Sudah Siap Mati kah Kita

Oleh Syarif Baraja

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآَنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا [النساء/18]

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS An-Nisaa’: 18).

Nashr Hamid Abu Zaid, sebagaimana Nurcholis Madjid, masuk ke liang kubur sendirian.

Di akherat,  kepandaian dan ilmu logika tidak berguna. Di akherat, lidah tidak bisa lagi bersilat. Semua akan nampak jelas. Di sana nanti, text-text Al-Qur’an dan hadits Nabi itu akan terbukti benarnya.

***

Banyak itu biasanya identik dengan baik. Banyak uang, banyak koneksi, banyak pengetahuan, itu semua baik. Tetapi yang benar, tidak setiap banyak itu baik. Banyak dosa juga tidak baik. Begitu juga dengan banyak kasus dan banyak masalah, juga tidak baik. Jadi, kita mesti memperbanyak hal yang baik-baik. Bukan memperbanyak yang buruk-buruk.

Salah satu yang mesti kita perbanyak adalah ingat mati. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “perbanyaklah kalian mengingat pemusnah kenikmatan.” Benar, mati adalah pemusnah segala kelezatan. Segala kelezatan yang ada di tengah kita, seluruh kenikmatan yang tengah dan pernah kita nikmati, semua akan musnah dengan mati. Semua akan sirna saat kita mati.

Orang yang mati tidak lagi bisa merasakan lezatnya makan. Orang mati tidak bisa lagi merasakan indahnya dunia. Karena segala kenikmatan dan kelezatan telah ia tinggalkan. Dia telah meninggalkan dunia dengan segala yang ada. Maka lafal “meninggal dunia” digunakan untuk menghaluskan kata mati.

Mengapa kita harus banyak mengingat mati?

Mengapa mati, yang tidak kita senangi, harus banyak-banyak kita ingati? Kita biasa mendengar kata mati. Kita biasa melayat kerabat yang mati. Tapi untuk mengingat mati, itu yang kita takuti.

Apakah kita takut mengingat mati, karena kita masih kerasan hidup di dunia ini?

Apakah kita takut mengingat mati, dengan harapan agar kematian bisa kita hindari?

Kita ingat ataupun tidak, kita senang atau benci, kita akan tetap dijemput mati. Itu pasti, karena mati adalah keniscayaan bagi kita yang hidup. Mati adalah akhir bagi semua yang hidup. Mati pasti menghampiri setiap yang hidup. Kita juga hidup, pasti kita nanti dijemput oleh mati. Malaikat maut pasti datang menjemput ruh kita.

Manusia bekerja dan hidup untuk mencari kemajuan, menggapai cita dan asa. Bekerja demi masa depan yang layak, belajar demi taraf hidup yang tinggi. Buku-buku self development memuat pembahasan goal setting, menyuruh kita untuk menetapkan goal setinggi mungkin. Lupakan kenyataan saat membuat goal. Apa yang kita tuliskan dalam kolom goal kita? Kekayaan, kedudukan, materi,… yang semua itu tidak pasti kita dapatkan. Kita hanya bisa merencana dalam sesi goal setting. Kita hanya menuliskan cita kita.  Tapi ingatlah saudara, yang kita tulis dalam goal setting bukan takdir yang harus terjadi. Yang kita tulis hanyalah keinginan kita.

Goal pun kita kejar, kertas goal setting kita tempel di ruang kerja kita, kita tempel di rumah kita, untuk mengingatkan kita bahwa kita punya goal yang ingin kita kejar. Agar hidup kita terarah dalam rangka mengejar goal kita, dalam rangka berlari mengejar impian kita. Mengejar mobil impian kita, mengejar rumah idaman kita, mengejar income yang kita inginkan, mengejar seluruh impian. Dalam rangka mewujudkan passive income saat usia senja. Semua itu kita kejar. Tapi, apakah semua yang kita inginkan pasti tercapai?

Apakah goal setting yang kita tuliskan adalah takdir yang harus terjadi?

Ingat, goal setting kita bukanlah takdir yang harus terjadi. Jadi, ingat saudaraku, apa yang kita inginkan tidak selalu terjadi, semua itu tidak pasti. Tapi ada satu yang pasti terjadi, yaitu mati.

