Studi Islam Masa Kini: Mengurai Tantangan Orientalis

Laporan ISTAC Special Lecture
(Ditulis oleh Much Hasan Darojat, M.A.)

Assalamu’alaikum,

berikut ini laporan acara kuliah umum minggu lalu:

Rabu 12 Mei 2010, suasana kampus baru ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) yang biasanya sejuk dan sunyi berubah hangat dan riuh. Lebih dari seratus orang telah datang memenuhi ruang konferensi untuk menyimak kuliah umum yang disampaikan oleh peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) yang juga dosen IIUM (International Islamic University Malaysia), Dr Syamsuddin Arif. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa S2 dan S3 dari berbagai fakultas; studi Islam, hukum, pendidikan, ekonomi, dan sosial-politik. Sejumlah profesor, dosen senior, peneliti dan beberapa perwakilan lembaga swadaya masyarakat (NGO) pun tampak hadir.

Topik yang disoroti memang menarik: ”Islamic Studies Today: The
Challenge of Orientalists”
(Studi Islam Hari Ini: Tantangan dari
Orientalis).

Menurut moderator sekaligus pembawa acara saat itu, Syekh Usman
El-Muhammady, ini adalah kali kedua dalam seri kuliah bulanan bertema
”Islamic Thought after Post-Modernism”.

Acara dimulai sesuai jadwal tepat jam 10.00 pagi, sesuatu yang patut ditiru oleh penyelenggara kegiatan serupa. Moderator membukanya dengan pembacaan Ummul Kitab al-Fatihah dan pengenalan singkat latarbelakang pembicara yang sebenarnya sudah tidak asing lagi, khususnya bagi mahasiswa Indonesia di Malaysia.

Dr. Syamsuddin Arif memulai presentasinya dengan menguraikan
arti beberapa istilah penting beserta konteks sejarahnya. Istilah
‘Orientalis’ ditujukan kepada para Ilmuan Barat yang melakukan kajian
terhadap Islam. Namun, bidang kajian mereka tidak terbatas kepada agama
Islam saja, tetapi mencakup budaya, bahasa, dan sejarah. Mereka juga
memperluas kajiannya dalam peradaban-peradaban dunia yang lain seperti
India, China, Mesopotamia, dan Mesir. Kepentingan mereka dalam mengkaji
peradaban Timur juga dibarengi dengan semangat Enlightenment, yang terkenal
dengan istilah ”Ex Oriente Lux” (dari Timurlah munculnya cahaya).

Menurutnya, kecenderungan orang-orang Barat mempelajari Islam
muncul sejak zaman pertengahan pada saat terjadinya perang salib (1100-1500
M), yang dimulai dengan terjemahan buku-buku Islam ke dalam bahasa Latin.

Pada tahun 1143 M, al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robert
of Ketton yang diberi judul ’Lex Mahumet Psudoprophete.’
Proyek ini
diselesaikan di Spanyol atas bantuan dari Peter the Venerable, seorang
Kepala Biara Cluny di Prancis. Demikian pula dengan karya-karya intelektual
Muslim seperti al-Shifa, Qanun fi al-Tibb, al-Tasrif, dan al Zij. Dari
adanya gerakan terjemahan ini, pada abad ke-16 banyak universitas di Eropa
mulai mengajarkan bahasa Arab dan bahasa orang-orang Islam yang lain
seperti; Persia dan Turki. Di Paris materi ini dibuka pada tahun 1635,
Oxford dan Cambridge pada tahun 1636, diikuti Leiden, sesudah Salamanca,
Roma, dan Bologna.

Pada awalnya, ujar Dr Syamsuddin, orang-orang Barat belajar
Islam dalam rangka kebangkitan kembali yang kemudian mereka sebut
Renaissance. Namun, tujuan mereka tidak sekedar untuk itu, mereka juga
mengekpresikan kejahatan agama Islam kepada publik yang mereka salahpahami dari ajaran-ajarannya.

