Suara-suara Lantang Soroti Kasus Bank Century dan Suap PT Masaro

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ “4019 (ابن ماجة ) مسند الصحابة في الكتب التسعة – (ج 17 / ص 194)

“…dan selagi pemimpin-pemimpin (pemerintahan, bangsa, masyarakat) mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih-milih dari apa yang diturunkan Allah (maka tiada lain) kecuali Allah menjadikan keganasan satu sama lain di antara mereka. (HR Ibnu Majah no 4019, hasan menurut Al-Albani dalam As-Silisilah As-Shohihah 106/ 4009).

Satu sama lain berbuat pelanggaran bahkan bersekongkol dalam membunuh dan kejahatan lainnya. Ketika ada yang terpegang dan yang lainnya lari, maka kadang yang terpegang itu nyokot (menggigit) temannya, bahkan kadang yang dicokot itu orang besar.

Kasus pembunuhan Nasrudin kemudian salah satu terdakwanya nyokot Kapolri adalah peristiwa yang berlangsung nyata di pengadilan. (nahimunkar.com, Terdakwa Pembunuhan Nasrudin Bersaksi, Timnya Dibentuk Kapolri, 10:35 pm ).

Kadang dalam beraksi jahat, penjahat pun nyokot (menggigit) petinggi sebagai kudung (kalau tidak benar namanya mencatut, sedang kalau benar namanya kongkalikong dengan penggede). Contohnya terungkap dalam transkrip rekaman yang diputar di KPK:

KOMPAS.com/ GLORI K WADRIANTO

Inilah lembaran transkrip rekaman percakapan telepon Anggodo Widjojo dengan sejumlah orang, yang beredar di kalangan wartawan beberapa hari sebelum pemutaran rekaman di Gedung Mahkamah Konstitusi.

Suara-suara lantang pun menyoroti kasus-kasus, dalam hal kasus Bank Century dan suap PT Masaro mencuatlah sorotan lantang:

Pakar hukum pidana, Prof Dr Muladi SH, menyarankan polisi untuk segera menangkap empat pelaku sindikasi suap PT Masaro ; Anggodo Widjojo, Ary Muladi, Yuliana Ong dan Yulianto.

Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Tamagola menyatakan jika presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan kasus Bank Century dan Masaro, maka kedua kasus tersebut akan terus bergulir menjadi Masaro Century Gate, yang bisa menumbangkan SBY dari pangku kekuasaannya secara tragis.

Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Senin ( 9/11 ), mendatangi Kantor KPK. Mereka menyatakan aspirasinya dan mendesak kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera menunjukkan tindakan nyata mengusut kasus Century dan Masaro

Inilah berita-beritanya:

Prof Muladi: Tangkap Anggodo dkk

By Republika Newsroom

Senin, 09 November 2009 pukul 13:45:00

JAKARTA–Pakar hukum pidana, Prof Dr Muladi SH, menyarankan polisi untuk segera menangkap empat pelaku sindikasi suap ; Anggodo Widjojo, Ary Muladi, Yuliana Ong dan Yulianto.

”Kalau polisi tidak segera menangkap empat orang itu, masalahnya semakin runyam. Kasihan polisi,” tutur Muladi disela-sela peringatan HUT ke-10 The Habibie Center, Senin (9/11).

Mahaguru hukum pidana Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, mendesak polisi segera menangkap ke empat orang tersebut. Kemudian ditetapkan sebagai tersangka. ”Dan, ke empat orang tersebut harus segera dikasih pelajaran,” pintanya.

Dengan ditangkapnya ke empat pelaku suap tersebut, menurut Prof Muladi, akan menjadi pelajaran berharga bagi publik. Terutama bagi pelaku atau oknum yang suka mempermainkan hukum. Dan, ini sekaligus jadi proses pembelajaran upaya penegakkan hukum di Indonesia.

Sebenarnya, persoalan kasus suap ini sudah jelas. Pemberi uang dari Anggodo Widjojo. Kemudian diberikan kepada Ary Muladi. Pengakuan Ary Muladi uang Rp 5,1 milyar diserahkan kepada Yulianto. Pengakuan Yulianto kepada Ary Muladi uang tersebu dibagi-bagikan ke empat pejabat teras KPK. Disana ada ada tokoh perempuan yang ikut berperan, Yuliani Ong.

Menurut Prof Muladi, masalahnya sudah jelas alur penyerahan dan pembagian uang tersebut. Polisi harus secepatnya menangkap ke empat orang tersebut, dan dijadikan tersangka.

Dimata Prof Muladi, tokoh Ary Muladi, merupakan sosok pelaku mafia hukum. Dia pelaku lama. Dia termasuk personal yang piawi, temperamental tenang, dan cukup berpengalaman. ”Dia, harus dikasih pelajaran. Biar semua orang tahu praktik mafia diberi pelajaran juga”.

