Soal kuburan, dua “pakar” dan petinggi PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) tampaknya berbicara dengan perkataan yang sulit dijangkau oleh Umat Islam.

Petinggi NU yang satu dikenal dengan nama:
H. Nusron Wahid, S.E., M.SE, dalam kepengurusan  PBNU 2015-2020

ia jadi ketua /bidang pengkaderan NU.

Soal kuburan, apa pendapat Nusron, silakan simak.

“Fatwa” Nusron: Pemakaman (KH Hasyim Muzadi) Tidak Sah

Berita Islam & Aliran Sesat – Nahimunkar.com Posted on 18 Maret 2017

Nusron pendukung dan teman setia dari (Ahok) terdakwa penista agama membuat pernyataan kontroversial.  Lama tidak muncul di televisi sekali muncul membuat pernyataan konyol dan aneh.

Apa pernyataan Nusron yang membuat namanya mencuat dan terkesan membuat fatwa sendiri..

Pada acara wawancara dengan stasiun Metro TV,  tagline Nusron yang mengomentari terkait doa di pemakaman (KH Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum NU) yang dipimpin oleh Habib Rizieq Syihab. Nusron : Pemakaman Tidak Sah

Selain itu pada berita online disebutkan bahwa Nusron Minta Pecat semua kader NU yang aminkan doa pimpinan Habib Rizieq Syihab.

Nusron pendukung terdakwa semakin mencitrakan dirinya sebagai orang ahli dalam agama,  sehingga memfatwakan pemakaman tersebut tidak sah.

Sumber : laskarsyahadat.blogspot.co.id

Petinggi NU yang satu lagi bernama:  Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A. Ketua Umum  PBNU 2015-2020.

Soal kuburan, ada juga perkataan dia yang kurang bisa dijangkau oleh umat Islam. Coba simak.

Said Aqil Siradj Bilang Malaikat Munkar Nakir Sampai Sekarang Belum Bisa Menanyai Gus Dur

Posted on 9 September 2015 by Nahimunkar.com

Said Aqil Siradj Bilang Malaikat Munkar Nakir Sampai Sekarang Belum Bisa Menanyai Gus Dur karena Gus Dur ga’ pernah sepi kuburannya, sampai sekarang Munkar Nakir masih ngantri nunggu kapan sepine aku tak (kapan sepinya aku akan …) sampai sekarang belum bisa.itu.

Perkataan Said Aqil Siradj ketua Umum NU itu mari kita bandingkan dengan hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits Imam Abu Daud:

حديث عثمان بن عفان رضي الله عنه قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ : ( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) رواه أبو داود (3221) ، وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص198 .

Hadits (dari) Utsman bin Affan Radhiallahu anhu, dia berkata, “Biasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika selesai menguburkan mayat, beliau berdiri dan mengatakan,

( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) (رواه أبو داود (3221) , وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص 19)

“Mohonkan ampunan untuk saudara kalian. Dan mintakan baginya keteguhan, karena dia sekarang ditanya.” (HR. Abu Daud, 3221 dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Ahkamu Al-janaiz, hal. 198)/ http://islamqa.info/id/174715

Bicara hal ghaib tapi tanpa dalil

Dua petinggi NU itu telah bicara masalah kuburan, bahkan hal ghaib yang dalam Islam tidak boleh bicara kecuali berlandaskan wahyu (Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Namun mereka berdua enak saja bicara semaunya. Padahal, yang tahu hal ghaib itu hanya Allah Ta’ala, sedang Nabi pun tidak tahu hal-hal ghaib kecuali yang diberitahukan kepadanya dengan wahyu.

Allah subhanahu wa ta’ala dustakan mereka dalam firman-Nya:

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad):Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak kemadharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan andaikata aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. [al-A’râf/7: 188]

{ قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ } [الأنعام: 50]

  1. Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)? [Al An’am50]

‘Aisyah, Ummul Mukminin Radhiyallahu anhuma berkata:

وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يُخْبِرُ بِمَا يَكُونُ فِى غَدٍ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللَّهِ الْفِرْيَةَ وَاللَّهُ يَقُولُ (قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ (.

