Menjadi seorang kepala daerah tingkat I propinsi, tentu harus mahir menjalankan roda politik pemerintahan. Bukan pula sekadar itu, seorang gubernur, tentu harus punya ilmu agama dalam melayani dan membuat masyarakat hidup harmonis.

Bahkan sebagai seorang penghapal Al-qur’an, tanggung jawab untuk mengamalkan Al Qur’an yang telah dihapal di luar kepala, juga menjadi semakin besar. Termasuk melayani masyarakat yang dipimpinnya, supaya lebih aman dan sejahtera.

Fakta menunjukkan, di Indonesia seorang gubernur tidak selalu harus dijabat seseorang dengan latar belakang pendidikan politik atau ilmu pemerintahan. Setidaknya ada 4 gubernur di Indonesia, yang juga diketahui sebagai hafidz atau penghafal Al Qur’an. Hal ini menunjukkan, seorang hafidz juga bisa memiliki kemampuan di bidang pemerintahan umum.

1. Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan

Pak Gubernur ini biasa disapa Aher. Beliau telah menjabat gubernur Jawa Barat selama dua periode, hingga tahun 2018. Karir lelaki 50 tahun ini di politik, dimulai dengan bergabung ke Partai Keadilan Sejahtera, sejak awal partai ini didirikan. Kelahiran Sukabumi, Jawa Barat ini, telah meraih lebih dari 132 penghargaan untuk provinsi yang dipimpinnya.

Puncak karier politik yang diraih Aher, tidak jatuh dari langit. Masa kecilnya bahkan bisa dibilang sulit. Aher harus menjalani pendidikan SD hingga SMA di Sukabumi, sambil berjualan gorengan. Kemudian dia berkuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) dengan beasiswa penuh dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Sebagai hafidz Al Qur’an, Aher juga mewajibkan 6 orang anak-anaknya untuk menghafal Al Qur’an.

2. Gubernur Sumatera Barat, Prof. Irwan Prayitno

Irwan Prayitno menjabat gubernur Sumatera Barat untuk periode kedua, hingga tahun 2020. Meski lahir di Yogyakarta, Irwan mewarisi darah Minang dari kedua orang tuanya. Kiprahnya di politik dimulai dengan bergabung ke Partai Keadilan Sejahtera, sejak partai ini didirikan tahun 1998. Irwan lahir dari

keluarga akademis, karena kedua orang tuanya adalah dosen.

Sejak mahasiswa di fakultas psikologi Universitas Indonesia, pehobi motocross ini aktif di berbagai organisasi seperti HMI dan kegiatan tarbiyah. Sebagai gubernur yang juga hafidz Al Qur’an, ayah dari 10 anak ini juga produktif menulis. Belasan buku karyanya telah ditulis dan diterbitkan. Sadar punya keluarga yang besar, Irwan tak sungkan ikut membantu istrinya mengurusi anak-anak dan rumah tangga.

3. Gubernur NTB, M. Zainul Majdi

Muhammad Zainul Majid yang biasa disapa Tuan Guru Bajang, menjabat gubernur Nusa Tenggara Barat untuk periode kedua. Pada tahun 2008 silam, ia mendapatkan penghargaan sebagai gubernur termuda (36 tahun) dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Selain aktif dalam berorganisasi, cucu pendiri Nahdlatul Wathan ini, tumbuh dalam suasana pendidikan pesantren.

Lulus SD, ia kemudian melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Nahdatul Wathon dan Madrasah Aliyah Mu’allimin pancor di NTB. Muhammad Zainul Majdi lalu melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo, dan mengambil Jurusan Tafsir dan ilmu-ilmu Alquran Fakultas Usluhuddin.  Selain itu ia juga meraih gelar doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Ia berhasil melalui ujian di Universitas Al Azhar dalam bidang tahfiz Alquran sebanyak 12 juz.

4. Gubernur Maluku Utara, Abdul Ghani Kasuba 

Abdul Ghani Kasuba menjabat gubernur Maluku Utara hingga tahun 2019. Sebelumnya, ia menjabat sebagai wakil gubernur periode 2008-2013. Ghani menduduki posisi orang nomor 1 di Maluku Utara, disokong oleh PKS dan sejumlah partai lain. Sebelumnya, kelahiran Halmahera Selatan 64 tahun silam ini memang dikenal sebagai tokoh organisasi Islam Al Khairat.

Ghani menjalani pendidikan SD hingga SMA di Palu, Sulawesi Tengah. Lalu melanjutkan kuliah di Universitas Islam Madinah. Kemudian Ghani menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia di Maluku Utara. Kiprah politiknya diawali dengan menjadi anggota DPR pada tahun 2004.

Sumber: Arah.com/syurgawi.com

(nahimunkar.com)