Stigma Islam Teroris dalam Kasus Bom Cirebon

Telah menyinggung perasaan Umat Islam Indonesia

Pernyataan sikap Pelajar Islam Indonesia terkait bom Cirebon: semua pihak yang telah terlanjur berasumsi dan menyampaikan ke publik secara lansung atau tidak lansung bahwa pelaku bom di Cirebon adalah tindakan teroris bermotifkan ideologi atau agama Islam, harus mencabut kembali pernyataannya.

Pernyataan Menko Polhukam,Djoko Suyanto, GP Ansor,BIN, dan lainnya menunjukkan bahwa stigma terorisme di Indonesia memang selalu dilatari gerakan Islam. Statemen itu dimuat di detik.com (Djoko Suyanto dan GP Ansor), pada hari Jumat 15-4-2001,dan Republika 16-4-2011 (BIN) tetapi faktanya,dari penelusuran polisi,motif pelaku adalah dendam pribadi! Pernyataan yang tidak berdasar dan sangat kental akan stigmatisasi terhadap gerakan Islam yang demikian, telah menyinggung perasaan Umat Islam Indonesia.

Kami,Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia menyayangkan ketergesa-gesaan statemen dari berbagai pihak tersebut. Dan meminta pihak-pihak tersebut mencabut pernyataannya dan kedepan tidak lagi asal-asalan mengeluarkan pernyataan yang bersifat menuduh tanpa bukti.

Ttd

Muhammad Ridha
Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia

Sumber: http://dunia.pelajar-islam.or.id, April 19th, 2011

Motif dendan pribadi, beritanya sebagai berikut:

Pelaku Bom Bunuh Diri Diyakini Muchamad Syarif

Sunday, 17 April 2011

Kadiv Humas Irjen Pol Polri Anton Bachrul Alam menunjukkan wajah pelaku pemboman di masjid Mapolresta Cirebon, di RS Polri Soekamto, Jakarta, kemarin.

CIREBON – Siapa pelaku bom bunuh diri di Masjid Al-Dzikra di Kompleks Mapolresta Cirebon, hingga kemarin polisi belum memastikannya. Namun sejumlah pihak meyakini pelaku adalah Muchamad Syarif, 32,warga Astanagarib,Kelurahan Pekalipan,Kecamatan Pekalipan,Kota Cirebon.Polisi sendiri sudah mengambil sampel darah orang tua dan adik tersangka.

Keyakinan bahwa tersangka bom bunuh diri adalah Syarif disampaikan keluarga, tetangga, dan beberapa pihak yang mengenal. Salah satunya adalah Elang Rasid, paman Syarif, yang meyakini bahwa pelaku aksi bom bunuh diri adalah keponakannya setelah melihat foto yang dirilis Mabes Polri melalui televisi. ”Saya langsung menelepon istrinya di Majalengka dan dibenarkan oleh dia bahwa gambar itu adalah suaminya,” katanya. Berdasar informasi yang dia peroleh, Syarif diketahui sejak 2 April 2011 lalu berpamitan kepada istrinya untuk pulang ke rumah orang tuanya di Cirebon. Mabes Polri tidak mau berspekulasi siapa pelaku bom bunuh diri dan kelompok di belakang pelaku pengebom ini. Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri Irjen Pol Mathius Salempang berdalih,tidak ada identitas apa pun yang ditemukan di tubuh pelaku kecuali ciri-ciri fisik.

”Kami hanya menemukan secarik kertas yang diduga merupakan slip pembayaran makan,” kata Mathius di Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur kemarin.Menurut dia, polisi masih berupaya mengidentifikasi jenazah pelaku yang saat ini sudah berada di RS Polri Kramatjati. Namun Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Suparni Parto berani menyimpulkan 80% dugaan pelaku mengarah kepada Muchamad Syarif. ”Delapan puluh persen dari penyidikan yang kami lakukan, pelaku pengeboman di Masjid Al- Dzikra Polresta Cirebon mengarah ke MS (Muchamad Syarif),” katanya di hadapan wartawan di Mapolresta Cirebon kemarin sore.

Menurutnya, saat ini pihaknya tinggal menunggu hasil tes DNA beberapa keluarga Syarif yang saat ini sedang berada di Jakarta, yaitu ayah dan ibu kandung Syarif, Abdul Gofur,64,dan Sri Mulat, 56, serta adiknya, Achmad Fatoni,23. Untuk memastikan pelaku bom bunuh diri, kemarin Mabes Polri menampilkan foto tersangka. Adapun ciri-ciri dari pelaku tersebut adalah seorang laki-laki berusia antara 25 hingga 30 tahun, memiliki tinggi badan 180 cm, berat badan 70 kg,wajah Mongoloid , memiliki ukuran kaki 43, dan kulit kuning langsat. Selain ciri fisik tersebut, tersangka juga memiliki beberapa ciri khusus, yakni bekas luka di dahi kiri yang sudah sembuh, gigi depan atas ada yang patah, kuku kaki jempol kirinya bekas luka akibat jamur yang sudah sembuh, serta memiliki jenggot tipis.

