Ilustrasi (ist)


intelijen – Meski terlambat, instruksi Presiden Joko Widodo agar media sosial penyebar kebencian ditindak tegas patut diapresiasi. Dalam penindakannya aparat penegak hukum diharapkan tidak berat sebelah.

“Siapa pun yang melontarkan ujaran kebencian dan hoax harus ditindak, meskipun dari akun yang bertendensi sebagai pendukung presiden,” ujar Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya’roni kepada redaksi sesaat lalu (Jumat (30/12).

Perang di dunia maya, sebut Sya’roni, sudah terjadi sejak Pilpres 2014. Meskipun pilpres telah usai ketegangan di medsos tidak mereda. Bahkan semakin memanas saat memasuki tahapan Pilkada Jakarta, dan mencapai puncaknya ketika mencuat kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur Jakarta Ahok.

Kedua belah pihak saling memborbadir dengan berbagai amunisi berupa meme, hoax dan sebagainya. Dinamika di media sosial menjadi sangat panas dan sudah tidak sehat. Pertarungan konvesional di lapangan telah berpindah ke media sosial.

“Untuk menghentikannya, selain penegakan hukum yang tegas dan keras, Jokowi bisa berinisiatif mengimbau kepada para pendukungnya untuk menghentikan serangan di media sosial. Diakui atau tidak, faktanya ada pendukung Jokowi dan Ahok yang sangat intensif melakukan serangan di media sosial,” kata Sya’roni.

Dengan imbauan dari Jokowi, menurut dia, para pendukungnya bersedia menghentikan serangan. Sebaliknya, apabila serangan tersebut dilakukan secara terorganisir, dia berharap Jokowi bertindak tegas dengan membubarkan organisasinya.

Dengan mengendurkan serangan dari sisi pendukung Jokowi dan Ahok, diharapkan dari sisi yang lain juga akan melakukan hal yang sama. Namun, jika kedua-duanya tetap melakukan provokasi, maka tindakan tegas perlu dilakukan.

“Perlu kearifan aparat penegak hukum untuk bertindak tidak berat sebelah. Siapa pun yang melakukan provokasi harus ditindak. Jika aparat tebang pilih, besar kemungkinan ujaran kebencian akan semakin membesar,” kata dia.

Presiden Jokowi, menurutnya, juga harusnya bertindak sebagai negarawan sejati. Bersedia bertemu dengan semua kalangan. Jangan hanya kelompok itu-itu saja yang ditemui. Jokowi adalah kepala negara yang sudah seharusnya mengayomi seluruh rakyat Indonesia.

“Dan yang perlu diperhatikan, aparat harus bisa membedakan antara kritik dengan ujaran kebencian. Kritik sangat diperlukan dalam era demokrasi. Kritik harus tetap diberi ruang sebagaimana dijamin konstitusi,” demikian Sya’roni.(rmol)*/intelijen.co.id

***

Ranu Muda Wartawan Islam Hanya Liput Berita Ditangkap, Giliran Janes C.Simangunsong Penghina Ulama dan Provokator TV Besar Bebas

Posted on 25 Desember 2016 by nahimunkar.com

Kesabaran umat islam terus di uji atas ketidak adilan huku yang terus menerus timpang, hampir keadilan tidak pernah didapatkan oleh umat tuduhan demi tuduhan yang keji terus digelontorkan yang disertai fitnah menyakitkan.

Apalagi baru-baru ini kita mendapati seorang wartwan media islam yang hanya meliput berita atas sebuah bar yang diduga sebagai tempat ajang maksiat, polisi atau polri segera saja membekuknya tanpa ada keadilan dan layaknya seorang teroris padahal ia tidak menyebar fitnah atau kebencian.

Tapi kita lihat seorang produser TV besar swasta yang telah mengumbar banyak kebencian, memfitnah ulama, mencaci maki ulama tapi apa yang dilakukan kepolisian. Tidak membekuknya sama sekali, tidak mengatakan bahwa dia penyebar kebencian dan fitnah.*/MediaIslam.Org – Sunday, 25 December 2016

***

Jurnalis Wanita Metro TV Ancam Bakar Markas FPI dan Buat Pernyataan Mesum

Posted on 6 Desember 2016 by nahimunkar.com

Jurnalis wanita Metro TV bernama Janes C Simangunsong mengancam membakar markas Front Pembela Islam (FPI) dan membuat pernyataan mesum.

