Survey PPIM UIN Khas Sepilis Menggembosi Islam

 

MENJELANG akhir November 2008 lalu, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, merilis hasil survey tentang “Sikap Sosial-Keagamaan Masyarakat di Jawa” yang dilaksanakan sejak bulan Mei hingga Agustus 2008. (http://www.ppim.or.id/agenda/index.php?id=20080627001641)

Sayang sekali, sampai tulisan ini dibuat, hasil lengkap survey tersebut belum bisa diakses melalui situs resmi mereka. Namun demikian, bisa ditemukan serpihan hasil survey itu pada situs detikcom dan The Jakarta Post, dalam bentuk berita.

Sudah bisa diduga, survey tersebut merupakan rangkaian upaya kaum sepilis meliberalkan masyarakat Islam Indonesia, sebagaimana tercermin melalui hasil survey yang dipublikasikan media massa secara tidak lengkap.

Survey dilakukan terhadap 500 guru agama di sekolah umum (bukan sekolah agama) setingkat SMA/SMK di kota-kota besar dan menengah di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Malang, Solo dan Cirebon. Selain itu juga dilakukan wawancara terhadap sejumlah 200 siswa dari 50 kota dan kabupaten. Dari 500 responden, sekitar 44,9% di antaranya mengaku sebagai anggota Nahdlatul Ulama (NU); sedangkan 23,8 % mengaku pendukung Muhammadiyah.

Berdasarkan pemberitaan dari detik.com edisi 25 November 2008 dan harian The Jakarta Post online edisi 26 November 2008, kami coba kompilasikan hasil survey tersebut, sebagai berikut:

 

01.   Sekitar 62,4% dari responden (guru agama Islam) menolak wacana memiliki pemimpim publik non Muslim.

02.   Sekitar 68,6% dari responden menentang non Muslim  menjadi Kepala Seolah di tempat mereka mengajar.

03.   Sekitar 33,8% dari responden menentang mempunyai guru non Muslim di sekolah tempat mereka mengajar.

04.   Sekitar 73,1% dari responden tidak menginginkan pemeluk agama lain mendirikan rumah ibadah di sekitar tempat tinggal mereka.

05.   Sekitar 85,6% dari responden melarang siswa-siswinya merayakan peristiwa besar yang jelas-jelas merupakan bagian dari tradisi Barat.

06.   Sekitar 87% dari responden melarang siswa-siswinya mempelajari agama-agama lain.

07.   Sekitar 48% dari responden lebih memilih adanya pemisahan kelas antara pelajar putra dan putri.

08.   Sekitar 75,4% dari responden meminta siswa-siswinya untuk mengajak guru yang beragama bukan Islam untuk memeluk agama Islam.

09.   Sekitar 61,1% dari responden menolak sekte baru dalam Islam. (Catatan redaksi: mungkin maksudnya menolak keberadaan aliran dan paham sesat seperti Ahmadiyah, LDII,  Syi’ah, komunitas Lia Eden, NII KW IX, Inkar Sunnah, Sepilis –sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme–  dan sebagainya).

10.   Sekitar 67,4% dari responden mengatakan, mereka lebih merasa sebagai Muslim dibanding sebagai orang Indonesia.

11.   Sementara itu menurut detik.com hanya sekitar 30,4% dari responden yang merasa sebagai orang Indonesia.

12.   Mayoritas responden (tidak disebutkan persentasenya oleh The Jakarta Post-red.) mendukung penerapan syari’ah Islam dalam kehidupan bernegara untuk memerangi berbagai kejahatan.

13.   Sekitar 58,9% dari responden mendukung rajam sebagai hukuman bagi berbagai jenis tindakan kriminal.

14.   Sekitar 47,5% dari responden mengatakan, hukuman bagi pencuri adalah dengan dipotong tangannya.

15.   Sekitar 21,3% dari responden menginginkan hukuman mati bagi mereka yang murtad dari Islam.

16.   Sekitar  51% dari responden lebih mementingkan mengajarkan akhlak mulia.

17.   Hanya sekitar 3% dari responden mengatakan merupakan tugas mereka menghasilkan pelajar yang toleran.

18.   Hanya sekitar 0,3% dari responden yang mengajarkan menjadi warga negara yang baik.

 

Berdasarkan temuan survey itu, Direktur PPIM Jajat Burhanudin mengatakan bahwa pandangan anti pluralis yang dimiliki para guru agama Islam itu akan terrefleksikan dalam proses belajar mengajar. Selain itu, visi anti pluralis itu akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan konservatisme dan radikalisme di tengah masyarakat Muslim di Indonesia.