Prof Muladi menyatakan, penyuapan merupakan tindak perbuatan pidana. Pelaku — penyuap, yang disuap dan perantara suap — merupakan sindikasi perbuatan pidana. Semua harus ditindak. Tapi, sampai saat sekarang belum ada tindakan apa-apoa dari polisi.

Penyidik sekarang, baru memproses kasus penyalahgunaan wewenangan poencekalan yang dilakukan pimpinan KPK terhadap pengusaha Anggoro Widjojo– kakak kandung Anggodo Widjojo. Tindak pencekalan tidak dilakukan melalui putusan kolektif pimpinan KPK. Dan, lainnya, kasus pemerasan dan suap yangt dilakukan Anggodo Widjojo dkk kepada pimpinan KPK.

Namun, polisi tidak memproses kasus penyuapan itu sendiri. Artinya, pelaku suap yang dilakukan Anggodo Widjojo dkk belum tersentuh hukum.

Untuk menunggu proses tersebut, kalau penyidik menyerahkan BAP (Berkas Acara Pemeriksaan) masih berstatus P 19, mestinya polisi harus segera mengeluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan). Tapi, kalau sudah berstatus P-21 harus diteruskan. Semuanya dibuktikan di pengadilan.

Namun demikian, Prof Muladi, menyarankan Kejaksaan untuk melakukan evaluasi hasil BAP polisi. Kalau memang dirasa masih berstatus P19 lebih baik kasus tersebut segera dihentikan. eds/ahi

http://www.republika.co.id/berita/88039/Prof_Muladi_Tangkap_Anggodo_dkk

SBY Tumbang dengan Tragis, Jika kasus Masaro Century Gate Bergulir

*SBY Harus Copot Kapolri dan Jaksa Agung

Minggu, 8 November 2009 | 00:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Tamagola menyatakan jika presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan kasus Bank Century dan Masaro, maka kedua kasus tersebut akan terus bergulir menjadi Masaro Century Gate, yang bisa menumbangkan SBY dari pangku kekuasaannya secara tragis.

“Kalau ini tidak ditangani secara sangat cekatan dan bijak oleh SBY, ini bisa menjadi sesuatu yang saya sebut sebagai Masaro Century Gate,” kata Thamrin Tamagola, Jakarta, Sabtu (7/11).

Gate menurut Thamrin memiliki tujuh ciri, yakni melibatkan petinggi negara yaitu presiden, melibatkan orang dalam istana, dan selalu terbongkar dari peristiwa yang sepele.

“Misalnya polisi menangkap orang yamg masuk ke dalam gedung Water Gate di Amerika. Kalau di sini kan tukang pijatnya Gus Dur jadi Bulog Gate, kalau kemarin tuh Rani, itu kan peristiwa-peristiwa sepele,” paparnya.

Ciri lain gate, yakni saat kasus tersebut terbongkar, maka semua yang terlibat di dalamnya akan tergopoh-gopoh melakukan komunikasi intensif untuk membangun suatu rekayasa. Rekayasa tersebut sewaktu-waktu berubah karena panik.

Selain itu, gate memiliki ciri adanya rekaman yang membuktikan kasus tersebut, di mana tidak ada keraguan di dalamnya.

Gate selalu disandingkan dengan pers mempunyai peranan yang sangat penting di dalam dinamika kasus tersebut. “Baik yang terjadi saat water gate maupun Bulog gate, maupun yang sekarang kalau jadi bergulir. Jadi, pers sangat penting peranannya, karena itu ada di ranah publik, opini publik,” jelasnya.

Terakhir, jika gate tersebut terus bergulir tanpa ada penyelesaian, maka presiden yang bersangkutan bisa tumbang secara tragis. “Amit amit cabang bayi, jangan sampai terjadi adalah presiden yang bersangkutan harus turun secara tragis. Richard Nixon turun dengan segala kemaluannya, waktu dia turun pesawat dia tertunduk. Lihat Abdurrahman Wahid, walaupun dia menggagah-gagahkan diri, tapi tetap saja dia malu. Amit-amit jangan sampai terjadi sama SBY,” tuturnya.

Kasus PT Masaro sendiri merupakah rangkaian kasus panjang yang melibatkan buronan Anggoro Widjojo dan berujung pada penahanan dua pimpinan non aktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah. Penahanan terhadap Bibit dan Chandra memancing kemarahan publik, karena dianggap alasan penahanan tidak jelas.