Ketika kita mati

Ketika kita mati, apa yang kita punya akan kita tinggalkan. Kematian memisahkan kita dengan seluruh isi dunia. Kita akan meninggalkan teman-teman kita. Kita akan meninggalkan keluarga kita. Kita akan meninggalkan harta kita. Kita meninggalkan semuanya. Kita meninggalkan dunia seisinya. Kita meninggal dunia.

Orang yang meninggalkan sebuah tempat, dia pasti menuju ke tempat lain. Orang meninggalkan Jakarta menuju Karawang. Meninggalkan rumah menuju kantor. Meninggalkan kamar menuju ke ruang tamu. Ke mana perginya orang meninggal dunia?

Kita tidak tahu apa-apa. Kita tidak tahu ke mana mereka pergi. Belum pernah ada expedisi ke alam mati. Wartawan hanya bisa pergi ke negeri-negeri yang ada di dunia. Belum pernah adar wartawan yang mencoba meliput alam setelah kematian. Tidak ada wartawan yang berani ikut dikubur bersama jenazah. Atau barangkali saya salah, yang benar adalah belum ada. Sampai saat ini belum ada.

Tidak ada informasi mengenai alam setelah mati. Yang ada adalah text-text dari kitab Al Qur’an. Ditambah dengan text-text hadits Nabi.

Text-text itu memberitahu kita tentang apa yang terjadi di alam sana. Memberitahu kita apa yang akan dialami oleh manusia setelah meninggalkan dunia. Memberitahu kita tentang segala kejadian alam akherat. Text-text itulah yang memberitahu kita adanya kehidupan abadi di akherat, di sorga maupun di neraka.

Tergantung bagaimana kita memahami text itu. Jika kita memahami text itu dengan bahasa text itu sendiri, kita akan percaya bahwa nanti akan ada yang namanya sorga dan neraka. Kita akan beriman pada hari akhir, dengan segala kejadian-kejadian yang menimpa manusia di sana.

Akibatnya, kita akan bersiap-siap untuk menghadapi akherat.

Jika kita memahami text itu dengan pemahaman yang berbeda, akibat yang timbul akan jauh berbeda. Tidak ada lagi semangat beramal untuk akherat, toh text-text itu adalah ditulis di masa lampau, ratusan tahun yang lalu. Begitu juga text-text itu masih perlu proses verifikasi lanjutan yang mendalam, bagaimana text-text itu sampai pada kita. Akhirnya sikap kita pada text-text akherat sama dengan sikap kita pada text koran.

Rupanya inilah penyebabnya mengapa pembahasan mengenai akherat makin jarang dibicarakan.

Akibatnya, tidak ada lagi persiapan untuk akherat. Tidak ada lagi rasa takut pada akherat. Semua itu adalah text. Kata mereka, kita jangan mau dikungkung oleh text. Kita jangan mau dipenjara oleh text. Kita tidak mau diperbudak oleh text.

Hidup pun jadi penuh warna, warna kilatan lampu diskotik, warna remang-remang cahaya café. Bermacam-macam warna ruangan seminar. Penuh warna.

Hingga saatnya mati datang untuk mengakhiri warna-warna itu. Ternyata apa yang ada dalam text-text akherat adalah benar adanya.

Nashr Hamid Abu Zaid, sebagaimana Nurcholis Madjid, masuk ke liang kubur sendirian. Nashr Hamid Abu Zaid, juga Nurcholis Madjid, meninggalkan dunia dengan segala seisinya. Seluruh teman, staf yayasan dan funding foundation meninggalkannya sendirian di liang kubur. Seluruh kolega meninggalkannya sendirian. Meninggalkannya sendirian untuk menghadapi alam akherat. Meninggalkannya sendirian untuk menghadapi malaikat. Meninggalkannya sendirian menghadapi persidangan di depan Sang Maha Adil.

Bukan cuma Nashr Hamid Abu Zaid dan Nurkholis Madjid yang akan menghadapi sidang akherat.

Di akherat,  kepandaian dan ilmu logika tidak berguna. Di akherat, lidah tidak bisa lagi bersilat. Semua akan nampak jelas. Di sana nanti, text-text itu akan terbukti benarnya.

Solo, Sya’ban 1431H.

(nahimunkar.com)