Semangat mempelajari agama Islam nampak juga pada hubungannya
dengan kolonialisasi. Hal ini bisa dilihat pada saat Napoleon Bonaparte
datang ke Mesir (1789 M) membawa pasukan dan para ilmuan yang ditugasi untuk mempelajari bahasa, agama, dan budaya orang-orang Mesir. Hubungan ini makin rapat pada saat penjajahan Belanda di Indonesia yang menjadikan studi Islam sebagai alat untuk mempelajari daerah Aceh yang dilakukan oleh Snouck Horgronje.

Pada abad ke-19 beberapa orientalis mulai melihat pentingnya
metodologi yang telah diterapkan pada kitab Bibel untuk diaplikasikan dalam
studi Islam khususnya metode kritik sejarah. Penggunaan metode ini mengikuti
objek kajiannya seperti: kritik sumber (source criticism), kritik literatur
(form/literary criticism), dan kritik teks (textual criticism). Landasan
dasar dari metode kritik sejarah ini adalah asumsi bahwa seluruh peristiwa
harus dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya, atau yang bersamaan
dengannya. Dengan begitu, anggapan ini menggiring untuk menolak adanya
orisinalitas absolut dari segala peristiwa. Demikian tutur Dr Syamsuddin.
Nah dari sinilah, lanjutnya, muncul pelbagai teori yang kerap
dipakai Orientalis, semisal teori pengaruh (theories of influece), teori
asal-asul (theories of origins), teori peminjaman (theories of borrowing),
teori evolusi (theories of evolution), dan teori perkembangan (theories of
development). Teori-teori ini diterapkan oleh Orientalis sebagaimana tampak
dalam karya-karya mereka; A Literary History of the Arabs (Reynold
Nicholson), Judaism in Islam (Abraham I. Katsh), Quranic Studies (John
Wansbrough), the Qur’an as Text (Stefan Wild) dan sebagainya. Bahkan metode
mereka telah mempengaruhi para intelektual Muslim Indonesia yang muncul
dalam karya mereka diantaranya Edisi Kritis al-Qur’an.

Dr. Syamsuddin menerangkan perbedaan Studi Islam yang dilakukan
Orientalis dan Muslim dapat dilihat dari cara mereka berasumsi. Para
Orientalis beranggapan bahwa agama Islam adalah objek penelitian yang tidak
ada hubungan dengan kebenaran yang ada dalam agama Islam. Mereka melakukan sekedar untuk tujuan penelitian, tanpa mempertimbangkan orang-orang Islam yang memeluknya dan kebenaran yang telah mereka yakini dari agama ini.

Selain itu, mereka juga melihat agama Islam sebagai fenomena sosial atau
literatur yang layak dikaji melalui pendekatan budaya, sosiologi,
antropologi, sejarah, politik dan perbandingan agama. Dengan begitu, mereka
membagi Islam dalam dua kategori; Islam normatif (yakni segala norma dan
aturan keagamaan yang ditentukan oleh Allah swt), dan Islam aktual (ajaran
yang dilakukan oleh orang-orang Islam di berbagai tempat). Akibatnya muncul
kategori-kategori aneh semacam Islam klasik, Islam Fundamental, Islam
Pertengahan, Islam Moderat, Islam Radikal, dan Islam liberal. Semua ini
adalah pembagian yang tidak tepat.

Di akhir presentasi, Dr. Syamsuddin menawarkan solusi masalah
Studi Islam saat ini yaitu dengan cara memulai belajar terlebih dahulu
tradisi keilmuan Islam. Apabila ini sudah dikuasai baru bisa dilanjutkan
dengan membaca karya-karya Orientalis. Kedua, agar banyak mendatangi
perpustakaan, untuk terus membaca dalam rangka menghidupkan tradisi ilmu,
sebagaimana yang telah dilakukan para ulama kita dahulu.
Disamping itu, juga
belajar bahasa dan sejarah.
Beliau mengingatkan para hadirin agar tidak
terlena dengan kebiasaan ”face-booking” yang tidak mencerminkan budaya ilmu.
Tetapi sebaliknya, kita harus selalu ”book-facing” agar dapat menjawab
tantangan ilmiah yang datang dari Orientalis. Waallahu’alam. (Much Hasan
Darojat/Insists Malaysia).

Sumber: [email protected] Senin, 14 Juni, 2010 04:45