Bahkan, kasus tersebut makin melebar saat terkuak dugaan rekayasa terhadap kasus mereka, seperti rekaman yang diperdengarkan di Mahkamah Konsitusi (MK). Dalam rekaman itu diketahui adik Anggoro, Anggodo menjadi tokoh sentral yang diduga melakukan rekayasa dengan melibatkan petinggi Polri, Kejaksaan Agung, KPK, LPSK, sejumlah orang, bahkan nama RI-1 ikut disebut. Akibatnya, masyarakat merasa cemas akan penegakkan hukum di Indonesia.

Meski demikian, Thamrin tidak yakin jika SBY terlibat kasus Bank Century dan ikut merekayasa kasus Bibit dan Chandra. “Saya enggak yakin dia (SBY) merekayasa. kalau dia melakukan kecerobohan, iya,” kata Thamrin.

Terkait kasus Bank Century, seharusnya Wapres Boediono yang saat itu menjabat Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, diperiksa soal alasan mengucurkan dana “bailt out” Rp 6,7 triliun yang melebihi usulan DPR yakni hanya Rp 1,2 triliun. Apalagi undang-undang untuk pengambil alihan Bank Century oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah salah. “Jadi, Boediono dan Sri Mulyani yang harus dikejar kalau kasus Century terbongkar. Mau tidak mau, suka tidak suka Century akan dibongkar,” cetusnya.

Harus Copot Kapolri dan Jaksa Agung

Thamrin mengusulkan SBY merombak sistem dan pergantian jabatan di tubuh Polri, Kejaksaan Agung, dan DPR sebagai proses jangka panjang untuk mengembalikan kepercayaan publik soal penegakkan hukum. “Lembaga warisan orde baru itu, harus turun mesin. Pergantian sistem dan orang-orangnya yang ada di situ,” ujarnya.

Namun, untuk langkah awal, seharusnya SBY mengganti Kepala Polri Bambang Hendarso Danuri dan Jaksa Agung Hendarman Supandji. ” Untuk mengembalikan kepercayaan publik, tindakan yang paling bagus kalau dia (SBY) mengganti dua pimpinan ini, Polri dan Kejaksaan Agung. SBY harus ganti,” kata Thamrin.

SBY juga harus berhati-hati memilih pengganti dua pucuk pimpinan lembaga penegak hukum itu. Penggantinya harus punya rekam jejak yang bersih dari korupsi, kredibel, dan profesional.

Yang penting, lanjut Thamrin, biarkan kasus Bibit dan Chandra bergulir di pengadilan. Jika Kapolri dan Kejaksaan Agung yakin punya bukti yang kuat, maka bisa dilihat kebenarannya di pengadilan. (Persda Network/CR2)

Editor: acandra

Sumber : Persda Network

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/11/08/00065550/sby.tumbang.dengan.tragis.jika.kasus.masaro.century.gate.bergulir

BEM Desak SBY Bongkar Kasus Century dan Masaro

Senin, 9 November 2009 | 13:21 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com – Puluhan mahasiswa yang mewakili sekitar 120 lebih Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Senin ( 9/11 ), mendatangi Kantor KPK. Mereka menyatakan aspirasinya dan mendesak kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera menunjukkan tindakan nyata mengusut kasus Century dan Masaro sebagai bentuk komitmen program 100 hari.

Aksi mereka ini diwarnai dengan adegan teatrikal serta menyanyikan seruan-seruan mendesak agar KPK lebih serius menangani kasus Century. Terlihat juga mereka membawa roti buaya dan boneka pocong sebagai matinya penegakkan hukum di Indonesia.

Gempar Dwi Pambudi, salah satu koordinator aksi mengatakan, mahasiswa-mahasiswa se-Indonesia telah menyatukan tekad untuk menuntut pemerintah membersihkan mafia-mafia peradilan dan makelar kasus di berbagai lembaga-lembaga penegak hukum. “Presiden harus segera mengambil langkah membongkar kasus Century dan Masaro. Polri dan Kejaksaan juga harus segera bersih dari mafia dan makelar kasus,” kata Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) ini dalam orasinya.

Lebih lanjut mereka juga menilai tindakan pengunduran diri Wakil Jaksa Agung AH Ritonga dan Kabareskrim Susno Duadji masih belum dilakukan secara konkrit. “Susno dan Ritonga harus betul-betul diberhentikan secara tetap. Semua pihak yang terlibat dalam rekaman skenario rekayasa juga harus diusut tuntas,” tegasnya.

Aksi ini masih terus berlanjut di depan Gedung KPK. Namun, belum ada perwakilan KPK yang menemui mereka dan menerima aspirasi yang disampaikan.

C11-09

Editor: Edj

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/11/09/13210375/bem.desak.sby.bongkar.kasus.century.dan.masaro

(Redaksi nahimunkar.com)