Syafii Maarif Mengais Sampah Nurcholish Madjid

Syafii Maarif berusia lebih tua empat tahun dari usia Nurcholish Madjid. Maarif lahir tahun 1935 sedangkan Nurcholish tahun 1939. Keduanya sama-sama doctor lulusan Universitas Chicago (The University of Chicago) Amerika Serikat. Maarif lebih dulu dua tahun meraih gelar Doktor (1982), sedangan Nurcholish dua tahun kemudian (1984).

Meski begitu, Nurcholish lebih dulu menggebrak, menjajakan sepilis (sekulerisme, pluralisme agama –menyamakan semua agama— dan liberalisme) kepada Ummat Islam Indonesia, melanjutkan upaya rintisan yang telah lebih dulu dilakoni Mukti Ali dan Harun Nasution. Tampaknya, Nurcholish jauh lebih mengorbit dibanding kedua seniornya itu, walaupun sebenarnya hanya pembagian tugas. Nurcholish Madjid mensepiliskan lewat jalur luar, sedang Harun Nasution mensepiliskan lewat jalur dalam, yakni mengubah kurikulum IAIN atau perguruan tinggi Islam se-Indonesia, dari Ahlus Sunnah diubah jadi Mu’tazilah atau yang dia sebut sebagai rasionalis menurut istilah Barat. Jadi tampaknya Nurcholish sebagai pengasong di luaran –walau bertugas juga di IAIN Jakarta–, sedang Harun Nasution didukung Mutki Ali menggarap pabriknya yakni perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Makanya, kata Dr Roem Rowi dosen IAIN Surabaya, Harun Nasution mendatangi sendiri secara langsung pasca sarjana-pasca sarjana di IAIN-IAIN untuk mengajarkan (apa yang jadi sentral pensepilisan) yaitu apa yang disebut mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam. “Saya mengajar tafsir, tetapi pemikiran para mahasiswa sudah dirusak oleh pemikiran-pemikiran itu,” keluh Dr Roem Rawi saat bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN karya Hartono Ahmad Jaiz, di Islamic Book Fair, Senayan Jakarta, Maret 2005.

Kenapa Nurcholish Madjid lebih popular?

Memang yang main di luaran itu lontaran-lontarannya terdengar sampai ke umum, maka lebih terkenal, karena didukung oleh media massa yang tujuannya sama yaitu mensepiliskan Ummat Islam alias memurtadkan. Atas dukungan hebat dari media massa itu hingga Nurcholish bisa ‘melegenda’. Saking asyiknya media massa itu mengorbitkan Nurcholish, tampaknya lengah juga dalam mengorbitkan penggantinya, maka sesudahnya tidak ada yang bisa mengorbit sedahsyat dia. Ulil adalah generasi penerusnya. Namun demikian, dia tidak bisa menggantikan posisi Nurcholish. Kerusakan yang dilakukan Ulil belum sebanyak Nurcholish, namun ia keburu diancam bunuh, sehingga sang ‘dalang’ memasukkannya ke dalam kotak penyimpanan wayang, berupa memberinya beasiswa untuk meraih gelar doktor di Amerika Serikat. Ulil dari jarak jauh cukup ngoceh lewat internet dan semacamnya, termasuk dalam hal membela kafirin Ahmadiyah sambil mengecam Hasyim Muzadi ketua umum NU yang dia anggap pro FPI yang anti Ahmadiyah. Tampaknya celoteh Ulil tidak digubris orang. Berbeda misalnya Ulil terjun langsung memprovokasi anak-anak UIN atau IAIN yang sudah disepiliskan oleh murid-murid Harun Nasution, maka diperkirakan efektif, dan media massa yang mendukung sepilis akan mengobarkannya.

Meski demikian, Ulil masih termasuk lebih beruntung, dibandingkan dengan Zainun Kamal atau Musdah Mulia, yang tidak terlalu sukses mengorbit di angkasa popularitas, apalagi sampai melegenda. Zainun dan Musdah meski sudah pontang-panting melakukan pemurtadan dan membingungkan ummat dengan segala jerih payah, namun nasib berkata lain. Semakin keras effort yang mereka lakukan, justru semakin tidak dipercaya orang.

Untungnya, mereka masih muda. Jauh lebih muda dibanding Nurcholish atau Maarif. Bagaimana dengan Maarif yang berusia lebih tua dari Nurcholish? Sebelumnya Maarif masih hati-hati di dalam mengemukakan pandangannya berkenaan dengan Islam dan peradaban Islam yang ada di sekitarnya. Namun setelah ia menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah –setidaknya sejak saat itulah– pemikiran-pemikiran nyelenehnya yang meng-epigon-i Nurcholish mulai berkembang.