Barang siapa yang mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari, maka sungguh dia telah berbuat dusta yang besar kepada Allah Azza wa Jalla (Karena) Allah Azza wa Jalla telah berfirman (yang artinya), ”Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah [ Shahîh Bukhâr (4/1840), Shahîh Muslim (1/110). Teks ini milik Muslim Aisarut Tafâsîr (2/271) ]. Teks yang dalam kurung, QS  an-Naml: 65
Sumber: https://almanhaj.or.id/

Dua petinggi NU (Nusron dan Said Aqil Siradj) itu berbicara tidak berlandaskan dalil (Al-Qur’an dan hadits) padahal mengenai hal ghaib. Sedangkan Nabi saja tidak mengetahui hal ghaib kecuali bila diberi wahyu, maka kini pertanyaannya: dua orang itu mendapatkan wahyu dari mana?

Wahyu dari Allah atau dari setan?

Mari kita perhatikan penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Surat Al-An’am 121 berikut ini:

تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 328)

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: {وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ} قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ عُمَرَ: أن المختار يزعم أنه يوحى إليه؟ قال: صَدَقَ، وَتَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ}

وَحَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا أَبُو حُذَيْفَةَ، حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي زُمَيْل قَالَ: كُنْتُ قَاعِدًا عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَحَجَّ المختار ابن أَبِي عُبَيْدٍ، فَجَاءَهُ  رَجُلٌ فَقَالَ: يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، وَزَعَمَ أَبُو إِسْحَاقَ أَنَّهُ أُوحِيَ  إِلَيْهِ اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: صَدَقَ، فَنَفَرْتُ وَقُلْتُ: يَقُولُ ابْنُ عَبَّاسٍ صَدَقَ. فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُمَا وَحْيَانِ، وَحْيُ اللَّهِ، وَوَحْيُ الشَّيْطَانِ، فَوَحْيُ اللَّهِ [عَزَّ وَجَلَّ] إِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَوَحْيُ الشَّيْطَانِ إِلَى أَوْلِيَائِهِ، ثُمَّ قَرَأَ: {وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ  لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ}

وَقَدْ تَقَدَّمَ عَنْ عِكْرِمَةَ فِي قَوْلِهِ: {يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا} نَحْوَ هَذَا.

Firman Allah Swt.: {وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ}Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian. (Al-An’am: 121) Ibnu Abu Hatim mengatakan. telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj. telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Abu Ishaq yang mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Umar, bahwa sesungguhnya Al-Mukhtar menduga dirinya mendapat wahyu. Maka Ibnu Umar berkata, “Dia benar.” Lalu Ibnu Umar membacakan firman-Nva: {وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْSesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya. {Al- An’am: 121)

Telah menceritakan pula kcpada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Huzaifah. telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, dari Abu Zumail yang mengatakan bahwa ketika ia sedang duduk di hadapan Ibnu Abbas — dan bertepatan saat itu Al-Mukhtar ibnu Abu Ubaid sedang mengerjakan hajinya— , lalu datanglah seorang lelaki kepada Ibnu Abbas dan bertanya. “Hai Ibnu Abbas, Abu Ishaq (Al-Mukhtar) menduga bahwa dirinya telah mendapat wahyu malam ini.” Maka Ibnu Abbas menjawab, “Benar.”

Maka aku (perawi) merasa antipati dan mengatakan, “Ibnu Abbas mengatakan bahwa Al-Mukhtar benar?!” Maka Ibnu Abbas berkata, “Keduanya memang dinamakan wahyu, yaitu wahyu Allah dan wahyu setan. Wahyu Allah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., sedangkan wahyu setan diturunkan kepada kawan-kawannya.”

Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman Allah Swt.:

{وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ}

Sesungguhnyasetan itu membisikkan kepada kawan-kawannya. (Al-An’am: 121)

Dalam keterangan sebelum ini disebutkan dari Ikrimah sehubungan

dengan makna firman-Nya:

{يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا}

sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).  (Al-An’am: 112)  (Tafsir Ibnu Katsir 3/328, Maktabah Syamilah).

Dari kenyataan itu, siapa yang lebih tinggi maqom bualnya? Nusron atau Said Aqil Siradj?

Wallahu a’lam.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)