Menurut Jajat, para guru agama itu memainkan peranan penting di dalam mempromosikan konservatisme dan radikalisme di kalangan Muslim Indonesia saat ini. Sehingga, “sekarang anda tidak bisa lagi mengatakan bahwa konservatisme dan radikalisme hanya berkembang di jalanan sebagaimana diusung oleh FPI, tetapi lebih jauh dari itu konservatisme dan radikalisme dapat berkembang melalui sistem pendidikan.” Demikian kesimpulan Jajat sebagaimana dikatakan kepada The Jakarta Post.

Jajat juga mengatakan, sikap intoleransi seperti itu mengancam hak-hak sipil dan hak-hak politik warga negara Indonesia yang tidak beragama Islam. Kesimpulan lain yang disampaikan Jajat adalah, ternyata sikap moderat dan pluralis hanya ditunjukkan oleh kalangan elite ormasnya saja (NU dan Muhamadiyah). Jajat khawatir, fenomena ini memberikan kontribusi di dalam meningkatkan radikalisme dan bahkan meningkatkan terorisme di Indonesia.

 

Berpikir antagonistis khas sepilis UIN

Salahuddin Wahid pengasuh Pesantren Tebuireng, melalui rubrik opini di koran Republika edisi 02 Desember 2008, mengomentari hasil survey tersebut dalam sebuah tulisannya berjudul Benarkah NU dan Muhammadiyah Gagal? dengan mengatakan: “… Yang menolak presiden non-Islam bukan hanya ustadz di tingkat akar rumput. Ulama terkenal tingkat nasional, seperti Kiai Ali Yafie juga menolak. Penolakan itu didasari dalil kuat dari Alquran dan Hadis…”

Demikian pendapat Salahuddin Wahid.

Menurut ajaran Islam, tidak dibenarkan mempunyai pemimpin (publik) yang non Muslim, kemudian ajaran itu dipraktekkan oleh ummat Islam, apapun profesinya (guru, pedagang, petani, nelayan, pelajar, mahasiswa, dan sebagainya), maka dalam rangka HAM dan kebebasan beragama, sikap itu harus dihargai. Sikap itu tidak pada tempatnya dilabeli sebagai pandangan yang anti toleransi, tidak moderat, menyuburkan radikalisme dan konservatisme dan sebagainya.

Justru yang melabeli dan menuduh-nuduh itulah yang dapat disebut sebagai tidak toleran, tidak bisa menerima pluralitas, tidak bisa menerima perbedaan, memaksakan kehendak, melanggar HAM dan melanggar kebebasan beragama.

Para penganut sepilis, pada satu sisi meminta umat Islam untuk mau menerima sekte sesat (seperti Ahmadiyah, LDII, Syi’ah, Sepilis,  NII KW IX dan sebagainya), bahkan agar mau menerima kebenaran yang ada pada agama lain, serta menganggap kesesatan Lia Eden sebagai bagian dari kebebasan berekspresi, berkeyakinan, dan beragama; sementara itu mereka mengajarkan ummat Islam yang berada di bawah kekuasaannya untuk meragukan kebenaran Islam, meragukan kebenaran hadits, meragukan Allah, Dzat Yang Maha Mulia, dan sebagainya. Itulah sebenar-benarnya sikap yang orang sering menyebutnya dengan IAIN (Ingkar Allah Ingkar Nabi).

Contohnya adalah sikap Prof Dr Soewito. Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini ‘menekan’ mahasiswanya untuk tidak menulis –dalam berbagai karya ilmiah– kata Allah dengan lanjutan SWT (subhanahu wa ta’ala); tidak boleh menulis nama Muhammad dengan diakhiri SAW (shallallahu ‘alaihi wa sallam); tidak boleh menulis nama Muhammad dengan diawali sebutan Nabi. Karena, yang menganggap Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi hanya orang Islam, sedangkan non-muslim tidak. Begitu juga dengan Allah, yang mengakui Allah itu subhanahu wa ta’ala  hanya orang Islam, sedangkan mereka yang bukan Islam, tidak demikian. (lihat tulisan berjudul Gejala Bahaya Laten Neo Komunisme di UIN, November 2, 2008 9:44 pm).

Fenomena ini jelas-jelas merupakan sebuah upaya pemurtadan berkedok toleransi,  lewat  jalur kemusyrikan baru berupa keyakinan inklusivisme, pluralisme agama, dan sejenisnya.

Dari UIN-IAIN di Indonesia kini telah berhasil dilahirkan doktor-doktor liberal sesat seperti Musdah Mulia, Moqsith, Zainun Kamal, Soewito, dan masih banyak lagi. Kini, nampaknya mereka sedang berancang-ancang menjalankan agenda besar meliberalkan guru-guru agama di seluruh Indonesia. Penelitian PPIM-UIN di atas hanyalah sebuah pembenaran ilmiah, bahwa Indonesia membutuhkan guru-guru agama yang liberal, yang moderat dan berpandangan pluralis, inklusif. Bersamaan dengan itu mereka menebarkan ketakutan bahwa guru-guru agama yang ada sekarang, melalui proses belajar mengajarnya di sekolah-sekolah, berpotensi menyuburkan radikalisme, konservatisme bahkan terorisme, yang merugikan hak-hak sipil dan politik kalangan non Muslim.