Meski lebih tua, Maarif tidak seberuntung Nurcholish yang sempat menjadi anggota MPR RI dua periode berturut-turut (periode 1987-1992 dan 1992-1997). Maarif meski pernah menjadi Ketua PP Muhammadiyah, tidak sekalipun pernah menduduki kursi wakil rakyat yang terhormat itu.

Menghargai pemurtadan

Kini, Maarif mengelola Maarif Institute, yang tidak sepopuler Parmadina milik mendiang Nurcholish. Paramadina bahkan berhasil melebarkan sayapnya membangun lembaga pendidikan tingkat tinggi (universitas). Sedangkan Maarif sampai saat ini baru berada di tahapan memberi award kepada orang-orang yang dianggapnya berjasa.

Harian Kompas online edisi 3 Juni 2008, memberitakan tentang pemberian Maarif Award 2008 yang berlangsung di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta. Peristiwa itu berlangsung Selasa malam (3 Juni 2008), kepada tiga tokoh yang dinilai telah mendorong proses perubahan sosial pada tingkat akar rumput serta memiliki komitmen terhadap toleransi dan pluralisme.

Mereka adalah Cicilia Handayani (40), Tuan Guru Haji (TGH) Hasanain Djuani (44) dan Ahmad Tafsir (44). Cicilia memperoleh Maarif Award 2008 karena membentuk institusi pendidikan taman kanak-kanak lintas agama di Dusun Banyu Urip, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, sebuah dusun terpencil dan terbelakang yang dulunya bekas kantung Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sedangkan Hasanain (pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri Narmada di Lombok, Nusa Tenggara Barat) dinilai berhasil memadukan antara dunia pendidikan dengan konservasi lingkungan serta pemberdayaan masyarakat dan media konflik. Ia dinilai sukses mengajak 427 pesantren di sekitar wilayahnya untuk membuka “kitab hijau” dan melakukan kegiatan konservasi yang kini telah berhasil menyulap 30 hektare perbukitan tandus menjadi lahan hijau.

Yang terakhir, Ahmad Tafsir (Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah) dinilai berani melawan arus utama di tubuh Muhammadiyah, dan dinilai konsisten memperjuangkan ide-ide progresif di tubuh Muhammadiyah serta memiliki radius pergaulan lintas agama yang luas. Ia juga tidak ragu berinteraksi, dan bahkan terlibat intens, dengan kelompok-kelompok marginal seperti waria, korban narkoba dan penderita schizophrenia.

Demikian berita Kompas online. Di samping itu radio JIL, Kantor Berita 68 H, memberitakan bahwa Cicilia yang mendirikan TK lintas agama itu berupaya mendongengi murid-murid TK-nya dengan cerita-cerita dari berbagai agama.

Nah, itulah pemurtadan sejak dini yang dihargai tinggi oleh Maarif Institute.

Tampaknya, Maarif konsisten dan serius memperjuangkan pluralisme (alias lintas agama), sehingga diluncurkanlah Maarif Award yang lebih condong memberikan penghargaan kepada praktisi pluralisme. Boleh jadi, Maarif berpendirian dan menekankan betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai pluralisme agama (pemusyrikan model baru) sejak dini, sehingga Maarif Award pun jatuh ke tangan Cicilia pendiri dan pengelola taman kanak-kanak lintas agama.

Boleh jadi, Maarif juga punya misi mensosialisasikan gagasan pluralisme agama ke dalam tubuh Muhammadiyah yang saat ini sudah terinfeksi sepilis, sehingga pilihan untuk menjatuhkan Maarif Award pun tertumpah ke tangan Ahmad Tafsir, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, yang konsisten memperjuangkan ide-ide “progresif” di tubuh Muhammadiyah serta memiliki radius pergaulan lintas agama yang luas dan terlibat intens dengan kelompok-kelompok marginal seperti waria atau orang-orang banci itu.

Sekedar mengingatkan, tahun 1992, Nurcholish Madjid dengan jelas menganjurkan kaum Muslim hendaknya mempelajari dan menarik hikmah, dari kitab-kitab suci lama, dan kaum Ahlul Kitab mempelajari Al-Qur’an. (Makalah Nurcholish Madjid, Beberapa Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia untuk Generasi Mendatang, halaman 14).