”Polri menampilkan foto wajah berdasarkan kemampuan ilmu dan teknologi yang kita miliki,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Jakarta kemarin. Anton membenarkan pihaknya sudah mengambil sampel darah Ratu Srimulat dan Gofur (orang tua) serta Toni (adik) Muchamad Syarif. Sampel sudah dikirimkan ke laboratorium di RS Polri Jakarta pada Jumat (15/4) malam. ”Petugas tengah melakukan pemeriksaan dan pencocokan ketiga sampel tersebut dengan data-data medis jenazah pelaku,”jelas Anton. Sampel darah merupakan bagian dari pemeriksaan DNA untuk membuktikan identitas pelaku.

Jika pada bukti hasil pemeriksaan sampel darah tersebut cocok, polisi mempersilakan pihak keluarga untuk membawa jenazah pelaku dari Jakarta. Rencananya,Mabes Polri akan merilis hasil tes sampel darah hari ini,Minggu (17/4). Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Brigjen Pol Mussadeq Ishaq mengatakan, polisi telah melakukan autopsi dan pengumpulan data-data postmortem.Selainitu, pihaknya sudahmengumpulkan profil DNA tersangka. Polisi melakukan penelitian investigasi berbasis crime science, termasuk biomolekuler. ”Kami memiliki database DNA dan sidik jari keluarga tersangka terorisme. Kami juga akan menyelidiki ini,” ungkap Mussadeq di RS Polri, Kramat Jati,Jakarta Timur.

Seperti diketahui, pelaku bom bunuh diri meledakkan bom yang dibawanya di tengah kekhusyukan salat Jumat di Masjid Al-Dzikra, Kompleks Mapolresta Cirebon, sekitar pukul 11.20 WIB. Akibatnya, pelaku langsung tewas dan puluhan orang lainnya, sebagian besar personel polisi Mapolresta Cirebon,terluka. Di antara korban terluka adalah Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco,Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Kompol Suhadi, Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan AKP Singgih, Kepala Satuan Lalu Lintas AKP Kurnia,dan Kepala Unit Profesi dan Keamanan Ipda Budi.Adapun korban meninggal adalah pelaku ledakan.

Saat melakukan aksinya,pelaku menggunakan celana lapis lima,satu celana dalam,dua celana pendek, dan dua celana panjang.Lapis keempat celana tersebut diperban agar terlihat gemuk.AntonBachrul Alammemastikan, pelaku menggunakan jenis bom low explosiveyang dibawa dengan tas yang diikatkan ke dada dekat perut. Saat hendak meledakkan bom,pelaku memindahkannya ke kanan dan sedikit ke atas sehingga ledakan menghancurkan perutnya, sedangkan bagian lain utuh. Bagian wajah hanya luka lecet dan dapat dikenali. ”Polisi masih bekerja keras untuk mendalami,mempelajari, serta mengembangkan informasi yang ada saat ini.

Kami juga menunggu pihak keluarga yang diharapkan melapor atau pihak lain yang mengenali pelaku agar melapor ke pihak kepolisian untuk mengungkap identitas pelaku,”katanya. Hingga kemarin, total korban ledakan bom bunuh diri berjumlah 31 korban,6 di antaranya luka berat dan 24 lainnya luka ringan. Satu korban tewas adalah pelaku, 29 korban dari personel polisi dan PNS di lingkungan Mapolres Cirebon dan satulagiadalahKiai Abas.Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar mengungkapkan, delapan korban luka ringan sudah dapat pulang, yang lainnya menjalani rawat inap. ”Tidak ada korban luka berat yang sampai harus menjalani operasi,” jelasnya..

Sementara itu,sejumlah warga Cirebon di Gang Nyi Gede Rara Kuning,Kampung Atsana Garib,Kelurahan Pekalipan,KotaCirebon juga meyakini tersangka adalah Muchamad Syarif, anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Sri Mulat dan Gofur yang tinggal di gang itu. Kadasabda, 84, dan Ibu Jaenah, 60,tetangga dari Sri Mulat, membenarkan bahwa foto yang diperlihatkan Mabes Polri sebagai pelaku bom adalah tetangga mereka yang sudah sekitar satu tahun pindah ke Majalengka karena menikahi gadis di sana.”Saya yakin,ini Syarif karena dari mata, dahi, alis, dan janggutnya,” katanya kepada wartawan yang mulai memenuhi kampung itu,kemarin.