Melalui akun Twitter Janes C Simangungsong @janes_cs mengajak untuk membakar markas FPI.

“Ni FPI perlu dikerasin juga. Bakar markasnya bisa kan. Gw bersedia jadi relawan. Tapi kita perlu keroyokan juga. Harus banyak biar pada ngaca,” kicau Janes.

Bukan hanya itu, Janes memplesetkan FPI dengan kalimat yang sangat tidak pantas.*/suaranasional.com – 06/12/2016

***

Media Liberal Zalim terhadap Umat Islam

Posted on 17 November 2014 by nahimunkar.com

Jakarta (SI Online) – Media-media arus utama, yang selama ini dikenal umat Islam sebagai media liberal atau sekuler terbukti selama ini bertindak zalim terhadap umat Islam. Fakta yang membuktikan hal ini sangatlah banyak. Karena itu langkah untuk melakukan revolusi media harus dilakukan.

“Revolusi media tidak akan terjadi di media massa arus utama. Dia lahir dari pinggir dan dilakukan oleh sekelompok orang yang dianggap tidak ada,” kata mantan produser di sebuah stasiun televisi nasional, M Fadhilah Zein dalam pelatihan jurnalistik di kantor tabloid Suara Islam, Jakarta Selatan, Sabtu (15/11).

Fadhil, panggilan akrabnya, membeberkan sjumlah bukti kezaliman media liberal terhadap Islam. Mulai dari kasus terorisme, FPI, GKI Yasmin, Ciketing, bahkan dalam pemberitaan kasus Ambon dan Poso.

Soal terorisme misalnya, Fadhil mencontohkan terjadinya demonstrasi besar-besaran di sejumlah kota pada Ahad (23/09/2012) yang menolak pemberitaan Metro TV “Rohis Sarang Teroris”, yang sama sekali tidak dimuat oleh koran nasional. “Hanya Republika yang menaikkan berta foto. Itu pun di belakang,” kata alumni Sastra Arab UNJ ini.

Menyinggung soal penyergapan terduga teroris di Temanggung, Jawa Tengah, pada 2009, Fadil menyebutnya sebagai reality show. “Liputan ekslusif penyergapan Temanggung 2009 lebih kepada reality show ketimbang tugas jurnalistik,” kata mantan jurnalis Rakyat Merdeka ini.

Sementara untuk kezaliman terhadap FPI, contohnya sangatlah banyak. Pada 2008, misalnya, atas terjadinya Insiden Monas 1 Juni 2008, koran Tempo kemudian memuat foto Panglima Laskar Islam (KLI) Munarman yang disebut sedang mencekik anggota AKKBB. Padahal, yang dipegang lehernya oleh Munarman adalah anak buahnya sendiri.

Pada 2012, FPI juga kembali dizalimi melalui pemberitaan ditolaknya kedatangan sejumlah petinggi FPI di Kalimantan Tengah.  “Media massa mainstream menggiring opini bahwa FPI ditolak di seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya.

Aksi yang dilakukan ribuan umat Islam di Jakarta, termasuk FPI,  pada 9 Maret 2012, juga disebut oleh salah satu media online terkemuka diikuti hanya 150 orang saja.

“FPI menjadi korban sinisme media massa arus utama karena menolak Irshad Manji dan Lady Gaga,” kata Fadil.

Untuk kasus-kasus di daerah, seperti GKI Yasmin, Gereja HKBP di Ciketing, konflik Sunni-Syiah di Sampang, konflik Ambon dan Poso, media massa juga terang-terangan berada pada pihak yang memushi Islam. “Karena pemred dan struktur orang di dalam itu Liberal. Karena itu jangan jadi reporter, jadilan pemimpin redaksi atau pemilik media,” katanya sambil tersenyum.

red: shodiq ramadhan

(nahimunkar.com)