Adian Husaini dalam salah satu tulisannya berjudul Upaya Meliberalkan Guru Agama sebagaimana bisa dilihat pada hidayatullah.com edisi 09 Desember 2008, mengatakan, “…penelitian PPIM-UIN Jakarta membawa misi besar untuk merombak pola pikir para guru agama di masa depan. Mereka diharapkan agar menjadi pluralis, tidak konservatif, tidak radikal. Mereka nantinya harus mau menerima pemimpin non-Muslim, menerima guru non-Muslim, menolak penerapan syariah, mendukung hak murtad, mendukung perayaan-perayaan model Barat, dan sebagainya. Itulah yang disebut oleh Direktur PPIM-UIN Jakarta itu sebagai jenis Islam moderat, Islam pluralis, atau entah jenis Islam apa lagi. Yang penting jenis Islam yang baru nanti harus mendapat ridho dari negara-negara Barat yang menjadi donatur penting dari lembaga-lembaga sejenis PPIM-UIN Jakarta tersebut. Misi inilah yang sebenarnya sedang diemban oleh lembaga-lembaga penelitian dan pendidikan Islam yang sadar atau tidak menyediakan dirinya menjadi agen dari pemikiran dan kepentingan Barat…”

Begitu kata Adian.

Selain menakut-nakuti dengan adanya potensi menyuburkan konservatisme, radikalisme, bahkan terorisme, hasil survey itu juga nampaknya mengarahkan benak masyarakat kepada sebuah opini, bahwa para guru agama Islam di Jawa nasionalismenya rendah, sebagaimana tercermin dari hasil survey yang menyajikan data sekitar 67,4% dari responden lebih merasa sebagai Muslim dibanding sebagai orang Indonesia; sementara itu hanya sekitar 30,4% dari responden yang merasa sebagai orang Indonesia.

Kalau orang-orang UIN itu masih punya ghirah Islamiyah walaupun sedikit, maka akan teringat bahwa setiap Muslim sejak kecil sudah diajarkan, bahwa ketika Allah meniupkan roh ke dalam rahim ibu yang sedang mengandung bayi, pada saat itulah Allah memberikan informasi tentang ke-ISLAM-an sang jabang bayi. Tidak peduli apakah jabang bayi itu kelak menjadi George Walker Bush, atau kelak menjadi Jajat Burhanuddin.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبَّكُمْ قَالُوْا بَلىَ شَهِدْنَا أَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذاَ غاَفِلِيْنَ # أَوْ تَقُوْلُوْنَ إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ اْلمُبْطِلُوْنَ

172.  Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”,

173.  Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami Telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami Ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami Karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu[582]?”

 

[582]  Maksudnya: agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dahulu Telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang-orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa Karena kesalahan orang-orang tua mereka itu.

 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya, oleh karena itu para ulama salaf dan khalaf berkata: sesungguhnya yang dimaksud dengan al-isyhaad (kesaksian) ini adalah fitrah mereka (manusia) itu hanyalah atas tauhid (Mengesakan Allah, yakni agama Islam yang lurus, pen) sebagaimana dalam hadits:

وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ  )صحيح مسلم(

Dalam shahih Muslim, riwayat dari ‘Iyadh bin hamar Al-Mujasyi’i, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman; “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif (lurus)  semua mereka, dan sesungguhnya syetan-syetan datang kepada mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka. (Shahih Muslim). 

Demikian penjelasan Imam Ibnu Katsir.

Yang semula hamba-hamba itu semua diciptakan dalam kondisi hanif, lurus, atas fitrah Islam itu kemudian syetan-syetan datang kepada mereka lalu menyimpangkan agama mereka. Syetan-syetan itu ada yang dari manusia, ada pula yang dari bangsa jin. Maka dalam kenyataan, barulah setelah besar dan dewasa, sang makhluk Allah yang semula kecil dan belum berkembang fungsi akalnya itu, kemudian mulai terpengaruh oleh syetan-syetan hingga menyimpang dari agama Tauhid/ Islam. Dan pada masa sudah besar  serta sudah datang syetan yang menyimpangkannya, baru kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Indonesia, orang Amerika, dan sebagainya. Itulah prosesnya.

Jadi, bila para guru agama atau siapapun bila ditanya tentang identitasnya, kemudian dia menjawab identitas ISLAM-nya lebih dulu dibandingkan dengan identitas ke-INDONESIAAN-nya, itu wajar-wajar saja. Karena, memang begitulah menurut pemahaman Islam. Jadi apa yang salah?