Orang tua Syarif sendiri sudah dijemput polisi. Sopandi, Ketua RT03/06 yang rumahnya berdampingan dengan rumah Sri Mulat,menuturkan Jumat malam (14/3), sekitar pukul 22.00 WIB, polisi menjemput Sri Mulat dan anak bungsunya, Muhamad Fatoni, untuk dibawa ke RS Bhayangkara, Kramat Jati,Jakarta Timur. Ketua ormas Islam Gerakan Anti-Pemurtadan dan Aliran Sesat (Gapas) Kota Cirebon Ustadz Andi Mulya berani memastikan pelaku pengeboman Masjid Al-Dzikra di Kompleks Polresta Cirebon,Jumat (14/3), adalah Syarif. Tapi Andi tidak berani menduga-duga apa motif Syarif melakukan bom bunuh diri tersebut.

Andi juga mengaku tidak tahu apakah Syarif tergabung dengan salah satu jaringan terorisme atau kelompok garis keras sehingga dia bisa membuat bom. Sepengetahuan dia, Syarif adalah seorang yang mempunyai kelainan jiwa dan tidak dapat mengendalikan emosinya karena tekanan di rumahnya. Sementara itu,berdasarkan informasi SMS yang diterima sejumlah wartawan di Cirebon dari seorang aparat yang tidak bersedia disebutkan namanya, berdasarkan wawancaranya dengan Prof Dr KH Salim Basyir yang juga anggota Forum Umat Islam (FUI) Cirebon, dia meyakini pelaku adalah Syarif. Dia menduga motif aksi bom bunuh diri Syarif dilatarbelakangi masalah dendam pribadi dengan instansi polisi yang tidak menanggapi pengaduan permasalahan orang tuanya pada 2010 lalu.

Selain itu,Syarif juga diduga merupakan pelaku pembunuhan Kopka Sutejo yang merupakan anggota Kodim 0620 berdasarkan identitas yang tercecer di lokasi kejadian yang memiliki kesamaan nama, foto, dan alamat dengan Syarif. Sejumlah informasi lain menyebut Syarif pernah belajar agama di Solo, Jawa Tengah.

Direktur Ponpes Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo Wahyudin, saat dikonfirmasi atas kemungkinan Syarif pernah menuntut ilmu di tempat tersebut, enggan berkomentar. _erika lia/mohamad taufik/inin nastain/krisiandi sacawisastra/isfari hikmat/ant

Sumber: seputar-indonesia.com, Sunday, 17 April 2011

Dugaan motif dendam pribadi tersebut diberitakan pula sebagai berikut:


Bom Cirebon

Petunjuk Mengarahkan Syarif Diduga Balas Dendam

Penulis : Anindityo Wicaksono

Senin, 18 April 2011 19:46 WIB

JAKARTA–MICOM: Berdasarkan petunjuk yang ada, Muhammad Syarif Astanagarif, 32, pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, diduga bermotifkan balas dendam atas proses hukum yang dilakukan aparat kepolisian atas kasus hukum yang menimpanya.

Setelah memastikan identitas pelaku, fokus penyelidikan Bareskrim dan Detasemen Khusus 88 kini pada jaringan dan motif aksi bom bunuh diri Mapolresta Cirebon.

Berdasarkan petunjuk yang ada, Muhammad Syarif Astanagarif, 32, pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, diduga bermotifkan balas dendam atas proses hukum yang dilakukan aparat kepolisian atas kasus hukum yang menimpanya.

Wakil Kepala Bareskrim Polri Irjen Pol Mathius Salempang mengatakan, petunjuk awal kelompok Syarif ada pada kasus perusakan dua minimarket di Kota Cirebon, yakni Alfamart Jalan Kesambi dan Jalan Ahmad Yani. Syarif adalah salah satu dari 5 tersangka yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam kasus itu. Total ada 11 tersangka dalam peristiwa itu, namun 6 lainnya sudah diproses hukum.

“Kasus ini sekarang ditangani Polresta Cirebon. Kalau hanya berangkat dari kasus itu, bisa kita katakan (aksi bom bunuh diri ini) karena terkait dengan proses hukum terhadap kasus yg dilakukan kelompok mereka. Tapi untuk mengungkap jaringan dan motif, teman-teman Detasemen 88 sekarang masih bekerja keras,” ujar Salempang di Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/4). (AW/OL-2)

Sumber: mediaindonesia.com, Senin, 18 April 2011 19:46 WIB

(nahimunkar.com)