Kalau mengikuti anjuran Nurchlish, maka isi khutbah-khutbah Jum’at, khutbah nikah, khutbah Idul Fitri, Idul Adha, khutbah gerhana bulan dan matahari, majelis taklim, pengajian, kuliah shubuh, dan forum-forum da’wah akan diisi dengan berbagai ajaran agama apa pun yang lama. Termasuk kitab-kitab Tafsir, Hadits, Fiqh, Akhlak, Tauhid, dan lain-lain akan diwarnai di sana-sini dengan ajaran-ajaran kitab suci lama terma­suk kitab para penyembah berhala, penyembah binatang seperti sapi, ular dan lainnya. (lihat buku Ada Pemurtadan di IAIN tentang Pembaharuan Nurcholish Madjid ke Arah Paganisme).

Rupanya anjuran Nurcholish yang lebih kotor dibanding kotoran sampah itu merupakan hal yang sangat berharga bagi Ahmad Syafii Maarif. Maka dipungutlah, dan diwujudkan dalam bentuk pemberian penghargaan kepada orang seperti Cicilia yang mendirikan taman kanak-kanak lintas agama dengan mengajari anak-anak berupa cerita-cerita dari berbagai agama.

Sampah kotor Nurcholish dipungut

Sebelum akhirnya Nurcholish meninggal dunia pada 29 Agustus 2005, beberapa orang tokoh Islam dari sebuah institusi penegakan syari’at Islam pernah mengunjungi Nurcholish yang ketika itu sedang sakit. Saat itu terjadi dialog mengenai pluralisme. Ketika itu Nurcholish menjelaskan, bahwa pluralisme yang dimaksudnya bukan menganggap semua agama sama melainkan kebenaran itu tergantung masing-masing penganut agama.

Pernyataan Nurcholish Madjid itu tampaknya secara sekilas berbeda dengan penyamaan semua agama, namun sebenarnya sama saja. Justru merupakan perkataan yang lafalnya beda namun maknanya sama. Karena ungkapan kebenaran itu tergantung masing-masing penganut agama itu di samping menjajakan penyamaan semua agama, masih pula membuang kitab suci Al-Qur’an dan As-Sunnah, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa? Karena kalau kebenaran itu tergantung masing-masing penganut agama, maka orang Islam pun ukuran kebenarannya bukan Al-Qur’an dan As-Sunnah (sesuai dengan pemahaman salafus shalih) tetapi tergantung masing-masing penganut agama itu. Jadi yang musyrik dari orang-orang yang mengaku dirinya Muslim pun benar. Yang bid’ah juga benar, yang khurofat, takhayul, menyembah kuburan, memuja untuk cari kekayaan ke Gunung Kemukus di Sragen Jawa Tengah dengan syarat zina pun kebenarannya tergantung masing-masing penganut agama itu. Ini adalah serusak-rusaknya rusak dalam memahami agama.

Syafii Maarif sebagai penerus “perjuangan” perusakan Islam itu tampaknya tidak perlu bersusah payah untuk menduduki peringkat sebagai konseptor. Cukuplah Maarif

mengais-ngais sampah kotor yang telah diproduk Nurcholish. Syafii Maarif mungkin faham apa yang dikonsep oleh Nurcholish Madjid, hingga diam-diam Syafii Maarif menikmati “petunjuk” Nurcholish, maka dengan inggih sendiko dawuh (ya oke boss) dilaksanakanlah sebagian kecil dari apa yang dikonsep Nurcholish.

Tahun 1986 Hartono Ahmad Jaiz (HAJ) dan Ichwan Sam dari Harian Pelita pernah mewawancarai Nurcholish di rumahnya, Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ketika itu HAJ mengajukan pertanyaan kepada Nurcholish: “Kalau Nurcholish mengartikan Islam dengan sikap pasrah hanya kepada Allah, dan bukan nama agama, maka yang disebut murtad itu bagaimana?”

Ketika itu Nurcholish memberikan jawaban yang tidak jelas, yaitu: “Oh ya. Kalau orang Islam jadi Kristen ya mundur, dong. Ya jelas mundur. Itu kan iring-iringan begini, Islam yang memimpin. Dan ini sudah dibuktikan oleh sejarah. Ini Barat memimpin sekarang ini kan baru 200-an tahun saja. Dunia ini dipimpin oleh Islam selama beratus-ratus tahun. Jadi orang Islam sendiri jangan lagi mundur. Itu nggak bisa. Justru kalau bisa yang di belakang itu ditarik ke depan.”

Kemungkinan, saat itu benih-benih gagasan pluralisme agama yang diluncurkan Nurcholish –kemudian dilanjutkan Ulil dan kawan-kawan– masih mentah, sehingga ketika pemaknaan Islam hanyalah sebuah sikap pasrah kepada Allah (bukan nama agama), yang dirilis Nurcholish itu ketika dibenturkan dengan lafal “murtad”, maka Nurcholish pun kebingungan memberikan jawaban. Sehingga, jawabannya jadi melantur: menjawab masalah keimanan dengan kepemimpinan Ummat di dunia.