Pernah ada pejabat tinggi Indonesia pun terus terang mengatakan, kalau ditanya, Anda orang Indonesia atau orang Islam; maka saya jawab, saya orang Islam. Kenapa? Karena, nanti di kubur, saya tidak akan ditanya, kamu dari bangsa apa, tetapi ditanya apa agamamu. Maka saya lebih pilih menjawab Islam. Begitulah keislaman seseorang, walau dia pejabat tinggi, kalau ghirah Islamiyahnya masih ada, maka akan seperti itu, dan itu wajar lagi normal. Justru yang mempersoalkan dan bahkan sampai menakut-nakuti itulah yang tidak normal, apalagi dari lembaga perguruan tinggi Islam. Kekhawatiran Prof Dr HM Rasjidi tentang tidak jelinya orang IAIN (kini sebagian jadi UIN) terhadap kesesatan para orientalis mengenai Islam ternyata terbukti nyata. (baca nahimunkar.com, Rekayasa Pembusukan Islam dan Doktor yang Lantang, December 12, 2008 1:32 am).

 

Ke-Indonesia-an tak begitu berguna

Tentang ke-Indonesia-an itu sendiri kadang tidak punya makna apa-apa, bahkan di Indonesia itu sendiri sekalipun. Justru yang punya makna hanyalah Islamnya. Contohnya, coba orang sepilis itu atau siapapun, kalau dia beragama Islam, dan tinggal di Denpasar Bali, misalnya, kemudian meninggal alias jadi mayat, maka tidak ada tempat untuk menguburnya di Denpasar. Lho kenapa, kan sama-sama orang Indonesia, dan juga tinggal di Denpasar, kenapa tak dapat di kuburkan di Denpasar? Ya memang orang Indonesia, tetapi ke-Indonesia-annya itu tidak ada artinya apa-apa. Dan Indonesia itu sendiri juga tidak dapat ngapa-ngapa di Denpasar Bali dalam hal ini, hingga walau mayat itu ketika hidupnya begitu ditanya, kamu orang apa, langsung jawab: orang Indonesia, namun tidak ada artinya apa-apa. Mayat itu karena Islam, maka dapat dikuburkan, hanya saja kuburannya bukan di Denpasar tetapi di Negara, kira-kira perjalanan mobil 2,5 jam dari Denpasar. Di Denpasar Bali tidak ada (baca : tidak dibolehkan adanya) pekuburan untuk orang Islam, padahal jumlah Muslimin 30 persen dari jumlah penduduk kota itu. Itulah kondisi di Indonesia ini. Lha kalau hanya karena dia sebagai orang Indonesia, maka entah mau diapakan. Kalau tetap di Denpasar, mungkin dibakar barangkali. Jadi, ke-Indonesia-an itu sendiri di Indonesia sendiri pun tidak ada artinya apa-apa dalam kasus ini. Kenapa orang sepilis “berjuang” untuk meng-Indonesia-kan orang Islam? Kebalik itu namanya. Kalau meng-Islamkan orang Indonesia, insya Allah kalau ikhlas lillahi Ta’ala akan dapat pahala. Tetapi kalau berjuang untuk meng-Indonesia-kan orang Islam, di samping tidak mendapat pahala, masih pula seperti kasus di atas, tidak ada gunanya apa-apa. Bisa-bisa malah matinya dibakar lagi, kalau tidak mengakui sebagai orang Islam, hanya sebagai orang Indonesia.

Di samping itu, perlu kita tengok sejarah di Indonesia ini, dengan adanya Ummat Islam teguh memegangi Islam itu justru telah terbukti,  Indonesia atas pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala berhasil merdeka dari kolonialisasi, itu karena tingginya perjuangan ummat Islam. Dengan semangat Islamnya maka kaum Muslimin Indonesia  mengusir penjajah kafir, hingga pekikan yang diserukan dalam memerangi penjajah kafir pun kalimah: Allahu Akbar! Itu satu sejarah dan kenyataan yang tak terbantahkan. Justru yang tidak taat dan tidak militan terhadap ajaran agamanya, cenderung rendah pembelaannya untuk negeri ini. Bahkan sampai sekarangpun jelas tampak, orang-orang yang sinis terhadap Ummat Islam dan mau meliberalkan Muslimin itu gejalanya sudah dapat diketahui umum, mudah dibeli oleh siapa saja yang mampu membayar dengan sejumlah uang dan kenikmatan kepadanya. Jadi hasil survey itu sejatinya hanyalah mempertontonkan jati diri mereka saja, dan menambah ketidak percayaan Ummat Islam terhadap mereka dan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan mereka. (haji/tede)