 Februari 2009 dengan nomor surat SR-02/KSSK.01/II/2009. Sama dengan surat pertama, surat ini sifatnya juga rahasia yang berisi laporan perkembangan penanganan PT Bank Century. Menariknya di poin pertama surat ini, Sri Mulyani mengawali dengan tulisan “Sebagaimana Bapak Presiden Maklum”.

Adapun di surat ketiga yang dikirimkan Sri Mulyani kepada Presiden SBY tertanggal 29 Agustus 2009 dengan nomor surat SR-37/MK.01/2009. Lagi-lagi surat ini sama dengan dua surat sebelumnya bersifat sangat rahasia/sangat segera, ihwal penanganan PT Bank Century. Sama dengan surat kedua, Sri Mulyani mengawali dalam suratnya dengan kata “Sebagaimana Bapak Presiden Maklum”.

Sumber INILAH.COM di parlemen mengungkapkan audit forensik yang bakal disampaikan BPK kepada DPR ternyata tidak memberi masukan berarti bagi penanganan kasus Century. Situasi ini akhirnya memaksa kelompok yang berkehendak mengungkap kasus Century mengambil jalan lain. “Hasil audit forensik sulit diharapkan. Mau tidak mau harus pakai cara lain,” ungkap sumber tersebut.

Akhir pekan lalu, tepatnya Jumat (11/11/2011), Tim Sembilan sebagai inisiator angket century DPR RI bertemu dengan mantan Menteri Hukum dan HAM yang juga guru besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia (UI) Yusril Ihza Mahendra. Dalam pertemuan tersebut disebut-sebut, Tim Sembilan meminta pertimbangan hukum terkait mencuatnya surat Sri Mulyani yang ditujukan kepada Presiden SBY yang berisi laporan berkala penanganan kasus Century.

Sebagaimana dimaklumi, saat merespons hasil Panita Angket Century pada 3 Maret 2010 lalu, Presiden SBY secara resmi menanggapi hasil akhir Panitia Angket Century. Dalam sambutannya, Presiden menyebutkan saat keputusan bailout Century dirinya tidak berada di Jakarta.

“Pada saat keputusan tentang penyelamatan Bank Century ditetapkan, saya sendiri pada waktu yang sama sedang menjalankan tugas kenegaraan di luar negeri yaitu menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Amerika Serikat, serta APEC Summit di Peru,” kata Presiden SBY, Kamis (4/3/2010). [mdr] nasional.inilah.com, Oleh: R Ferdian Andi R, Nasional – Kamis, 17 November 2011 | 08:14 WIB

(nahimunkar.com)