Padahal makna murtad itu sudah jelas dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, di antaranya:


وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
(217(

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah: 217).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(54(

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Maaidah: 54).

Dari dua ayat itu telah jelas bahwa orang murtad yaitu orang yang keluar dari Islam masuk kepada kekufuran, entah itu kepada Yahudi, Nasrani atau kekufuran yang lainnya. Mereka itu bila meninggal dalam keadaan kafir (murtad) maka musnah sia-sia amalnya, dan akan menjadi penghuni neraka selama-lamanya. Di dunia ini, orang-orang mukmin diancam jangan sampai murtad, sekaligus dijanjikan apabila ada yang murtad maka Allah akan mengganti dengan kaum lain yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.

Namun, karena Nurcholish memaknai Islam hanya sebagai sikap pasrah kepada Allah (bukan agama), maka makna murtad jadi tidak punya tempat. Dari sini sudah terbukti, bahwa sejak awal pemaknaan seperti itu sudah tertolak.

Meski sejak awal sudah tertolak, Nurcholish tidak berhenti mematangkan konsep pluralisme agama. Terbukti di tahun 1993, sebagaimana bisa dilihat pada Harian Pelita edisi 30 Desember 1993 (Rabu 6 Rajab 1413 H), ia kembali. Kali ini, dengan membawa-bawa (mencatut) nama Ibnu Taimiyyah. Isinya: semua agama yang dibawa para nabi adalah Islam yang intinya ialah Tauhid atau Monotheisme.

Memang itu pernyataan Ibnu Taimiyyah, tetapi ada lanjutannya mengenai masa berlakunya yakni sebelum diubah dan diganti. Sehingga ketika orang mengikuti agama yang sudah diubah atau diganti dengan nabi yang baru lagi tetapi masih mengikuti nabi yang lama, maka tidak diterima agamanya itu dan tidak termasuk ummat nabi siapapun. Dan setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk seluruh manusia, maka tidak ada agama lagi selain Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Namun keterangan ini yang disembunyikan Nurcholish Madjid. (lebih lengkapnya, silahkan baca buku Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal Bahaya JIL dan FLA).

Kalau di tahun 1986, Islam dimaknai hanya sebagai sikap pasrah kepada Allah (bukan agama), di tahun 1990-an sudah mulai berubah, yakni Islam adalah nama agama, tapi Islam itu adalah nama agama yang dibawa oleh para nabi yang kita kenal, bukan hanya nama agama yang dibawa Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pemaknaan ini juga masih sama saja membingungkannya dengan pemaknaan sebelumnya. Kalau dibenturkan dengan makna “murtad” masih saja tidak punya tempat. Lha wong sama-sama Islamnya koq pindah dari satu Islam ke “Islam” yang lain, ya tidak bisa dibilang murtad. Ini jelas membingungkan.

Meski membingungkan, Nurcholish terus saja memproduksi tulisan-tulisan yang mengusung pluralisme agama. Puncaknya, di tahun 2003 diterbitkan sebuah buku panduan aqidah pluralisme agama yang berjudul Fiqih Lintas Agama terbitan Paramadina bekerjasama dengan The Asia Foundation, lembaga kafir yang berpusat di Amerika, namun ada cabangnya atau perwakilannya di Jakarta. Kehadiran buku tersebut mendapat perlawanan, antara lain berupa diterbitkannya berbagai buku yang meng-counter gagasan tersebut. Ambil contoh, buku Menangkal Bahaya Jil dan FLA, oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, dan buku Koreksi Total Fikih Lintas Aagama oleh Agus Hasan Bashori, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. Bahkan salah satu institusi penegakan syari’at Islam mengajak debat terbuka di UIN (Universitas Islam Negeri), Ciputat, Jakarta Selatan. Debat terbuka itu berlangsung tanggal 15 Januari 2004 (Kamis, 23 Dzulqa’dah 1424 H). Sayangnya Nurcholish yang ditantang debat terbuka justru tidak hadir. Ia diwakili oleh Dr Zainun Kamal dan Zuhairi Misrawi.

Boleh jadi, Nurcholish bukannya takut berdebat, tapi memang meragukan gagasan pluralisme agamanya itu.

Ketika konseptornya yakni Nurcholish yang dibangga-banggakan dan kini kotoran sampahnya dipunguti Maarif saja waktu itu sudah ragu-ragu terhadap apa yang dia lontarkan dan pasarkan sejak lama, apalagi yang cuma berperan jadi pemulung, maka lebih keropos lagi. (haji/tede)